
Berti kembali ke kamar, sedangkan Cakra ke ruang kerja. Waktu tidur masih ada sekitar dua jam lagi dan Cakra akan kembali ke kamar sekitar pukul sepuluh malam.
Kesempatan ini Berti manfaatkan dengan merendam diri di dalam bathtub. Aromatherapy mawar sebagai pilihan minyak esensialnya. Sembari merendam diri, ia menyempatkan diri membaca majalah fashion online.
"Bagus juga ini baju. Boleh, deh, pesan buat butik ekslusifku," gumam Berti.
Puas melihat pakaian di majalah, Berti memutar acara TV video. Drama manis ala negeri ginseng menjadi pilihan. Terlebih ada aktor favoritnya yang membintangi. Berti semakin semangat untuk menghabiskan waktu di kamar mandi.
"Andai kisah cintaku sama seperti drama di TV. Romantis dan manis," ucap Berti lirih.
Tiga puluh menit berlalu, Berti bangun dari air rendaman mawar. Tubuhnya tidak sanggup untuk berlama-lama di dalam air. Ia juga harus menyiapkan penampilan menarik malam ini untuk sang suami.
"Malam ini pakai yang mana, ya?"
Gaun-gaun tipis yang ia beli sengaja dibawa ke kamar mandi. Pilihan Berti jatuh ke warna merah. Ada keraguan saat ia melihat pakaian yang memang diperuntukkan untuk wanita berpasangan.
"Aku malu, tapi harus melakukannya," ucap Berti.
Sejenak berpikir, Berti memutuskan untuk memakainya. Setidaknya ia telah mencoba untuk lebih dulu berinisiatif mendekat pada Cakra. Ketika diri mereka telah menyatu, maka rasa canggung serta malu tidak akan jadi penghalang.
Gaun menerawang itu telah melekat di tubuhnya. Langkah pertama berhasil di lakukan. Langkah kedua menata wajah dan rambut. Berti tidak membubuhkan apa pun di pipi. Hanya pelembab di bibir yang ia pakai agar terlihat lebih merah dan lembab. Lalu, menyemprotkan parfum di sekitar pergelangan tangan dan leher. Tidak ketinggalan tatanan rambut panjang yang sengaja ia biarkan tergerai.
"Aku gugup. Tapi berharap jika ini akan berhasil," ucap Berti.
Selesai dengan merapikan diri, Berti keluar kamar mandi. Masih sisa tiga puluh menit sebelum waktunya Cakra akan kembali ke kamar tidur. Berti menonaktifkan ponsel, lalu meletakkannya di atas nakas.
Sekarang ia bingung sendiri untuk melakukan apa. Berti ingin ketika Cakra masuk, suaminya itu melihatnya dalam keadaan yang cantik. Ia tidak mungkin langsung merebahkan diri, lalu menyelimuti diri dengan selimut tebal.
"Kebiasaan Cakra tepat waktu. Setiap masuk kamar pasti pukul sepuluh malam," gerutu Berti.
Ia berjalan ke depan membuka pintu kamar. Berti membuka sedikit untuk mengintip. Memang tidak ada tanda apa pun. Cakra belum naik ke atas karena memang belum saatnya.
__ADS_1
"Oh, iya. Aku pura-pura baca buku saja di tempat tidur."
Berti menarik laci tempat ia menyimpan novel. Untung saja ia punya barang seperti itu di rumah. Berti membuka novel itu dan meletakkannya di tempat tidur, lalu pergi mengintip lagi.
Untuk tiga puluh menit berdiri, Berti kuat. Ini demi misi yang harus berhasil malam ini. Beberapa saat terdengar suara Cakra yang meminta Minah mengecek semua pintu.
Berti lekas lari ke tempat tidur. Ia berbaring tengkurap dengan kedua kaki disilang sembari berpura-pura membaca buku. Rambutnya juga sengaja ditepi ke samping agar Cakra bisa melihat dirinya yang seutuhnya.
Pintu dibuka. Cakra melangkah dan ia kaget melihat Berti di tempat tidur. Cakra berdeham. Berti menoleh ke arahnya, lalu bergeser dari tempat tidur.
"Kamu belum tidur?" tegur Cakra.
"Kamu enggak lihat aku lagi baca?"
"Oh!"
Berti mengerutkan kening, ia bangun dari posisinya. "Kenapa diam di situ?"
"Aku sudah selesai, kok. Lagian ini waktunya tidur."
Berti menutup buku, lalu menyingkirkannya ke atas meja lampu tidur sebelahnya. Ia tersenyum memandang Cakra yang enggan untuk mendekat.
"Kenapa lagi?" tanya Berti.
"Enggak. Oh, ya, aku lupa ada berkas yang harus diselesaikan. Sepertinya aku harus lembur malam ini. Kamu tidur sendiri dulu, ya. Nanti aku menyusul," ucap Cakra, lalu menarik gagang kunci dan keluar.
Berti tertegun ketika pintu kamarnya ditutup. Cakra sama sekali tidak berminat menyentuhnya. Jangankan menyentuh, sekadar memuji cantik saja tidak tercetus dari bibir pria itu.
"Gagal!" ucap Berti lirih. "Ini baru semalam. Cakra pasti masih ragu atau malu. Besok malam aku akan mencoba lagi."
Di ruang kerja, Cakra berusaha untuk menenangkan diri. Tubuhnya terasa gerah ketika melihat Berti yang berpenampilan tidak seperti biasanya itu.
__ADS_1
"Tidak biasanya Berti memakai pakaian kurang bahan seperti itu. Ada apa dengannya? Aku pergi ke luar negeri, dia malah berubah," gumam Cakra. "Lebih baik tidur di sini saja. Lebih aman."
*****
Besok paginya, ketika Berti membuka mata. Ia tidak melihat Cakra di samping tempat tidur. Berti meraih jam beker di nakas yang menunjukkan pukul setengah enam pagi. Ia turun dari tempat tidurnya.
Pintu kamar yang terbuka mengalihkan perhatian. Cakra masuk ke dalam. Berti memandang suaminya yang masih memakai pakaian sama seperti semalam yang artinya, Cakra tidak kembali ke kamar tidur.
Cakra mengalihkan pandangannya dan Berti berjalan menuju lemari mengambil jubah sebab ia masih mengenakan gaun menerawang itu.
"Kamu enggak tidur di sini semalam?" tanya Berti, padahal ia tahu kebenarannya.
"Aku ketiduran semalam."
Berti mengangguk. "Aku akan siapkan air hangat untukmu mandi."
"Boleh."
Berti masuk bilik mandi, ia menyiapkan air hangat, lalu pakaian kantor untuk Cakra. Tidak ada obrolan apa-apa ketika Berti mondar-mandir di depan pria itu.
"Mau sarapan apa hari ini?" tanya Berti.
"Oatmeal dan susu saja."
Berti mengangguk. "Air mandimu sudah siap. Aku keluar dulu."
Cakra dapat bernapas lega karena terbebas dari Berti. Masih saja istrinya itu mengenakan pakaian kurang bahan.
"Aku harus mandi," ucap Cakra.
Bersambung
__ADS_1