
Seperti ada tanda tanya besar di sekitar kepala Berti. Gambar burung hitam terbang terlihat bolak-balik di kepalanya. Ia juga seakan mendengar jarum jam yang bergerak ke arah detik selanjutnya. Aku siapa? Aku di mana? Mimpikah aku? Heran, tetapi ini nyata.
"Buat anak lagi?" ulangnya memastikan. Mungkin saja salah dengar karena belum membersihkan kotoran telinga.
Cakra mengangguk. "Iya, aku mau buat anak lagi." Dengan nada sedikit kesal, seperti tidak biasa saja. Untuk buat anak saja, Cakra harus memberitahu Berti berulang kali.
"Tengah hari begini?" tanya Berti.
"Kenapa banyak tanya, sih? Aku mau buat anak sekarang. Enggak cukup dengar sekali apa?"
Mendengar ucapan Cakra, Berti tidak berada di alam mimpi. Memang si manusia batu yang saat ini berhadapan dengannya. Tidak mungkin juga jin yang menyerupai Cakra yang datang saat ini karena suami Berti yang asli adalah si patung berjalan yang sangat langka.
Ditolak dosa, kalau diterima malah bikin sakit hati. Berti masih menatap suaminya. Cakra pulang cepat karena ingin tidur bersamanya. Apa ini yang dinamakan sekali merasa akan semakin candu?
"Masih sakit," ucap Berti.
"Aku akan pelan-pelan," kata Cakra.
"Janji enggak akan kayak semalam?"
Cakra mengangguk. "Aku janji. Ayo, kita buat sekarang."
Berti masih ragu, tetapi ia tetap berjalan menaiki anak tangga menuju kamar atas yang diikuti oleh suaminya. Kenapa malah ia yang merasa takut? Ini siang hari meski lampu di matikan, Cakra akan tetap terlihat. Melihat suami sendiri polos membuat Berti panas.
"Aku mandi dulu," kata Berti.
"Enggak usah. Aku mau sekarang saja. Dari tadi aku menahan diri," sahut Cakra yang menutup pintu, lalu menguncinya.
Cakra meletakkan tas kerja di sofa. Melepas sepatu, membuka jas, dasi serta kemeja kemudian berjalan masuk ke kamar mandi. Tidak lama ia keluar dengan mengenakan handuk yang dililitkan di pinggang.
Ini lebih mendebarkan dari malam pertama. Berti duduk di tepi tempat tidur, melepas drees berbahan sifon yang ia kenakan serta pakaian dalaman. Ia berbaring menunggu Cakra datang melakukan tugasnya.
__ADS_1
Dingin karena penyejuk udara, tetapi Cakra belum juga bergerak dari posisinya memperhatikan tubuh Berti. Heran karena Cakra belum melangkah akhirnya, Berti bangun dengan bertumpu dua siku tangganya. Ia memandang Cakra. Memperhatikan tubuh suaminya yang proposional. Turun lagi ke bawah, mata Berti membelalak melihat ada tonjolan mencuat di balik handuk yang dipakai Cakra.
"Ayo, Sayang," goda Berti.
Cakra malah menutupi bagian bawahnya. Wajahnya memerah, tetapi ia tetap berjalan mendekat. Berti kembali berbaring dengan merentangkan kedua tangannya.
Handuk itu terlepas juga akhirnya. Tegak menantang dengan urat yang menegang di sekitarnya. Warnanya juga sama seperti kebanyakan meski Berti tidak pernah melihat milik pria lain, tetapi ia mengetahuinya dari gambar serta film. Ditumbuhi rambut keriting yang hitam pekat dan lebat, itu terlihat fantastis.
Cakra menurunkan tubuh yang disambut dengan sebuah kecupan bibir. Permainan bibir Cakra benar-benar buruk. Ini cuma kecupan bibir, dan Berti pernah merasakannya. Namun, bagi Cakra ini adalah pengalaman pertamanya. Satu-satunya wanita yang pernah menyentuhnya adalah Berti.
Cakra menarik diri. Ia menyeka ludah yang belepotan di bibirnya kemudian pandangannya terarah pada dua kelembutan dengan ujung yang telah mencuat. Cakra memegangnya, Berti mengeluh. Menekannya, Berti mengeluarkan suara berat. Kemudian ia memainkan ujungnya yang membuat sang istri mendonggakkan kepalanya dan mengangkat tubuhnya.
"Oh, kamu mau begini rupanya," kata Cakra.
Berti tidak menjawab, tetapi ia menarik diri Cakra agar menikmati miliknya yang sudah menegang tadi. Cakra membenamkan bibirnya di sana. Mencucupnya dengan sesekali menekan sisi kelembutan itu. Secara bergantian yang membuat Berti semakin terbakar gairah.
Di bawah sana basah, meronta untuk segera dimasuki, tetapi Berti menginginkan Cakra untuk melakukan hal lain. Saat Berti perlahan mendorong pundak suaminya ke bawah, Cakra bangun dengan memposisikan dirinya di tengah.
Ini tidak seperti tadi malam sebab Cakra menggosokkan miliknya lebih dulu agar licin. Terasa geli, dan Berti menyukainya. Suara yang keluar seperti nyanyian. Semakin cepat Cakra menggeseknya, semakin nyaring pula irama serak yang keluar.
Berti menggigit bibir, mencengkeram seprai saat Cakra sudah masuk ke tubuhnya. Pelan, tetapi menghunjam. Berti melingkarkan kedua kakinya di pinggang sang suami, lalu Cakra mengecup kembali bibirnya.
Napas Cakra terdengar di telinganya. Begitu memburu seiring gerakan bertempo lambat. Berti menangkup wajah suaminya. Memandangnya lekat yang dibalas Cakra dengan helaan napas kenikmatan.
"Masih sakit tidak?" tanya Cakra.
"Tidak seperti semalam. Ini sedikit lembut," jawab Berti.
Gerakan lambat tidak cocok bagi Cakra. Berti memeluk suaminya ketika gerakan pinggul terasa cepat dan mendesak. Hunjaman yang menghentak, otot tubuh yang semakin menegang sampai pada helaan napas panjang yang mengakhiri permainan.
Dengan napas terengah-engah, Cakra bergeser ke sisi tempat tidur sebelahnya. Ia melirik Berti yang tidur membelakangi. Istrinya masih belum menutupi diri dengan selimut, dan punggung yang mulus masih terpampang di depan mata.
__ADS_1
Cakra beralih posisi menyamping, mengulurkan tangan menyentuh tengkuk, menggesernya turun ke bawah yang membuat Berti kegelian.
Jantung Berti berdegup kencang. Ia menggigit bibir sembari mememjamkan mata merasakan setiap pergerakkan jari Cakra yang menggelitik. Apa artinya akan ada ronde kedua? Apa suaminya akan meminta lagi hal yang membuat Berti menjadi candu? Berti akan senantiasa melayaninya lagi jika Cakra bertindak seperti yang ia inginkan.
Sayangnya ketukan pintu membuat keduanya kaget. Cakra lekas bangun dengan mengambil handuk di lantai dan berjalan membuka pintu.
"Aku belum pakai baju," tegur Berti ketika Cakra hendak menarik gagang pintu.
Cakra menoleh, Berti lekas masuk dalam selimut menutupi dirinya sampai batas leher barulah ia membuka pintu. Minah menganggu di saat yang tidak tepat, padahal Cakta tadi menginginkannya lagi.
"Ada apa?" tanya Cakra dengan nada sedikit tidak suka atas kedatangan Minah.
"Maafin Bibi, Tuan. Di bawah ada nyonya besar."
"Mama datang?"
Minah mengangguk. "Iya, kayak marah-marah."
"Bibi turun saja. Aku mandi dulu baru menemui mama."
"Cakra!" tegur Widya.
Minah yang melihat kedatangan Widya, lekas menyingkir dari sana. Widya mengerutkan kening melihat penampilan anaknya. Ia berjinjit untuk melihat kondisi dalam kamar Cakra, tetapi anaknya menghalangi.
"Mama kembali ke lantai bawah saja. Cakra bentar lagi turun."
"Kenapa kamu block Mama?" tanya Widya.
"Mama telepon terus. Cakra masuk dulu. Mama tunggu di bawah," ucapnya, lalu menutup pintu dan menguncinya.
"Eh, Cakra! Mana istrimu?" Widya geleng-geleng kepala. "Tanya sama Minah saja. Tumben, tuh, anak ada di rumah saat masih jam kantor." Bahkan, Widya pun heran dengan Cakra yang pulang cepat.
__ADS_1
Bersambung