Bantu Aku Cerai

Bantu Aku Cerai
Bersama Banyu


__ADS_3

Berti menatap layar ponsel yang sepi dari notifikasi pesan dan telepon. Hanya ada beberapa obrolan yang enggan ia baca meski hatinya tergerak untuk membuka pesan baru tersebut.


Sudah pasti dari satu orang yang selalu memberi perhatian kepadanya. Banyu terus menghubungi meski Berti tidak memperdulikannya, bahkan ia sempat memblokir nomor kontak sang mantan, tetapi kembali membukanya.


Ibu jarinya tergerak membuka puluhan pesan dari pria itu. Berti membacanya satu per satu, lalu membalas beberapa chat yang penting. Pesan itu terbaca, lalu panggilan video ia terima.


Berti merapikan rambut sebelum menggeser logo gagang telepon berwarna hijau. Di sana ada Banyu yang tersenyum menatapnya, lalu Berti membalasnya.


"Hai," sapa Banyu lebih dulu.


"Hai juga." Berti merasa canggung.


"Kamu marah padaku? Sudah lama sekali rasanya aku menghubungimu dan kamu bilang setelah kembali dari luar negeri akan menemuiku."


Berti tersenyum. "Kamu tahu kalau aku ini sudah bersuami."


"Aku tahu itu, Bert. Tapi katamu ingin berteman. Apa tidak boleh kita ngobrol atau makan siang bersama sebagai teman?"


"Aku ingin memberi kabar padamu," ucap Berti.


Tiba-tiba saja Banyu merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Ia ingin suatu kabar yang baik bagi dirinya. Tentu saja berpisahnya Berti bersama suami patungnya itu.


"Apa?" tanya Banyu.


"Aku tengah mengandung anak pertamaku," ucap Berti.


"Katakan sekali lagi."


"Aku hamil!" Berti mengeraskan suaranya agar Banyu bisa mendengar dengan jelas.


"Kamu hamil?" tanya Banyu.


Berti mengangguk. "Iya, anak pertama."


Banyu tersenyum. "Selamat, Berti. Aku turut senang mendengarnya."


Berti merasa nada suara Banyu tidak seperti yang tadi. Kalimat ucapan pemberian selamat terdengar sendu, dan seperti kata-kata itu memang tidak ingin dilontarkan oleh sang mantan.


"Suamimu pasti sangat bahagia," ucap Banyu.


Berti tersenyum. "Semua keluargaku turut senang."


"Ya, semoga kamu selalu bahagia." Banyu terlihat ingin mengakhiri panggilan video ini.


"Kita bisa makan siang bersama. Aku akan tepati janjiku," kata Berti cepat.


Banyu mengangguk. "Boleh saja. Hubungi aku ketika kamu punya waktu."


"Aku akan kirim pesan padamu."


"Sekarang kamu tidur. Ini sudah malam," ucap Banyu.


"Iya, selamat malam, Banyu."

__ADS_1


Panggilan video itu diputus oleh Berti. Rasanya lega bisa mengobrol bersama Banyu di tengah kesepian seperti ini. Berti merebahkan kepala di atas bantal, memejamkan mata sampai hanyut dalam mimpi.


...****************...


Keesokan harinya, Banyu tidak menduga jika Berti akan begitu cepat mengajaknya bertemu. Ia sudah sampai di restoran salah satu mal di Jakarta Selatan.


"Hai," sapaan yang hangat diucapkan Berti.


Banyu melambaikan tangan ketika Berti tiba. Seorang wanita yang belum tampak seperti ibu hamil berjalan menghampiri. Banyu bangkit dari duduknya, lalu menarik kursi dan mempersilakan Berti duduk. Perlakuan yang sangat manis.


"Kamu mau pesan apa?" tanya Banyu.


"Sup ayam saja. Aku akan muntah bila makan. Maaf, jika aku tidak bisa menghabiskan makananku nanti."


"Tidak apa-apa. Biar aku yang pesan. Kamu mau minum apa?"


"Lemon tea saja," jawab Berti.


Banyu memanggil pelayan, memberitahu apa saja makanan yang mereka pesan, dan pramusaji wanita mencatatnya dengan teliti.


"Kamu diantar suamimu?" tanya Banyu, setelah pelayan pergi.


Berti tertawa. "Apa dia akan pergi mengantarku menemui pria lain? Ya, mungkin itu bisa saja karena Cakra tidak membatasi pergaulanku."


"Aneh memang. Tapi aku akan cemburu jika istriku bertemu pria lain," kata Banyu.


"Meski itu teman?"


"Kamu saat ini tengah makan siang bersama istri seorang pria."


Banyu menghela. "Aku tidak tahu harus apa. Ya, Cakra kembali mengizinkanmu bertemu denganku?"


"Dia berada di luar negeri," jawab Berti.


"Kamu hamil dan dia ke luar negeri?"


"Dia bekerja."


"Kalau kamu butuh sesuatu, aku selalu ada untukmu," kata Banyu.


"Terima kasih, Banyu," ucap Berti seraya tersenyum.


Pelayan datang dengan membawa pesanan makanan Berti dan Banyu. Seperti yang Berti katakan kalau ia tidak bisa makan banyak karena tidak ingin muntah dalam mal.


"Kamu harus banyak makan," ucap Banyu.


"Ini sudah cukup," sahut Berti.


Banyu tersenyum. "Kamu mengendarai mobil sendiri?"


"Aku menumpang taksi."


"Biar aku mengantarmu pulang nanti."

__ADS_1


Berti melihat jam di layar ponselnya. "Oh, kamu harus bekerja rupanya. Seharusnya aku mengajakmu makan siang di hari Minggu agar kita lebih lama mengobrol."


"Kita bisa jalan pagi di hari libur. Aku akan menjemputmu nanti."


"Kamu bisa pergi dulu. Aku ingin jalan-jalan."


Banyu menggeleng. "Tidak. Kamu harus pulang dan banyak istirahat. Kita bisa jalan-jalan nanti."


Berti tersenyum, lalu mengangguk. "Sebenarnya aku mau belanja, tetapi baiklah, aku akan pulang bersamamu."


Tadinya Berti ingin membayar, tetapi Banyu yang malah mentraktirnya, lalu Berti juga sempat membuat repot pria itu dengan menunggu di toilet. Lagi-lagi muntah menderanya.


Setelah itu, keduanya keluar dari gedung mal menuju mobil yang terparkir. Banyu dengan hati-hati memperlakukan Berti seolah wanita itu adalah barang yang sangat berharga.


"Ini rumahmu?" tanya Banyu, ketika ia sampai di depan kediaman Cakra.


"Kamu berhenti di sini, tentu saja ini rumahku," jawab Berti.


Banyu tertawa. "Benar juga. Tadi kamu yang memberiku alamat ini. Wajar saja suamimu sibuk, dia pasti punya banyak pekerjaan."


"Lalu, membiarkan istrinya diam di rumah bersama pelayan."


"Kamu bisa melakukan apa pun. Minta izin padanya agar bisa bekerja lagi. Aku yakin jika dia akan mengabulkannya. Dia mencintaimu dan akan menuruti semua keinginanmu," ucap Banyu.


"Jika kamu disuruh memilih antara istri dan anak, kamu pilih siapa?" tanya Berti.


Banyu tampak berpikir. "Aku pilih istri. Dia yang memberiku keturunan. Seorang wanita yang akan menemaniku di masa sekarang dan masa depan nanti. Jika aku sakit, dia yang selalu hadir untukku, kan?"


"Lalu anak? Bagaimana kalau kamu diberi dua pilihan. Misalkan istri dan anakmu berada di dalam maut."


"Aku berharap itu tidak akan terjadi, tetapi bila kejadiannya seperti itu, maka aku memilih istriku. Bukan berarti aku tidak sayang padanya. Anak adalah titipan, dan suatu saat akan kembali."


"Sebagai orang tua kamu tidak mau berkorban," kata Berti.


"Bukan tidak berkorban, tetapi merelakan titipan itu diambil. Sudahlah, kenapa kita membahas ini? Aku belum menikah," kata Banyu.


Berti tertawa. "Kalau begitu, aku masuk dulu."


"Jangan turun dulu," ucap Banyu.


Pria itu membuka sabuk pengamannya, lalu turun dari mobil dengan berlari kecil menuju bagian sebelah penumpang. Banyu membuka pintu, lalu menyambut Berti keluar.


"Aku bisa turun sendiri," ucap Berti.


"Aku cuma buat kerjaan saja," sahut Banyu.


"Kamu hati-hati di jalan."


Banyu mengangguk. "Iya, kalau ada apa-apa, telepon saja aku."


Berti mengangguk, melambaikan tangan, lalu segera masuk ke halaman rumah. Banyu baru berlalu setelah sang mantan kekasih tidak terlihat lagi dari pandangannya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2