
Sekitar delapan jam perjalanan, Berti dan Cakra tiba di Kuala Lumpur. Di sana mereka dijemput oleh orang kepercayaan Cakra yang mengurus restoran pria itu.
Berti berjalan di belakang seraya membaca postingan galau dari Banyu. Pria itu patah hati lantaran diabaikan oleh sang mantan, dan masih tidak menerima fakta yang sesungguhnya bahwa wanita yang ia cintai selama ini sudah menikah bersama orang lain.
Cakra berhenti melangkah, lalu menoleh ke belakang. "Bert, cepat jalannya."
"Iya, Mas."
Masuk mobil, lalu melakukan perjalanan lagi menuju hotel. Setelah itu, Berti akan ditinggal lagi oleh Cakra yang sibuk bekerja. Usaha keras memang bagus, tetapi terlalu berlebihan bukankah tidak baik untuk pernikahan.
Meninggalkan seorang istri di kamar sendirian, lalu malamnya melayani suami yang berhasrat atas tubuh indahnya. Berti seperti wanita panggilan saja. Sekarang ia mengerti mengapa Cakra menginginkan dirinya untuk berhenti bekerja dan diam di rumah. Rupanya karena ini, Cakra ingin ia selalu berada di sampingnya bila pria itu bergairah.
"Mas, apa kita akan lama di sini?" tanya Berti ketika mereka sampai di kamar hotel yang telah dipesan sebelumnya secara online.
"Sampai urusanku selesai tentunya," jawab Cakra. "Kamu mau jalan lagi?"
"Sudah di Malaysia, aku ingin liburan."
"Aku cuma punya waktu satu hari. Besok saja kita jalan-jalan," kata Cakra.
Seharusnya Berti senang karena Cakra meluangkan waktu. Namun, tidak tahu kenapa tiba-tiba itu terasa hampa. Berti duduk di sofa seraya memandang Cakra yang telah merebahkan diri di atas kasur.
"Mas, kita main, yuk," ajak Berti.
"Apa, sih, Bert? Aku ngantuk malah ngajak main. Nanti malam saja. Aku lagi capek buat anak."
"Bukan itu, Mas. Maksud aku kita lakulan hal menyenangkan."
"Aku mau tidur. Mending kamu baca buku atau nonton sana," kata Cakra.
Padahal Cakra sudah nyenyak tidur ketika dalam pesawat tadi. Sekarang malah ngantuk lagi. Pelariannya adalah pada ponsel. Berti selfi dengan menunjukkan kamar luas yang ia tempati sekarang.
Tidak lupa dengan caption kalau saat ini ia tengah berada di Kuala Lumpur. Tidak membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan tanda suka serta komentar dari teman maupun dari pengikut.
Sari serta Arjuna yang telah beruntung menjadi sahabat dari dua wanita kaya juga ikut berkomentar. Mereka menggoda Berti lewat tulisan. Sementara ada yang membuat Berti merasa bersalah setelah membaca komentar dari Banyu.
Ada seseorang yang dulu berarti dalam hidupku. Suatu hari nanti berharap dapat berjalan di jalan yang sama. Namun, takdir berkata lain. Jalan yang kami susuri rupanya hanya sampai di tengah jalan.
Berti tidak ingin membalasnya atau memberi tanda suka di komentar yang Banyu tuliskan. Ia langsung mematikan ponsel, lalu beranjak dari sofa menyusul Cakra yang sudah terlelap.
"Mas, peluk aku," pinta Berti dengan mengguncang tubuh suaminya.
Cakra berguman dan menepis tangan Berti. Ia sungguh tidak ingin diganggu dalam tidur. Jika dalam dunia maya, komik atau novel, pemeran utama pria-nya sangat suka memeluk si wanita. Namun, kenyataannya adalah seperti yang terlihat. Cakra sama sekali tidak menyukai hal itu.
"Bisakah aku tidur dengan tenang?" kata Cakra dengan wajah kesalnya.
"Aku cuma mau minta peluk."
__ADS_1
"Panas, Bert. Kamu mandi sana. Tubuhmu bau keringat," kata Cakra.
Sontak Berti langsung memukul lengan suaminya. "Kalau bicara dijaga, Mas."
"Mandi sana," kata Cakra yang meringkuk seraya memeluk guling.
Berti yang kesal, kembali memukul lengan suaminya. "Awas saja kalau kamu minta jatah. Enggak bakal aku kasih!"
...****************...
Jalan-jalan yang begitu membosankan. Seperti biasa, pergi berdua, tetapi jalan tetap sendirian. Sementara Banyu terus menghubungi Berti. Menanyakan kabar atau aktivitas dari istri orang itu. Sepertinya Banyu tidak peduli Berti ada yang memiliki. Perasaannya begitu kuat untuk mendapatkan wanita yang ia cintai.
"Mas, aku mau pulang," kata Berti.
"Sebentar, aku bayar buku ini dulu," kata Cakra.
Ponsel berdering, Berti melihat nama si pemanggil. Rupanya Banyu dan kali ini ia mengangkat panggilan itu.
"Ada apa, Banyu?" tanya Berti.
"Maafkan aku yang terus menganggu."
"Katakan saja apa maumu," ucap Berti yang ingin mengakhiri obrolan ini secepatnya.
"Aku ingin memilikimu," ungkap Banyu yang diakhiri dengan tawa. "Hei, kamu marah padaku?"
"Tidak, kok."
"Ini aku jawab," kata Berti.
"Wajahmu jelek kalau sedang kesal."
"Aku tengah bahagia," kilas Berti.
"Senyum sedikit biar aku bisa melihat wajah cantikmu," kata Banyu.
Berti tersentak, ia menoleh kiri dan kanan mencari keberadaan Banyu. Namun, tidak ada tanda-tanda dari keberadaan pria itu.
"Kamu di mana?" tanya Berti.
"Singapura."
Berti mengembuskan napas kasar. "Dari mana kamu tahu kalau aku lagi kesal dan wajahku cemberut?"
"Kita, kan, satu hati," jawab Banyu.
Berti tertawa mendengarnya. "Kamu bisa saja."
__ADS_1
"Sudah dulu, ya. Aku harus siap-siap buat keberangkatan besok."
"Kamu akan pulang ke Indonesia?" tanya Berti.
"Iya, aku akan menunggumu."
"Buat apa?" tanya Berti, tetapi telepon itu diputus sepihak oleh Banyu. "Dasar, Banyu," gumam Berti.
"Siapa yang telepon?" tanya Cakra.
Berti terkesiap. "Mas bikin kaget, deh."
"Kamu ngapain, sih?"
"Lagi teleponan," jawab Berti.
"Ayo, pulang," kata Cakra tanpa bertanya siapa yang menelepon istrinya.
Sesampainya di hotel, Cakra mulai membujuk Berti untuk melayani dirinya. Tentu saja dendam kesumat itu masih ada. Berti kesal lantaran ucapan Cakra yang terlalu terang-terangan.
"Aku salah apa lagi, sih? Tiap hari kamu marah terus," kata Cakra.
"Kamu enggak salah, aku yang salah," jawab Berti.
"Suamimu lagi kepengen, nih, Bert."
"Aku lagi malas mandi. Badanku bau keringat. Mas, kan, enggak mau dekat kalau aku bau."
"Kamu wangi, kok."
"Mas bilang aku bau."
"Kapan?" tanya Cakra tidak sadar diri.
"Aku enggak bisa buat anak. Lagi malas mandi," kata Berti.
"Ya, bau kalau enggak mandi."
"Makanya, aku enggak mau mandi biar kamu enggak bisa bikin anak," ucap Berti. "Pokoknya tunggu aku mandi tujuh kembang baru kita bikin anak."
"Astaga!" sahut Cakra.
Bersambung
Cakra : "Aku salah apa lagi, sih? Ditolak terus."
__ADS_1
Berti : "Mandi kembang dulu biar wangi."