Bantu Aku Cerai

Bantu Aku Cerai
Menyukai Pekerjaan


__ADS_3

Sebulan sudah umur pernikahan Berti dan Cakra. Namun, kondisi hubungan mereka tetap begitu saja. Bahkan, Cakra juga belum menunaikan kewajibannya sebagai suami. Sifatnya juga sudah terlihat.


Cakra menyukai pekerjaan. Tiada hari tanpa berkas yang di bahas. Bahkan, setiap pulang kerja, Cakra bukan menghabiskan waktu bersama Berti, melainkan dengan berkas-berkas yang tidak kunjung selesai.


Perusahaan yang dikembangkan suami Berti berjalan lancar, bahkan merambah ke setiap sektor. Selain property, restoran, Cakra melebarkan sayap ke bidang kesehatan. Ia menjadi Direktur utama di perusahaan Voscom Corp. Perusahaan induk dengan beberapa anak perusahaan di bawahnya.


"Wajahmu suntuk," ucap Sari.


"Lagi capek saja," sahut Berti.


"Cie, pengantin baru. Pasti bergadang terus. Sudah ada tanda-tanda belum?" goda Sari.


Berti menatap sahabatnya. Ia punya beban yang tidak bisa diceritakan kepada orang lain. Namun, ia butuh seseorang yang memahami dirinya saat ini. Masalah hubungannya terhadap Cakra yang tidak seperti diharapkan.


"Aku bisa percaya padamu?" tanya Berti.


"Eh, kamu tidak percaya aku?" Sari mempertanyakan itu. Ia kecewa kalau Berti sampai tidak percaya akan dirinya. Mereka sudah lama bersahabat.


"Bukan begitu. Ini masalah rumah tanggaku. Sebenarnya aku tidak ingin membicarakannya, tetapi aku tidak tau harus apa. Aku butuh teman yang bisa mendengar dan memberi solusi," ucap Berti.


"Sebaiknya kita pindah saja. Tidak baik membicarakan masalah pribadi di restoran. Kita ke ruanganku saja," ucap Sari.


Berti mengangguk. Ia beranjak mengikuti Sari menuju ruang kerja sang sahabat. Keduanya masuk ke dalam lift. Sari menoleh ke samping. Sahabatnya tidak seperti biasa dan entah apa yang membuatnya begitu.


Sari mengusap pundak sahabatnya. "Tenanglah."


Berti mengangguk. "Iya."


Keduanya keluar setelah pintu lift terbuka. Hening. Keduanya masih belum membuka pembicaraan dan Sari akan bertanya setelah mereka sampai di ruangan.


"Masuklah," ucap Sari mempersilakan.


Berti melangkah disusul oleh Sari yang langsung menutup pintu. Wanita itu menyediakan air putih kepada Berti yang sudah lebih dulu duduk di sofa.


"Sekarang kamu cerita. Ada apa?" tanya Sari.


Berti menghela napas panjang, lalu memandang Sari. "Aku dan Cakra belum bersama. Sejak pertama menikah, dia belum menyentuhku."


"Serius? Kamu bilang liburan kalian menyenangkan," ucap Sari.

__ADS_1


Berti menggeleng. "Kami belum melakukannya. Cakra bilang dia butuh cinta untuk bisa tidur bersamaku."


Sari sedikit heran, kaget dan tidak percaya. Tapi sahabatnya sendiri sudah berkata demikian. Melihat penampilan Cakra yang maskulin dan gagah. Dalam pandangan Sari, suami sahabatnya itu adalah sosok sempurna. Tidak mungkin melewatkan sesuatu yang panas di atas ranjang. Rasanya itu mustahil.


"Kalian sudah bicara?" tanya Sari.


Berti menggeleng. "Dia tidak punya waktu untukku. Cakra selalu sibuk."


"Kurasa ini masalah waktu, Bert. Cakra juga pasti ingin, tetapi ia ragu. Mungkin takut. Bisa jadi pikirannya ke mana-mana."


"Ke mana-mana?" tanya Berti bingung.


"Maksudku bisa jadi ia takut. Biasanya pria ingin memuaskan istrinya. Nah, bisa jadi Cakra takut tidak bisa memuaskanmu," tutur Sari.


Bahu Berti merosot lelah. "Bagaimana mau tau, aku puas atau tidak. Kami saja belum melakukannya."


Sari menjentikkan jari. "Kamu pancing saja. Pakai baju dinas malam. Pokoknya paling seksi. Pria normal tidak mungkin bisa lepas dari itu semua."


"Begitu? Aku sudah pakai baju tidur tali satu jari," kata Berti.


"Kurang berarti. Bagaimana kalau kita belanja? Aku akan minta izin pulang lebih awal. Kamu setuju tidak?"


Sari minta izin pulang lebih awal dari hotel tempatnya bekerja. Ia akan membantu Berti dalam menaklukan si manusia tidak peka.


*****


Sesampainya di pusat perbelanjaan, Sari dan Berti langsung menuju toko penjual baju tidur. Sahabat Berti itu sibuk memilih pakaian.


"Lihat ini, kamu harus pakai ini," kata Sari menunjukan baju jaring warna hitam.


"Ini terlalu menerawang," protes Berti.


"Justru itu. Ini bagus untuk menggoda suamimu itu," kata Sari. "Aku pilih tiga warna. Hitam, merah dan pink. Kulitmu putih. Cocok untuk memakai warna apa pun. Pokoknya lakukan seperti kucing betina yang galak. Meong." Sari terkikik menirukan suara kucing.


Berti bergidik ngeri melihat tingkah sang sahabat. "Sudah sore. Kita bayar dan langsung pulang saja."


"Oke, oke. Suamimu pasti akan pulang sebentar lagi. Lebih baik kita lekas selesaikan ini."


Keduanya menuju kasir. Berti membayar semua belanjaannya, lalu pulang karena waktu sudah menunjukan pukul empat sore. Cakra akan pulang satu jam lagi. Memang semenjak menikah, Berti selalu pulang kantor satu jam lebih awal. Hari ini ia hanya setengah hari kerja demi bertemu dengan Sari.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, Berti kaget karena sudah ada dua koper yang berada di luar. Ia masuk ke dalam dan melihat Ariel duduk di sofa tamu.


"Koper siapa di luar?" tanya Berti.


Ariel beringsut dari duduknya. "Nyonya. Baru pulang belanja, ya."


"Di luar seperti koper milik mas Cakra."


"Loh, Nyonya enggak tau?" tanya Ariel.


"Apa?" tanya Berti.


"Dua minggu ini jadwal tuan untuk ke Singapura dan Malaysia. Kami akan meninjau restoran dan hotel," kata Ariel.


Berti terkesiap mendengarnya. Jadwal Cakra ke luar negeri sama sekali tidak ia ketahui, dan Cakra tidak ada bilang apa pun padanya. Berti lekas melangkah menuju kamar tidur. Ariel yang bingung cuma bisa menatap kepergian atasannya saja.


Pintu dibuka paksa. Cakra terlonjak kaget, berkas yang berada di tangannya terlepas. Berti mendengar suaminya bergumam kesal.


"Kamu bikin kaget saja," kata Cakra.


"Kamu enggak bilang mau ke luar negeri," ucap Berti.


"Aku lupa. Hari ini aku mau berangkat ke luar negeri selama dua minggu."


"Lupa kamu bilang? Rencana itu sudah lama terjadwal dan kamu bilang lupa mengatakannya padaku? Tadi pagi, bahkan kamu cuma diam saja."


Cakra menatap Berti. "Aku mau minta maaf. Aku harus pergi sekarang. Aku buru-buru."


"Kamu enggak boleh pergi! Aku belum selesai bicara. Kenapa siang tadi kamu enggak bilang? Kamu enggak melibatkan aku dalam hal apa pun, Cakra."


"Apa kita harus bertengkar karena ini? Kamu cuma buang-buang waktuku!"


"Buang waktu? Kamu yang membuang waktuku. Selama ini hubungan kita apa? Kamu selalu sibuk dengan segala berkas perusahaan. Aku ini istrimu! Aku butuh kamu di sisiku!" ungkap Berti.


"Cukup! Hentikan pertengkaran ini. Di bawah ada Ariel. Malu sedikit!" ucap Cakra.


Berti terdiam, ia duduk di tepi ranjang. Hatinya dongkol. Berti ingin berteriak menumpahkan segala kekesalannya. Cakra sama sekali tidak melibatkannya dalam apa pun. Terlalu banyak alasan untuk pria itu berbohong. Cakra bisa menghubungi Berti tadi siang. Buktinya pria itu masih sempat mengepak barangnya. Cakra memang tidak berniat untuk memberitahu dirinya.


"Ketika sampai di Singapura, aku akan meneleponmu. Aku pergi dulu," ucap Cakra.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2