
"A-aku harus menjenguknya," ucap Berti.
"Diam di rumah!" kata Cakra.
"Arjuna tidak sadarkan diri. Kalau dia tiada bagaimana?"
"Gaya bicaramu berlebihan. Jangan mencari alasan untuk menemui kekasihmu itu. Ini belum seberapa. Kalau aku lihat kamu bawa pria lain ke rumah ini," Cakra meregangkan jari-jari tangannya hingga berbunyi. "Bukan ke rumah sakit, tetapi aku langsung menanamnya ke tanah."
Berti terkesiap. Nyalinya ciut melihat kemarahan Cakra. "A-aku masuk kamar dulu."
"Masuk dan siapkan dirimu. Malam ini kita harus melakukannya," kata Cakra.
Berti tidak menjawab, tetapi lekas menaiki undakan menuju kamar atas. Sementara Cakra berjalan ke ruang kerja. Berti tidak langsung masuk kamar, tetapi ia sengaja menunggu suaminya dulu ke ruang kerja kemudian turun lagi ke lantai bawah.
"Bi Minah," panggilnya.
"Iya, Nyonya. Ada apa?"
"Ambulan dari rumah sakit mana yang tadi datang kemari?" tanya Berti.
"Rumah sakit Anggrek."
Berti mengangguk. "Oke, makasih, Bibi."
Secepatnya Berti kembali menuju kamar tidurnya, lalu menghubungi Sari agar menemui Arjuna di rumah sakit. Bagaimanapun Arjuna adalah tanggung jawabnya. Ia berjanji pada pria itu untuk melindunginya dari ancaman Cakra.
Pintu kamar terbuka. Berti lekas menyembunyikan ponselnya di bawah bantal, lalu duduk dengan berpura-pura tidak memperdulikan suaminya.
"Aku mau mandi," kata Cakra.
Berti bangun dari duduknya. Berjalan menuju lemari dengan mengambil pakaian ganti Cakra. Ia letakkan begitu saja baju ganti di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Mau kamu apa? Masih mau minta cerai lagi?" tanya Cakra yang sudah bosan akan tingkah istrinya.
"Kenapa enggak mau cerai? Kita ini enggak cocok," kata Berti terang-terangan.
"Kamu, tuh, enggak ngerti dengan yang namanya hubungan pernikahan," sahut Cakra.
Mata Berti melotot mendengarnya. "Apa? Kamu enggak salah? Mana ada suami yang tidak memberi nafkah batin pada istrinya. Mana ada suami yang cuek terhadap istrinya. Mana ada suami yang memberi waktu untuk bersama istrinya!"
"Aku sudah bilang untuk memberiku waktu. Aku ingin melakukannya, tetapi kamu tidak mau, kan? Sifatku memang begini. Bagiku waktu itu adalah kesempatan, dan untuk perhatian, kamu itu sudah dewasa. Jangan bertingkah seperti anak kecil."
"Kamu memberiku waktu dalam melakukan segala hal, tetapi kamu malah meminta waktu agar aku paham akan sikapmu selama ini? Sebenarnya kamu yang enggak tahu waktu itu apa," sanggah Berti. "Dengar, Cakra. Jangan salahkan aku mencari perhatian di luar jika sikapmu masih begini padaku!" kata Berti menambahkan.
Cakra bertepuk tangan. "Kamu mengomentari sifatku. Pikir dengan otakmu itu. Apa kamu merasa lebih baik dariku? Pulang malam, berselingkuh di depan suaminya sendiri. Tidak melayani suaminya. Aku akan membeberkan semua yang kamu lakukan padaku jika masih berkeinginan untuk berpisah."
Berti terperangah mendengar ucapan Cakra. Ia terduduk di tepi tempat tidur, sedangkan suaminya berlalu masuk kamar mandi. Selama ini Berti sudah salah langkah. Cakra sengaja diam dengan semua kelakuannya selama ini. Rupanya pria itu memberi serangan yang tidak terduga.
Nama Berti akan tercoreng jika perilakunya terungkap. Orang tuanya akan kecewa dan malu. Cakra yang merupakan pelaku sebenarnya akan tertawa melihatnya. Dia akan menjadi sosok pria sempurna yang terkhianati di mata orang lain yang tidak tahu kejadian sebenarnya.
Jika perceraian itu terjadi, Berti ingin Cakra yang disalahkan agar ia bisa memberi alasan mengapa perpisahan itu terjadi. Bukan malah sebaliknya.
Cakra keluar setelah selesai membersihkan diri, sedangkan Berti masih betah duduk di tepi tempat tidur dengan raut wajah masam.
"Lagi mikirin apa kamu?" tanya Cakra. "Perutku ini sudah lapar."
"Ada bibi Minah yang siapin makan buat kamu."
"Istri aku, Minah apa kamu, sih?"
Berti beranjak dari duduknya, lalu keluar kamar. Ia akan kembali melayani Cakra mulai sekarang. Sia-sia saja rencananya selama ini. Hanya dalam satu kalimat, Cakra bisa membungkamnya.
...****************...
__ADS_1
"Pukulan satu kali, kamu pingsan?" tanya Sari dengan menggelengkan kepalanya. "Kamu itu cowok atau cewek, sih, Juna? Kamu lawan, dong, Cakra."
"Dia itu tinggi besar. Badannya berotot. Pundakku saja sakit ditekan olehnya. Aku enggak mau lagi jadi pacar pura-pura Berti," ucapnya dengan tidak lagi bicara formal pada Sari.
"Kamu itu yang lemah," kata Sari dengan menoyor kepala Juna.
"Untung saja hidungku ini tidak patah. Kalian bilang akan melindungiku, tetapi aku malah dipukul."
"Kamu jadi laki harus kuat. Olahraga angkat beban biar badanmu kekar. Jangan beban hidup yang kamu angkat. Enggak akan bisa melawan Cakra yang berotot," gerutu Sari.
"Kenapa aku yang disalahin, sih? Sudah kena pukul malah diceramahin. Salah aku apa?"
"Salah kamu yang enggak bisa lawan Cakra. Begini saja kamu kalah. Cakra pasti menganggap pacar Berti bukan tandingannya dan dia akan kembali bertindak seenaknya pada sahabatku itu."
Pintu ruang rawat dibuka. Dafa masuk setelah selesai menyelesaikan administrasi rumah sakit. Arjuna sudah diperbolehkan pulang karena memang tidak ada luka yang serius.
"Lain kali jangan coba-coba buat menggoda kakak iparku," kata Dafa. "Untung saja gigimu tidak rontok dibuatnya."
"Dengar, Dafa. Kakakmu si patung berjalan itu. Ini semua salah dia yang enggak perhatian sama Berti," sela Sari.
"Itu urusan rumah tanggannya. Ngapain kalian ikut campur."
"Berti itu tersiksa dan sekarang Cakra malah menyiksa orang lain," sergah Sari.
"Kak Cakra enggak akan memukul orang sembarangan. Lagian pria kurus ini mau melawan kakakku. Bisa babak belur dia," kata Dafa.
Sari berkacak pinggang. "Memang kakakmu siapa? Tuhan yang bisa menentukan segalanya? Main pukul anak orang saja."
"Cuma manusia biasa. Tapi aku saranin untuk tidak melawan seorang petinju," ucap Dafa.
Sontak Arjuna memegang hidungnya yang masih terasa nyeri. Bukan hanya mendengar kalau Cakra itu seorang petinju, tetapi dari awal ia juga merasa takut pada suami Berti.
__ADS_1
"Terima kasih sudah memberitahu kami. Ayo, Juna. Kita pulang," kata Sari.
Bersambung