
Pukul sepuluh malam, acara benar-benar sudah selesai. Tamu undangan telah pergi, dan hanya pelayan serta keluarga yang masih berada di hotel. Bagian terakhir adalah makan malam bersama.
"Besok kalian jadi berangkat?" tanya Adhitama.
Cakra mengangguk. "Iya, Pa."
"Hadiah dari tamu, mau dibawa ke mana?" tanya Widya.
"Ke rumah Cakra saja."
"Kita enggak diam di tempatku dulu?" tanya Berti.
"Aku sudah punya rumah," jawab Cakra. "Kita bisa gantian menginap di rumahmu nanti," katanya menambahkan.
Widya terkekeh. "Benar! Kita harus memberi kesempatan untuk mereka berdua. Lagian kita semua ingin dapat cucu, kan?"
"Setuju," sahut Santi.
"Kalian atur saja," sambung Ilham.
"Sekarang kita cepat selesaikan makannya. Pengantin baru ingin segera masuk kamar," ucap Adhitama.
Cakra tersedak minuman karena mendengar itu. Berti lekas memberinya tisu dan mengusap punggung belakang suaminya.
"Ya ampun, Papa! Kakak sampai tersedak," celetuk Dafa.
"Kayak enggak pernah saja kamu," sela Ilham.
"Justru aku sudah pengalaman, makanya aku tau kalau mereka ingin lekas ke kamar," sahut Adhitama dengan tawanya.
Berti ingin menghilang dari kumpulan keluarga. Bisa-bisanya di tengah makan malam membahas hal seperti itu. Ia ingin menyembunyikan wajah ke lubang terkecil agar siapa pun tidak dapat melihat rona malu pada pipinya.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Berti.
"Aku tidak apa-apa," jawab Cakra. "Sudah malam, kami memang harus kembali ke kamar."
"Benar, Nak. Kalian langsung istirahat saja," ucap Ilham.
"Jangan kecewakan kami, Kak. Papa dan Mama pengen cucu cepat," seloroh Dafa.
Cakra melototkan mata. "Jatah bulananmu dipotong."
"Kakak! Masa dipotong?"
Setiap bulan, Cakra selalu memberi uang jajan kepada sang adik. Mereka berdua memang dekat, tetapi punya sifat yang jelas berbeda. Dafa sangat mudah bergaul, sedangkan Cakra lebih pemilih dengan siapa ia berteman.
__ADS_1
"Jangan menganggu Kakakmu. Atau kamu mau jatah bulanan dari Papa dipotong?" ucap Widya.
"Jangan, Ma. Dafa mohon ampun."
"Kalian pergi saja. Jangan pedulikan anak nakal ini," kata Widya.
"Ayo, Bert! Kita ke kamar," ajak Cakra.
Berti mengiakan ajakan suaminya. Ia berpamitan kepada orang tua dan mertua untuk kembali lebih dulu sekaligus tentang kepergian mereka besok.
"Kamu hati-hati selama di sana," ucap Santi.
"Iya, Ibu jangan khawatir," kata Berti.
"Bapak sama Ibu tenang saja. Berti aman bersama saya," sahut Cakra.
"Kami percaya padamu, Nak," timpal Ilham.
Keduanya berjalan bersama meninggalkan ballroom hotel dengan diikuti oleh satu pelayan yang membantu mengangkat ujung gaun pengantin agar tidak menyapu lantai.
Kamar khusus pengantin berada paling atas. Semua barang Berti dan Cakra sudah berada di sana. Mereka tinggal masuk dan langsung istirahat saja.
"Kartunya, Tuan," ucap pelayan wanita dengan memberi kartu kunci kepada Cakra.
"Terima kasih sudah mengantar," balas Cakra.
Pintu dibuka, Cakra mempersilakan istrinya masuk lebih dulu. Seketika detak jantung Berti berdegup kencang. Terlebih melihat taburan kelopak bunga mawar merah di atas seprai putih.
"Kamu dulu atau aku?" tanya Cakra.
"Apa?!" Berti menutup bibirnya karena tanpa sengaja bertanya dalam nada keras. Sungguh ia sangat gugup.
"Mandi," jawab Cakra.
"Kamu duluan saja. Aku ingin bersihkan wajah dulu."
Cakra tersenyum tipis. "Oke."
Dalam hati, Berti bersyukur. Hampir saja ia tidak dapat mengendalikan kegugupan yang tiba-tiba menyerang. Ia melihat Cakra yang membuka koper, lalu mengambil handuk serta pakaian ganti. Pria itu langsung masuk ke dalam bilik mandi.
Berti menarik napas kemudian mengembuskannya perlahan. Ia melakukannya beberapa kali sampai dirasa cukup tenang. Ia tidak boleh gugup atau ragu. Ia sudah menikah, telah menjadi istri dari seorang pria bernama Cakra, dan malam ini adalah malam istimewa yang mengharuskan Berti melakukan kewajibannya.
"Tenang, Berti. Semua akan baik-baik saja," ucapnya pada diri sendiri.
Berti meraih koper yang berada di samping milik Cakra. Ia mengeluarkan satu set pembersih wajah serta skincare. Tidak lupa dengan pakaian ganti dan handuk.
__ADS_1
Berti duduk di kursi meja rias. Pertama, ia membersihkan wajahnya dulu dari make up yang menempel. Riasan yang membuat lelah, meski terlihat natural, tetapi sangat tebal nyatanya. Dalam tiga kali sapuan micelar water, barulah wajahnya benar-benar bersih.
Cakra keluar dari kamar mandi. Berti dapat melihat suaminya yang sudah berganti pakaian dari cermin. Sayang sekali. Ia kira Cakra akan berpenampilan seperti pria komik atau novel yang keluar dari kamar mandi dengan berselimutkan handuk saja. Namun nyatanya, itu cuma khayalan. Ia gagal untuk melihat bentuk tubuh dari Cakra.
"Bisa bantu aku menarik jepit rambut ini?" pinta Berti.
Cakra mengangkat wajahnya dari ponsel, beralih memandang Berti yang sedikit kesusahan melepaskan jepit hitam yang melekat di rambutnya.
Cakra meletakan ponsel di atas nakas, lalu beranjak menghampiri Berti. Ia melakukan apa yang diminta istrinya, menarik benda-benda yang menempel di rambut.
"Pelan sedikit," kata Berti.
"Aku harus menariknya dengan kuat agar terlepas," sahut Cakra.
"Tapi rambutku jadi tertarik begini."
"Jangan cerewet. Yang penting aku bisa melepaskan benda aneh ini dari rambutmu," kata Cakra.
Berti harus menahan perihnya dari setiap helaian rambut yang ditarik oleh Cakra. Ia lekas memegang kepalanya yang terada berdenyut.
"Selesai! Sekarang kamu pergi mandi sana," ucap Cakra.
"Tolong bukakan resleting gaunku," pinta Berti lagi.
Sebelah alis Cakra naik. Ia mundur selangkah, memandang resleting gaun Berti. Ia meraih handuk yang berada di atas tempat tidur, lalu menutup kepala Berti.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Berti.
"Jangan dibuka dan jangan bergerak," ucap Saka.
Berti diam saja. Terasa jari Cakra yang menurunkan resleting gaun pengantin. Jantung Berti tidak berhenti berdebar kencang, tiba-tiba saja bulu kuduknya merinding. Tidak mungkin Cakra adalah hantu. Namun ia tidak mengerti mengapa tubuhnya meremang.
"Sudah. Pergilah mandi," ucap Cakra.
Berti menarik handuk agar ia bisa memandang suaminya. Rupanya Cakra sudah kembali duduk di tempat tidur dengan bermain ponsel.
Dia seperti tidak tertarik padaku, batin Berti.
Berti melupakan itu, ia meraih pakaian ganti yang berada di tempat tidur dekat Cakra duduk. Suaminya sama sekali tidak memandang, Cakra terlalu fokus dengan ponsel miliknya.
Berti melangkah menuju bilik mandi, ia masih berpikir positif. Secepatnya ia lekas membersihkan diri agar Cakra tidak menunggu terlalu lama.
Dua puluh menit berlalu, Berti selesai membersihkan dirinya. Sekarang ia sudah wangi, dan bersiap untuk bertempur. Namun, baru melangkah keluar, ia tertegun melihat Cakra yang telah terlelap.
"Dia tidur di malam pengantin kami?" ucap Berti pelan. "Cakra pasti lelah menunggu. Lebih baik memang harus tidur. Mungkin dia capek karena acara seharian dan besok kami akan keluar negeri."
__ADS_1
Berti merangkak naik ke atas tempat tidur. Meski sedikit kecewa, tapi ia maklum. Cakra tengah dalam keadaan yang lelah. Harus banyak istirahat untuk bulan madu yang sesungguhnya.
Bersambung