Bantu Aku Cerai

Bantu Aku Cerai
Hah?


__ADS_3

Santi merasa lega mendapati Berti yang mau memberi kesempatan untuk Cakra agar kehidupan rumah tangga keduanya membaik. Ia juga berterima kasih kepada Sari yang memberikan nasihat bijak pada sahabatnya.


Tumben sekali gadis itu bisa berbicara demikian, biasanya Sari akan mendukung apa pun keputusan Berti mau itu baik atau buruk. Namanya juga manusia, semakin hari pemikiran akan berbeda. Sari semakin dewasa, dan sekarang malah kebalikannya. Berti seperti anak-anak yang banyak maunya. Apa pun itu, Santi bahagia hari ini.


"Biar aku antar kamu," kata Sari.


Berti mengangguk. "Aku ganti baju dulu. Kamu tunggu, ya."


Sari mengiakan, lalu membawa kotak makan yang telah disiapkan ke meja ruang TV seraya menunggu sahabatnya.


"Nak Sari," tegur Santi.


Sari menoleh, lalu tersenyum. "Ibu, kenapa?"


"Ibu mau ngucapin terima kasih. Akhirnya, Berti luluh juga. Tapi siapa yang tadi kalian bicarakan? Bayu itu siapa?" tanya Santi.


"Bayu siapa?" Sari pura-pura tidak mengenal dan untungnya Santi salah menyebut nama.


"Yang tadi kalian bicarakan."


"Enggak ada, Bu. Jangan dibahas lagi, semoga saja hubungan mereka semakin baik," ucap Sari.


"Amin," sahut Santi.


Keduanya terdiam ketika Berti keluar dari kamar, dan membuat wanita itu heran akan tingkah keduanya.


"Kenapa?" tanya Berti.


"Dress baru?" Sari memperhatikan sahabatnya itu.


"Aku beli waktu di Singapura," jawab Berti.


"Masa aku cuma dikasih gantungan kunci," celetuk Sari dengan wajah cemberut.


"Yang penting aku ada kasih kamu oleh-oleh, kan?"


Sari mendengkus. "Pelit. Tapi makasih, deh."


Berti tertawa. "Kalau kamu nikah baru aku kasih hadiah banyak."


"Kalian cepat pergi. Nanti keburu masuk jam istirahat kantor," sela Santi.


"Iya, Bu. Berti pergi dulu, ya."


Santi mengangguk. "Iya, kalian hati-hati di jalan. Sari, bawa mobilnya yang pelan saja."


"Oke, Bu."


Keduanya keluar dengan Berti membawa satu rantang makan untuk suaminya. Sari membuka pintu penumpang untuk sahabatnya, lalu menyusul masuk ke sebelahnya.


"Kira-kira, reaksi Cakra aku datang gimana, ya?" tanya Berti.


Sari mengangkat bahu. "Pasti senanglah."

__ADS_1


"Kemarin dia kasih aku bunga, perhiasan terus bawa kue. Tapi Cakra belum menyatakan perasaannya."


Sari menghidupkan mesin mobil, lalu mulai mengendarai kendaraan roda empat itu keluar dari pekarangan rumah.


"Memangnya cinta perlu diucapkan?" tanya Sari.


"Harus, dong. Aku maunya dia menyatakan perasaannya," jawab Berti.


"Lagian suamimu sepertinya sedikit berubah. Maksudku, dia sudah kasih kamu bunga dan hadiah. Itu artinya dia pengen kamu terus ada di sisinya."


"Bukan karena anak yang kukandung?"


"Itu juga penting kali, Bert. Kalian ibu dan anak jadi satu. Wajarlah, Cakra itu sayang banget sama kalian," ucap Sari. "Lagian aku heran, pikiranmu malah ke negatif terus. Enggak baik buat bayimu. Nih, ya, jangan sampai anak yang kamu kandung lahir, terus sifatnya sama seperti Cakra."


"Kok, bisa begitu?" tanya Berti.


"Karena pikiranmu negatif terus, dan suka marah-marah enggak jelas. Pasti anakmu nanti mirip banget sama ayahnya," kata Sari.


"Sok tahu!"


"Dibilangin enggak percaya lagi."


Berti mengusap perutnya beberapa kali. Ia yang mengandung, maka wajah sang anak harus mirip dengannya.


Sesampainya di kantor, Sari tidak ikut ke atas. Ia akan menunggu sahabatnya itu di lobby saja. Berti juga sudah bertanya pada resepsionis mengenai keberadaan Cakra, dan meminta karyawati itu untuk tidak memberitahu kedatangannya.


Berti langsung masuk lift menuju lantai teratas yang pernah ia datangi dulu bersama sang suami. Sampai di area ruangan Cakra, ketiga wanita yang menjabat sebagai sekretaris menyapa pada istri atasannya.


"Cakra ada di dalam?" tanya Berti basa-basi.


Memang sepertinya Cakra tidak berniat mempunyai sekretaris cantik. Buktinya ketiga wanita itu masing-masing memakai kacamata, berpakaian lengan panjang dengan rambut di sanggul. Tentu saja karena Cakra mempekerjakan karyawan yang minat bekerja bukan menggoda atasannya.


"Tidak perlu. Biar saya sendiri," ucap Berti yang berjalan menuju ruang kerja suaminya. Berti memasang senyum terbaiknya, lalu mendorong pintu kaca itu.


"Aku cinta sama kamu," ucap Cakra. "Ya, aku cinta sama kamu."


Sontak rantang makanan yang dipegang jatuh dari tangan Berti dan membuat kedua orang di dalam sana kaget.


"Mas Cakra," ucap Berti lirih, bahkan tidak terdengar saking kagetnya.


"Berti!" Cakra melangkah mendekat, tetapi Berti mundur hingga keluar. "Bert, tunggu."


Tingkah Berti pun mendapat perhatian dari sekretaris Cakra. Berti melangkah cepat menuju lift dengan Cakra mengejarnya.


"Bert, kamu datang," ucap Cakra yang meraih lengan istrinya.


"Lepasin aku!" teriak Berti.


"Kamu kenapa?"


"Kamu yang kenapa? Rupanya ini, Mas. Ternyata selama ini kamu ada main sama dia. Kamu mencintai dia, dan mengabaikan diriku," ucap Berti.


"Kamu bicara apa, sih?" Cakra tidak mengerti apa maksud istrinya.

__ADS_1


"Lepasin aku!" teriak Berti yang menyentak tangan, lalu melayangkan satu tamparan di pipi Cakra.


"Berti!" bentak Cakra.


"Ini pantas buat kamu. Aku minta cerai sekarang juga," ucap Berti.


"Kamu ini kenapa, sih?"


Berti lekas memencet tombol lift, setelah pintu terbuka, ia lekas masuk dengan Cakra yang tetap mengikutinya.


"Jangan dekati aku!" ucap Berti dengan isakan tangis. "Aku enggak habis pikir sama kamu. Sekarang aku tahu kenapa kamu itu mau nikah sama aku."


"Dengar aku dulu, Bert. Kamu salah paham."


"Salah paham apa? Kamu memang cinta sama dia, kan? Pergi ke luar negeri karena memang ingin berduaan sama dia, kan?" ucap Berti.


"Kamu bicara apa, sih?"


Berti keluar dari lift, ia berjalan cepat, dan Sari merasa heran dengan sahabatnya yang tiba-tiba saja marah.


"Bert, ada apa?" tanyanya menghampiri.


"Kita pulang, Sari. Aku enggak bisa sama pria ini," jawab Berti.


"Tunggu dulu, Bert," cegah Cakra yang meraih lengan istrinya.


"Lepasin!" teriak Berti, yang tentu saja mengundang keributan.


"Biar aku bawa dia pulang dulu, Cakra," ucap Sari, yang lekas membawa Berti keluar.


Ini tidak bisa dibiarkan, Cakra juga harua menyusul Berti dan menjelaskan semuanya. Sementara Berti yang telah masuk dalam mobil, menangis sejadi-jadinya.


"Tenang, Bert," ucap Sari.


"Bagaimana aku mau tenang?" kata Berti sembari terisak.


Sari tidak ingin bertanya lagi, tetapi ia langsung menjalankan mobil menuju kediaman Ilham. Sepanjang perjalanan, Berti menangis tersedu-sedu hingga sampai di rumah.


"Ada apa ini?" tanya Santi.


"Nak, kamu kenapa?" Ilham menimpali.


"Enggak tahu, Bu. Berti marah sama Cakra," jawab Sari.


"Berti mau cerai, Bu. Tolong Berti buat lepas dari Cakra," ucapnya.


"Sabar, Bert. Ada apa sebenarnya?" tanya Santi.


"Cakra cinta sama orang lain, Bu. Dia selama ini cuma manfaatin Berti."


"Cakra selingkuh?" tanya Santi tidak percaya.


"Iya, Bu. Cakra cintanya sama Ariel," jawab Berti.

__ADS_1


"Hah?" jawab semuanya.


Bersambung


__ADS_2