
Berti telah sampai di rumah. Ia tinggal menunggu kedatangan Cakra yang masih dalam perjalanan. Berti sudah memakai dress hitam di atas lutut. Rambutnya dicepol acak-acakan dan memakai sandal rumah bentuk kelinci.
Penampilan ala anak muda zaman sekarang, sepertiĀ drama korea yang Berti tonton. Ia juga memperlihatkan penampilannya itu kepada Sari dan sahabatnya setuju jika Berti seperti itu. Menurut Sari, itu sangat seksi.
Suara klakson mobil terdengar. Berti beranjak dari duduknya. Ketika Minah berlari ingin membuka pintu, Berti melarang. Ia sendiri yang akan menyambut kedatangan Cakra.
Berti membuka pintu rumah. Cakra sudah keluar dari dalam mobil. Langsung saja Berti berlari menempuh tubuh Cakra. Ia memeluknya dengan erat. Cakra tentu saja kaget atas perlakuan Berti termasuk Ariel yang berdiri di belakang mereka.
"Akhirnya kamu pulang juga, Sayang," ucap Berti.
"Kamu ngapain, sih? Lepas, enggak? Ada Ariel di sini," bisik Cakra.
Berti melepas pelukannya. Ia beralih memandang Ariel. "Halo, Ar."
"Selamat sore, Nyonya," ucap Ariel.
"Ayo, Sayang. Kita masuk." Berti menggandeng tangan Cakra, lalu mengajaknya masuk ke dalam rumah bersama.
Cakra manut masuk bersama Berti. Ia ingin melepaskan lengan istrinya, tetap tidak enak karena Ariel ada di belakang membawa koper.
"Bi Minah," panggil Berti.
Minah bergegas menghadap. "Iya, Nyonya."
"Buat teh hijau untuk suamiku. Untuk Ariel juga. Celiman jangan lupa," kata Berti.
Cakra berdeham. "Ariel, kamu pulang saja untuk istirahat."
"Kok, pulang? Baru saja mau dibuatkan minum," kata Berti.
"Ariel capek. Lebih baik langsung pulang saja."
"Benar, Nyonya. Saya pulang saja," sahut Ariel.
"Terima kasih sudah mengantar. Kopernya letak saja di sini. Aku bisa bawa sendiri," kata Cakra.
"Baik, Tuan. Kalau begitu, saya permisi."
Ariel berpamitan juga pada Berti, lalu berjalan keluar dari rumah. Selepas Ariel tidak ada, Cakra melepaskan lengan Berti yang melingkar di tangan.
"Aku perlu mandi," ucapnya.
"Bibi bawa teh hijau sama cemilannya ke kamar saja," kata Berti.
"Iya, Nyonya," jawab Minah.
__ADS_1
Berti kembali menggandeng tangan Cakra. Tidak peduli suaminya itu akan marah atau kesal. Berti mengajaknya naik ke lantai atas bersama-sama.
"Ada apa denganmu?" tanya Cakra.
"Tidak ada," jawab Berti. "Aku siapkan air hangat untuk kamu mandi."
Cakra menggaruk-garuk kepalanya yang terasa tidak gatal. Ada yang aneh dari istrinya. Penampilan Berti juga sedikit berani. Gaun yang melekat di tubuhnya terlalu ketat.
"Airnya sudah siap," kata Berti.
"Terima kasih," ucap Cakra.
"Tunggu!"
"Apa?"
Berti berjalan mendekat. Ia membantu Cakra melepas jas, lalu dasi yang masih melekat di leher kemeja. Ketika Berti ingin melepas kancing baju, Cakra menahan tangannya.
"Aku bisa sendiri," ucapnya.
"Aku ambil handuk dan pakaian ganti," kata Berti.
Tidak ingin mengulangi kejadian lalu, Berti berhati-hati mengambil pakaian untuk Cakra. Baju dan handuk ia serahkan kepada suaminya yang langsung melangkah ke bilik mandi.
Berti mengembuskan napas lega. Hampir saja ia ingin pingsan karena bertindak berani. Ia gugup dan malu saat memeluk Cakra tadi. Terlebih di depan Ariel, dan sialnya Cakra malah bersikap aneh melihat tingkahnya.
Pintu kamar diketuk, Berti beranjak membuka. Minah datang dengan nampan yang langsung diambil alih oleh Berti.
"Bibi siapkan makan malam. Aku ingin bersama Cakra dulu," ucap Berti.
"Beres, Nyonya. Serahkan semuanya pada Bibi," sahut Minah dengan senyumnya.
Berti ikut tersenyum dan mengetahui maksud dari asisten rumah tangganya. Namun, ini tidak semudah yang dibayangkan. Hubungan Cakra dan Berti bukanlah seperti itu.
Nampan diletakkan di atas meja. Berti meraih ponsel dan memberi kabar kepada Sari tentang apa yang telah terjadi.
"Apa aku telepon saja?" kata Berti. "Baiknya telepon. Cakra juga tengah mandi."
Berti menekan nomor Sari, memencet tombol warna hijau berlogo gagang telepon, lalu mendekatkan ponsel ke telinga. Panggilan tersambung, lalu terdengar suara wanita yang mengangkat.
"Cepat sekali kamu menghubungiku," ucap Sari di balik telepon.
"Cakra tengah mandi," kata Berti.
"Jadi, bagaimana? Apa berhasil?"
__ADS_1
"Biasa saja. Dia bahkan seperti menganggapku aneh."
"Ini baru pertama. Coba lagi saja. Aku jamin Cakra akan klepek-klepek saat bersamamu."
"Kamu yakin?" tanya Berti.
"Di mana-mana pria akan sama saja. Matanya tidak bisa lepas dari seorang wanita cantik."
Pintu kamar terbuka. Cakra keluar dengan pakaian lengkap. Berti gelagapan, lalu segera memutus sambungan telepon. Berti bangkit dari sofa, ia mengambil handuk dari tangan Cakra kemudian meletakkannya di keranjang baju kotor.
"Bibi sudah menyiapkan teh untukmu," kata Berti.
"Aku ingin ke ruang kerja."
"Minum dulu teh hijau yang sudah dibuat."
Cakra berjalan ke arah meja. Ia meraih cangkir itu, lalu meneguk minumannya sampai habis. Setelah itu, Cakra menarik gagang pintu dan keluar dari kamar.
Berti mengembuskan napas kasar. Ruang kerja adalah istri dari Cakra. Setiap pulang suaminya akan menghabiskan waktu di sana. Cakra akan berada di kamar ketika ingin tidur saja.
"Kurasa misi ini akan gagal," gumam Berti.
******
Makan malam tiba. Berti menuruni anak tangga satu per satu menuju ruang makan. Rupanya Cakra belum ada di sana. Segera ia berjalan ke ruang kerja tempat Cakra menghabiskan waktu.
Berti mengetuk pintu. Belum ada tanggapan sama sekali. Ia lalu menekan gagang pintu yang tidak terkunci kemudian masuk begitu saja. Sungguh ruangan yang besar. Terdapat banyak buku yang tersimpan di dalam lemari. Ada sebuah TV dan lengkap dengan bar.
"Pantas saja dia betah di sini," ucap Berti.
Pandangan Berti teralih ke sofa tidur. Di sana Cakra tertidur pulas. Berti menatapnya. Sekarang ia mengerti. Setiap pulang kerja, Cakra akan tidur di sini. Pria itu memang sengaja menjauh darinya.
Berti tidak ingin membangunkan suaminya. Ia keluar dengan membanting pintu, lalu berjalan ke ruang makan. Cakra kaget karena mendengar suara itu. Ia bangun.
"Siapa, sih? Ganggu orang tidur saja," ucapnya kesal. Pandangannya mengitari segala arah, tetapi tidak ada siapa-siapa selain dirinya di ruang kerja. "Sudah malam ternyata."
Cakra bangun, ia mendengar ketukan pintu. Seperti biasa, Cakra tahu siapa yang selalu memanggilnya untuk makan malam. Minah sudah berdiri di muka kamar ketika Cakra membuka pintu.
"Tuan, makam malam sudah siap," ucap Minah.
"Nyonya sudah turun?" tanya Cakra.
"Sudah dan beliau tengah menunggu."
"Aku ketiduran di dalam," kata Cakra.
__ADS_1
Berti tersenyum ketika Cakra tiba. Ia bangkit dari duduknya, lalu menarik kursi. Cakra mendaratkan tubuh di sana, dan Berti melayani suaminya. Ia melupakan sesaat kenyataan yang baru saja ia dapati. Saat ini Berti punya misi untuk menaklukan Cakra.
Bersambung