Bantu Aku Cerai

Bantu Aku Cerai
Menyesal


__ADS_3

Berti berusaha menutupi tubuhnya dari handuk yang melorot. Namun, Cakra sudah lebih dulu menariknya ke atas tempat tidur. Tanpa malu-malu lagi suaminya itu melorotkan kain penyerap air ke bawah.


"Sebentar, Cakra. Kok, tiba-tiba sekali. Beri aku waktu dulu," kata Berti.


Cakra membuka habis pakaiannya kemudian jatuh di atas tubuh Berti. "Sebentar saja. Kita main singkat."


"Bentaran, deh. Aku capek juga."


Baru beberapa jam lalu ia habis melayani Cakra dan sekarang suaminya meminta lagi perlakukan yang sama. Gerakan maju mundur juga butuh tenaga.


"Lagi kepengen banget, nih," kata Cakra.


Perkataan tanpa malu-malu. Terlalu terbuka dan jujur malah Berti yang mendengarnya merasa ingin menyembunyikan wajah di balik bantal. Berharap Cakra bisa mengatakannya dengan kata yang romantis. Namun, apa boleh buat memang begini cara bicara suaminya.


Cakra menyesap bibir Berti dengan tangan yang menjelajah ke bawah sana. Menekan-nekan sedikit kuat dengan tubuh yang saling tindih.


"Jangan digigit," ucap Berti dengan nada suara berat. Ia meringis ketika Cakra menggigit muka kelembutannya. Mencucup ujung puncaknya, memainkan dengan lidahnya bersamaan dengan gesekkan di bawah sana.


Perlahan Berti terdesak. Ia bergumam tidak karuan seiring hunjaman yang ia rasakan memenuhi ruang bagian dalam kakinya. Ia dengar napas lega Cakra ketika seluruh bagian miliknya telah masuk secara sempurna.


Berti melenguh dengan desakan Cakra. Hentakan yang menginginkan kedalaman. Kuat, penuh tenaga. Membuatnya jatuh melayang-layang pada jurang kenikmatan.


Cakra menarik diri, lalu berbaring di samping Berti. Ia terengah-engah dengan ketegangan yang masih menantang. Ia belum mencapai puncaknya, tetapi terasa tidak mampu untuk bergerak lagi.


Berti tidak akan membiarkan suaminya berhenti sebelum mengeluarkan cairan kental dari tubuhnya. Ia menaiki badan Cakra. Membuat pria itu kaget atas keagresifan istrinya.


"Letakkan di sini tanganmu," ucap Berti dengan meraih kedua tangan Cakra dan meletakkan di kedua sisi kelembutan yang bulat dan padat.


Cakra mencengkeramannya ketika Berti bergerak naik dan turun. Ia menyadari jika posisi seperti ini membuatnya nyaman karena tinggal berbaring dan Berti yang menunggangnya. Ini akan jadi gaya favorit Cakra kelak.


"Lebih cepat lagi," pinta Cakra.


Mudah sekali Cakra memintanya lebih cepat. Berti terengah-engah dengan dua kelembutan yang turun naik, sedangkan tangan Cakra berpindah posisi ke pinggang. Membantu gerakannya agar lebih menghunjam.


Berti tidak sanggup lagi. Ia jatuh di atas tubuh dengan rasa lelah yang teramat sangat. Cakra memeluknya, menghunjamnya kembali dari bawah. Tubuh Berti bergetar, tetapi ia tidak dapat lagi melakukan gerakan balasan.


"Coba dari belakang," kata Berti yang bergeser dari tubuh Cakra dan berganti posisi tengkurap dengan lutut ditekuk.

__ADS_1


Cakra menuruti permintaan Berti. Ia membuka lebar kelopak yang memerah, lalu masuk. Cakra terdiam ketika Berti sedikit bersuara keras.


"Apa sakit?" tanyanya.


Berti menggeleng. "Tidak, hanya lebih terasa."


Cakra juga mengakuinya jika posisi ini membuat dirinya lebih mendominasi. Ia bergerak cepat. Menghentak kuat dan dalam. Ranjang mereka berderit seiring hunjamamnya yang meluluhlantakkan tubuh Berti.


"Sial!" umpatnya. Cakra tumbang dengan kondisi tubuh berkeringat.


Sementara Berti tidak dapat lagi bergerak. Ia basah dan kotor dengan cairan yang meleleh dari sela bagian dalam kakinya. Cakra bangun, lalu turun dari tempat tidur. Ia lekas memungut pakaiannya di lantai kemudian masuk kamar mandi.


"Memang Cakra ini tidak peka. Istrinya sendiri tidak diajak," ucap Berti kesal. Ia sudah sangat lelah, matanya sayu dan mulai terpejam.


Cakra yang telah selesai dari membersihkan diri, menggelengkan kepala karena Berti masih tengkurap tanpa sehelai kain yang menutupi tubuhnya. Parahnya lagi Berti malah sudah tidur.


"Anak manja. Dia bukannya mandi malah tidur," gumam Cakra. "Bert, Berti! Mandi sana."


Berti membuka mata. Rasanya ia baru saja terlelap, tetapi sudah dibangunkan lagi oleh Cakra. Ia bangun dan malam ini mau tidak mau harus mandi.


"Aku malas mandi malam," ucap Berti.


Entah kenapa Berti menyesal telah membuat anak bersama Cakra. Terlebih mendengar ucapan suaminya barusan. Ia ingin kembali menjadi gadis seperti sebelumnya.


"Sempat-sempatnya aku merasa menyesal," ucap Berti, lalu turun dari tempat tidur menuju kamar mandi.


Kesal dengan ucapan suaminya, Berti yang sudah mandi naik ke atas tempat tidur. Cakra telah terlelap dengan rambut yang masih lembab dan terlihat nyaman berada dalam selimut tebal.


"Sudah puas kamu malah enak tidur, ya," ucap Berti yang kesal melihat wajah suaminya.


Selimut yang dipakai Cakra, Berti ambil. Biar saja suaminya kedinginan malam ini. Sakit hati, tetapi tidak tahu harus apa menghadapi modelan Cakra yang seperti itu.


Cakra terbangun sebab merasa dingin karena pendingin ruangan. Belum lagi malam ini ia mandi mengunakan air dingin. Rambutnya saja masih belum kering sepenuhnya.


"Bert, bagi selimutnya," ucap Cakra.


"Enggak!" jawab Berti.

__ADS_1


"Ambilin aku selimut lain," pintanya.


"Ambil sendiri."


"Ambilin, Bert," perintah Cakra.


Yang ada malah Berti melempar selimut yang ia pakai di wajah Cakra. Ia lantas memeluk guling sebagai penghangatnya.


"Sifatmu itu harus diubah. Heran, kerjaannya marah terus," cerca Cakra.


Berti mendengar, tetapi ia tidak menanggapi Cakra. Terlalu lelah karena suaminya itu tidak akan peka dengan apa yang ia inginkan. Cakra tetaplah seperti itu orangnya.


Pagi hari tetap sama saja antara Berti dan Cakra. Berti melayani suaminya karena tidak ingin mendengar perkataan yang tempo hari Cakra lontarkan kepadanya.


"Dua hari lagi ulang tahunku," ucap Berti.


"Oh," sahut Cakra.


Berti kehilangan kata-kata jika jawaban Cakra sudah seperti itu. "Pokoknya aku ulang tahun dua hari lagi."


Cakra melihat jam di pergelangan tangannya. "Aku pergi dulu."


Cakra beranjak dari duduknya begitu juga Berti yang menyodorkan tas kerja suaminya. Cakra mengambil tas itu dari tangan Berti, tersenyum kemudian berjalan pergi.


"Apa dia tidak pernah lihat papa kasih kecup kening sama mama?" gumam Berti.


Tiba-tiba Cakra berhenti melangkah. Ia berbalik menghampiri Berti dan menunjukkan tangan. "Salam sama suamimu."


Berti meraih tangan Cakra dan mengecupnya. "Kamu hati-hati di jalan."


"Iya, makasih," balas Cakra, lalu berjalan keluar rumah.


"Kapan, sih, dia itu jatuh cinta sama aku," ucap Berti sedih.


Berti menghabiskan nasi goreng yang ia buat sebagai bentuk kekesalan kepada Cakra. Sudah berhubungan jauh, tetapi sikap Cakra kepadanya tidak berubah.


Tiba-tiba ia teringat akan Arjuna yang masuk rumah sakit karena terkena bogem mentah dari Cakra. Berti belum menghubungi Sari atau pria itu sejak ia sibuk bersama suaminya.

__ADS_1


"Astaga!" Berti menepuk jidat. "Kabar Arjuna bagaimana? Aku harus segera bertemu Sari."


Bersambung


__ADS_2