Bantu Aku Cerai

Bantu Aku Cerai
Pisah


__ADS_3

Cakra sengaja pulang tanpa memberitahu istri maupun keluarganya. Pukul tujuh malam ia sampai di rumah setelah mengalami penerbangan sekitar enam jam nonstop.


Minah yang menyambut tampak cemas lantaran majikannya pulang, tetapi nyonya rumah tidak ada di tempat. Berti pergi lagi bersama Banyu tadi sore.


"Nyonya belum pulang?" tanya Cakra.


"Belum, Tuan," jawab Minah. "Tuan mau makan dulu? Biar Bibi siapkan."


Cakra menggeleng. "Bibi bawa koper saya ke kamar. Oh, ya, jam berapa biasanya istriku pulang?"


"Pukul delapan atau sembilan malam, Tuan."


"Dia pergi bersama seorang pria?" tanya Cakra.


Minah ragu untuk menjawab. Ia ingin jujur, tetapi tidak ingin membuat kedua suami istri itu bertengkar. Minah memang selalu melihat Banyu datang menjemput, tetapi Berti tidak pernah memasukkan pria itu ke dalam rumah.


"Apa nyonya masih mual kalau pagi-pagi?"


"Masih, Tuan. Nyonya besar dan ibu mertua tadi pagi kemari."


Cakra mengangguk. "Istriku keluar rumah setelah mama dan ibu pergi dari sini?"


"Sore, Tuan. Nyonya suka makan malam di luar."


"Bibi lanjutkan saja pekerjaan dan istirahat saja. Biar pintu aku yang kunci."


Minah undur diri dari hadapan atasannya. Cakra mendaratkan tubuhnya di atas sofa yang empuk. Sekitar satu sampai dua jam ia harus menunggu Berti pulang, dan Cakra tidak ingin membuang kesempatan sia-sia dengan bermalasan di sofa. Ia membuka tas kerja, lalu mengamati laporan serta email yang masuk.


Pukul delapan malam, Berti belum pulang. Sementara Cakra juga masih enggan beranjak dari duduknya. Tekadnya memang kuat untuk menunggu istrinya pulang. Sampai pada pukul setengah sembilan malam, Cakra menutup laptopnya.


"Kita lihat apa dia pulang dalam setengah jam lagi," gumam Cakra seraya menengadahkan kepala menatap langit-langit rumah.


Lima belas menit berlalu, Cakra mendengar suara mobil di depan rumahnya. Ia masih tidak beranjak dari sofa, lalu pagar yang dibuka, dan tidak lama pintu yang diketuk.


Cakra tidak beranjak dari duduknya karena pintu memang tidak dikunci. Namun, pandangannya tetap mengarah ke depan.


"Bi Minah!" seru Berti yang melangkah masuk.


Cakra berdeham, lantas Berti terperanjat kaget. Ia terdiam, mengerjapkan mata beberapa kali kalau pria yang tengah beranjak dari duduknya ini memang suaminya.


"Cakra!" ucapnya.


"Iya, suamimu sudah pulang."


Berti menutup pintu. "Kamu enggak bilang kalau mau pulang."


"Habis dari mana?"


"Aku makan malam di luar," jawab Berti.


"Sama siapa?" tanya Cakra.


Berti menatap suaminya. "Sama Banyu."

__ADS_1


"Mantan kekasihmu itu?"


Berti mengangguk. "Iya, sama mantanku."


Cakra mengembuskan napas panjang. "Aku tidak melarangmu bergaul dengan siapa pun. Tapi jaga selalu kepercayaanku. Aku juga sudah pernah bilang padamu. Kamu tahu mana baik dan buruk untuk hubungan pernikahan kita. Aku enggak harus mengajarimu, kan, Bert."


"Katakan saja apa yang ingin kamu sampaikan," ucap Berti.


"Aku enggak mau menuduhmu. Tapi, apa pantas seorang pria menyentuh bibir istri dari pria lain."


"Apa?" kata Berti.


"Apa pantas Banyu menyeka ujung bibirmu dengan tangannya kalau pria itu tidak punya niat tertentu?" ucap Cakra.


"Kamu memataiku?"


"Dafa yang lihat."


"Jujur Cakra, aku suka Banyu," ucap Berti.


"Sadar dengan apa yang kamu katakan?"


"Sangat sadar. Hanya Banyu yang mengerti perasaanku. Aku butuh dia sebagai pendamping," ucap Berti.


Cakra bertepuk tangan. "Katakan padaku, apa yang membuatmu menyukainya?"


"Kebalikkan dari sifatmu. Semua yang ada pada dirinya, aku suka."


"Oh, dia pria romantis seperti yang kamu inginkan. Rupanya istriku ini masih terjebak dalam dunia fantasi," ucap Cakra. "Sadar, Berti! Kamu tengah mengandung anakku dan dengan gampang kamu bilang menyukai pria lain. Otakmu konslet atau apa?"


"Pikir dengan kepalamu itu. Aku kerja juga buat kamu. Agar kamu enggak kurang duit."


"Kamu pikir aku itu cuma butuh duit?" ucap Berti. "Aku butuh cinta dan perhatian. Itu semua Banyu berikan padaku."


"Diam!" bentak Cakra.


"Apa?" tantang Berti.


"Aku juga enggak tahan sama kamu," ucap Cakra.


Berti terdiam sesaat. "Enggak tahan sama aku. Lebih baik kita cerai. Kamu bisa fokus sama karier dan aku bisa mendapatkan apa yang aku inginkan."


Cakra mengusap wajahnya, ia mendekati Berti. "Aku terbawa emosi. Maaf, aku membentakmu tadi."


Berti mundur selangkah. "Maaf, Mas. Tekadku sudah bulat. Aku sungguh ingin berpisah darimu."


"Jangan begini, deh, Bert. Ingat, kamu itu lagi hamil." Cakra mengumpat. "Sialan! Kenapa wanita begitu rumit? Saat diberi kemewahan, dia minta perhatian. Saat diberi perhatian, dia minta kemewahan. Kamu terlalu banyak menuntut, Bert."


"Kalau kamu enggak tahan, lebih baik kita pisah," ucap Berti.


"Ngomong sekali lagi, kamu tanggung akibatnya!" ancam Cakra.


"Kamu mau pukul aku?"

__ADS_1


"Jangan ngomong pisah. Aku enggak mau pisah," ucap Cakra.


Berti melangkah begitu saja, dan Cakra menyusul. Keduanya masuk kamar dengan Berti mengambil koper dari balik lemari. Ia geser pintu untuk mengambil semua pakaiannya.


"Apa-apaan ini?" tanya Cakra.


"Aku mau pulang ke rumah orang tuaku," ucap Berti.


Cakra merebut pakaian itu dari tangan istrinya kemudian membuang koper ke lantai. Cakra melampiaskan kekesalannya pada isi barang di kamar.


"Berikan ponselmu," pinta Cakra.


"Enggak mau."


"Berikan!" bentak Cakra.


"Aku enggak mau!"


Cakra merebut tas Berti, mengambil telepon genggam istrinya dan memeriksa obrolan dari Banyu. Memang pria itu begitu aktif menghubungi Berti, bahkan pesan serta telepon pria itu lebih banyak daripada dirinya.


"Ini yang dinamakan pria baik. Lelaki ini yang ingin merebut istri orang lain yang kamu anggap baik dan ingin kamu jadikan suami." Cakra melempar ponsel itu ke dinding. "Sialan!"


"Cakra!" teriak Berti.


"Hentikan kegilaanmu!" ucap Cakra.


"Aku yang bakal gila bila terus sama kamu. Aku mau kita cerai!" teriak Berti, lalu keluar dari kamar.


"Berti!" teriak Cakra yang menyusul. Ia meraih lengan istrinya. "Mau ke mana kamu?"


"Aku pulang ke rumah orang tuaku. Aku enggak mau tinggal di sini."


"Kamu enggak boleh ke mana-mana. Tetap di rumah."


Berti berusaha untuk melepaskan diri. "Lepasin aku!"


"Sudah cukup, Berti!"


"Aku mau pulang!"


Cakra memeluk istrinya dengan erat. Sementara Berti tetap meronta minta dilepas. Cakra menggendongnya masuk ke dalam kamar, dan mendudukkan istrinya di atas tempat tidur.


Berti menangis. "Akhiri hubungan ini. Aku enggak bisa hidup sama kamu."


Cakra tidak bisa berkata apa-apa. "Aku minta maaf, Bert. Jangan hal kecil begini kamu minta pisah."


"Ini yang aku benci dari kamu. Pemikiranmu yang seenaknya. Enggak, Cakra. Aku enggak bisa lagi sama kamu. Tiap hari aku makan hati."


"Pikirkan calon anak kita, Bert."


"Tolong, aku mau pisah," ucap Berti tersedu.


"Aku antar kamu ke rumah ibu."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2