Bantu Aku Cerai

Bantu Aku Cerai
Pulang


__ADS_3

Seminggu Cakra di Hongkong, dapat dihitung pria itu mengirim pesan. Jika dibandingkan dengan Banyu, Berti merasa pria itulah yang menjadi suaminya.


Dari hal kecil selalu diperhatikan Banyu. Selalu saja ada pertanyaan tentang apa yang Berti inginkan. Sebisa mungkin pria itu akan mendapatkannya. Hanya saja Berti tidak enak meminta sesuatu darinya.


Jika Cakra terlena dengan kariernya, maka Berti semakin masuk dalam perhatian Banyu. Ia banyak menghabiskan waktu bersama pria itu. Sang mantan membuatnya merasa nyaman dan pria itulah yang seharusnya menjadi suaminya.


"Mau makan apalagi?" tanya Banyu.


"Kita makan es krim, yuk. Aku mau rasa vanila dan cokelat."


"Kamu duduk di sini, biar aku yang beli."


Keduanya tengah berada di mal. Selepas Banyu pulang kerja, pria itu menjemput Berti di rumah dan mengajaknya pergi makan. Tentu saja ajakan itu diterima dengan senang hati.


"Es krim untukmu," ucap Banyu seraya memberi satu cup es krim kepada Berti.


"Terima kasih," sahutnya.


"Mau nonton?" tanya Banyu.


Berti menggeleng. "Enggak, deh. Aku mau langsung pulang saja. Sudah pukul delapan malam."


"Hari Minggu nanti mau jalan pagi lagi?" tanya Banyu.


Minggu tadi, Berti dan Banyu sempat jalan pagi bersama. Berti seakan lupa jika ia adalah seorang istri. Banyu lebih perhatian dan ia suka itu, sedangkan Cakra kebalikannya. Bersama suaminya, Berti tidak merasakan perasaan disayang.


Berti mengangguk. "Iya, kamu jemput aku saja di rumah."


Banyu menuruni pandangannya ke bawah. "Apa dedek bayi di dalam sini senang dibawa jalan?"


Berti tertawa. "Tentu saja, Om."


"Boleh aku pegang?"


Berti menggeleng. "Nanti saja kalau sudah lahir."


Banyu malah tertawa. "Masih lama, dong. Eh, bibirmu belepotan. Sini, biar aku bersihkan."


Banyu menyeka sisa es krim diujung bibir Berti, dan pria itu malah membersihkan ibu jari dengan mulutnya.

__ADS_1


"Manis banget," ucap Banyu.


"Apaan, sih?" Berti memukul kecil lengan pria itu.


Adegan tadi tanpa disadari keduanya telah dilihat oleh seorang pria yang kaget melihat kakak iparnya bersama lelaki tidak dikenal. Dafa juga memotret kemesraan yang tidak pantas dilihat.


"Kak Cakra mesti tahu ini. Aku bakal kirim ke dia foto dan video ini," gumam Dafa sambil lalu dari teman-teman kumpulannya.


Berti dan Banyu pun beranjak dari mal. Keduanya berjalan menuju mobil yang terparkir rapi. Seperti biasa, Banyu memperlakukan istri Cakra begitu istimewa.


"Habis ini langsung tidur. Jangan lagi nonton film sama baca novel," pesan Banyu.


"Kamu tahu saja kebiasaanku."


"Pokoknya harus banyak istirahat. Kalau kamu mau makan sesuatu, telepon aku saja."


"Kalau tengah malam, aku minta dibeliin makanan, bagaimana?" tanya Berti.


"Sebisa mungkin aku beliin. Kamu lagi hamil dan ibu hamil harus dituruti."


Berti cuma tersenyum mendengarnya. Sementara Banyu segera menjalankan mobil menuju kediaman Cakra.


Dilain sisi, Dafa telah tiba di rumah. Tentu saja kabar ini tidak ia beritahu kepada orang tuanya, melainkan kepada Cakra lebih dulu.


"Angkat, dong," ucap Dafa dengan tidak sabarnya.


Beberapa kali Dafa mencoba dan akhirnya panggilan itu terjawab. Dari telepon sana, Cakra menggerutu karena merasa terganggu.


"Kakak jangan kerja terus. Istri selingkuh malah enggak tahu," ucap Dafa.


"Apa maksudmu?" tanya Cakra.


"Aku lihat kak Berti sama cowok lain di mal. Mereka makan es krim bersama."


"Istriku jalan di mal bersama pria lain dan kamu mengira dia selingkuh?"


"Iya, Kak."


"Hubungi aku kalau kamu melihatnya di hotel," kata Cakra.

__ADS_1


"Astaga! Aku serius, Kak. Aku punya foto dan videonya. Aku kirim padamu sekarang."


"Kirim saja," ucap Cakra, lalu memutus sambungan telepon itu.


Tidak lama foto dan video itu Cakra dapatkan. Ia melihat istrinya begitu tampak bahagia bersama seorang pria. Namun, lelaki yang berbeda dari sebelumnya.


"Siapa dia?" gumam Cakra, lalu menelepon Dafa kembali dan panggilan itu langsung terjawab. "Halo, Dafa. Hapus foto dan video itu. Jangan berpikir yang tidak-tidak tentang kakak iparmu. Awas saja kamu bilang pada papa dan mama."


"Kak Berti itu selingkuh, Kak," ucap Dafa.


"Kamu tahu apa, sih? Itu temannya dan aku membebaskan dia berteman dengan siapa pun. Jangan bergosip yang tidak-tidak," kata Cakra yang langsung memutus sambungan telepon itu.


Setelah itu, Cakra menghubungi Ariel untuk menemuinya di kamar. Asisten Cakra itu langsung datang karena memang kamar mereka tidak berjauhan.


"Kamu tetaplah di sini. Beritahu aku terus laporan pekerjaan di sini. Aku harus pulang ke rumah," kata Cakra.


"Tapi jadwalnya kita akan ke Malaysia dan Singapura lagi, Tuan."


"Aku bilang mau pulang dan kamu tetap di sini."


"Iya, Tuan. Maafkan saya," ucap Ariel.


"Begini saja. Kamu selesaikan pekerjaan di sini selama dua hari setelah itu pulanglah ke Indonesia. Aku tidak bisa jauh darimu."


"Baik, Tuan," ucap Ariel.


"Pergilah, aku perlu bersiap untuk pulang besok."


Ariel segera berlalu dari kamar. Sementara Cakra lekas mencari tiket penerbangan menuju Indonesia. Setelah itu membereskan semua pakaiannya untuk pulang esok hari.


Bersambung


Banyu



Arjuna


__ADS_1


Sari



__ADS_2