
Berti tersenyum ketika membaca pesan dari Cakra. Tunangannya telah berangkat pagi-pagi sekali ke Singapura demi bisnis, dan akan kembali ke tanah air ketika menjelang hari pernikahan tiba.
Tidak masalah bagi Berti. Ia juga harus menyelesaikan urusan bisnis demi kelancaran hari sakral nanti.
"Jika Cakra pergi untuk menyelesaikan pekerjaaan, maka aku juga harus semangat," ucap Berti. "Ayo, Berti! Semangat, semangat!"
Hari-hari berlalu dengan cepat. Cakra dan Berti hanya saling bertukar kabar lewat pesan. Mereka jarang bicara lewat panggilan telepon, bahkan untuk video saja tidak pernah.
Hari sakral semakin tiba. Berti menanyakan kapan kepulangan kekasihnya itu. Mereka harus fitting baju kembali dan melakukan foto preweeding bersama. Namun, Cakra seakan tidak mau pulang dari negeri Singa.
"Kapan tunanganmu akan pulang?" tanya Sari.
"Jangan tanya. Aku saja tidak tau."
"Lusa jadwal kalian foto preweeding."
"Aku tau. Tapi Cakra malah belum memberi kabar kapan dia pulang," ucap Berti.
Bunyi ponsel terdengar. Berti meraih gawai yang berada di atas meja, ia menatap sejenak layar itu, lalu menempelkan jari telunjuk ke bibir. Sari langsung menutup mulut karena kode tersebut.
"Halo, Cakra," ucap Berti.
"Hari ini aku pulang."
"Syukurlah. Kamu ingat dengan hari besar kita."
"Sudah dulu. Aku akan menemui nanti," kata Cakra.
Sambungan langsung diputus. Berti langsung meletakkan ponsel di atas meja dengan kasar. Sari cuma bisa menggeleng melihat wajah kekesalan sahabatnya.
"Kenapa?" tanya Sari.
"Cakra pulang hari ini."
"Bagus, dong. Kenapa wajahmu kusut begitu?"
"Ayolah, Sar. Dia tidak romantis sama sekali," ucap Berti.
"Mungkin dia malu. Kalian belum bisa saling bersentuhan. Aku yakin sekali jika setelah kalian menikah, Cakra akan jadi pria romantis yang kamu inginkan."
"Semoga saja," harap Berti.
Perjalanan selama dua jam, membawa Cakra sampai di tanah air. Ia ingat untuk kembali karena sang ibu yang selalu menelepon. Sebenarnya, Cakra ingin pulang pada lusa karena masih ada urusan yang belum selesai diurus. Jadwal yang telah disusun ternyata tidak sesuai. Mau tidak mau, ia menyerahkan semua kepada orang kepercayaannya.
"Tuan, kita harus ke mana? Pulang atau menemui nona Berti?" tanya Ariel.
"Kamu pulanglah. Aku harus menemui calon istriku itu. Kalau tidak, aku yakin sekali mama akan terus mengomeliku," jawab Cakra.
"Baik, Tuan."
"Tunggu! Apa yang harus dilakukan untuk membujuk wanita?" tanya Cakra.
"Tuan bisa membawanya pergi makan atau belanja. Hari pernikahan sudah dekat. Pasti nona Berti ingin selalu bersama," kata Ariel.
__ADS_1
"Itu tidak sempat. Berti bilang dia ingin fitting baju."
"Ahh, maksud Tuan supaya nona Berti tidak marah saat bertemu?" tanya Ariel.
"Benar. Aku tidak mau sampai pernikahan ini gagal. Aku harus menjaga perilaku saat bersama wanita itu."
"Berikan bunga mawar yang paling besar. Nona pasti akan sangat senang."
"Kamu pesan di toko. Ketika di dalam perjalanan, aku akan mengambilnya," kata Cakra.
"Baik, Tuan. Saya akan telepon toko bunga tempat biasa kita memesan bunga untuk acara kantor."
Ariel menelepon toko bunga untuk menyiapkan semuanya. Satu buket kembang mawar telah dipesan, dan Cakra tinggal mengambilnya saja saat di perjalanan menemui Berti.
"Kita berpisah di sini saja," kata Cakra.
"Baik, Tuan. Hati-hati di jalan."
Ariel membuka pintu mobil dan mempersilakan Cakra masuk. Pria itu mengendarai kendaraan roda empat meninggalkan Ariel di bandara.
*****
Berti sudah berpenampilan rapi untuk pergi bersama Cakra. Sebenarnya ia tidak mau terlalu berharap bersenang-senang malam ini bersama Cakra.
Berti tidak tahu apakah nanti tunangannya akan marah karena disuruh pulang. Ia sedikit khawatir tentang hal itu. Namun, Berti tidak tahu harus apalagi karena Cakra memang sudah seharusnya kembali ke tanah air.
"Cakra sudah pulang, Bert?" tanya Santi.
"Sudah, Bu. Ini juga janjian mau ketemu."
"Enggak apa-apa, Bu. Kita makan diluar, kok," ucap Berti.
Suara mobil masuk terdengar. Berti berdiri, melangkah membuka pintu. Ia memasang senyum ketika melihat Cakra keluar dari kendaraannya.
"Hai!" sapa Cakra.
"Hai!" balas Berti.
"Untukmu," ucap Cakra, dengan menyerahkan sebuket bunga mawar.
"Terima kasih."
"Ehem, Nak," tegur Santi.
Cakra tersenyum kemudian melangkah mendekati Santi. Pria itu meraih tangan calon mertuanya, lalu mengecupnya.
"Ibu apa kabar?" tanya Cakra.
"Baik. Kamu bagaimana? Kerjaan di sana lancar?" tanya Santi.
"Cakra baik, Bu. Kerjaan juga beres. Oh, ya, bapak mana?"
"Si bapak pergi main bulu tangkis di lapangan ujung komplek."
__ADS_1
"Cakra minta izin buat ajak Berti keluar."
Santi mengangguk. "Iya. Jangan lupa bujuk tunanganmu. Dari kemarin uring-uringan terus."
Cakra tersenyum. "Iya, Bu. Ini makanya Cakra cepat pulang."
Berti memberikan buket bunga kepada sang ibu, lalu pergi bersama Cakra. Di dalam perjalanan, hanya kebisuan yang menemani. Cakra fokus menyetir, lalu Berti yang menunggu tunangannya membuka pembicaraan.
"Marah?" tanya Cakra.
"Tidak, kok."
"Kenapa diam?"
"Kamu juga diam," ucap Berti.
"Kita pergi isi perut dulu, deh."
Mobil yang dikendarai Cakra berhenti di sebuah restoran. Keduanya keluar bersama. Cakra mengulurkan tangan, dan Berti menyambutnya. Ini pertama kali mereka berpegangan, Berti merasakan jantungnya berdetak lebih kencang.
Cakra mengambil meja di dekat jendela kaca. Pemilihan yang cukup bagus untuk saat ini. Cakra memang merasakan sikap Berti sedikit berubah, dan ini tidak baik untuknya. Jangan sampai Berti membatalkan pernikahan karena itu tidak baik bagi Cakra tentunya.
Pelayan wanita datang dengan membawa buku menu. Keduanya memesan makanan yang mereka inginkan terlebih dulu kemudian saling memandang ketika pelayan telah pergi.
"Aku sangat sibuk," kata Cakra.
"Aku tau, tetapi pernikahan kita tinggal menghitung hari."
Cakra tersenyum. "Jangan khawatir akan hal itu."
"Kamu sendiri seperti tidak mau pulang," ucap Berti.
"Aku bakal pulang. Rencanannya memang besok, sih."
"Tuh, kan. Kamu menganggap pernikahan ini tidak penting. Kita belum fitting baju sekali lagi. Kamu belum lihat undangan dan souvenirnya. Gedung, catering, pokoknya semua," ucap Berti.
"Aku percaya pada kamu, mama, dan ibu. Kalian pasti memilih yang terbaik. Aku tidak pandai mengurus masalah seperti ini. Apa pun yang kalian pilih, aku setuju saja."
Berti mengembuskan napas kasar, lalu memalingkan wajahnya menatap mobil yang berlalu-lalang dari kaca.
"Maaf, ya," ucap Cakra.
"Kamu suka aku, enggak?"
"Kenapa jadi bahas itu?" tanya Cakra.
"Jawab saja."
'Sialan! Kenapa Berti membahas tentang perasaan?' batin Cakra. "Aku suka kamu. Kalau enggak buat apa aku setuju menikah denganmu?"
"Jangan ulangi lagi," kata Berti.
Cakra mengangguk. "Pasti. Aku sibuk karena untuk hari besar kita. Bagaimana denganmu?"
__ADS_1
"Aku juga sudah menyelesaikan semuanya. Kita bisa fokus untuk persiapan pernikahan."
Bersambung