
Cakra sepertinya tidak peduli Berti diam saja. Sedari bangun tidur, sarapan sampai kini berada dalam mobil, istrinya itu tetap diam. Bahkan Cakra mendengar nasihat dari mertua untuk istrinya itu, tetapi Berti tetap bersikeras dengan hatinya. Marah kepada Cakra karena telah merebut perusahaan.
Mungkin bagi Cakra, istrinya diam malah bagus. Telinganya tidak akan berdengung mendengar celotehan Berti yang terus menuduhnya.
"Apa kita ke rumah dulu, Tuan?" tanya Ariel yang memang datang menjemput Cakra dan Berti di rumah Ilham.
"Ke rumah dulu. Istriku perlu bersiap untuk ke kantor," jawab Cakra.
Ariel mengangguk kemudian melaju mengendarai mobil. Sesampainya di rumah, Berti keluar lebih dulu dan masuk. Ariel tidak heran jika istri atasannya itu marah. Ya, siapa lagi yang membuat kesal kalau bukan Cakra tentunya.
"Kamu tunggu di sini sebentar, aku siap- siap dulu," kata Cakra.
"Iya, Tuan," jawab Ariel.
Cakra melangkah masuk rumah, menyusul Berti yang telah lebih dulu ke kamar tidur mereka. Rupanya Berti tidak melupakan tugasnya sebagai seorang istri. Ia tetap menyiapkan pakaian kerja Cakra di atas tempat tidur.
"Berikan paspor dan KTP-mu. Sepertinya paspor-mu perlu diperpanjang," kata Cakra.
Berti diam saja, tetapi tangannya bergerak memberi apa yang Cakra minta. Dokumen diletakkan di tempat tidur setelah itu, Berti keluar kamar.
"Tunggu, Bert!" cegah Cakra.
Berti berhenti melangkah, tetapi tidak menoleh pada Cakra. Ia menunggu suaminya itu berbicara.
"Selesaikan pekerjaanmu. Kita akan ke luar negeri. Mungkin sebulan kita ke sana karena menunda dulu kunjunganku sampai dokumen keberangkatanmu lengkap."
Tidak ada jawaban dari Berti. Wanita itu lantas berjalan menuruni anak tangga. Berti juga harus ke kantor hari ini. Ada setumpuk pekerjaan yang belum ia selesaikan.
"Nyonya," tegur Ariel ketika mendapati Berti keluar rumah.
Jangankan senyum, menoleh saja Berti tidak. Nyonya Cakra itu masuk ke mobil, menghidupkan mesin, beberapa menit kemudian keluar dari halaman rumah.
Cakra berdeham. "Istriku sudah berangkat?"
"Su-sudah, Tuan."
"Kita berangkat sekarang. Oh, ya, kamu berikan nanti surat permohonan perpanjangan paspor untuk Berti. Setelah semua selesai, baru kami mengurusnya," kata Cakra.
__ADS_1
"Nyonya akan ikut kita, Tuan?" tanya Ariel tidak percaya.
"Kenapa? Dia istriku, kan?"
"Tidak, Tuan. Saya cuma tidak terbiasa saja," kata Ariel seraya mempersilakan Cakra masuk mobil.
Pantas saja Berti marah. Ariel menduga jika istri atasannya itu ingin ikut, tetapi Cakra pasti menolaknya. Itu sebabnya, tidak bicara pada suaminya, dan untuk membujuk sang istri yang merajuk, Cakra memenuhi permintaan Berti. Ariel senyum-senyum sendiri setelah tahu apa yang terjadi. Rupanya Cakra bisa juga romantis.
Cakra menaikan sebelah alisnya ketika melihat sang asisten yang senyum tidak jelas dari kaca spion mobil. Ia menggeleng, jatuh cinta memang membuat orang jadi gila, seperti keadaan Ariel saat ini.
...****************...
"Kenapa lagi?" tanya Sari yang datang ke restoran jepang menemui Berti sekaligus makan siang bersama.
"Cakra menginginkanku menjadi ibu rumah tangga. Bahkan orang tuaku mendukung. Kamu tahu jika usaha yang berkembang saat ini adalah hasil kerja kerasku. Tapi Cakra. Dia ...."
Berti tidak bisa berkata-kata. Jelas tidak tahu menjelaskan perasaannya ini. Marah, kesal, kecewa, semua campur aduk menjadi satu. Semakin dipendam, semakin sakit, dongkol hatinya.
"Alasannya apa?" tanya Sari yang berstatus sebagai penasihat asmara, tetapi wanita itu sendiri jomlo.
Sari mengangguk-angguk. "Ada dua kemungkinan."
"Apa?" tanya Berti.
"Bisa jadi Cakra memang suka dengan istri yang diam di rumah yang artinya, dia menganggap dirinya sebagai lelaki yang kuat, mampu menghidupi kamu. Kedua, supaya dia tidak ketahuan punya selingkuhan." Sari tertawa mengucapkan kalimat terakhirnya. Masalahnya apa Cakra bisa selingkuh? Orang itu saja sangat kaku dan pemarah.
"Bisa jadi, Sari," sahut Berti.
"Memangnya Cakra pria seperti itu? Digoda saja aku dihina habis-habisan."
"Jangan-jangan dia punya kekasih lagi. Cakra kaku hanya pada wanita yang tidak dia cintai," kata Berti.
Sari menarik sebelah bibirnya. "Jangan kebanyakan baca novel, deh. Kamu kira wanita mana yang mau kekasihnya menikah dengan orang lain."
"Dia selalu keluar negeri. Bisa jadi, kan?"
"Enggak tahu, deh. Aku enggak mau ikut-ikutan. Eh, tapi, coba kamu periksa masa lalunya. Siapa tahu memang ada wanita di hidup suamimu itu," usul Sari.
__ADS_1
"Benar juga. Aku penasaran dengan ruang kerja yang ada di rumah. Awas saja kalau dia sungguh punya wanita lain," gumam Berti marah.
Sari mengerutkan kening. "Bukannya malah bagus, ya? Kan, kamu ingin cerai."
Berti terdiam, Sari malah tertawa. Jelas sahabatnya ini sudah jatuh cinta pada suaminya sendiri.
"Katakan, dong, Bert. Siapa tahu Cakra juga punya perasaan yang sama kamu," kata Sari.
Andai Sari tahu hal yang terjadi di hotel Bali. Berti sudah menanyakan perasaan Cakra, tetapi suaminya itu tidak tahu apakah punya perasaan cinta pada istrinya sendiri.
Keduanya beranjak dari restoran. Sari dan Berti berpisah menuju tujuannya masing-masing. Berti langsung pulang ke rumah karena ia penasaran dengan ucapan Sari.
Bergegas Berti ke ruang kerja Cakra setelah tiba di rumah. Mencari-cari hal yang membuatnya curiga, tetapi tidak ada satu barang bukti yang mengatakan Cakra punya wanita idaman lain.
"Mungkin saja memang dia tidak pernah pacaran. Ya, tapi masa tidak pernah naksir cewek, sih? Pasti pernah, dong," gumam Berti.
Dari ruang kerja, Berti menuju kamarnya. Ia memeriksa lemari pakaian Cakra dan mencari barang yang bisa dijadikan bukti, tetapi tidak ada apa pun di sana.
"Dompet. Ya, dompet sama ponsel. Pasti ada foto di dalamnya," kata Berti.
Selama ini Berti tidak pernah memeriksa telepon genggam dan dompet Cakra. Biar saja Berti dianggap tidak sopan atau tidak menghormati Cakra. Yang jelas, nanti malam ia akan mencari bukti.
Sore hari saat Cakra pulang, Berti masih tidak menegurnya. Istrinya tetap melayani, tetapi mulutnya seolah dijahit. Wajah Berti juga tidak sedap dipandang. Kecut, tidak ada sama sekali manisnya.
"Bert, kok, diam terus," tegur Cakra.
Berti tidak menjawabnya. Tangannya tetap membuka dasi serta kancing kemeja Cakra. Berti memberi handuk pada suaminya kemudian melangkah keluar kamar.
Cakra garuk-garuk kepala. "Enggak cukup sehari marahnya."
Selepas membersihkan diri, Cakra turun ke lantai bawah dan langsung menuju ruang makan. Masih seperti tadi. Berti diam saja. Makan malam pun dilewati dengan hening.
"Aku sudah selesai makannya," kata Cakra.
Berti diam, dan langsung mengambil piring Cakra, lalu membawanya ke basin untuk dicuci Minah. Cakra jadi kesal sendiri melihat Berti yang hanya diam saja. Namun, ia juga enggan untuk membujuk istrinya.
Bersambung
__ADS_1