Bantu Aku Cerai

Bantu Aku Cerai
Menggeser


__ADS_3

Pukul setengah sepuluh malam, Berti dan Cakra tiba di kediaman Ilham. Keduanya disambut oleh ibu dan ayah yang memang sudah menunggu kedatangan mereka.


Kurang lebih lima bulan umur pernikahan mereka, baru kali ini keduanya menginap. Biasa hanya Berti yang berkunjung, sedangkan Cakra sibuk dengan urusannya. Jangankan ke rumah mertua, untuk ke kediaman orang tuanya saja, Cakra perlu di telepon lebih dulu.


"Ayah senang kalian menginap di sini," ucap Ilham.


"Iya, Ayah. Maaf karena jarang kemari," kata Cakra.


"Kalian makan dulu. Ibu sudah siapkan," sela Santi yang membubarkan obrolan akrab keduanya.


"Kalian makan dulu. Nanti kita ngobrol lagi," timpal Ilham.


Cakra pergi bersama Berti menuju ruang makan. Sang ibu mertua sudah menyiapkan hidangan makan malam istimewa menyambut menantu satu-satunya dalam keluarga.


"Ibu ada buat puding. Kalian makan, ya," ucap Santi.


"Ibu enggak perlu repot," sahut Berti.


Santi tersenyum. "Enggak apa-apa. Kamu makan yang banyak. Ibu buatin kamu susu dulu."


Berti tersenyum. Ibunya begitu perhatian dan ia tahu apa sebabnya. Pasti Santi juga mengharapkan benih Cakra tumbuh di rahimnya. Berti juga berharap ia hamil secepatnya.


"Aku duluan. Pudingnya bawa ke ruang TV saja," kata Cakra.


"Aku menyusulmu nanti," ucap Berti.


Tujuan Cakra menginap di rumah mertuanya karena ia ingin bicara kepada Ilham. Niat ini sudah lama ingin ia utarakan kepada sang ayah. Cakra berharap, Ilham dapat memaklumi permintaannya itu.


Ketika Berti dan Santi datang, raut wajah Ilham terlihat berbeda. Berti dapat lihat sang ayah yang menatapnya sendu. Begitu juga Santi yang merasakan ada hal di antara Cakra dan suaminya.


"Ada apa ini?" tanya Santi.


"Duduk dulu, Bu. Ayah mau bicara," ucap Ilham.


"Ayah, ada apa?" tanya Berti.


Ilham menghela napas panjang. "Begini, Nak. Cakra ingin perusahaan kita digabung."


"Apa?" sontak Berti menatap suaminya. "Perusahaan digabung?"


"Aku hanya mengelolanya. Pemegang saham terbanyak tetap ayah," sahut Cakra.

__ADS_1


"Kamu ingin menggeserku?" tanya Berti.


"Kamu istriku, dan sebaiknya berdiam diri di rumah saja."


Sudah Berti duga. Ternyata Cakra ada niat tersembunyi. Pantas saja dari hari yang lalu, Cakra selalu mengatakan untuk menginap di rumah mertuanya. Karena ini alasannya. Cakra menginginkan perusahaan yang dipegang Berti saat ini.


Berti menggeleng. "Kamu ingin menyuruhku berhenti kerja?"


"Kamu masih bisa memantau perusahaan. Ayah, Ibu dan dirimu adalah pemiliknya. Ayah sudah tidak ingin bekerja, dan kamu adalah istriku. Lebih baik di rumah saja," tutur Cakra.


"Menjadi pengusaha adalah kehendakku, Cakra!" ucap Berti dengan nada tinggi.


"Berti!" tegur Santi. "Cakra suamimu."


"Kamu enggak bilang dulu padaku. Jadi, kamu sengaja ikut ke Bali karena mau mengambil semua milikku, kan?"


Rencana yang sangat bagus. Cakra sengaja membicarakan tentang pengabungan perusahaan agar Berti tidak berkutik di hadapan orang tuanya. Tidak heran. Dia adalah Cakra Adhitama yang licik.


"Aku tidak mengambilnya," bantah Cakra. "Aku mengelolanya agar kamu fokus di rumah."


"Dari awal kamu bersedia kalau aku kerja kantoran. Lalu, kenapa sekarang kamu ingin aku berhenti?" tanya Berti yang masih tidak percaya jika Cakra menginginkannya diam di rumah.


"Ayah sudah menyerahkan semuanya pada Berti. Memang sebagai perempuan bersuami, sebaiknya Berti di rumah saja," ucap Ilham.


"Ayah!" tegur Berti.


"Aku akan mengaturnya kalau begitu," ucap Cakra seraya tersenyum.


Berti beranjak dari duduknya, ia berjalan cepat menaiki anak tangga menuju kamar. Sementara Cakra tetap melanjutkan obrolannya bersama mertua.


Dalam kamar, Berti menangis. Impiannya telah direnggut. Berti paham kodrat wanita yang harus melayani suami. Namun, selama ini ia telah berusaha. Berti pulang satu jam sebelum Cakra. Melayani pria itu makan dan tidur. Tidak ada satu kurang pun, lalu apalagi? Kenapa Cakra sampai ingin mengurungnya di rumah? Berti tidak habis pikir.


Terdengar pintu kamar diketuk. Berti memandang lawang yang dibuka oleh Cakra. Suaminya masuk, Berti lantas memalingkan wajahnya.


"Ayah dan ibu sudah setuju. Selepas kita pulang dari luar negeri, aku akan mengurusnya," kata Cakra.


"Kamu itu sudah sangat kaya, tapi masih menginginkan perusahaanku," ucap Berti.


"Bukan mengambil, tetapi mengelola," ralat Cakra.


Berti menatapnya tajam. "Kamu pernah tinggal di luar negeri, bahkan di sini kamu bisa melihat contohnya. Pria dan wanita itu setara. Perempuan yang sudah menikah boleh bekerja."

__ADS_1


"Aku tahu," jawab Cakra seraya membuka kaus yang ia kenakan.


"Kalau kamu sudah tahu, kenapa masih menyuruhku untuk tinggal di rumah?" tanya Berti yang tidak dapat lagi menahan amarah dalam dirinya.


"Karena aku lebih suka istri yang tinggal di rumah."


Begitu enteng Cakra menjawabnya. Lain halnya dengan Berti yang begitu sakit hati mendengar ucapan yang suaminya berikan. Lemparan bantal mendarat sempurna di wajah Cakra.


"Lihat, kamu saja belum bisa menjadi istri yang baik. Sikapmu ini tidak pernah berubah. Selalu saja marah dan kasar pada suami," kata Cakra.


"Itu karena suaminya sendiri yang tidak pernah menganggap penting perasaan istrinya," sahut Berti.


"Malah bagus aku ini menyuruhmu diam di rumah saja. Kamu tinggal duduk, tetapi uang mengalir begitu deras. Sebagai istri, turuti perintah suamimu ini," kata Cakra yang langsung merebahkan diri di atas kasur. "Ayo, tidur!" ajaknya.


"Enggak!" tolak Berti. "Aku mau bicara sama ayah."


"Ini sudah malam," kata Cakra. "Ibu dan ayah mau istirahat. Kamu enggak capek apa?"


"Aku capek hati."


Berti tidak peduli. Ia tetap dengan keinginannya yang ingin bicara bersama Ilham. Cakra membiarkannya karena percuma membujuk wanita yang saat ini tengah dalam keadaan marah. Yang ada nantinya mereka akan bertengkar.


"Ayah setuju pada keputusan Cakra?" tanya Berti. Kebetulan kedua orang tuanya masih berada di ruang TV.


"Cakra ada benarnya, Nak," jawab Ilham. "Lebih baik suruh dia mengelola supermarket kita."


"Dia sengaja, Ayah. Cakra tidak ingin bersaing dengan kita. Ayah jangan lupa dia juga berbisnis ritel sama seperti kita. Minimarketnya tersebar ke berbagai daerah," kata Berti.


"Justru itu, Nak. Dia ingin kita gabung dan Ayah juga merasa itu sangat menguntungkan. Cakra punya perusahaan besar dengan banyak anak cabang. Ini keuntungan kita," tutur Ilham.


"Tapi Cakra akan menggeserku."


"Nak, kamu cukup di rumah. Urus anak dan suami. Cakra sukanya punya istri yang diam di rumah," sahut Santi.


"Lalu, kenapa dia mau menikah dengan Berti?"


"Jaga bicaramu, Bert. Ini sudah takdir. Kamu jodohnya adalah Cakra," kata Santi.


Berti tidak menjawab. Ia melangkah pergi dari hadapan kedua orang tuanya. Entah apa yang diucapkan Cakra sampai Ilham dan Santi begitu percaya pada pria itu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2