
Sebenarnya perut Rindu belum sepenuhnya membaik tapi dia masih memasksakan untuk mengajar. Selesai mengajar dia langsung menuju rumah mama papanya untuk mengambil mobil biar besok tidak perlu mencari taksi lagi.
Lina sedang memasak didapur , sedangkan Tio palingan dia lagi kerja di kantor. Lina tidak memperhatikan saat Rindu masuk kedalam rumah sembari memeluk Lina dari belakang.
"Eh mama kira papa kamu udah pulang" lina membalikkan badannya untuk menatap anaknya yang sudah tumbuh dewasa.
"Kenapa kesini? Suami kamu rewel?" tanya Lina was was. Rindu mencembikan bibirnya, Baskara sih selalu rewel dan membuat ulah hampir tiap waktu
"Masak anaknya kerumah gak di bolehin" kata Rindu langsung berjalan untuk mencicip masakan Lina. Didunia ini masakan terenak adalah masakan Lina, penuh dengan bumbu bumbu dan tentunya dengan cinta yang tidak akan pernah Rindu dapatkan dari mana pun
"Kunci mobil Rindu mana?" tanya Rindu pada Lina yang meneruskan masaknya
"Emangnya papamu belum ngomong, mobilmu udah dijual sama papa"
"Ha, kenapa dijual. Terus Rindu berangkat kerja sama siapa?" omel Rindu pada Lina yabg justru terkekeh mendengarkan penuturan anaknya.
"Sama suami kamu lah"
Yaampun bukannya bareng Baskara yang ada malah ditinggal terus. Lagian Lina kenapa sih pakek acara ngejual mobil Rindu tanpa seizin dia. Kalau gini kan susah di Rindunya.
"Tapi ma, kegiatan Baskara sama Rindu gak selalu sama. Kalau Rindu perlu kemana mana gimana?"
"Tinggal minta anter suami kamu aja. Masak sih dia gak mau nganterin istrinya"
Oke, seprtinya berdebat dengan Lina hanya akan membuang tenaganya. Lebih baik Rindu langsung pulang sebelum pertanyaan bertambah banyak nantinya.
"Kamu makan malam disini saja, ajak Baskara" kata Lina sembari mengangkat sayur keatas mangkuk.
"Gak ah ma, Baskara lagi sibuk dikampus. Biar Rindu masakin buat dia"
Rindu langsung berjalan keluar rumah diikuti Lina dari belakang. Meski sebenarnya dia ingin makan dirumah tapi dia yakin Baskara akan menolak ajakan itu dengan beribu alasan.
"Kamu yakin mau pulang, gak nunggu papa pulang dulu?"
"Gak usah, takutnya nanti Rindu kemaleman pulangnya. Kasihan Baskara dirumah gak ada yang masakin"
"Mau bawa sayur dari rumah, biar nanti tinggal diangetin"
__ADS_1
Rindu tersenyum, Lina memang selalu baik dan pengertian tanpa diminta. Ibu itu tidak ada pengganti dimanapun kita mencarinya, meski sudah menikah Lina masih memperlakukan Rindu seperti anak kecil.
"Rindu pulang dulu ya, mama jaga kesehatan"
Rindu mencium tangan Lina sembelum dia masuk kedalam taksi yang sudah dia pesan.
Taksi itu langsung membawa Rindu menuju apartemennya. Rindu tahu disana dia tidak akan bisa berleha leha sepeti halnya dirumah, tapi meninggalkan Baskara tanpa makanan, Rindu rasa dia tidak akan setega itu padanya. Meski Baskara adalah orang kejam yang seenaknya menyuruh Rindu, tapi bagaimanapun Baskara adalah suaminya.
Setelah membayar uang kepada taksi hal pertama yang dilihat Rindu adalah, Baskara merangkul bahu Sisil untuk keluar. Meski mereka tidak melihat Rindu tapi dia paham Baskara habis dari apartemen bersama pacarnya.
Mereka berlalu melewati Rindu begitu saja. Tapi ya sudahlah tugas Rindu hanya menjadi istri selebihnya terserah Baskara mau seperti apa. Rindu melangkah menuju apartemen.
Begitu dia berada disana, hal yang mengejutkan Sudah menantinya. Ruang tamu berserakan dengan banyak bungkus makanan, ditambah piring pring kotor sudah berada di wastafel, batal batal yang megisi lantai serta bekas minumann tumpah yang tetap di lantai tanpa di elap oleh pelaku.
Ini sudah keterlaluan, Rindu tidak bisa menyelesaikan tugas rumah dengan cepat apalagi dia belum memasak. Kalau tahu begini Rindu tadi memilih meng iyakan permintaan Lina untuk makan malam disana atau membawa makanan dari rumah.
"Apa anak umur 20 an memang selabil dia" gerutu Rindu sembari menyusun bantal ketempat semula. Baiklah sepertinya kata semangat cocok untuk Rindu hari ini.
Rindu merapikan semua nya, membuang bekas ciki makanan kedalam kotak sampah, menyapu lalu mengepel. Dia juga mencuci piring yang sudah menumpuk diwastafel, entah makanan apa yang dia makan hingga membuat semua piring kotor begini. Setelah menyelesaikan mencuci piring, Rindu mengambil beberapa bahan makanan untuk dia masak.
Dia sudah memasak beberapa lauk, kata Arya Baskara itu pilih pilih makanan, ada yang kurang sedikit dia bisa merajuk dan enggan makan. Jadi Rindu memilih menyiapi 4 jenis makanan diatas meja.
Sedari tadi saat dia ditelfon ponselnya dalam keadaan mati, belum lagi pesan pesan yang dikirim Rindu tak kunjung dibalas olehnya. Makanan diatas meja juga sudah mendingin, kalau Rindu makan terlebih dahulu kasihan Baskara harus makan sendirian nantinya.
Pintu apartemen terbuka, menampakan Baskara dengan pakaian yang sedikit acak acakan. Dia melepas sepatunya asal, pemandangan itu cukup membuat Rindu benar benar ingin marah. Apa sulitnya menaruh sepatu dirak samping di mana posisinya berada.
"Dari mana saja kamu?" suara lembut Rindu mengintropeksi Baskara untuk berhenti. Dia membalikkan tubuhnya untuk menatap setiap inci wajah Rindu.
"Kenapa lo perduli? , mau sok sok an jadi istri gue" cela Baskara.
"Setidaknya saya tahu kamu pergi kemana"
Rindu berusaha mengatur emosinya agar tidak marah.

"Eh gue cuman nyuruh elo ngurusin urusan rumah bukan ngurusin hidup gue" tunjuk Baskara tepat diarahkan ke wajah Rindu.
__ADS_1
Baskara melirik keatas meja makan, masakan yang belum tersentuh sama sekali.
"Lagian gue udah makan, jadi gak usah repot repot nyiapin gue makanan"
Baskara berlalu sembari membanting pintu. Apa yang bisa dilakukan Rindu selain memaku menatap kepergian Baskara dengan kondisi marah. Coba bayangkan berapa waktu yang harus dia habiskan hanya untuk menyiapkan Baskara makan. Apa perjodohan Memang selalu seprti ini? Dia tidak menemukan seperti cerita novel yang selalu berakhir bahagia, tapi rasanya Rindu seperti tercekat berada dirumah ini.
Rindu menyeka air matanya lalu berlalu untuk makan. Percuma dia menunggu Baskara untuk duduk didepannya dan makan bersama. Itu tidak akan dilakukan Baskara. Rindu memasukan sisa makanan di dalam plastik untuk makanan.
Setelahnya seperti yang dilakukan pertama kali saat Baskara meminta dia menyiapkan masakan tapi tidak dimakannya, kali ini tetap sama masih ada sedikit makanan didalam kulkas dan sisanya akan dia berikan pada siapapun yang nanti dia temui.
Perjalan Rindu terasa kosong, waktunya sudah dia habiskan untuk mengurus Baskara tapi laki laki itu tetap tidak berubah sama sekali.
"Tidak apa apa, semua orang bisa berubah. Mungkin dia butuh waktu" yakin Rindu pada dirinya sendiri.
Dia menjumpai dua anak kecil yang sama seperti pertama kali dia menginjakakan kakinya.
"Kakak mau memberi kita makan lagi?" tanya adik itu kepada Rindu. Dia mengangguk dengan ******** senyum
"Namamu siapa?" tanya Rindu pada sikecil.
"Fera" jawab adik itu dengan senyum mengembang. Meski wajahnya sedikit kusam dengan bekas bekas tanah, dan pakaiannya kusut, Rindu duduk disamping mereka sembari menatap mereka menyantap makananya.
"Kalo kamu siapa namanya?"
"Dea"
Rindu manggut manggut, belum ada lima menit dia duduk bersama Fera dan Dea. Baskara sudah menelfon berulang ulang.
"Kenapa?" tanya Rindu masih dengan nada datarnya
"Pulang, gue laper"
Tu kan apa Rindu bilang, laki laki ini pasti bakal bilang laper pas makananya udah di kasih ke orang lain.
Bunuh orang dosa gak sih? , kenapa bisa Rindu serumah sama jelmaan Patrick yang gak bisa diem dan berbuat seenaknya tambahan bodohnya gak ketulungan.
__ADS_1