
"Bukannya malah bagus kalau Cakra mengajakmu tidur bersama?" ujar Sari.
"Bagus apa, sih, Sar? Dia ngajak tidur bareng kayak ngajak aku pergi makan," jawab Berti.
"Ya, awalnya kamu menginginkan itu, kan? Siapa tau saja dengan kalian punya anak, dia berubah perhatian. Kamu juga harus turuti kata-kata Cakra. Ikuti aturannya. Dia mau istri yang seperti apa, kamu turuti. Kalau enggak coba, deh, kamu bicara berdua sama dia. Tanya apa yang dia mau," usul Sari.
"Menurutmu aku harus mencoba mempertahankan rumah tanggaku lagi?"
Sari mengangguk. "Kamu ingin menikah seumur hidup satu kali, kan? Menurutku ini hanya masalah kecil. Cakra hanya cuek, sedangkan kamu menyukai perhatian. Kamu terbiasa dimanja oleh orang tuamu, dan Cakra adalah pria yang mandiri. Dia bekerja keras untuk mendapatkan apa yang dia inginkan."
"Kamu enggak tau apa yang dikatakan padaku kemarin. Dia enggak ada rasa cemburu saat aku berdekatan bersama Arjuna. Dia membebaskan diriku di luar, tetapi di rumah, aku adalah istrinya. Otaknya itu konslet, Sari!" ungkap Berti.
"Seriusan?" Sari malah tertawa. "Aku pengen suami kayak Cakra. Di luar bisa pacaran dan di rumah ada suami."
Langsung saja lemparan tisu mengenai wajah Sari. "Aku seriusan. Dia memang berkata demikian."
"Kayaknya kamu belum buat hatinya panas. Masih kurang buat Cakra cemburu."
"Benar juga. Kayaknya adegan yang kemarin itu masih kurang. Aku suruh saja Arjuna datang ke rumah terus panas-panasin, deh, si Cakra. Nah, kalau dia marah, aku bisa langsung minta cerai," ucap Berti.
Sari menggeleng. "Aku enggak setuju. Namamu yang akan buruk. Kamu akan dicap sebagai wanita tukang selingkuh."
"Sama saja, Sari. Aku juga sudah terlihat jalan sama Arjuna."
"Terserah kamu, deh. Tanya dulu sama Arjuna. Dia itu penakut. Yang ada malah dia diintimidasi oleh Cakra," ujar Sari.
"Kamu buat Arjuna pulang cepat, dong. Kami harus berada di rumah sebelum pukul lima sore," kata Berti.
"Beres. Aku suruh dia cepat pulang."
"Aku akan menjemputnya di rumah kontrakan. Sekarang aku harus balik kantor," ucap Berti.
Keduanya sama-sama bangun dari duduknya. Berti memeluk Sari sebagai perpisahan kemudian berjalan keluar dari restoran hotel. Sementara Sari lekas melaksanakan perintah sahabatnya.
"Saya takut kalau bertemu di rumah. Kalau saya diapa-apain bagaimana?" tanya Arjuna.
"Kamu akan baik-baik saja," ujar Sari.
"Tapi, Nona. Saya takut sama suami nona Berti. Orangnya galak."
"Aku jamin nyawamu bakal selamat. Cakra enggak bakal ganggu kamu," sahut Sari.
"Tapi, Nona ...."
"Sekali lagi kamu membantah, aku bakal kasih jadwal kerja malam," ucap Sari dengan memotong kalimat Juna sebelum ada kalimat bantahan yang lain lagi.
"Iya, Nona. Saya bakal turuti," ucapnya pasrah.
__ADS_1
"Tenang saja. Berti bakal kasih kamu uang bonus yang banyak. Kita juga bakal liburan minggu depan."
Wajah Arjuna berbinar mendengarnya. "Beneran, Nona? Saya diajak juga."
"Iya, kamu bakal diajak. Berterima kasihlah pada wajahmu yang tampan itu."
Arjuna tersenyum. "Iya, Nona. Kalau begitu, saya pulang dulu."
Pukul empat sore, Berti menjemput Arjuna di rumah kontrakan. Pria itu juga sudah berpakaian rapi dengan mengenakan celana jeans hitam dan kemeja flanel warna biru berlist putih.
"Hari ini kita ke rumah. Ingat, setelah sampai kita harus berakting," kata Berti.
"Iya, Bert. Oh, ya, kata nona Sari kita bakal liburan. Sungguhan kamu mau ajak aku?"
"Iya, seperti yang kita bicarakan di telepon."
"Aku kira itu cuma bercandaan," ucap Juna.
"Kamu siap-siap saja buat berangkat. Anggap saja sebagai bonus."
Sesampainya di rumah, Minah heran melihat Berti yang datang dengan membawa seorang pria. Ingin bertanya, tetapi ia takut Berti akan marah. Minah menuruti perintah majikannya dengan membuat minum dan membawakan makanan untuk tamu pria yang disebut Berti sebagai kekasih.
Pukul lima sore, Cakra pulang. Ia tersenyum melihat mobil Berti yang telah berada di halaman rumah. Cakra tidak menyangka jika istrinya akan kembali patuh setelah acara jalan-jalan kemarin.
Ketika ingin melangkah masuk rumah, Cakra mendengar samar-samar suara istrinya yang tertawa. Pintu tidak ditutup rapat hingga Cakra bisa melihat Berti yang tengah bersandar di bahu seorang pria.
"Minah!" seru Cakra.
Minah berlari menghampiri Cakra. "Iya, Tuan."
"Simpan tas kerja saya di ruang kerja," ucap Cakra seraya menyerahkan tas miliknya.
"Baik, Tuan."
"Sekalian, tolong panggil ambulan kemari."
Minah mengangguk, lalu lekas melaksanakan perintah majikannya. Berti yang mendengar Cakra akan memanggil ambulan, lekas melepas pelukannya dari Arjuna.
"Kamu pulanglah dulu," bisik Berti pada Juna.
Cakra malah duduk di sofa berhadapan dengan istri dan Arjuna. "Lanjutkan saja."
"Juna mau pulang," ucap Berti.
"Kok, cepat amat. Merasa terganggu?" tanya Cakra.
"Kenapa enggak langsung ke ruang kerja saja, sih? Mau ngapain duduk di sini?" tanya Berti.
__ADS_1
"Jadi, ini pacar kamu?"
"Iya, dia pacarku," jawab Berti.
Cakra mengangguk. "Waktu di restoran aku kurang jelas melihatnya." Cakra meregangkan telapak tangannya. "Lumayan, dia tampan."
Arjuna meneguk ludah. Jantungnya berdegup kencang dan keringat dingin mulai membasahi keningnyanya. Begitu juga Berti. Tidak seperti yang dibayangkan. Berharap Cakra marah-marah, tetapi seperti suaminya itu akan bertindak hal yang tidak Berti harapkan.
"Arjuna harus pulang," kata Berti.
Cakra menghalangi dengan merentangkan kakinya ke atas meja. Berti membawa Arjuna mengitari meja sebelahnya, tetapi malah membuat Cakra bangun dari duduknya.
Cakra meraih pundak Arjuna. "Kita bicara dulu."
"Saya harus pulang," kata Arjuna.
"Nanti dulu. Kita bicara sebentar."
Arjuna berteriak saat merasakan cengkeraman tangan Cakra. Sontak ia memukul punggung suami Berti untuk minta dilepaskan. Mata Berti melotot menyaksikan pemandangan itu.
"Lepasin dia, Cakra!" teriak Berti.
"Bakal aku lepas, kok."
Cakra membalik tubuh Arjuna, lalu mendaratkan tinjuannya ke wajah pria itu. Berti tertegun mendapati Arjuna yang tergeletak di lantai. Arjuna pingsan dalam satu kali pukulan.
Suara sirene ambulan terdengar. Minah benar-benar memanggil mobil itu. Cakra memanggil petugas untuk membawa Arjuna ke rumah sakit.
"Tolong, Pak. Dia pingsan," ucap Cakra.
"Baik, Tuan. Segera kami bawa ke rumah sakit."
"Saya akan menyuruh seseorang untuk mengurusnya." Cakra lekas menelepon adiknya, dafa untuk mengurus Arjuna ke rumah sakit. "Satu pukulan saja sudah pingsan."
"Ka-kamu membunuhnya," ucap Berti.
"Aku memukulnya."
"Ka-kamu ...."
Cakra lekas menyambut tubuh Berti dan mendudukkannya ke sofa. "Kamu minum dulu. Tenangkan dirimu. Tarik napas, lalu embuskan perlahan."
Berti meneguk habis air putih yang diberikan oleh Cakra. Ia sadar dengan apa yang terjadi sekarang. "Kenapa kamu memukulnya?" teriak Berti.
"Ini rumahku. Ikuti aturan yang kubuat," ucap Cakra.
Bersambung
__ADS_1