Bantu Aku Cerai

Bantu Aku Cerai
Minta Pendapat


__ADS_3

Waktu sedikit yang diberikan membuat keluarga Ilham Hartawan sibuk mempersiapkan pertunangan. Acara akan diselenggarakan di kediaman pihak perempuan.


Berti pun tidak fokus dengan pekerjaan. Jantungnya lebih kencang berdetak akhir-akhir ini. Setiap Cakra memberi kabar atau menanyakan kegiatannya, Berti selalu gugup untuk menjawab.


Mereka tidak bertemu setelah malam pertemuan itu. Cakra sibuk, dan Berti malu untuk mengajak lebih dulu calon suaminya. Ia seorang wanita dan seharusnya menunggu pria yang mengajak lebih dulu.


"Jika kangen, ajak ketemuan saja," ucap Sari.


"Enggak, ah. Aku malu."


"Dia calon suamimu. Untuk apa malu?"


"Justru itu! Aku ini wanita. Seharusnya, Cakra dulu yang mengajakku bertemu," jawab Berti.


"Adakalanya wanita juga harus agresif. Pria cenderung tidak suka terhadap wanita pasif yang hanya menunggu untuk diajak."


"Aku tau soal itu, tapi kesannya, seperti wanita gatal." Berti memalingkan wajahnya setelah mengucapkan kata yang ia sendiri sangat malu untuk mengeluarkannya tadi.


Sari mengembuskan napas kasar. "Kamu itu gadis kota. Wajar, kok, seorang wanita mengajak lebih dulu seorang pria, apalagi itu adalah calon suaminya sendiri."


"Aku tau, tetapi tetap saja aku malu."


"Memangnya kamu mau ngapain kalau ketemu Cakra?" tanya Sari.


"Aku mau minta ditemenin beli baju buat pertunangan kami."


Liberti memang menjual pakaian, tetapi ia menjual baju-baju casual pria, wanita dan anak-anak. Perusahaannya juga menjual aneka sepatu dan sandal untuk semua umur.


Berti membutuhkan pakaian formal, seperti kebaya yang hanya ditemukan di butik tertentu. Setidaknya jenis kain mahal yang sesuai dengan kemampuannya untuk membeli.


"Cie, cie, rupanya mau minta pendapat sama calon suami," ucap Sari dengan candaan.


Wajah Berti merona. "Kalau aku cantik, dia pasti jatuh cinta denganku."


"Wah! Kamu menyukainya?"


Berti mengangguk. "Sepertinya begitu."


"Wajar, sih. Cakra tampan begitu," sahut Sari. "Coba kamu kirim pesan. Tanyakan apa kegiatannya hari ini."


Berti mengiakan saran sahabatnya, lalu mengirim pesan kepada Cakra. Lima menit pesan yang ia kirimkan belum dibaca. Berti tidak mengalihkan pandangannya sama sekali dari tatapan layar ponsel, dan disepuluh menit kemudian, centang abu-abu berubah warna menjadi biru. Dari atas terlihat bacaan mengetik yang artinya Cakra membalas pesannya.


Satu kata. Hanya itu saja. Berti membacanya dengan tegas, "Rapat!" Ia menjatuhkan kepalanya di atas meja. "Dia sibuk. Tidak seharusnya aku mengirim pesan."


Sari tertawa. "Sudahlah, sabtu nanti kalian akan bertemu."


"Kamu sama ibu saja, deh, yang temenin aku belanja."

__ADS_1


"Seharusnya begitu. Pilihan kami tidak akan salah.  Kamu akan cantik pada malam pertunangan."


Kebetulan Sari mendapat jatah libur sehari, dan itu dimanfaatkan untuk mengunjungi sahabatnya di kantor. Cutinya tidak sia-sia karena ia akan menemani Berti memilih pakaian baru.


"Aku hubungi ibu dulu untuk menemui kita di butik Avanie. Jadi, kita tinggal menuju ke sana saja," ucap Berti.


"Oke. Pakai mobilku atau mobilmu?" tanya Sari.


"Masing-masing saja."


Sari dan Berti beranjak dari kursi seraya meraih tas kemudian keluar bersama dari ruangan menuju lift yang mengantarkan mereka ke lantai dasar. Keduanya berjalan menuju parkiran mobil, lalu masuk ke dalam kendaraan masing-masing.


"Aku duluan!" seru Sari.


"Ketemu di sana," balas Berti.


Mobil merah melaju lebih dulu disusul kendaraan putih yang ditumpangi Berti. Di dalam perjalanan, deringan telepon berdering. Berti menepikan mobil, mengangkat panggilan dari pria yang ingin sekali ia dengar suaranya.


"Tunggu sebentar," ucap Berti, "aku pasang headset dulu." Berti meraih alat pendengar itu dari dalam tempat dekat tuas persneling, dan segera memasangnya. "Ya, Cakra."


"Kamu di mana?" tanya Cakra.


Berti kembali menjalankan mobilnya sembari berbicara, "Aku di jalan mau ke butik Avanie."


"Kamu pesan gaun pengantin?"


"Hati-hati di jalan kalau begitu. Aku masih ada rapat lagi. Sabtu nanti kita ketemu."


"Oh, oke."


Sambungan terputus. Cakra seperti terburu-buru untuk menghentikan obrolan mereka. Mungkin karena sibuk hingga tidak bisa bicara banyak. Namun, Berti bahagia karena Cakra masih menyempatkan diri untuk menghubunginya.


Sesampainya di butik, Sari dan Berti menunggu sang ibu Santi yang tidak lama kemudian datang menyusul. Keduanya memilih kebaya untuk calon pengantin, yaitu berti.


"Sebenarnya aku ingin membuat pakaian, tetapi waktunya tidak cukup. Cakra akan ke luar negeri demi bisnisnya," ucap Berti.


"Tidak apa-apa. Lagian pertunangan ini hanya dihadiri oleh kerabat dekat," sahut Santi.


"Kamu mau pilih mana? Biru muda atau hijau?" tanya Sari dengan menenteng kedua kebaya di tangan.


"Biru muda kelihatan cantik. Biar aku foto untuk meminta pendapat Cakra." Berti memotret dua gaun itu, lalu mengirimkannya kepada calon tunangannya.


Deringan pesan masuk ke ponsel milik Cakra. Pria itu meraih gawai yang terletak di meja, membuka pesan seraya mendengarkan karyawannya persentasi.


"Dia menyuruhku memilih kebaya," gumam Cakra.


"Ada apa, Tuan?" tanya Ariel.

__ADS_1


"Pilih kebaya yang kamu suka. Biru muda atau hijau," ucap Cakra dengan menyerahkan ponselnya kepada sang asisten.


"Saya suka warna biru, Tuan."


"Balas saja kepada Berti," kata Cakra tanpa memandang Ariel.


"Baik, Tuan."


Ariel membalas pesan dengan mengetik warna biru yang menjadi pilihan darinya setelah itu meletakkan kembali ponsel di meja.


Berti tersenyum bahagia ketika mendapat balasan pesan dari Cakra. "Seleranya sama sepertiku. Dia menyukai warna biru. Kalau begitu, aku mengambil yang biru muda."


"Biru memang bagus," sahut Santi.


"Aku juga menyukainya," sambung Sari.


Masing-masing telah mendapatkan kebaya yang diinginkan. Berti membayar semua baju itu dengan kartu yang diberikan oleh Cakra. Calon suaminya sendiri yang mengatakan boleh memakai uang di dalam kartu itu untuk membeli keperluan, dan Berti sama sekali tidak sungkan mengunakannya.


*****


Hari yang ditunggu akhirnya tiba juga. Sore hari, rumah Berti sudah dihadiri oleh kerabat dekat kedua orang tuanya. Pertunangan itu akan diselenggarakan pukul tujuh malam.


Sejak siang hari, Berti sama sekali tidak keluar kamar. Hanya ibu serta Sari yang sering keluar masuk ke biliknya.


"Sebentar lagi sahabatku akan menjadi milik orang lain," celetuk Sari.


"Aku ini baru bertunangan. Belum menikah," sahut Berti.


"Justru itu. Kamu akan sibuk dengan kehidupan pernikahanmu."


"Kamu menikah juga, dong," kata Berti.


"Nikah sama kawin enak. Yang susah itu menjalankannya," ucap Sari.


"Jangan bicara begitu! Membuatku takut saja."


"Iya, iya," sahut Sari.


"Nona diam dulu. Saya ingin mengaplikasikan perona bibir," ucap penata rias kepada Berti.


"Iya, Mbak. Saya diam, kok. Sahabat saya saja yang dari tadi ngajak ribut."


"Siapa yang ngajak ribut?" protes Sari.


Berti tidak membalas ucapan sahabatnya meski bibirnya ingin mengatakan sesuatu. Ia membiarkan penata rias mengaplikasikan lipstik di bibirnya.


Riasan yang simpel menjadi tema kali ini. Berti memang ingin tampil manis dan anggun untuk malam istimewa. Ia ingin membuat Cakra terkesan ketika melihatnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2