Bantu Aku Cerai

Bantu Aku Cerai
Semoga Bahagia


__ADS_3

Berti ragu untuk bicara, tetapi ia ingin menemui Banyu saat ini. Pria itu berkali-kali menelepon juga mengirim pesan tanpa satu kali pun dibalas. Berti juga merasa tidak nyaman karena kejadian tempo hari. Ia belum sama sekali menjenguk lelaki itu setelah Cakra menghajarnya.


"Mas enggak ke luar negeri lagi?" tanya Berti.


Cakra terdiam. Sebenarnya ia ingin sekali ke luar negeri menengok restoran cabang yang baru dibuka di Hongkong. Kemudian ke surabaya meninjau lokasi gedung supermarket yang baru. Namun, tidak ingin kejadian terulang lagi, terpaksa harus menyuruh orang kepercayaan.


"Kenapa?" Cakra balik bertanya.


"Kirain Mas mau ke luar negeri lagi."


"Tunggu kamu melahirkan saja. Kita bisa pergi sama-sama," ucap Cakra.


"Mas, aku boleh kerja lagi, kan?"


"Hanya mengurus satu butik saja. Fokuslah pada anak dan diriku."


"Oke! Mas sudah setuju. Aku bakal bagi waktu buat keluarga," ucap Berti.


Cakra meneguk jus buah apel buatan Berti, lalu menyuap nasi goreng ke dalam mulut. Berti ingin bicara lagi, tetapi bibirnya tiba-tiba menjadi kelu.


"Kalau aku ke luar negeri, kamu tinggal sama mama saja," kata Cakra.


"Kenapa?" tanya Berti.


"Biar kakimu itu tidak nakal. Beneran mau bersama Banyu?"


Berti menunduk. "Mas, aku boleh bicara sama Banyu, enggak?"


Cakra tersedak nasi goreng yang ia makan. Berti lekas memberi air putih, lalu mengusap punggung belakang suaminya.


"Apa? Kamu masih ingin bertemu dengannya?" tanya Cakra tidak percaya.


"Hanya bicara saja. Aku ingin bicara penting pada Banyu."


"Bicara apa?" tanya Cakra. "Sungguh, Bert. Kalau kamu ingin bersamanya, sudahlah, aku bakal rela melepasmu." Cakra menyeka bibirnya dengan lap, lalu bangkit dari duduknya.


"Mas, kamu belum dengar penjelasanku," kata Berti.


"Sepertinya aku tidak tepat sebagai pendampingmu. Aku sudah berusaha, Bert. Menjadi suami yang kamu inginkan. Tapi aku ini hanya manusia biasa yang tidak bisa melakukan apa pun. Aku banyak kekurangan meski aku berusaha menjadikan kekurangan itu sebagai kelebihanku," tutur Cakra.


"Kenapa Mas bicara begitu? Katanya cinta sama aku. Katanya enggak bisa hidup tanpa aku?"


"Terus aku harus apa? Masa aku izinin kamu ketemu sama cowok lain terus ketawa-ketiwi sama Banyu itu." Cakra bingung untuk memberitahu istrinya. Rasanya apa yang ia lakukan selama ini semuanya serbasalah.


"Makanya Mas dengar dulu aku bicara," ucap Berti.

__ADS_1


"Bicara saja. Aku mendengarkan."


"Banyu terus menghubungiku. Aku bisa saja memblokir nomornya, tetapi aku ingin berhubungan baik bersamanya sebagai teman."


"Enggak bisa pria dan wanita itu menjadi teman," ucap Cakra.


"Aku tahu. Tapi aku memang perlu bicara sama Banyu agar dia tidak salah paham. Mas izinin aku buat ketemu sama dia."


Cakra memandang istrinya lekat, lalu ia mengangguk. "Baik, aku kasih izin. Tapi, aku harus ikut."


Berti tersenyum. "Jam makan siang."


"Oke, aku jemput kamu di rumah. Jangan pergi sebelum aku datang," kata Cakra.


"Iya, aku bakal tunggu kamu datang."


Cakra beralih dari kursinya, lalu berjalan menuju sofa ruang tamu yang disusul oleh sang istri. Berti membantu Cakra memakai jas, memberikan tas kerja suaminya yang hanya berisi berkas-berkas penting perusahaan.


"Aku pergi dulu," ucap Cakra seraya mengulurkan tangannya.


Berti menyambut dengan mengecup punggung tangan suaminya. "Mas hati-hati di jalan."


Cakra melirik arah dapur, memastikan keadaan aman dari Minah yang mungkin saja mengintip. Dengan cepat, ia mengecup kening Berti.


"Aku ke kantor," ucapnya, lalu lekas berjalan keluar rumah.


"Mas Cakra," gumam Berti dengan menyentuh pipinya.


Cakra sudah mempraktekan hal yang disarankan oleh Ariel. Mulai hari ini, ia akan memberikan kecupan di wajah Berti saat pergi dan pulang dari kantor. Ia juga bertekad untuk memberi bunga atau hadiah bagi istrinya itu. Tidak serumit yang dibayangkan. Hanya sentuhan kecil saja bisa membuat seorang istri berbunga-bunga.


...****************...


Jam makan siang, Cakra menjemput istrinya di rumah. Kesalnya mengapa hari ini Berti semakin cantik saja? Memakai dress selutut dengan lengan pendek. Rambutnya di catok curly, lalu dijepit pita di sisi kiri dan kanan. Riasannya tipis, tetapi bibir itu diberi perona merah yang membuat penampilan istrinya terlihat segar.


"Buat bertemu Banyu saja harus dandan," celetuk Cakra.


"Memang salah kalau aku tampil cantik?"


"Enggak salah," jawab Cakra.


"Terus, kenapa Mas Cakra protes?"


"Enggak protes cuma menyayangkan."


"Maksudnya apa, sih?" tanya Berti.

__ADS_1


"Enggak apa-apa," jawab Cakra akhirnya, agar tidak lagi mendebat sang istri tercinta.


Mobil sampai di parkiran taman kota, tempat waktu itu Cakra mempergoki Berti bersama Banyu. Di sini juga lokasi Cakra memberi pelajaran bagi pria yang terang-terangan menginginkan istrinya.


Keduanya keluar dari mobil, Berti menghubungi sang mantan, memberitahu kalau ia telah sampai. Rupanya Banyu berada di lokasi tempat duduk waktu itu.


"Banyu sudah datang. Mas Cakra jaga jarak dari kami. Cukup perhatikan saja dari jauh," pinta Berti.


"Kalau dia macam-macam gimana?" tanya Cakra.


"Enggak bakalan. Mas tenang saja."


Cuma bisa mengiakan. Berti berjalan lebih dulu dengan Cakra mengekor dari belakang. Dari kejauhan, terlihat Banyu. Cakra akui jika pria itu cukup tampan untuk bersaing dengannya. Tapi, Berti sudah lebih dulu menjadi miliknya, tentu saja sebagai seorang pemilik, tidak akan memberi kesempatan untuk orang ketiga.


"Banyu," tegur Berti.


"Berti," balas Banyu. "Aku senang kamu datang."


"Kamu baik-baik saja, kan? Maafin Cakra yang kemarin memukulmu."


Banyu menggeleng. "Aku tidak peduli tentang dia. Yang penting itu kamu."


"Terima kasih, Banyu. Terima kasih untuk beberapa hari yang lalu mengisi kekosongan hati ini."


"Aku senang melakukannya," jawab Banyu.


"Kita teman, kan, Banyu?" tanya Berti.


Banyu menatap wanita yang ia sukai, lalu melihat Cakra yang berdiri memperhatikan mereka. "Aku ingin lebih dari sekadar teman. Aku bisa membahagiakan dirimu."


"Aku tahu, tapi aku hanya ingin kita tetap menjadi teman. Maafin aku, Banyu. Mungkin aku terkesan memberi harapan untukmu. Aku memang menyukaimu, tetapi aku lebih menyukai suamiku."


"Kamu masih ingin bersama patung berjalan seperti dia? Bert, kamu akan diperlakukan lagi seperti dulu bila kembali menjalani pernikahan hambar itu," ucap Banyu.


Berti menggeleng. "Akulah yang salah, Banyu. Aku yang tidak bersyukur mendapat suami seperti Cakra. Dia memang bukan pria romantis seperti yang kuinginkan, tetapi dia pria yang aku harapkan dalam hidupku. Cakra yang terbaik untukku."


"Bert, aku selalu mengharapkanmu," ucap Banyu.


"Aku bukan yang terbaik untukmu, Banyu. Di luar sana, ada seorang yang tengah menunggumu."


Banyu mengangguk. "Ya, kamu benar. Tapi hati ini tetap saja sakit."


"Semoga seiring waktu sakit itu berkurang. Maafkan aku, Banyu," ucap Berti, lalu melangkah pergi menghampiri Cakra.


Banyu cuma menatap wanita itu pergi bersama lelaki yang sah memilikinya. Ia mengembuskan napas panjang. Sakit, tetapi memang seharusnya ia tidak mencoba memiliki wanita milik pria lain. Lagipula, Berti tidak menjanjikan apa pun padanya. Menyatakan perasaan saja tidak.

__ADS_1


"Semoga kamu bahagia, Berti," ucap Banyu.


Bersambung


__ADS_2