
Kejutan bagi Berti karena pukul empat sore suaminya sudah berada di rumah. Kurang lebih selama dua hari Cakra melakukan kegiatan tanpa jadwal rutinnya. Pria itu telah melanggar aturannya sendiri.
Berti berdeham. "Sudah lama pulangnya?"
"Barusan," jawab Cakra
Berti mengangguk. "Aku ke atas dulu, deh. Kamu perlu sesuatu?"
"Sudah ada Minah yang menyiapkan teh."
"Oh, aku ganti baju dulu setelah itu baru masak makan malam."
Cakra berdeham kemudian melanjutkan lagi acara membaca koran yang belum sempat ia lakukan tadi pagi. Sementara Berti lekas berganti pakaian, membereskan pakaian suaminya yang tergeletak di sofa barulah turun untuk melaksanakan tugasnya.
Berti menghampiri suaminya lebih dulu yang masih setia membaca koran. "Mas Cakra," tegurnya.
Cakra berdeham tanpa mengalihkan pandangannya dari lembaran surat kabar. Berti ingin kembali mengingatkan jika ulang tahunnya sebentar lagi akan tiba dan ia ingin liburan bersama suami tentunya.
Berti duduk di samping Cakra. Melingkarkan tangannya di lengan kekar pria itu dan menyandarkan kepalanya.
"Kita liburan, yuk," ajak Berti.
"Iya," jawab Cakra.
Berti lantas menarik diri dan menatap suaminya lekat. "Seriusan kamu mau ikut?"
"Iya," jawab Cakra.
"Jadwal kamu bagaimana?"
"Aku bisa mengaturnya lagi."
Berti memeluk Cakra. "Aku sayang kamu. Kita liburan ke Bali."
Cakra menggeleng. "Kita liburan ke tempat ayah saja. Kita menginap di sana."
"Apa?" Berti tidak salah dengar. "Ke rumahku?"
Cakra mengangguk. "Iya, ke rumahmu."
"Kamu bilang mau liburan ke rumahku?" tanya Berti.
"Kita sudah lama enggak berkunjung ke sana. Sabtu dan Minggu kita nginep di sana."
"Rumah orang tuaku hanya tiga puluh menit saja sudah sampai dengan berkendara mobil. Kamu pikir itu liburan?" tanya Berti.
"Ada yang ingin aku bicarakan sama ayah. Sabtu-Minggu kita ke sana," kata Cakra, kemudian bangkit dari duduknya.
Berti tidak bisa berkata apa-apa. Liburan bagi Cakra adalah berkunjung ke rumah orang tuanya. Ya, memang disebut liburan juga jika datang di hari Sabtu dan Minggu. Namun, tidak begitu juga maksud liburan yang Berti inginkan.
"Nyonya," tegur Minah yang datang menghampiri.
"Tolong ambilin air putih, Bi. Ini tenggorokkan susah buat nelan ludah," kata Berti.
"Baik, Nyonya."
Satu gelas air putih habis dalam satu kali teguk. Berti memberikan gelas itu kepada Minah dan menyuruhnya untuk pergi, sedangkan ia masih ingin duduk termenung di sofa. Masih kaget, tidak percaya. Definisi liburan menurut Cakra adalah berkunjung ke rumah orang tua.
__ADS_1
"Maaf, Nyonya. Bibi harus masak menu makan malam apa untuk hari ini. Tadi siang nyonya Widya bawa belanjaan," ucap Minah.
Berti menghela. "Bibi istirahat saja dulu. Aku masih ingin di sini. Tidak usah pikirkan menu makan malam."
Minah mengiakan majikannya, lalu berlalu dari ruang keluarga. Berti menarik napas panjang kemudian mengembuskannya. Begitu secara berulang kali sampai ia merasa sedikit tenang.
Begitu banyak bahan makanan di dalam kulkas. Berti bersyukur mendapat mertua begitu baik dan perhatian. Hanya heran dan curiga jika Cakra bukanlah anak dari keduanya karena sama sekali tidak ada mirip-miripnya. Berti mengucap dalam hati seraya memotong bulatan baso.
"Hati-hati, Nyonya," tegur Minah.
Berti terkesiap. "Iya, Bibi." Untung saja tidak kepotong jari karena melamun memikirkan Cakra. "Bibi sudah lama mengenal Cakra?"
"Bibi sudah kerja di rumah lama sejak tuan Cakra remaja."
"Oh, ya? Coba Bibi cerita. Cakra memang begitu sifatnya?"
"Iya, begitu sifatnya. Anaknya pintar, rajin belajar. Katanya dulu mau jadi orang sukses."
"Kalau yang lain?"
Bibi tampak berpikir. "Apa, ya? Setahu Bibi cuma itu."
"Dia memang cuek?"
Minah mengangguk. "Kata tuan Cakra. Hidup cuma sekali. Isilah hidup dengan hal yang bermanfaat. Ya, begitu katanya kalau dimarah oleh nyonya besar."
"Dari dulu dia selalu bilang begitu?"
Minah melihat ke sekeliling. Takut jika Cakra tiba-tiba saja muncul di dapur. "Tapi, Nyonya jangan bilang siapa-siapa, ya."
"Beres. Coba bisikin," kata Berti.
"Kakek Cakra bukannya sudah meninggal?"
"Iya, betul, dan kakak tertua tuan Adhitama tinggal di luar negeri. Orangnya serem. Enggak boleh salah dikit. Lebih parah dari tuan Cakra."
Berti malah tertawa. "Pantas saja."
Minah lekas menjauh ketika mendengar suara langkah kaki. Cakra muncul menghampiri istrinya yang masih belum menyelesaikan menu makan malam.
"Aku lapar, Bert," katanya.
"Sabar, ini tinggal tumis sayur capcay saja," jawab Berti.
"Kamu sudah kasih tahu ibu kita bakal nginap?"
"Aku belum sempat. Lagian aku ingin merayakan ulang tahunku. Aku mau liburan," kata Berti.
"Umurmu berapa, sih? Pakai ngerayain ulang tahun segala."
"Terserah aku, dong. Pokoknya aku mau ke Bali."
"Mau pergi sama cowok itu?" tanya Cakra.
"Aku mau pergi sama suamiku, tapi suamiku itu enggak mau," jawab Berti.
"Lebih penting mana, orang tua atau liburan bareng pacarmu itu?"
__ADS_1
"Dia bukan pacarku!" bantah Berti.
"Aku masih bisa toleransi, ya, sama kamu. Sabar itu ada batasnya, Berti!" ucap Cakra.
"Oke! Aku ikut kamu," sahut Berti akhirnya.
Tidak mungkin Berti mengatakan hal sebenarnya pada Cakra kalau ia dan Arjuna hanya bersandiwara demi bisa bercerai.
"Ngerti juga kamu jadi istri," ucap Cakra sambil lalu.
Minah mendekati majikannya. "Sabar, Nyonya. Jangan ambil hati."
Berti mengangguk. "Iya, Bibi. Ayo, kita lekas siapin makanannya."
Makan malam dilalui dengan hening. Cakra langsung saja pergi ke ruang kerja setelah selesai mengisi perutnya, sedangkan Berti kembali ke kamar.
Bukan maksud Berti ingin merayakan ulang tahun seperti anak kecil, tetapi ia ingin liburan. Menghabiskan waktu bersama suaminya. Namun, Cakra sama sekali tidak mengerti.
Berti membelakangi suaminya ketika Cakra masuk ke kamar. Cakra membuka kaus yang ia pakai, mematikan lampu utama kemudian naik ke atas tempat tidur sembari menyalakan lampu tidur.
Harum. Aroma mawar yang Cakra tangkap saat ini. Ia bergeser mendekat, menoel-noel punggung belakang Berti, tetapi istrinya itu tidak mengindahkannya.
"Bert!" tegur Cakra.
"Aku mau tidur," ucap Berti.
"Bert," tegur Cakra.
"Aku mau tidur!"
Cakra garuk-garuk kepala. Ia bangun, mengintip Berti yang berpura-pura memejamkan mata. Cakra mengecup lengannya yang putih itu karena Berti mengenakan gaun tidur bertali.
"Bert," bisik Cakra.
"Jangan ganggu! Tidur sana," kata Berti dengan bergeser menjauh.
"Mau liburan ke Bali?" tanya Cakra.
"Enggak tahu."
"Kita liburan ke Bali. Aku akan pesan tiket untuk kita berdua."
Berti berbalik menatap suaminya. "Beneran?"
"Iya, kita liburan ke Bali."
"Aku maunya Sabtu ini kita berangkat. Kamu jangan bohong," kata Berti.
"Janji. Besok pagi aku pesan tiketnya. Tapi, malam ini kita buat anak lagi, ya?"
"Kamu janji?" tanya Berti memastikan lagi.
"Sumpah!" ucap Cakra.
Berti mengangguk. "Ayo, kita buat lagi."
"Kamu di atas, ya."
__ADS_1
Berti mengiakan permintaan suaminya. Tidak sia-sia ia curhat bersama Widya untuk menaklukan Cakra.
Bersambung