
Selepas makan malam, Berti lekas naik ke kamar tidur. Karena Cakra tiada henti meminta untuk dibuatkan anak, maka malam ini Berti menyiapkan diri. Ia mandi dengan bersih. Memakai baju dinas malam berwarna merah menyala. Menyemprotkan parfum dengan wangi yang lembut, lalu duduk menunggu Cakra di atas tempat tidur.
Malam ini Berti berharap setelah ia menyerahkan dirinya, maka Cakra akan berubah. Setidaknya bersikap perhatian sedikit saja. Berti juga gugup karena ini adalah malam pertamanya. Takut jika membuat Cakra kecewa atas pelayanannya nanti.
Sementara di ruang kerja, Cakra mondar-mandi karena malam ini sudah berjanji akan melakukan tugasnya sebagai seorang suami. Ia bingung untuk memulai dari mana dahulu sebab ini juga pertama kali baginya.
Jangankan meniduri wanita, mengecup bibir perempuan saja Cakra tidak pernah. Ia tidak pernah pacaran karena baginya hanya membuang waktu saja. Memang ketika kuliah ia populer, tetapi Cakra sama sekali tidak tertarik untuk berkencan.
"Lakukan saja seperti seorang pria," gumam Cakra, lalu keluar dari ruang kerja.
Jantungnya berdegup kencang ketika menaiki anak tangga. Sesampainya di depan kamar, Cakra semakin gugup.
"Perasaan apa, sih, ini? Tinggal tidur saja apa susahnya," ucap Cakra pada diri sendiri.
Pintu dibuka. Cakra masuk dan mendapati istrinya yang telah siap untuk disentuh. Mendadak ia ingin keluar, tetapi suara Berti menyadarkan dirinya kalau mereka akan membuat anak malam ini.
"Mau ke mana?" tanya Berti.
"Tidak, aku mau kunci pintu," jawab Cakra.
Berti mengangguk, lalu membuka ikatan rambutnya. Ia bergeser mundur ke tengah dan merebahkan diri di atas tempat tidur.
Cakra mematikan lampu utama kamar dan membuat Berti sigap menghidupkan lampu tidur. Jantungnya berdetak lebih kencang sesaat Cakra mulai berjalan mendekat.
"Lampu tidurnya dimatikan juga," kata Cakra.
"Kenapa? Aku enggak bisa lihat kamu, dong," ujar Berti.
"A-aku malu kalau dilihat," jawab Cakra jujur. "Pokoknya lampunya harus dimatikan."
Lampu tidur dimatikan. Gelap gulita kamar yang mereka tempati. Masalahnya Berti merasa pengap dengan kamar yang tanpa penerangan sama sekali.
"Hidupin lampunya. Aku enggak bisa napas," ucap Berti. Tidak lama ia berteriak. "Apa yang kamu sentuh?"
"Diam, kita ini lagi buat anak," ucap Cakra.
"Buat anak apanya? Kamu salah sentuh. Ini lututku kenapa kamu cubit."
"Aku enggak cubit."
"Jangan main raba-raba," kata Berti dengan menepis tangan Cakra. "Kamu sengaja buat aku kehabisan napas, ya?"
"Memangnya aku mau membunuhmu?"
"Ini wajahku," teriak Berti.
__ADS_1
Cakra menjerit karena Berti menggigit jari tangannya. Wajar saja karena wajah Berti ditutupi oleh dua tangan Cakra.
Lampu tidur dihidupkan. Cakra duduk menjauh dari istrinya. "Kenapa marah-marah, sih?"
Berti beringsut duduk. "Kamu yang enggak becus. Lampu pakai dimatikan segala. Kamu itu salah sentuh."
"Salah bagaimana? Bajumu saja belum terbuka."
"Kamu yang serius, dong," kata Berti.
"Aku selalu serius," jawab Cakra.
"Kamu, tuh, pernah menyentuh wanita enggak, sih? Sentuh aku dengan romantis, dong. Masa begitu saja enggak bisa."
"Kita coba lagi. K-kamu buka baju tidurmu."
"Pejam mata dulu. Aku malu kalau dilihat," kata Berti.
"Nanti juga aku lihat. Cepetan dibuka," desak Cakra.
"Sabar, dong. Pasti aku buka. Kamu tutup matamu dulu."
Cakra mengembuskan napas kasar, lalu memejamkan matanya. Berti turun dari sisi sebelahnya, lalu membuka habis baju yang ia kenakan. Lekas saja ia masuk ke dalam selimut tebal sebelum Cakra membuka matanya.
Perlahan Cakra membuka matanya, dan ia melihat Berti sudah berada di dalam selimut. Tampak dari matanya pundak sang istri yang sudah polos, dan Cakra tiba-tiba merasakan kepanasan.
"Kamu tutup matamu juga," kata Cakra.
Berti membalik diri dengan membelakangi suaminya. Semakin tampak punggung belakang Berti di bawah cahaya lampu tidur yang temaram. Cakra meraih remote pendingin udara dan menaikkan suhu ruangnya. Ia membuka habis baju yang melekat di tubuh kemudian masuk ke dalam selimut.
Berti membalik diri menghadap Cakra saat merasakan selimutnya sedikit ditarik. Ia menatap suaminya yang masih belum melakukan apa-apa.
"Sekarang apa?" tanya Berti.
Cakra menoleh padanya, lalu mendekat. "Aku mulai dari mana dulu?"
Berti mengerutkan kening. "Kok, malah tanya, sih? Terserah kamu."
Cakra mengusap wajahnya dulu. "Kamu pejam mata dulu."
Berti menurutinya. Cakra mengusap keningnya yang tiba-tiba berkeringat. Ia memajukan bibirnya. Perlahan, sedikit lagi, mulai menyentuh. Berhasil! Cakra dapat mengecup kening Berti, lalu dengan cepat ia menarik diri.
Berti masih memejamkan mata, lalu Cakra kembali memajukan bibirnya untuk menyentuh bibir yang kemerahan itu.
"Kok, lama?" tegur Berti.
__ADS_1
"Kenapa buka mata? Tutup matamu lagi," kata Cakra.
"Enggak mau," tolak Berti.
Tidak memperdulikan Berti, Cakra menutup mata istrinya, lalu mendaratkan kecupan di bibir. Berti membuka mulutnya, memberi peluang agar Cakra bisa masuk menjelajah dengan indra pengecapnya. Namun, Cakra tidak melakukan itu. Ia malah langsung menuju ke bawah dengan miliknya yang sedari tadi menegang.
"Jangan," kata Berti.
Cakra melebarkan kaki Berti, lalu mencoba menerobos untuk masuk. Berti mengeliat karena Cakra tidak melakukan pemanasan lebih dulu sebelum melakukannya.
"Sakit!" teriak Berti.
"Tahan sedikit. Ini mau masuk," kata Cakra.
"Aku enggak mau. Ini sakit," ucap Berti seraya memukul lengan Cakra.
Sudah terlanjur basah, Cakra juga tidak kuat menahan hasratnya. Ia berhasil masuk ke tubuh Berti, lalu mulai menggerakkan pinggulnya. Bukan nikmat yang Berti rasakan, tetapi rasa perih di bagian dalam kakinya.
"Pelan-pelan," kata Berti.
Cakra tidak menanggapi kicauan Berti. Ia tetap menggerakkan pinggulnya sampai mencapai puncak dari permainan panas itu. Cakra menarik diri, kembali melindungi tubuhnya dengan selimut tebal.
"Masih sakit?" tanya Cakra.
"Jangan lagi menyentuhku!" ucap Berti.
"Aku salah apa lagi, sih?"
"Kamu menyakitiku!"
"Aku sudah melakukan tugasku dengan benar," ucap Cakra.
"Keluar dari kamarku," usir Berti.
"Masa harus tidur di kamar bawah lagi."
"Keluar!" teriak Berti.
Cakra garuk-garuk kepala. Mau tidak mau ia bangun dari tempat tidur dan lekas berpakaian, lalu keluar dari kamar. Ia tidak mengerti apa maunya dari Berti. Cakra merasa ia sudah benar dalam melakukan gerakan permainan tadi. Ia sudah melakukan tugasnya sebagai seorang suami, lalu di mana letak salahnya itu?
Berti turun dari tempat tidur kemudian berjalan masuk ke kamar mandi. Ia tidak merasa bahagia sama sekali setelah melewati malam pertama bersama Cakra. Yang ada hanya ia merasakan penyiksaan yang dilakukan oleh Cakra.
Tidak ada tanda cinta yang ditinggalkan Cakra di tubuhnya. Tidak ada kata cinta yang Cakra bisikan di telinganya. Tidak ada racauan kenikmatan yang tercetus dari bibirnya ketika Cakra menghunjam tubuhnya. Berti sama sekali tidak menikmati malam indahnya.
Bersambung
__ADS_1