Bantu Aku Cerai

Bantu Aku Cerai
Pikiran Cakra


__ADS_3

"Ya sudah, kalau enggak mau buat anak," kata Berti. "Mending buat rujak, deh."


"Aku mau," ucap Cakra. "Beri aku waktu. Kita harus konsultasi lagi pada dokter."


"Memangnya ada apa?" tanya Berti penasaran.


"Ayah bilang, aku tidak boleh memakaimu untuk kehamilan di bulan pertama."


Berti menjentikkan jarinya. "Ayah benar, Mas. Aku baru saja baca-baca artikel tentang kehamilan. Sebaiknya memang begitu."


"Kamu sama saja dengan ayah. Kalian menakutiku. Makanya, kamu jangan menggodaku," kata Cakra yang berjalan pergi menuju ruang kerja.


Berti mendengkus. "Diajak buat langsung, deh, beraksi. Kalau diajak jalan, malah pakai waktu."


Cakra juga tidak ingin informasi yang diterima berupa kebohongan. Ia pun membaca artikel tentang kehamilan di ruang kerjanya, dan memang ada tahap yang harus diperhatikan jika ingin memakai istri yang tengah hamil.


"Resiko juga kalau enggak hati-hati," gumam Cakra.


"Mas!" seru Berti yang tengah mengetuk pintu.


Cakra beranjak dari duduknya membuka pintu. "Kenapa lagi?"


"Makan siang dulu."


Cakra manut dengan mengikuti langkah istrinya ke ruang makan. Jika Cakra melahap nasi, maka Berti malah asik mengunyah buah mangga yang membuat suaminya menahan liur.


"Jangan terlalu banyak makannya," ucap Cakra.


"Oh, ya, Mas. Aku mau kembali kerja."


"Kerja? Kamu mau kerja lagi di perusahaan?"


Berti mengangguk. "Aku bosan di rumah."


"Kamu lagi hamil. Ngapain mau kerja. Duduk di rumah, terima uang yang aku berikan untukmu," kata Cakra.


"Ibu hamil juga bisa kerja."


Cakra menggeleng. "Kamu tahu sendiri kalau aku suka istri yang diam di rumah."


"Kamu jangan egois. Bukan hanya kamu yang ingin sukses. Di umur ini, aku juga mau berprestasi."


" Diam di rumah. Suamimu sudah cukup untuk bekerja. Lagian aku sudah memberi saham. Kamu bisa mendapatkan uang pribadi dengan duduk diam di rumah."


"Tapi aku bosan di rumah," kata Berti.


"Aneh!" ucap Cakra. "Istri itu memang harus di rumah."


Cakra segera menghabiskan nasi dalam piringnya, meneguk segelas air, lalu beranjak dari kursi. Ia tidak ingin lagi berdebat masalah pekerjaan bersama Berti. Cakra sudah membuat istrinya berhenti bekerja, lalu sekarang Berti malah meminta izin untuk kembali ke perusahaan. Lalu, buat apa Cakra mengambil alih perusahaan wanita itu.


Berti mengusap lelehan air matanya. Ia tidak dapat bekerja lagi lantaran sang suami yang tidak mengizinkan. Ibunya juga telah menasihati jika Berti sebaiknya fokus menjadi ibu rumah tangga.

__ADS_1


"Bert, ayo, ke kamar," kata Cakra yang balik lagi ke ruang makan.


"Mau ngapain? Bukannya enggak boleh buat anak," gerutu Berti.


"Suamimu belum ganti baju. Aku mau mandi."


"Urus dirimu sendiri."


"Temani aku, dong," kata Cakra.


Wajah Berti cemberut, tetapi ia bangkit juga dari duduknya, dan bersama Cakra melangkah masuk kamar. Berti membiarkan suaminya itu mengurus dirinya sendiri. Tidak peduli pria itu menggerutu karena susah mencari pakaian ganti yang ia inginkan.


Barang-barang dari atas sudah dipindah semua ke kamar bawah. Cakra merasa asing dengan tatanan baju yang belum beraturan.


"Celana pendekku mana? Tolong cariin, Bert. Aku mau olahraga," kata Cakra.


"Aku ikut kalau kamu fitnes."


"Mau ngapain? Mau lihat cowok-cowok di sana?"


"Mau cuci mata," jawab Berti.


"Enggak jadi, deh. Mending kita istirahat siang," kata Cakra.


Berti mendengkus. "Mas, aku mau es campur."


"Harus sekarang belinya?"


"Aku pesan lewat aplikasi saja."


"Harus kamu yang beli," kata Berti.


"Kamu sengaja, ya?"


"Terserah. Pokoknya aku mau es campur."


...****************...


Cakra memang menuruti segala permintaan Berti. Apa yang diinginkan istrinya itu, maka ia secepatnya memenuhinya. Namun, sikapnya juga membuat jengkel. Karena Berti yang mengandung, Cakra begitu mudah mengatur istrinya. Larangan demi larangan ia berikan.


Berti berdiam diri di rumah meski kedua ibunya selalu datang menjenguk. Tetap saja Berti yang memang wanita yang tidak bisa diam, merasa jenuh. Ingin berkumpul bersama sahabat saja, mereka juga punya kesibukkan masing-masing.


"Awal bulan aku mau ke Hongkong," kata Cakra.


"Pada saat aku tengah hamil anakmu?" tanya Berti.


"Kan, kamu belum mau melahirkan. Masih lama juga waktunya. Tuh, perut juga enggak kelihatan buncit," ucap Cakra.


"Iyalah, baru jalan dua bulan."


"Mama dan ibu juga bakal sering kemari. Aku sudah bilang sama mereka akan ke luar negeri."

__ADS_1


"Berapa lama?" tanya Berti.


"Satu bulan. Aku juga bakal ke Singapura dan Malaysia."


"Kamu enggak punya karyawan yang bisa diandalkan?"


"Punya, tapi aku harus meninjau ulang sesekali," kata Cakra. "Kamu jangan sering keluar. Kalau mau jalan harus pergi sama ibu atau mama."


"Memang aku keluar ke mana, sih, Mas? Paling ke mal. Belanja ke supermarket. Waktuku habis di rumah. Mengantar kamu berangkat kerja, lalu menyambutmu pulang."


Cakra tersenyum. "Bagus, dong. Aku selalu senang melihatmu ada di rumah."


"Tapi kamu perginya setelah kita periksa kandungan lagi."


"Iya, sekalian kita konsultasi."


Hari itu akhirnya, tiba juga. Detik-detik keberangkatan Cakra ke Hongkong. Namun sebelumnya, pria itu menemani istrinya periksa kandungan. Kali ini Cakra memilih dokter wanita.


Tanpa malu-malu Cakra menuturkan pertanyaan tentang berhubungan suami istri meski ia sedikit mengetahui pengetahuan itu dari artikel di intenet.


Berti cuma bisa menahan rasa malu akan pertanyaan suaminya. Cakra akan ke luar negeri, dan Berti tidak bisa ikut karena kondisi kehamilannya masih terlalu muda. Cakra akan merindukan istrinya itu untuk waktu yang cukup lama.


"Terima kasih atas saran-sarannya. Kalau begitu kami permisi," ucap Cakra, mengakhiri sesi konsultasinya bersama dokter.


Keduanya beranjak dari ruangan pemeriksaan menuju bagian pengambilan obat. Berti masih mengalami mual dan muntah. Ia lebih sering mengonsumsi roti serta buah agar perutnya tetap terisi.


"Akhirnya lega setelah mendengar sendiri saran dari dokter," celetuk Cakra yang merasa senang karena kandungan istrinya sehat serta diperbolehkan bermesraan.


"Lihat, deh, anak kita. Belum nampak bentuknya," kata Berti.


Cakra mengambil hasil USG itu. "Biar aku tempel di album."


"Fotoku enggak ditempel."


"Ini buat kenang-kenangan. Kalau kamu, kan, aku lihat tiap hari."


"Kamu sayang anak apa istri?" tanya Berti.


"Sayang anaklah," jawab Cakra.


"Apa kamu berpikir kalau istri gampang dicari, sebab itu kamu akan lebih menyayangi anakmu kelak?"


"Aku menikahimu, kamu adalah istriku. Aku bertanggung jawab, setia dan berusaha agar kamu selalu bahagia. Aku tidak akan membiarkanmu merasa kekurangan. Sebagai pelengkapnya, kamu memberiku keturunan. Definisi rumah tangga memang seperti itu, Bert," tutur Cakra.


"Jika aku dan anakmu dihadapkan pada maut, siapa yang akan kamu selamatkan lebih dulu?" tanya Berti.


"Orang tua harus berkorban demi anaknya."


Berti terdiam mendengarnya. Apa mungkin sampai saat ini, Cakra memang tidak pernah mencintai dirinya? Cakra beranggapan dengan cukup tanggung jawab dan setia, maka semuanya akan baik-baik saja.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2