Bantu Aku Cerai

Bantu Aku Cerai
Godaan


__ADS_3

Rasa itu masih ada. Berti hanyut dalam godaan Banyu yang terus menerus mengejarnya. Dibilang cinta, Berti juga tidak tahu apakah ia memang jatuh hati pada Banyu untuk kedua kalinya.


Ia kesepian di dalam kamar hotel yang luas, sedangkan suaminya sibuk bekerja. Cakra akan pergi pagi, lalu pulang malam lantaran salah satu restoran miliknya tengah mengalami penurunan pendapatan.


Bukan Berti memanfaatkan kondisi untuk selingkuh, tetapi suaminya sendiri yang tidak ingin dicampuri. Cakra mampu untuk mengatasi semuanya sendirian.


Berti ingat ketika Cakra menerima laporan yang sama sekali tidak mengenakkan. Pasalnya pemasukan dan kenyataan lapangan begitu berbeda. Manager restoran yang ditunjuk telah melakukan penipuan dan Cakra begitu marah dan semua karyawan terkena imbasnya.


"Bagaimana perkembangannya sekarang?" tanya Berti.


"Masih belum stabil. Ada restoran saingan baru dan pengunjung berbondong-bondong ke sana. Ini semua karena mereka tidak becus bekerja. Manager itu menghancurkan bisnisku," ungkap Cakra.


"Mungkin bisa kasih diskon atau menu tambahan lain," usul Berti.


"Kamu tahu apa, sih? Ini masalah kepercayaan pelanggan yang menurun."


"Hei, Cakra! Aku ini penjual baju dan segala barang kebutuhan sehari-hari. Aku punya supermarket besar. Jelas aku tahu cara menilai pasar serta permintaan pelanggan," kata Berti.


"Masalahnya ada yang menyebarkan berita tentang restoranku. Mereka malah mengatakan kalau pihak resto tidak menjaga kebersihan. Memang aku ini harus sering berkunjung kemari."


"Bisa bilang berita hoax, kan?" kata Berti.


"Sebelum kamu mengatakan itu, aku sudah membuat pengumuman jika berita yang tersebar itu tidak benar."


"Lantas, apalagi sekarang?"


"Masih belum ada perubahan yang baik. Kondisi restoran yang kacau perlu waktu untuk membaik," kata Cakra, lalu keluar dari kamar hotel.


Berti mengembuskan napas lelah. "Terserah kamu, deh, Cakra. Aku tahunya terima duit saja."


Beberapa hari berlalu, Cakra selalu lembur di kantor. Sama seperti di Singapura, Cakra punya gedung restoran yang dijadikan satu dengan kantor.


Suami yang sibuk, Berti pun leluasa saling berhubungan dengan Banyu. Mereka menjadi teman sekarang. Berti menganggapnya begitu, tetapi tidak dengan Banyu.


"Serius dia bilang kamu jelek?" tanya Banyu tidak percaya.


Keduanya tengah melakukan panggilan video. Banyu sudah berada di tanah air satu hari yang lalu. Kabarnya pria itu tidak akan merantau di negeri orang lagi. Banyu telah memiliki rumah, kendaraan roda empat serta pekerjaan di salah satu perusahaan provider.


Berti mengangguk. "Iya, aku sampai ganti baju lagi waktu di Bali. Cakra orang irit bicara, tapi sekali keluar, mulutnya nyakitin hati."


Hubungan antara suami pun tidak segan Berti bicarakan pada Banyu. Ia mencurahkan betapa kesal dirinya akan sosok kaku dari Cakra. Bahkan, Berti membandingkan keduanya.


"Tapi pas ulang tahunku dia kasih aku kalung ini," kata Berti seraya menunjukkan liontin pemberian Cakra.

__ADS_1


"Dia bisa romantis juga," ucap Banyu.


"Aku sering protes."


"Kenapa enggak nunggu aku dulu, sih? Aku bakal buat kamu bahagia."


"Aku menerima perjodohan itu karena pusing dengar keluhan ibu sama ayah," ungkap Berti.


"Terus sekarang kamu mau bagaimana?" tanya Banyu.


"Aku enggak tahu. Semoga saja, deh, suamiku itu berubah dan dia enggak anggap aku ini patung."


"Bert, aku selalu ada buat kamu. Kapan pun kamu merasa enggak kuat atau butuh pendamping, aku ada untuk kamu," ucap Banyu. "Aku akan selalu ada buat temani kamu."


Berti mengangguk, lalu tersenyum. "Makasih, Banyu. Aku memang lagi butuh teman. Aku kesepian di sini. Enggak ada perhatian yang aku rasakan selama ini."


"Kamu yang sabar. Jangan sedih buat pria yang enggak bisa menghargai kamu."


"Aku enggak sedih cuma kecewa saja."


"Kamu cantik, Bert. Di mata suamimu, mungkin kamu cuma wanita biasa, tetapi di mata pria lain, kamu begitu sempurna. Kamu luar biasa," ucap Banyu.


Seperti ada letusan kembang api yang menyertai ucapan Banyu. Ada kegembiraan yang merasuk ke dalam hati. Ucapan Banyu begitu menenangkan juga membuat Berti merasa istimewa.


Hubungan yang dianggap sebagai pertemanan itu semakin berlanjut saja. Cakra yang selalu sibuk serta dasarnya tidak perhatian, membiarkan saja apa yang dilakukan istrinya. Karena ia selalu percaya kalau Berti tidak akan melakukan apa pun di luar batas.


"Ini lagi dibuat," jawab Berti, tetapi tangan tetap mengetik balasan chat dari Banyu.


"Kamu main ponsel terus. Aku mau minum, nih," kata Cakra.


"Sabar," sahut Berti. "Eh, enggak ada teh hijau, Mas. Adanya kopi."


"Kok, bisa enggak ada. Kan, aku suruh pihak hotel buat sediain. Kamu telepon mereka enggak, sih?"


Berti menyengir. "Aku lupa. Mas minum air kemasan saja, ya."


"Kerjaanmu apa saja di kamar?" tanya Cakra kesal.


"Jangan protes, deh," sahut Berti yang datang dengan minuman karton dingin. "Biasa kamu juga enggak peduli aku lagi apa."


"Itu karena kamu enggak lalai. Sekarang kamu malah mengabaikanku. Aku enggak dikasih jatah, makan malam juga masing-masing."


"Ini juga karena kamu yang sibuk, kan? Habis sarapan langsung pergi. Malam pulang terus tidur. Pernah enggak kita itu diskusi atau apalah. Enggak pernah, kan?" kata Berti.

__ADS_1


"Aku capek dari kerja. Kamu ngerti, dong."


"Kamu itu memang terlalu sibuk, Mas. Aku kayak istri pajangan, pelayan yang harus patuh dan siap kalau kamu butuh."


"Tugas istri memang melayani suami, kan?"


Berti menatap tajam suaminya. "Melayani bukan berarti aku ini budak. Aku, tuh, bosan sama kamu. Hidupku enggak ada artinya selama nikah sama kamu.


Cakra menggeleng. "Jaga ucapanmu, Bert."


"Aku cuma kasih tahu kamu, Mas. Aku ini tersiksa hidup bersamamu. Makan hati tahu enggak."


"Aku juga lelah kamu yang mengeluh terus," kata Cakra. "Hidup ini bukan soal liburan dan senang-senang saja, Bert. Sungguh, aku sangat lelah menghadapimu."


"Kita cerai saja," ucap Berti.


"Berti!" bentak Cakra.


"Aku capek," kata Berti yang langsung merebahkan diri di atas tempat tidur.


Cakra mengembuskan napas berat. Ia menyusul istrinya naik ke atas kasur empuk. Cakra memeluk Berti, tetapi tangannya itu ditepis.


"Padahal aku mau mengajakmu liburan," kata Cakra.


"Liburan apa? Kemarin katanya mau jalan-jalan di sini. Buktinya apa? Kamu enggak ada waktu. Sibuk sama kerjaan."


"Kita di sini, kan, memang pergi kerja," kata Cakra. "Tapi nanti, kita akan ke Maladewa."


Berti mengubah posisinya menghadap Cakra. "Urusan kerja lagi? Memangnya kamu punya resort di sana?"


"Kita liburan. Aku belum punya banyak duit buat resort di sana."


"Mas bohong. Aku enggak mau kalau liburannya sama kayak di Swiss waktu itu," ucap Berti mewanti-wanti.


"Enggak, dong. Sekarang kita sudah saling kenal. Pertama kali itu malu-malu namanya."


"Aku mau ke sana. Tapi kita harus kayak pasangan yang lain, dong. Aku mau kita jalan sambil gandengan," ucap Berti.


Cakra tampak berpikir. "Tapi jangan di depan orang ramai."


"Itu sama saja enggak boleh."


"Terserah kamu saja," ucap Cakra pasrah. "Aku sudah turuti permintaanmu. Kita buat anak sekarang."

__ADS_1


"Tunggu kita di Maldives saja," kata Berti menolak.


Bersambung


__ADS_2