
Ada bagusnya juga punya suami yang selalu mementingkan waktu. Cakra berjanji akan pulang pulang pukul dua belas siang dan ia menepatinya.
Keduanya makan siang bersama terlebih dulu setelah itu berangkat menuju bandara bersama Ariel yang ditugaskan menjadi sopir.
"Semua sudah dibawa, kan?" tanya Cakra.
"Sudah, Sayang. Enggak ada yang ketinggalan."
Cakra melepas rangkulan tangan Berti. "Jangan begini. Ada Ariel di sini."
"Biarin. Ariel juga fokus nyetir," ucap Berti manja.
"Jangan!" ucap Cakra dengan menekan nada suaranya.
Berti mendengkus, lalu menjauh sedikit dari suaminya. Ariel memang sedikit tidak nyaman meski ia fokus menatap ke depan. Namun, suara manja Berti membuatnya menjadi malu sendiri.
Perjalanan memakan waktu empat puluh lima menit. Berti dan Cakra telah sampai di bandara. Ariel mengeluarkan dua koper dari bagasi yang disambut oleh keduanya.
"Jangan lupa untuk menjemput kami nanti," kata Cakra mengingatkan.
"Siap, Tuan. Saya akan datang tepat waktu," sahut Ariel.
"Kami pergi dulu."
"Selamat bersenang-senang, Tuan, Nyonya," ucap Ariel.
Berti membalasnya dengan senyum, sedangkan Cakra seperti biasa, cuma berdeham. Keduanya masuk menunggu keberangkatan yang sebentar lagi akan diumumkan.
Beberapa saat, Berti dan Cakra menuju pesawat mereka. Keberangkatan telah diumumkan dan penumpang diharapkan segera naik.
"Kamu kenapa, sih?" tanya Cakra.
"Aku kenapa?" Berti balik bertanya.
"Dari semalam aku perhatiin senyum-senyum sendiri. Kamu belum pernah ke Bali?"
"Pernah, tapi kali ini istimewa karena perginya sama kamu," jawab Berti.
Cakra mendecakkan lidah. Lagi-lagi Berti merangkul lengan tangannya. "Lepasin!"
"Kamu kenapa, sih? Aku cuma mau gandeng."
"Ini di depan banyak orang. Jaga sikapmu."
"Kita suami istri. Wajar saja gandengan," sanggah Berti.
"Tetap saja harus sopan. Jangan bertingkah seperti anak yang baru mengenal dunia," kata Cakra.
Berti terdiam, ia memalingkan wajah ke arah lain dan matanya tertuju pada wanita yang tengah bersandar di bahu pasangannya. Ia merasa menggandeng tangan suami bukan masalah di depan umum. Namun, bagi Cakra itu merupakan tindakan tidak baik.
Alhasil, dalam perjalanan hanya keheningan yang terjadi. Berti memejamkan mata meski ia tidak tidur, sedangkan Cakra membaca buku yang sengaja pria itu bawa.
Matahari sudah terbenam ketika Berti dan suaminya tiba di Bali. Keduanya langsung menuju hotel yang sudah Cakra pesan sebelumnya. Tinggal menunjukkan nomor pemesan, mereka langsung mendapat kunci kamar.
"Kamarnya sesuai keinginanmu, kan?" tanya Cakra.
__ADS_1
Berti mengangguk. "Iya. Kamarnya menghadap pantai. Kita bisa bersantai di balkon sambil memandang laut."
Kamar bergaya bohemian. Nuansa kayu menjadikan suasana di dalamnya menjadi hangat dan romantis. Ketika Cakra dan Berti ingin bersantai di balkon, mereka bisa duduk di kursi rotan yang sudah dialas dengan kasur putih tebal.
"Aku mandi duluan. Setelah itu kita makan malam bersama," kata Berti.
Cakra mengangguk. Ia langsung merebahkan diri di atas kasur seraya memainkan ponsel. Membalas pesan dari sang ibu dan ayah mertua dengan mengatakan kalau ia dan Berti telah sampai di tujuan.
Cukup lama Berti di dalam kamar mandi sebab ia harus mengeringkan rambutnya dengan hair dryer yang telah tersedia hingga Cakra tanpa sadar terlelap.
"Mas Cakra!" panggil Berti.
Cakra bergumam. "Siapkan pakaianku."
"Iya, kamu mandi dulu."
Cakra turun dari tempat tidur dengan langsung berjalan ke bilik mandi. Sementara Berti lekas menyiapkan pakaian ganti dan berdandan untuk makan malam. Ia juga menghubungi Sari yang telah sampai lebih dulu sehari sebelumnya bersama Arjuna. Besok, mereka berjanji untuk saling bertemu.
Berti memakai baju berbahan rayon motif bunga. Dress berpotongan sabrina rendah dengan panjang bawah yang berbelah tinggi. Berti juga mengepang rambutnya ke samping agar terlihat lebih kece.
Cakra keluar dari kamar mandi. Ia memperhatikan penampilan Berti dari atas sampai bawah kemudian berkata, " Kamu yakin pakai baju itu?"
"Kenapa? Apa tidak bagus?" tanya Berti.
"Enggak dingin malam hari pakai baju terbuka seperti itu?"
"Kurasa tidak masalah."
"Terserah kamu, deh," kata Cakra.
"Cocok," jawab Cakra singkat.
"Cantik tidak?"
"Sama saja."
"Maksudnya?" tanya Berti.
"Bagus, kok."
Ketidakyakinan Berti yang membuatnya melepas dress warna kuning, lalu menggantinya dengan model gaun di atas lutut berpotongan V-neck rendah.
"Kalau ini bagaimana?" tanya Berti.
"Bagus," jawab Cakra.
"Kamu yang serius, dong."
"Sama saja. Kamu mau pakai baju apa pun tetap tidak bisa mengubah dirimu seperti model," kata Cakra.
Berti terperangah mendengar ucapan suaminya. "Apa kamu bilang?"
"Cepatlah. Aku sudah lapar," kata Cakra yang berjalan membuka pintu dan menunggu Berti keluar.
Tidak bisa berkata-kata. Hanya menyimpan kejengkelan di dalam hati. Berti keluar, disusul Cakra di belakangnya. Keduanya jalan sendiri. Tanpa gandengan atau percakapan mesra.
__ADS_1
Suasana restoran yang menghadap kolam renang memang romantis. Lampu kerlap-kerlip semakin membuat pasangan yang menikmati liburan mereka begitu menyenangkan. Baru datang saja Berti sudah kecewa atas sikap Cakra, apalagi besok adalah hari jadinya. Tidak berharap meski dalam hati menginginkan sebuah kejutan dari suaminya.
"Kita foto, yuk, Sayang," ajak Berti.
Cakra mengangguk, lalu mengulurkan ponselnya. Syukurlah dalam hati. Berti kira suaminya itu akan menolaknya lagi.
Berti menggeser tempat duduknya agar bisa lebih dekat. "Senyum," ucapnya.
Senyum tipis. Bagi Berti itu hanya menarik bibir saja. Sama sekali tidak ada manis yang ditunjukan oleh Cakra. Namun, begitu saja sudah lumayan bagus.
Beberapa kali Berti memotret. Cakra mengambil telepon genggam miliknya dan bergantian mengambil gambar Berti, tetapi hanya seorang diri.
"Coba foto di dekat lampu sana. Pasti lebih bagus," kata Cakra.
Berti tersenyum dan segera bangkit dari kursinya. Baru tahu jika Cakra menyukai sesi berfoto. Memang restoran yang mereka datangi sangat menarik dan ada tempat khusus pengunjung yang ingin mengabadikan moment mereka.
"Kok, aku kelihatan pendek?" ucap Berti ketika melihat hasil jepretan Cakra.
"Memang kamu pendek," sahut Cakra, lalu kembali ke meja mereka.
Berti mendengkus. "Punya suami, memuji saja enggak pernah."
Selepas makan malam, Cakra dan Berti langsung kembali ke kamar. Lagi-lagi tidak ada percakapan di antara mereka. Cakra asik membaca buku di sofa, sedangkan Berti susah untuk memejamkan mata.
"Kamu belum ingin tidur?" tegur Berti. "Sudah jam sebelas malam, nih."
"Lagi tanggung," kata Cakra. "Kamu tidur saja."
"Masa sendirian," protes Berti.
"Tidur saja!" ulang Cakra tegas.
Meski kesal, tetapi Berti mematuhi perintah suaminya. Ia memejamkan mata dan berharap lekas terlelap.
Dering ponsel mengejutkan Berti. Baru saja terlelap sudah dikejutkan panggilan video dari Sari. Langsung saja Berti menggeser logo hijau itu.
"Selamat ulang tahun!" ucap Sari dengan hebohnya.
"Makasih. Besok kita ketemuan dan merayakannya."
"Tiup lilinnya," kata Sari yang menyodorkan kue tart dengan lilin menyala.
Meski tidak bisa disentuh, Berti berpura-pura meniupnya. "Makasih banyak sahabatku."
"Eh, ada Cakra." Sari langsung memutus panggilan video.
Berti menoleh pada suaminya yang merangkak naik ke atas tempat tidur. "Sari mengucapkan selamat untukku."
Cakra malah menyodorkan kotak biru beludru ke hadapan Berti. "Hadiah ulang tahun."
Berti menyambut, lalu membukanya. "Kalung dengan inisial namaku. Sayang, makasih banyak." Berti langsung memeluk Cakra sampai suaminya itu jatuh di atas bantal. "Aku kira enggak dapat apa-apa dari kamu."
Cakra berdeham. "Sudah malam. Ayo, tidur."
"Enggak buat anak dulu?" tanya Berti.
__ADS_1
Bersambung