Bantu Aku Cerai

Bantu Aku Cerai
Tidak Penting


__ADS_3

Malam yang sengsara bagi Cakra. Ketika masuk kamar malah melihat Berti memakai lingerie warna merah muda. Sialnya lagi, Berti dengan sengaja memamerkan leher jenjangnya. Cakra ingat saat pergulatan mesra mereka di Bali. Luar biasa dan kini ia ingin mengulang itu semua, tetapi hubungan mereka dalam suasana yang dingin.


Berti diam seribu bahasa sejak tadi pagi dan dirinya tidak pandai merayu seorang wanita yang tengah marah. Bukan tidak bisa, tetapi Cakra malu untuk melakukannya.


"Bert," tegur Cakra.


Berti menghidupkan lampu tidur meski Cakra belum mematikan lampu utama. Ia menarik selimut sampai batas leher kemudian merebahkan diri dengan posisi membelakangi.


Lampu utama dimatikan. Cakra berjalan mengarah ke kasur, lalu menghidupkan lampu tidur milik bagiannya. Ia menoleh Berti, seperti sengaja mengundang, selimut itu melorot menampakkan punggung putih istrinya.


Cakra naik, masuk ke dalam selimut. Ia memandang Berti yang senantiasa membelakangi. Padahal waktu pertama menikah, Cakra sama sekali tidak tertarik. Setelah merasa kenikmatan dunia, ia sendiri tidak dapat menahannya.


"Berti," tegur Cakra.


Tidak ada tanggapan dari sang istri. Berti juga tidak bergeming, padahal Cakra tahu jika istrinya itu belum tidur. Cakra memberanikan diri memeluk Berti.


"Bert, buat anak, yuk," bisiknya.


Berti melepas pelukan Cakra, ia beringsut turun dari tempat tidur dengan membawa bantal serta selimut. Berti pindah ke sofa panjang dan merebahkan dirinya di sana.


"Berti," panggil Cakra.


Sama sekali tidak ada tanggapan. Berti malah menyelimuti dirinya dengan selimut. Cakra meraih guling kemudian memeluknya erat seraya memandang sang istri yang telah bersembunyi dalam hangatnya kain tebal.


"Bert," panggil Cakra. "Liberti!"


Mau seribu kali panggilan juga Berti tidak akan menanggapi Cakra. Ia marah karena suaminya seenaknya saja memutuskan suatu hal dalam hidupnya. Seharusnya Cakra bicara baik-baik dulu sebelum mengambil keputusan penting itu.


"Berti, kamu kenapa, sih?" tanya Cakra. "Aku itu mau istri yang diam di rumah. Masa begitu saja kamu marah. Bert, aku mau main. Bert, Berti!" Cakra menghela napas panjang. Ia semakin mempererat pelukan gulingnya seraya memandang sang istri.


Di dalam selimut, Berti mendengarkan. Menggerutu dalam hati atas perbuatan suaminya. Lebih kepada saat ini. Berti akan lihat apakah Cakra akan menghampirinya? Menggendong naik ke atas tempat tidur atau membujuk rayu dirinya yang membuat hati meleleh.


Nyatanya tidak demikian. Beberapa saat Berti mengintip dari balik selimut ketika Cakra sudah tidak bicara lagi. Patung itu rupanya telah memejamkan mata.


"Dia malah tidur," gumam Berti kesal.


Ia ingat jika ingin memeriksa dompet serta ponsel Cakra. Dengan hati-hati Berti beranjak dari sofa kemudian melangkah mendekati suaminya. Segera Berti mengambil dompet kemudian memeriksanya. Tidak ada hal yang mencurigakan. Tidak ada foto apa pun yang tersimpan di dompet kulit itu.

__ADS_1


Lalu, Berti mengambil ponsel Cakra yang berada di atas nakas lampu tidur setelah meletakkan kembali dompet di tempat semula. Sayangnya, gawai itu terkunci dan harus mengunakan password.


"Ponselku," kata Cakra yang terbangun dari tidurnya.


Berti kaget dan tanpa sengaja menjatuhkan telepon genggam itu. Cakra bangun, turun dari tempat tidur, lalu mengambil ponsel yang jatuh ke lantai.


"Mau ngapain?" tanyanya.


Bibir Berti membisu dengan jantung yang berdetak kencang. Istri pertama Cakra telah jatuh ke lantai dan itu semua karena dirinya.


"Mau apa?" tanya Cakra seraya mengusap ponselnya. "Jawab!" Cakra meninggikan suaranya.


Berti tersentak. "Mau lihat ponselmu!" ia pun tidak kalah bersuara tinggi.


Cakra membuka kata sandi ponsel miliknya kemudian memberikan telepon genggam itu kepada Berti.


"Ambil. Lihat sepuasnya," ucap Cakra.


Sudah diizinkan, maka Berti mengambil ponsel itu kemudian memeriksa galeri foto. Tidak ada yang mencurigakan di sana. Kebanyakan potret dari denah lokasi, angka-angka dan foto Cakra bersama rekan kerjanya.


"Foto aku mana? Kok, enggak ada di sini?" tanya Berti.


"Oh, jadi, kamu enggak mau simpan foto aku gitu?"


"Sudah malam, sebaiknya kita tidur," kata Cakra mengalihkan.


"Jawab aku!" kata Berti. "Apa aku ini kurang cantik sampai kamu enggak mau save foto aku?"


"Jangan seperti anak kecil. Masalah foto kamu harus sampai marah. Foto nikah kita itu, kan, ada," ucap Cakra.


"Aku mau foto kita saat di Bali!" kata Berti. "Kamu itu enggak sayang sama aku. Enggak cinta aku!"


Cakra merebut ponsel dari istrinya, mengotak-atik telepon genggam itu kemudian memberikannya kembali pada Berti.


"Lihat sepuasnya," kata Cakra.


Tawa ditahan, raut wajah tetap masam seperti tadi. Berti tetap dalam keadaan marah setelah melihat potret yang suaminya tunjukan. Rupanya Cakra menyimpan foto kebersamaan mereka di file lain.

__ADS_1


"Kok, aku tidur dipotret?" tanya Berti.


Cakra langsung merebut ponselnya. "Jangan banyak tanya. Cepat tidur."


"Aku belum lihat sepuasnya. Siapa tahu kamu menyimpan foto wanita lain di sana."


"Apaan, sih?"


"Aku mau lihat," desak Berti.


Cakra sekali lagi memberikan telepon genggam miliknya dan Berti kembali memeriksa. Tidak ada apa pun di dalam sana yang terlihat mencurigakan.


"Puas? Suami sendiri dicurigai," kata Cakra.


"Kamu boleh periksa ponselku," ucap Berti seraya mengembalikan telepon itu pada suaminya.


"Aku sudah tahu kamu itu punya pacar. Masih tidak sadar dengan kelakuanmu itu."


"Arjuna bukan pacarku!" ucap Berti.


"Lalu apa?" tanya Cakra.


"Cuma pura-pura agar aku bisa cerai sama kamu," ungkap Berti.


"Sampai segitunya kamu ingin cerai dariku?"


"Karena aku enggak suka sifat kakumu itu," kata Berti.


Cakra berkacak pinggang. "Kamu mau aku selalu patuh, sedangkan kamu tidak patuh padaku. Aku minta untuk berhenti kerja saja, kamu marah. Kamu pikir aku ini apa? Robot? Yang bisa kamu atur-atur."


"Aku tidak bermaksud begitu," sanggah Berti. "Suami istri itu wajar saling mencintai. Istri itu perlu diperhatikan. Aku cuma mau itu dari kamu."


"Istri itu tanggung jawab suami. Mau cinta atau enggak itu tidak penting. Yang penting itu kita hidup bersama. Punya ikatan sah. Jangan berpikir seperti kamu itu hidup dalam novel romansa. Buang semua koleksi bacaan tidak bermutumu itu," kata Cakra.


"Kamu pikir cinta itu hanya dalam novel? Istri juga butuh cinta dan kasih sayang," ucap Berti.


"Nyatanya istri itu cuma butuh suami yang bertanggung jawab dan setia. Aku melakukan keduanya. Kamu kurang apalagi?" tanya Cakra. "Sudahi mimpimu itu. Bangun dan hadapi realita. Jangan memintaku seperti Romeo karena aku bukan dia. Aku Cakra! Inilah aku, suamimu!"

__ADS_1


Berti langsung berlari keluar kamar setelah mendengar itu. Ia tidak sanggup untuk menyanggah ucapan menyakitkan yang dilontarkan Cakra. Mungkin benar jika Berti terlalu berharap dengan kisah cinta ala film atau novel yang ia baca.


Bersambung


__ADS_2