Bantu Aku Cerai

Bantu Aku Cerai
Sabar


__ADS_3

Pertemuan itu tertunda karena Sari pastinya tengah bekerja saat ini dan Berti harus menunggu sampai jam istirahat kantor, baru menemui sahabatnya itu. Ia juga harus menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda meski pikirannya tidak berada pada berkas yang tengah ia baca.


"Bu Berti, ini berkasnya masih belum di tandatangani," ucap Yuni.


Berti terkesiap. "Oh, iya. Aku tidak fokus sama pekerjaan. Tubuhku juga lelah. Bisa beliin aku vitamin?"


"Iya, Bu. Vitamin apa?"


"Minuman berenergi saja, deh," jawab Berti sembari memberi uang sebanyak lima ratus ribu kepada Yuni. "Belikan juga untuk teman-teman yang lain."


Yuni tersenyum menyambutnya. "Terima kasih, Bu Berti."


"Iya, pergilah," kata Berti.


Berti beranjak dari duduknya setelah Yuni pergi. Ia merebahkan diri di atas sofa karena merasa kelelahan. Mungkin juga karena dari kemarin bekerja ekstra melayani Cakra.


Teringat akan suaminya yang masih bersikap cuek seperti itu. Seharusnya tidak ada rasa canggung di antara keduanya. Ia dan Cakra telah saling berbagi kehangatan satu sama lain. Namun, ia masih bingung kenapa Cakra masih tetap memberi jarak. Entah ini hanya perasaan Berti seorang atau hal lain, tetapi begitulah yang ia rasakan.


Selama pernikahan, ia tidak pernah memegang ponsel suaminya. Ia tidak pernah datang ke kantor Cakra. Bagaimana mau datang jika Cakra saja tidak pernah mengajaknya. Tidak pernah mengenal siapa saja teman suaminya. Berti hanya mengetahui Ariel saja sebagai asisten pribadi Cakra.


"Sebenarnya bagaimana caraku untuk mendekat padanya?" gumam Berti. Capek berpikir, mata Berti mulai sayu. Dalam sekejap saja ia sudah terlelap.


Tidak lama, Yuni masuk dengan menenteng minuman berenergi di tangan. Dengan perlahan ia meletakan dua kaleng minuman di meja agar tidak menganggu Berti yang tidur, lalu segera berlalu dari ruangan itu.


Suara riuh membangunkan Berti dari tidurnya. Ia menguap, meregangkan tubuh kemudian beringsut duduk menghilangkan sisa kantuk yang masih belum pergi.


"Aku ketiduran," kata Berti. Ia mengambil satu botol minuman itu kemudian menempelkannya ke wajah. Rasa dingin dari kalengnya terasa menyegarkan.


Pintu diketuk, lalu terbuka dengan Yuni yang masuk. "Ibu sudah bangun rupanya. Saya baru saja mau kasih tahu kalau sudah waktunya makan siang."


"Saya ketiduran rupanya. Kamu siapkan saja berkas yang harus saya selesaikan hari ini. Biar saya kerjakan di rumah saja," ucap Berti.


"Siap, Bu," sahut Yuni.


Dengan tangan yang terampil, Yuni memisahkan berkas yang harus dibubuhi tanda tangan dan yang dipelajari oleh Berti. Ada sekitar lima map yang harus dibawa pulang.


"Ini saja?" tanya Berti.


"Iya, Bu. Hanya ini saja," jawab Yuni.


"Oke, saya pulang dulu. Kalau ada apa-apa segera hubungi saya," ucap Berti yang juga berberes tas miliknya


"Baik, Bu Berti," jawab Yuni.


Keluar dari kantor, Berti tidak langsung ke rumah, melainkan ke restoran seafood menemui Sari serta Arjuna. Ia sudah telat sebenarnya dan panggilan telepon dari Sari tiada henti berdering.


"Hampir saja kami mau pulang kalau kamu enggak datang," kata Sari.


"Tadi aku ketiduran. Ini makananku, nih?" tanya Berti.

__ADS_1


"Iya, kamu makan saja dulu. Kita sudah duluan tadi."


Berti langsung saja melahap menu makan siang yang telah Sari pesan untuknya. Ia melirik Arjuna yang tengah menatapnya makan dan Berti merasa bersalah atas kesalahan tempo hari.


"Kamu sakit, Juna?" tanya Berti.


"Sakit banget," jawab Arjuna.


Berti menyengir. "Maaf, ya, Juna. Cakra cuma lagi naik darah saja."


"Hidung aku hampir patah ditinju oleh seorang petinju," kata Arjuna.


"Siapa yang petinju?" tanya Berti.


"Suamimu itu," sahut Sari. "Dafa yang mengatakannya kalau Cakra itu petinju."


"Kok, aku enggak tahu, ya?"


Sari mendengkus. "Kalian berdua, kan, memang aneh."


Berti mencebik mendengarnya. "Oke, lupakan itu. Kamu baik-baik saja, kan, Juna?"


"Tuhan masih sayang padaku, makanya sampai sekarang aku masih hidup."


"Maaf, ya, Juna. Aku bakal bayar semua kerugiannya."


"Kenapa?" tanya Berti.


"Aku enggak mau lagi gabung sama kalian. Aku ini orang kecil, belum nikah. Kasihanilah aku."


"Astaga!" ucap Berti.


"Lebay, deh, Juna," sahut Sari. "Kamu bayar saja sisanya, Bert."


Berti mengangguk. "Oke, kita juga belum liburan. Dua hari lagi kita ke Bali."


"Masih mau main sandiwara lagi?" tanya Arjuna.


"Aku perginya sama Cakra. Kalian berdua saja."


"Nah, kalau itu aku mau. Terima kasih, ya, Nona Berti. Eh, Berti maksudnya," ucap Arjuna.


"Kayaknya ada kabar terbaru, nih," kata Sari dengan rasa penasarannya.


Berti mengangguk. Arjuna paham jika keduanya ingin bicara secara pribadi. Segera saja ia undur diri memberi kesempatan untuk Berti dan Sari bicara.


"Aku akan menghubungimu besok," kata Sari.


"Oke, Nona. Aku akan tunggu," sahut Arjuna, lalu keluar dari restoran.

__ADS_1


"Dia sudah pergi. Sekarang ceritakan padaku. Dari kemarin kamu enggak ada kasih kabar," kata Sari.


"Aku harus bagaimana, Sari? Cakra masih kayak gitu saja sikapnya. Cuek, masa bodoh. Menganggap aku itu enggak penting, padahal aku, tuh, sudah kasih semua ke dia," ungkap Berti.


"Sudah kasih semua ke Cakra?" Sari tersenyum. "Oh, kamu sudah jadi istri sesungguhnya, nih?"


Berti tersipu malu. "Begitulah."


"Terus apalagi kurangnya? Artinya, dia suka sama kamu."


"Cakra enggak pernah bilang suka. Dia cuma ingin anak dari aku."


"Kemarin kamu masalahin karena dia belum melaksanakan kewajibannya. Sekarang malah masalah ungkapan cinta. Ya, enggak harus langsung kali, Bert. Pelan-pelan saja," ucap Sari.


"Aku harus sabar?" tanya Berti.


"Iya, pelan-pelan. Tapi, bagi tahu, dong. Pengalamanmu," pinta Sari.


Berti menyengir. "Rahasia."


Memang harus secara perlahan untuk bisa membuat Cakra mengungkapkan perasaannya. Berti berharap itu akan terjadi secepatnya.


Di lain sisi, Cakra tidak fokus dengan persentase yang disampaikan oleh bawahannya. Teringat gerakan Berti tadi malam yang membuatnya menginginkan istrinya itu.


"Cepat sedikit. Beri ringkasan saja," ucap Cakra.


"Baik, Pak," sahut pria yang ditunjuk sebagai juru bicara.


"Ariel, berikan ponselku," pinta Cakra.


"Apa, Tuan?" Ariel harus memastikan jika ia tidak salah dengar.


"Ponsel. Aku mau telepon."


Segera Ariel memberikan telepon genggam atasannya. Cakra beranjak dari duduknya kemudian menghentikan rapat yang berlangsung.


"Kita lanjutkan besok saja," ucapnya, lalu keluar dari ruangan.


"Ada yang aneh sama beliau," celetuk seorang pria.


"Kita turuti saja perintah dari atasan," sahut Ariel.


Cakra mondar-mandir di depan meja kerjanya. Mau menelepon Berti, tetapi ia ragu. Semalam ia sudah membuat istrinya itu kelelahan dan pasti Berti akan menolak jika ia meminta lagi untuk dilayani.


"Berti pasti sibuk, nih. Kemarin dia sudah enggak masuk kerja. Enggak enak juga kalau aku ganggu," gumam Cakra. "Ini, nih. Susahnya punya istri pengusaha. Aku maunya istri yang diam di rumah biar aku enggak repot kalau lagi butuh."


Lagi-lagi Cakra menyalahkan keadaan mengapa ia punya istri yang juga seorang pengusaha. Ini semua karena orang tuanya dan dirinya sendiri yang menerima perjodohan bersama Berti.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2