
Berti merasa bersalah karena mencoba untuk mendua. Sebenarnya bukan niatnya untuk berselingkuh, tetapi Berti menjadikan Banyu sebagai teman untuk mendengarkan segala keluh kesahnya.
Tidak menyangka jika Cakra benar-benar mengajaknya liburan ke Maldives. Memang sebelumnya Cakra sempat menyinggung kalau ia ingin ke negara sana buat liburan, tetapi Berti tidak percaya jika suaminya menepati janji.
Apa ini yang dinamakan romantis dalam bentuk tindakan? Cakra diam tanpa mengucapkan kata-kata meleleh seperti Banyu, tetapi langsung praktik. Membawa Berti ke surga dunia yang begitu indah.
Cakra pun mengerjakan tugas pekerjaan dengan cepat untuk segera menunaikan janjinya. Kali ini Berti akan bebas untuk melakukan apa saja. Suaminya telah berjanji untuk mengabulkan apa saja yang menjadi permintaannya.
Selama dalam perjalanan pesawat, Berti merangkul lengan suaminya. Merebahkan kepala di pundak lebar Cakra. Rupanya tiket dan hotel sudah disiapkan. Memang ada untungnya punya suami yang selalu menyusun jadwal kegiatannya. Cakra memang benar. Hidup akan lebih teratur dengan jadwal.
"Apa tubuhku ada lem?" tanya Cakra.
"Iya, makanya aku nempel terus," jawab Berti.
"Geser dikit, Bert. Aku merasa gerah kamu peluk begini. Tanganku kaku."
Berti malah mengeratkan pelukannya. "Mas bilang, aku boleh melakukan apa saja."
"Tanganku enggak bisa apa-apa. Mau balik buku saja susah."
"Tunda dulu baca bukunya. Kita pelukan dulu," ucap Berti.
"Malu, Bert," bisik Cakra. "Lepasin sebentar, kaku banget, nih, tangan."
Berti mendengkus, lalu melepas rangkulannya. Cakra menggeleng karena melihat wajah istrinya yang cemberut kemudian meregangkan sebelah tangannya.
Hampir dua belas jam perjalanan, barulah keduanya sampai di pulau Mihiri, Maldives. Seperti yang dikatakan oleh Berti jika di tubuh Cakra ada lem. Selama perjalanan tidak lepas Berti menggandeng tangan suaminya.
"Mas sengaja ke pulau ini buat bulan madu, ya?" tanya Berti.
"Enggak, kok. Di sini tenang saja. Vila-nya sedikit, suasananya tenang dan tempatnya indah."
Berti menyenggol lengan Cakra. "Bilang saja mau bulan madu. Pakai malu-malu segala."
Pulau Mihiri terdapat dari 37 vila saja. Pantai indah dengan pasir putih serta laguna kristal dengan air yang biru bening. Suasananya tenang sangat cocok untuk pasangan yang ingin menghabiskan waktu bersama.
Vila yang disewa Cakra juga mewah. Hanya saja tidak ada televisi karena memang resort itu bertujuan agar pengunjung di sana bisa menyatu dengan alam.
"Indah sekali," kata Berti.
"Kalau mau makan, kita bisa jalan kaki saja dari sini ke restoran," ucap Cakra.
"Aku tidak lapar. Aku ingin berenang, Sayang."
__ADS_1
Cakra bergidik. "Panggil sayang lagi."
"Kenapa? Enggak boleh?"
"Cuma geli saja. Sudah tua malah panggil sayang."
"Aku enggak tua, ya. Umur masih dua puluhan. Kamu, tuh, yang tua. Mesra dikit bilang tua. Inilah, itulah," gerutu Berti.
"Mau makan tidak? Aku sudah lapar," kata Cakra.
"Aku mau lihat bintang," ucap Berti.
"Nanti kita santai di balkon, tapi makan dulu. Perutku sudah keroncongan."
Berti mengiakan karena memang perutnya juga lapar. Hanya saja ia tidak sabar untuk bersantai di balkon kamar yang menyuguhkan lautan tenang serta langit gelap dengan taburan bintang.
Memang keduanya sampai ketika hari sudah sore. Berti melewatkan memandang matahari terbenam di pantai pasir putih. Namun, moment itu akan ia bayar pada esok hari.
Tidak ada komentar dari Cakra ketika Berti mengenakan terusan gaun yang memperlihatkan punggung belakangnya. Lokasi pulau ini cukup jauh dari pemukiman warga sekitar. Hal lumrah untuk memakai pakaian yang sedikit terbuka.
"Ikan bakar memang enak," kata Berti ketika pelayan menyajikan satu menu ikan bakar.
"Tadi bilangnya enggak lapar," celetuk Cakra.
Selesai makan malam bersama, keduanya lanjut bersantai di kamar. Jelas terasa sepi dengan tidak adanya televisi. Cakra memesan kamar yang khusus untuk bulan madu, tetapi pria itu tetap sibuk dengan bukunya.
"Sebenarnya kamu ke sini supaya tenang baca buku atau apa? Istri cantik begini dianggurin," tegur Berti.
Cakra mengalihkan pandangannya dari Berti. Ia memandang istrinya yang duduk di atas tempat tidur dengan kaki menyilang. Sangat jelas kemulusan di balik gaun dengan belahan tinggi itu.
"Katamu tadi mau lihat bintang."
"Memangnya asik buat lihat bintang sendirian? Enggak ada kali," ucap Berti.
Cakra menutup bukunya, lalu meletakkan buku tebal itu di atas meja. Ia membuka kaus yang dikenakan, lalu celana pendeknya.
"Ayo!" ajaknya.
Berti mendengkus dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Cakra berjalan menghampiri, duduk di samping istrinya.
"Wajahmu makin jelek kalau cemberut gitu," ucap Cakra.
"Cari istri baru saja kalau aku ini jelek."
__ADS_1
"Cari janda kaya."
Berti tersenyum. "Terserah."
Cakra menoel-noel punggung istrinya. Tangannya terulur membuka sanggul rambut. Cakra memeluk, lalu sebelah tangannya mengusap bagian bulat milik Berti. Secara bergantian dengan bibir mereka yang saling menyatu.
Berti mengubah posisinya menghadap Cakra. Mengusap tempat terlarang yang masih dilindungi oleh kain tebal. Tangan Berti masuk, mengeluarkan isi dalamnya kemudian mengusapnya dengan lembut.
Saking geramnya, Berti mencengkeram itu dan membuat Cakra memekik. Tidak ingin kalah, Cakra membalasnya dengan mencubit ujung yang mencuat itu.
"Sakit," kata Berti.
"Aku juga sakit. Ini milikku satu-satunya," ucap Cakra seraya menurunkan gaun berbahan rayon itu ke bawah.
Berti berbaring agar Cakra bisa leluasa membuka seluruh pelindung yang ia kenakan. Suaminya menjadi bayi kehausan dengan jemari nakal yang menelusur ke bawah.
Tidak ingin mengecewakan, Berti membuka kakinya agar dua jari itu bisa masuk ke pangkal kaki bagian dalam. Membebaskan Cakra untuk mengobrak-abrik kedalamannya.
"Mas, yang bawah juga," pinta Berti.
"Tapi nanti gantian," kata Cakra.
Berti mengangguk. "Iya, tapi yang lama mainnya."
Cakra turun dari tempat tidur, berlutut di depan muka bawah milik istrinya. Ia membuka kelopak mawar yang menyediakan sari-sari kehidupan.
Desauan Berti terdengar ketika sapuan lidah Cakra terasa. Suaminya menyapu bersih setiap lipatan di dalam sana. Mengelitik ujung dari bagian yang membuat Berti menjerit nikmat.
"Teruskan, Sayang," pinta Berti.
Cakra malah tidak tahan, miliknya sudah tegang sedari tadi. Tanpa membuang waktu, ia bangun dari duduknya, membuka pelindung terakhir kemudian masuk menghunjam Berti.
Suara Berti tidak karuan. Serak dan berat ketika hunjaman itu ia rasakan. Kuat, mendesak dan cepat. Tubuhnya bergetar hebat bersamaan bunyi derit tempat tidur.
"Pelan sedikit," kata Berti yang merasakan sentakan kuat itu.
Cakra tidak peduli itu. Permainan kuat, cepat, dan berakhir dengan tarikan napas panjang keduanya. Cakra jatuh di atas tubuh Berti setelah memuntahkan nektar dalam dirinya.
"Nanti kita main lagi," ucap Cakra dengan napas terengah. "Yang kedua pasti lama."
Berti tertawa. Ia memeluk Cakra yang masih mengontrol napas dan tenaganya. Berti rasa liburan kali ini akan dihabiskan dengan olahraga tubuh.
Bersambung
__ADS_1