
Satu malam lagi akan dilewati Cakra tanpa kehadiran Berti. Tapi, Cakra tetap berada di kamar, selama istrinya itu belum terlelap. Setelah menghabiskan segelas susu dan satu potong kue, Berti menghabiskan waktunya dengan membaca novel melalui telepon genggam.
Cakra sudah memastikan jika itu adalah novel elektronik bukan pesan dari Banyu. Sesekali ia mengintip apa yang istrinya itu tertawakan. Kadang Berti juga hanyut dalam amarah, dan sepertinya Cakra juga harus membaca novel agar tahu menariknya sebuah cerita yang dikarang oleh penulis fiksi.
"Kalau istri itu panggilnya harus pakai sayang, baby, honey, jantungku, cintaku, jiwaku," celetuk Berti.
Cakra menahan tawa, dan entah kenapa ia memang ingin terbahak mendengar kehaluan istrinya itu. Yang Cakra tahu kalau pasangan sudah menikah hanya memanggil dengan sebutan 'mama dan papa', dan panggilan yang Berti sebutkan itu hanya untuk anak muda. Cakra pernah mendengar teman kuliahnya memanggil pasangannya dengan sebutan seperti itu.
"Aku panggil kamu bunda, mau?" tanya Cakra.
Berti meliriknya. "Terserah kamu."
Cakra kikuk untuk menyebut Berti dengan sebutan itu, padahal ia sendiri yang mengajukan permintaan itu.
"Sudah malam, tidurlah," ucap Cakra.
"Kamu mau pulang, kan?"
"Istriku ada di sini, kenapa harus pulang?"
"Pulang ke rumah," kata Berti.
Cakra mengembuskan napas panjang. "Aku pulang sekarang."
Cakra beranjak dari tempat tidur. Berharap tadi itu Berti melarangnya untuk tidak pulang, dan ternyata istrinya itu memang tidak menginginkannya.
"Kamu sungguh ingin bersama Banyu?" tanya Cakra.
"Aku belum menyatakan perasaanku, tetapi aku memang niat untuk berpisah darimu terlepas nantinya aku bersama Banyu atau tidak." Berti memandang suaminya. "Kenapa? Kamu sudah tidak sanggup aku abaikan? Ini baru beberapa hari, lalu bagaimana dengan diriku yang kamu abaikan selama berbulan-bulan."
"Aku bersalah waktu awal pernikahan kita. Kamu tahu sendiri, waktu itu kita masih belum saling mengenal. Aku maunya kita sama-sama nyaman, lalu menjalin hubungan," tutur Cakra.
Cakra tidak mau mengungkapkan alasan sebenarnya mengapa ia tidak mau menyentuh Berti, padahal ia sangat ingin merasakan kenikmatan dunia bersama pasangannya waktu itu.
"Aku baru menjalin hubungan bersamamu dan kita langsung saja menikah," kata Cakra lagi.
__ADS_1
"Itu cuma alasanmu saja. Pulang ke rumah, hati-hati di jalan," ucap Berti, lalu merebahkan diri dan menarik selimut menutupi dirinya.
Cakra menarik gagang kunci, lalu keluar dari kamar. Ia menutup pintu dengan sedikit keras menandakan bahwa dirinya memang kesal atas ucapan sang istri.
Berti menurunkan selimut, ia mendengkus. "Katanya mau panggil bunda, tapi pulang malah enggak pamit."
...****************...
Berti sangat merindukan sahabatnya yang satu ini. Sari berkunjung di pagi hari dan mereka menghabiskan waktu dengan sarapan bersama. Sari sudah tahu permasalahan yang dialami sahabatnya saat ini meskipun mereka belum sempat bertatap muka karena kesibukkan.
"Hari ini aku off kerja, makanya pagi-pagi aku ke sini. Aku juga kangen sama kamu," ucap Sari.
"Oh, kirain sibuk pacaran. Gimana menjalin hubungan sama cowok yang lebih muda darimu?" tanya Berti.
"Apaan, sih?" Sari malah malu-malu.
"Mulai enggak jujur. Kamu beneran pacaran sama Arjuna?"
"Kita cuma jalan saja, kok. Lagian enggak baik pacaran sama dia karena kita kerja di tempat yang sama. Aku atasan, sedangkan dia bawahan," kata Sari.
Berti mengangguk, mengerti kenapa Sari menyembunyikan hubungannya bersama Arjuna. Berharap keduanya bisa menemukan solusi agar bisa bersama.
"Aku maunya begitu. Aku sudah konsultasi sama pengacara. Sayangnya orang tuaku tidak ingin membantu. Kamu bantu aku buat cerai sama Cakra."
Sari menghela napas panjang. "Sebenarnya kamu itu mau suami yang seperti apa , sih?"
"Kamu tahu sendiri Cakra itu bagaimana orangnya."
"Ini karena Banyu, kan?"
"Bukan karena Banyu, Sar. Aku memang enggak tahan sama dia," ucap Berti jujur.
"Jujur, ya, Bert. Kalau aku jadi kamu mending aku sama Cakra, deh, daripada sama Banyu," kata Sari.
Berti mengerutkan kening. "Seleramu berubah lagi?"
__ADS_1
"Coba kamu kasih alasan, kenapa dulu kamu putus sama Banyu? Ingat-ingat lagi alasan itu, Bert. Kamu enggak suka Banyu yang terlalu ramah sama cewek lain, kan? Kamu putus dengan alasan buat karier, dan sekarang kamu ingin kembali lagi bersama dia. Apa kamu yakin jika Banyu itu akan setia sama kamu?"
"Kita juga tidak ada yang tahu. Bisa saja Cakra berselingkuh sama wanita lain. Semakin tinggi pohon, maka semakin tinggi badainya," tutur Berti.
"Tapi kita tahu kalau suamimu itu susah buat digoda. Dekat cewek lain saja dia malas," kata Sari.
"Enggak ada yang begitu, Sari. Laki-laki kalau sudah merasa berkuasa dan kaya, pasti kelakukuannya begitu."
"Kamu yakin jika Banyu akan setia? Yang ada kamu bakal sakit hati karena cemburu. Manusia tidak ada yang sempurna, Bert. Kita juga enggak tahu ke depannya bagaimana," ucap Sari. "Aku memang enggak mau ikut campur masalah pernikahanmu, aku tahu kamu makan hati terus sama patung berjalan itu. Maksud aku jangan ambil sisi buruknya. Coba lihat di sisi baiknya Cakra."
"Kamu, kok, membelanya?" Berti sedikit kesal.
"Bukan membela, tapi aku enggak mau kamu salah pilih. Pernah enggak Cakra itu mukul kamu, ngomongin kamu di belakang? Enggak, kan? Yang ada malah kamu terus mengeluh. Kurasa kamu di sini yang banyak maunya," ucap Sari terang-terangan.
Perkataan Sari begitu menusuk hati Berti. Memang selama ini Cakra tidak pernah berkata apa pun pada orang tuanya tentang dirinya yang ingin bersama Banyu. Cakra juga selalu percaya padanya. Mau di mana lagi mencari suami seperti itu? Berti merasa bersalah.
"Apa aku banyak mengeluh? Apa aku salah meminta perhatiannya?" tanya Berti.
"Enggak salah, Bert. Sebagai wanita kita juga mau seperti itu. Balik lagi kalau semua yang kita inginkan, enggak mesti kita dapatkan. Sebenarnya dari kita sendiri, bersyukur apa tidak atas apa yang diberikan," tutur Sari.
Berti terisak. "Apa aku sejahat itu?"
"Kenapa jadi menangis?" Sari menggaruk kepalanya yang memang tidak gatal. "Cakra juga salah, Bert. Seharusnya dia juga mengerti dengan apa yang kamu inginkan. Aku harus bicara pada suamimu itu."
Berti menggeleng. "Tidak, biar aku saja yang bicara padanya."
"Jangan marah-marah lagi. Kasih kesempatan buat Cakra sekali lagi. Siapa tahu dengan ini dia berubah. Lebih meluangkan sedikit perhatiannya untukmu."
"Aku mau buat makan siang untuknya," kata Berti.
"Kasih kejutan untuk suamimu."
Berti tersenyum. "Aku akan ke kantornya."
"Ayo, kamu bersiap," kata Sari.
__ADS_1
Teringat akan ucapan Cakra jika dirinya hanya ingin menikah sekali seumur hidup. Berti pun ingin begitu. Ia akan memberi satu kesempatan lagi untuk suaminya.
Bersambung