Bantu Aku Cerai

Bantu Aku Cerai
Manusia Batu


__ADS_3

Untuk pertama kali Cakra tidak fokus dengan pekerjaan. Tingkah laku Berti dari semalam sampai pagi membuatnya heran. Istrinya itu tidak pernah jauh dari ponsel. Senyum sendiri. Tertawa sendiri, dan entah apa yang menarik dari telepon layar sentuh itu.


Saat Cakra hendak melihat apa yang istrinya kerjakan. Berti menghindar dan mulai mengungkit sikap Cakra selama ini. Cakra masih ingat saat Berti mengatakan kalau dirinya tidak perlu bersikap sok perhatian.


"Tuan Cakra," tegur Ariel.


Cakra berdeham. "Tolong jangan mengangguku. Aku sedang berpikir."


"Siang ini ada janji sama klien. Tuan mau pergi?"


"Hanya makan siang, kan? Tunda saja," kata Cakra.


"Ini penting, Tuan. Kita tengah negosiasi harga tanah di daerah Sentul," ucap Ariel.


Cakra memijat keningnya. "Oke! Kita pergi sekarang saja."


Ariel mengangguk, lalu keluar ruangan. Cakra bangun dari kursinya. Memakai kembali jas serta merapikan rambut setelah itu keluar dari ruangan dan bersama Ariel masuk lift menuju lantai dasar.


Di sisi lain, Berti tengah bersama Sari dan Juna di restoran seafood. Ketiganya memang janjian bersama sebab ingin mendengar cerita Berti mengenai sikap Cakra. Kebetulan juga Juna masuk kerja pada sore hari.


"Bagaimana responnya?" tanya Sari.


"Sama saja. Dia tetap cuek, tapi Cakra sedikit terganggu karena aku terus bermain ponsel," jawab Berti.


"Apa mau dilanjutkan?"


"Tentu saja. Aku tidak ingin hidup bersama manusia tidak peka itu. Aku ingin pisah darinya."


"Kalau begitu Juna harus bekerja ekstra untukmu," ucap Sari.


"Juna, kamu tenang saja. Pekerjaanmu bagus dan aku akan memberimu bonus," kata Berti.


Wajah Arjuna berbinar mendengarnya. "Siap, Nona. Eh, Berti maksudnya."


Ketiganya tertawa bersama. Pandangan Sari mengarah pada dua orang pria yang baru masuk ke dalam restoran. Sari menundukkan kepala dan membuat Berti serta Arjuna heran.


"Kamu kenapa?" tanya Berti.


"Ini namanya umpan dimakan ikan," kata Sari.


"Apa, sih? Kamu mau mancing?"


Sari mendekatkan jari telunjuk ke bibirnya. "Diam. Dia ada di sini."


"Siapa?"

__ADS_1


Berti dan Arjuna ingin menoleh ke belakang, tetapi Sari lekas mencegah mereka dengan menarik lengan baju dari keduanya.


"Jangan lihat ke belakang. Cakra ada di sini," ucap Sari.


Berti langsung menutup bibirnya, sedangkan Arjuna panas dingin. Suami dari kekasih pura-puranya ada di sini. Jantungnya berdegup kencang. Takut sudah pasti.


"Gimana ini?" tanya Juna.


"Malah bagus. Kita bisa pura-pura mesra," kata Berti.


"Ide bagus. Lebih baik aku pergi dulu," ucap Sari.


Berti mengangguk. "Iya, kamu pergilah. Kami akan pindah posisi agar terlihat."


"Tapi, Bert. Aku takut kalau suamimu melabrak kita," kata Juna.


"Tidak akan. Dia itu super cuek. Mau aku jungkir balik dari sini juga dia tidak peduli," ucap Berti. "Pokoknya tenang saja."


"Oke, lebih baik aku pergi sekarang," kata Sari.


Kebetulan Cakra dan Ariel tengah kedatangan dua orang teman lagi. Keempatnya sibuk beramah tamah dan Sari lekas berjalan keluar, lalu Berti serta Juna berpindah posisi. Meja Cakra dan Berti hanya dipisahkan dua meja saja. Berti sudah berpindah posisi dengan menghadap meja suaminya.


"Sekarang kita harus apa?" tanya Juna.


Juna ragu-ragu, tetapi pelototan mata Berti membuatnya mau tidak mau menerima suapan itu. Juna membalasnya dengan menyuapi Berti makanan penutup berupa cake red velvet.


"Enak banget," kata Berti, lalu ia terbatuk-batuk.


"Makannya hati-hati, Sayang," ucap Juna sembari memberi air minum.


Kegaduhan itu membuat meja depan sana berpaling ke meja yang Berti tempati. Ariel terbelalak melihat istri atasannya di sana bersama seorang pria.


"Itu bukannya ...."


Cakra berdeham. "Kita lanjutkan diskusinya."


Cakra melirik istrinya tengah bersandar di pundak seorang pria. Parahnya tangan pria itu berada di pundak dan sesekali mengusap. Cakra saja belum pernah melakukan itu.


"Tuh, kamu lihat suamiku. Dia tidak kemari, kan? Dia itu tidak peduli," ucap Berti.


"Kalau pulangnya dia marah padamu, bagaimana?" tanya Juna.


"Ya, aku tinggal minta cerai."


"Terserah, deh. Aku nurut saja asal kamu menjamin keselamatanku," ucap Juna.

__ADS_1


"Jangan khawatir. Kamu sudah membuktikan suamiku itu tidak peduli padaku sama sekali."


Juna mengangguk. "Aku percaya."


"Sepertinya sudah cukup kita di sini. Kita cabut, yuk!"


"Aku juga mau kerja. Kita pulang saja," sahut Juna.


Berti dan Juna beranjak dari duduknya. Dengan mantap, Berti menggandeng Arjuna menuju kasir restoran. Berti membayar dulu makanan mereka, lalu keluar bersama.


*******


Pukul tujuh malam, Berti baru sampai rumah. Ia sengaja berbuat demikian agar Cakra kesal dan meminta cerai. Namun, apa yang diharapkan tidak menjadi kenyataan. Buktinya Cakra asik membaca buku.


Selesai membersihkan diri, Berti menelepon Arjuna. Sengaja berbicara mesra agar suaminya marah atau menegur.


"Kita mau liburan ke mana Minggu ini?" tanya Berti di balik telepon. "Apa! Liburan ke pantai? Aku mau banget. Biar aku saja yang pesan hotel dan tiketnya. Ish, kamu nakal. Aku enggak mau pakai baju renang." Berti tertawa seolah dia sangat malu digoda. "Iya, Sayang. Aku bakal pakai baju yang kamu mau."


Dalam hati Berti merasa lucu atas apa yang diucapkan. Ia sendiri saja ingin muntah saat menyebut pakaian renang dan bertingkah seperti malu-malu kucing.


Tengah asik bicara di telepon, lampu utama tiba-tiba padam dan berganti dengan lampu tidur. Waktu bahkan baru menunjukkan pukul sembilan malam. Masih terlalu dini untuk tidur.


Berti memutus sambungan teleponnya, lalu berjalan menuju tempat tidur. Ia merangkak naik kemudian menarik selimut sampai Cakra tidak kebagian lagi.


"Apaan, sih. Enggak biasanya tidur awal gini. Enggak bisa nonton. Enggak bisa chat sama ayang. Ucapin selamat tidur saja belum," gerutu Berti.


"Sekali lagi pulang telat, kamu tau akibatnya," ucap Cakra.


"Apa? Kamu mau ngapain aku? Mau nyuruh aku tidur di luar? Itu malah bagus untukku."


"Aku tidak peduli kamu mau berbuat apa di luar sana. Ketika kamu masih menjadi istriku, kamu  harus ikut aturan."


"Kalau aku melanggar lagi, kamu mau berbuat apa?" Berti menatap wajah Cakra di balik cahaya lampu tidur.


"Kita lihat saja nanti," kata Cakra.


"Minggu ini aku mau liburan."


"Kamu tidak diizinkan pergi," ucap Cakra.


"Aku tidak butuh izinmu," sahut Berti, lalu membalik diri.


Satu-satunya suami yang tidak cemburu adalah Cakra. Berti tidak percaya ia bisa menikahi manusia batu seperti itu. Cerai adalah jalan satu-satunya agar ia bahagia.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2