Bantu Aku Cerai

Bantu Aku Cerai
Manisnya


__ADS_3

Nah, sudah perhatian, kini Berti malah risih dengan sikap Cakra. Semua selalu dikomentari oleh suaminya. Tidak boleh ini dan itu, apalagi kehamilan Berti yang sudah membesar. Meski begitu, ia sangat senang, terlebih bisa selalu bermanja pada suaminya.


Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat. Usia kehamilan Berti sudah mencapai harinya. Tinggal menunggu detik-detik kapan si jabang bayi akan lahir.


Sudah sebulan ini Cakra bekerja di dalam rumah. Kadang-kadang juga ke kantor, tetapi hanya sebentar. Santi dan Widya juga lebih sering berkunjung ke rumah anak mereka. Syukurlah masalah yang sempat menghantam biduk rumah tangga Berti dan Cakra telah berlalu.


Kamar untuk calon buah hati keduanya telah siap. Persis di samping kamar sepasang suami istri itu. Berti juga menyiapkan boks bayi khusus untuk di kamar mereka. Pengasuh juga sudah dicari jauh hari, tepatnya ketika kehamilan Berti menginjak usia tujuh bulan.


Pengasuh itu tentulah bukan wanita muda sekali atau tua. Yang pasti tidak boleh lebih cantik dari sang majikan. Bukan apa-apa, Berti takut terjadi hal yang tidak diinginkan, apalagi ia selalu melihat berita tentang wanita perebut rumah tangga orang lain. Meski Cakra terlihat tidak akan berpaling, tetapi buat berjaga-jaga apa salahnya. Pengasuh sekitar umur 35 tahun menjadi pilihan keduanya. Tentu saja Cakra ikut andil dalam memilihnya.


"Bunda!" seru Cakra.


"Ya, Aku di kamar," sahut Berti.


Cakra berjalan menuju kamar bayi dengan membawa paper bag di tangannya. Ia masuk ke kamar, melihat Berti yang menyusun baju bayi dalam lemari.


"Sini, Bun. Lihat apa yang Mas bawa," kata Cakra.


Berti menghentikan pekerjaannya, lalu menjatuhkan tubuhnya di sofa, sedangkan Cakra sengaja duduk di bawah. Cakra mengeluarkan sebuah album dari tas kertas itu.


"Coba dilihat," ucap Cakra sembari menyerahkan album berbentuk segi empat itu.


"Apa ini?"


"Buka saja."


Berti membuka album tersebut. Ia terperangah, mengusap foto-foto ukuran kecil yang ditempel dalam halaman album itu. Pertama foto pertunangan, lalu pernikahan, liburan mereka di Bali, serta kunjungan ke luar negeri. Meski kebanyakan foto Berti dengan berbagai gaya, dan potret Cakra yang ditempel dalam pose sama, tetapi pria itu menyusunnya dengan apik.


Ada juga potret hasil USG pertama kehamilan Berti. Usia 4 bulan, 6 bulan, sampai 9 bulan. Foto-foto Berti tengah hamil juga ada. Cakra juga menyisakan beberapa bagian kosong.


"Ini untuk calon anak kita?" tanya Berti yang menunjuk bagian kosong itu.


Cakra mengangguk. "Iya, di tengah ini untuk anak kita yang akan lahir."


Berti tersenyum. "Manisnya. Sejak kapan Mas buat ini?"


"Sudah lama, sih. Waktu ada jam luang di kantor, aku membuatnya."


Berti mengecup kening suaminya. "Terima kasih, Mas. Bunda makin cinta, deh."


"Sama, Mas juga cinta."


Keduanya tertawa bersama, lalu melanjutkan diskusi mereka. Kini Cakra sudah mau bicara banyak pada Berti di sela kesibukkannya menjalankan perusahaan. Ia mau mendengar pendapat istrinya meski tentu saja ada bantahan bila tidak sesuai keinginan. Dalam rumah tangga hal seperti itu kadang terjadi. Namun, Cakra yang tenang dan Berti yang mulai memahami suaminya, bisa mengatasi masalah kecil itu.


"Aduh!" Berti meringis dengan memegang pinggangnya.


"Kenapa, Bun?" Cakra mengambil alih album foto dari tangan istrinya.

__ADS_1


"Tiba-tiba mules. Aku ke toilet dulu."


"Biar aku antar," kata Cakra, yang bangkit berdiri, lalu memegangi Berti.


"Aku masih bisa jalan, Mas."


"Aku antar sampai kamar mandi. Takutnya tubuhmu enggak seimbang lagi."


Berti mengiakan saja, tidak ingin mendebat karena Cakra akan menggerutu lebih lama. Saat sampai di kamar mandi, tiba-tiba sakit itu menghilang.


Cakra yang menunggu di luar, heran karena Berti cepat sekali keluar. "Kok, cepat?"


"Cuma buang air kecil saja," jawab Berti. "Aku mau istirahat dulu."


Cakra membawa istrinya ke kamar. Merebahkan Berti di atas tempat tidur, dan menyelimutinya. Namun, Berti tidak bisa tertidur. Ia gelisah, dan merasakan nyeri seperti ingin datang bulan, tetapi lebih sakit.


"Kamu kenapa?" tanya Cakra.


Berti bangun dari tidurnya. "Mau pipis lagi."


Cakra kembali menemani Berti. Begitu seterusnya untuk beberapa saat. Gelisah, buang air kecil yang sering serta merasakan nyeri pada punggung dan bagian bawah perut.


"Sakit banget," kata Berti.


"Kamu mau melahirkan?"


"Iya, ayo, cepat," kata Cakra yang sedikit bingung.


"Mas, tas persalinan dibawa."


"Oh, iya." Cakra keluar kamar, memanggil Minah untuk membantu.


Dengan sigap, Minah membantu majikannya. Tas persalinan yang telah disiapkan segera dibawa menuju mobil oleh Minah. Cakra menelepon orang tua serta mertuanya untuk segera ke rumah sakit, tempat biasa Berti periksa. Mereka akan bertemu di sana saja nantinya.


"Masih bisa tahan?" tanya Cakra, yang mengiringi Berti keluar rumah.


"Iya, Mas. Berti tahan, kok."


Berti masuk dalam mobil, disusul oleh Cakra. Mesin dihidupkan, lalu kendaraan roda empat itu segera dijalankan menuju rumah sakit bersalin Harapan Bunda.


Sampai di sana, Berti segera ditangani. Masih harus menunggu lagi sampai pembukaan menjadi sempurna. Widya dan Santi yang menemani Berti karena seorang ibu berpengalaman lebih terpercaya dalam merawat.


Pukul 9 malam barulah Berti bisa melahirkan setelah pembukaan sempurna. Hampir 10 jam menunggu dan tersiksa dengan rasa yang teramat sakit.


Cakra sampai tidak tega dan meminta dilakukan operasi saja, tetapi prosedurnya memang seperti itu. Berti sanggup melahirkan secara normal. Belum lagi perjuangan yang harus Berti lewati untuk melahirkan bayinya. Cakra, Adhitama, Ilham serta Dafa harap-harap cemas.


Setelah pintu ruang tindakan terbuka, barulah semuanya merasa lega. Terlebih ada suster yang memegang bayi merah di tangannya.

__ADS_1


"Selamat, Tuan. Bayinya laki-laki dan sehat," ucap suster.


Adhitama dan Ilham saling berpelukan. Cakra lekas mengikuti suster ke ruang bayi. Malaikat kecil hasil dari buah cinta Berti dan Cakra kini telah lahir.


"Tampannya anakku," ucap Cakra sembari memandang lekat sang buah hati. Lalu, mengumandangkan azan di telinga sang bayi.


Paginya, semua berkumpul melihat bayi pertama pasangan Berti dan Cakra. Sang sahabat Sari pun ikut datang bersama Arjuna dengan membawa hadiah.


Arjuna masih takut pada Cakra. Takut kejadian lalu menimpa dirinya lagi. Namun, Sari siap menjadi tameng untuk sang kekasih. Keduanya kini telah resmi berpacaran.


Berti dan Cakra mendapat ucapan selamat dari semuanya. Kedua keluarga begitu bahagia mendapat pewaris mereka. Terutama Cakra karena mendapat bayi laki-laki sesuai harapannya. Sang Pencipta maha pengasih, mengabulkan doa-doa Cakra.


"Siapa nama si kecil tampan ini?" tanya Sari.


"Mas Cakra belum kasih nama," jawab Berti.


"Namanya Delvino Sastrawan," sahut Cakra. "Bunda setuju?"


"Bagus juga, kita panggil dia Delvin," kata Berti.


"Yang lain bagaimana?" tanya Cakra kepada keluarganya.


"Namanya bagus, semoga menjadi anak yang berbakti dan soleh," ucap Santi.


"Amin," sahut semuanya.


Cakra meraih tangan istrinya. "Makasih, Bunda."


"Buat apa?" tanya Berti.


"Semuanya."


"Sama-sama," ucap Berti.


"Setelah ini, kita buat adik bayi untuk Delvino, ya?" kata Cakra.


Berti tertawa, lalu mengangguk. "Tunggu tiga bulan lagi."


"Aku akan sabar," ucap Cakra.


Bantu aku cerai? Berti tidak akan meminta bantuan agar bisa berpisah dari Cakra. Ia mencintai suaminya, menerima segala hal yang menjadi kekurangan dan kelebihan Cakra. Kali ini, Berti hanya ingin rumah tangganya selalu dalam keadaan damai dan bahagia.


TAMAT


Terima kasih untuk semua yang telah membaca karya Author sampai selesai. Terima kasih untuk hadiah, like, vote serta komentarnya. Jangan lupa untuk ikuti akun Author serta follow Instagram-nya.


Follow IG : renitaria7796

__ADS_1


I Love U All


__ADS_2