
"Moga kamu betah sama patung berjalan itu," celetuk Dewi. "Masa sama teman sekolah dia enggak kenal."
Berti tertawa kecil. "Mungkin Cakra lupa karena sudah lama."
"Buktinya sama Teguh dia ingat. Tapi Cakra memang begitu. Sejak dulu paling anti sama cewek. Kami kira dia itu tidak normal."
"Dia baik, kok," kata Berti.
"Bagus juga. Dia baik dan enggak kaku cuma sama istrinya."
Berti cuma tersenyum. Andai Dewi tahu jika Cakra juga kaku terhadap dirinya. Bicara seadanya, berprilaku seenaknya, dan jika ada maunya, seperti anak kecil yang merengek.
"Kita duluan, deh. Mau keliling lagi," kata Teguh.
"Semangat jalan-jalan, ya," ucap Cakra yang menepuk pundak Teguh.
Dewi juga berpamitan pada Berti. Padahal baru saja berbincang, tetapi teman barunya sudah ingin berjalan keliling Singapura. Sayangnya Berti kemari untuk menemani suaminya kerja, dan bukan pelesir seperti yang ia harapkan.
"Mas, kita jalan lagi, yuk," ajak Berti. "Kita ke patung Singa. Foto-foto di sana."
"Kamu belum pernah kemari?" tanya Cakra.
"Pernah, sih."
"Sudah pernah foto di patung itu, kan?"
Berti mengangguk. "Iya, beberapa kali malahan."
"Buat apa foto lagi. Toh, bentuknya juga enggak berubah. Kamu kembali ke hotel habis ini. Aku dan Ariel ada sedikit kerjaan," kata Cakra.
Menyesal Berti mengatakan kalau ia pernah mengunjungi Singapura, apalagi bilang beberapa kali berfoto di depan ikon kota. Lebih baik tadi bilang saja tidak pernah berkunjung agar Cakra menemaninya jalan-jalan.
Sehabis makan bersama, Cakra mengantar Berti ke hotel. Selepas itu, ia dan Ariel keluar lagi. Berti tinggal seorang diri di dalam kamar dan tidak tahu harus apa.
Baju sudah di laundry, kamar juga telah dibersihkan oleh pelayan hotel. Ingin berendam atau olahraga, ia dalam keadaan yang tidak memungkinkan saat ini.
Pilihannya jatuh pada layar TV. Ya, menonton mungkin bisa menghilangkan rasa kesepiannya. Untungnya ada TV kabel yang menyiarkan stasiun luar negeri. Berti bisa menonton film luar yang bagus.
Rupanya kegiatan ini berlangsung setiap hari dan tanpa terasa Berti sudah tinggal di luar negeri selama satu minggu. Angin segar bagi Cakra, tetapi tidak bagi Berti.
Begitu tahu Berti telah selesai dari siklus bulanan, Cakra tidak menyia-yiakan kesempatan. Pagi hari, dirinya bekerja dan malam melakukan olahraga bersama istrinya. Tanpa peduli jika Berti menginginkan keluar dari kamar hotel yang ia tempati.
"Mas, besok kita jalan-jalan, yuk," ajak Berti.
"Kamu mau belanja?" tanya Cakra.
"Iya, aku mau belanja."
"Besok aku enggak bisa. Kamu pergi sendiri saja. Kan, kamu sudah pernah datang kemari. Minggu depan kita harus ke Malaysia. Kerjaan aku harus selesai sesuai jadwal."
Berti memaklumi. "Iya, deh."
__ADS_1
Cakra menoel pundak polos istrinya. "Sekali lagi, ya."
Berti tersenyum, lalu mengangguk. "Iya, Mas."
Balas dendam Cakra yang seminggu lebih tidak diberi jatah. Mumpung tenaganya masih kuat, hasratnya bangkit, ia akan meniduri Berti.
...****************...
Hebatnya Cakra, meski tidak bisa menemani istrinya keluar, tetapi pria itu selalu bisa menyempatkan diri untuk sarapan dan makan malam bersama. Seperti sudah terjadwal, dan memang Cakra selalu mengatur aktivitas dirinya.
"Kartu kredit untukmu. Beli seperlunya saja," kata Cakra seraya menyodorkan kartu hitam kepada Berti.
"Pelit amat."
"Kamu belanja banyak buat apa?"
"Terserah akulah," ucap Berti.
"Pesawat ada batas muatan," kata Cakra.
"Aku juga tahu."
"Terserah kamu," ucap Cakra, lalu beranjak dari kursinya. "Ariel, kita berangkat sekarang."
"Iya, Tuan."
"Aku pergi dulu," pamit Cakra.
Berti tidak ingin kembali ke kamar. Kartu kredit sudah di tangan. Apalagi yang ditunggu? Lebih baik langsung berangkat menuju pusat perbelanjaan.
Dari jalan utama kota Singapura, Berti menuju ke pusat belanja terkenal. Orchad Road dengan berbagai departement store serta kedai kopi yang berada di bahu jalan Orchad.
Berti masuk ke salah satu departement store. Memilih baju untuknya juga Cakra. Berti mengambil dua pasang kemeja dengan warna soft untuk suaminya itu. Biar Cakra tidak terlalu kaku, dan bila dipandang pria itu tampak ramah.
"Liberti!"
Berti menoleh, ia mengerutkan kening. Sejurus kemudian ia tersenyum. "Banyu."
Sosok pria tinggi sekitar 170 cm. Tubuh sedang, tidak terlalu kekar. Berkulit putih, hidung tidak terlalu mancung, berlesung pipi dengan potongan rambut cepak, dan pria itu adalah mantan pacar Berti.
"Kamu di sini, Banyu?" tanya Berti menghampiri.
"Aku, kan, memang kerja di Singapura," kata Banyu. "Sudah lama kita tidak bertemu. Apa kabarmu?"
"Aku baik, seperti yang kamu lihat."
Banyu memperhatikan penampilan Berti yang semakin cantik. Namun, perhatiannya terhenti pada cincin yang melingkar di jari manis sang mantan.
"Kamu sudah menikah?" tanya Banyu.
Berti mengangguk. "Iya, aku sudah menikah. Kebetulan aku di sini tengah menemani suamiku."
__ADS_1
"Kamu sudah menikah rupanya. Aku kira kamu akan menungguku."
Berti tertawa. "Kamu jangan bercanda."
"Tapi memang begitu, kan? Kita putus karena aku ingin berkarier dulu. Kamu bilang akan menungguku sampai sukses baru kita menikah," tutur Banyu.
Berti mengibaskan tangannya. "Jangan ngaco, deh. Oh, ya, kamu mau belanja juga?"
"Iya, buat oleh-oleh pulang."
"Mau pulang ke Indonesia?" tanya Berti.
"Seminggu lagi. Kita ngobrol dulu, yuk. Sambil minum dan makan," ajak Banyu.
Berti mengangguk. Kebetulan ia juga membutuhkan teman untuk bicara. Jadi, Berti bersedia untuk duduk bersama dengan Banyu.
"Biar aku yang traktir hari ini," kata Banyu.
"Terima kasih," ucap Berti.
Banyu memesan bakmi serta Tea Bing, es teh dengan campuran gula serta susu untuk mereka berdua. Suasana tiba-tiba canggung. Di antara keduanya sama sekali tidak tahu untuk membahas apa.
"Suamimu tidak menemani belanja?" tanya Banyu.
"Dia harus kerja karena kami akan mengunjungi Malaysia setelah ini."
"Dia orang yang sibuk rupanya," sahut Banyu. "Sudah lama kalian menikah."
"Baru beberapa bulan. Belum sampai setahun," kata Berti. "Kamu belum menikah?"
Banyu menggeleng. "Kan, aku sudah bilang. Mau melamar kamu, eh, tahunya kamu sudah nikah."
"Aku seriusan tanyanya."
"Belum, kok. Mungkin umur tiga puluhan aku nikah. Baru juga menikmati masa-masa kerja."
Suasana mencair karena Banyu memang suka bicara dan membahas masa lalu mereka. Sembari menyantap bakmi yang telah dipesan, keduanya saling melempar canda.
"Kamu ingin jalan-jalan? Aku bisa menemanimu," kata Banyu.
"Aku ingin ke Haji Lane atau Little India."
"Mau foto-foto?"
Berti mengangguk. "Iya, aku mau ke sana."
"Kita harus pergi awalan tadi. Boleh minta nomor chat-mu?"
Berti mengulurkan tangan, dan Banyu memberikan ponselnya. Berti kemudian menyimpan nomor telepon dirinya di sana.
Bersambung
__ADS_1