
Rindu terpaksa dilarikan ke ICU karena dia tidak sadarkan diri. Sambil terus memanggil nama Rindu, brangkar itu menggelinding dengan cepat, Lina, Tio dan Arya sudah menyusul Baskara yang sedang menunggu didepan ruang operasi.
Karena pendarahan hebat di kepala dan bagaian bawah, dokter menyarankan untuk segera dilakukan operasi.
Handpone Baskara bergetar menampakkan nama bibik sebagai sipemanggil. Dengan gemetar panggilan itu berhasil di jawab.
"Den, Non Sisil bunuh diri, sekarang dia masik rumah sakit" suara bibik terdengar gemetar, nafas nya yidak beraturan.
Mendengar kalimat itu Baskara tidak menentu, dia bingung harus bagaiamana, menemani Rindu atau Sisil.
Setelah melihat kanan kiri, dia berfikir lebih baik dia menyusul Sisil, karena gadis itu sendirian sedangkan Rindu, sudah ada Tio, Lina dan Arya. Sambil melangkah tergesa gesa Baskara tidak menanggapi panggilan Arya lagi.
Dia langsung meluncur menuju rumah sakit yang dijelaskan bibik melalui panggilan.
**
Remang remang, Rindu berusaha menyesuaikan intensitas cahaya. Kepalanya masih terasa berat, setelah tidak sadarkan diri hampir setengah hari, hari ini dia membuka matanya.
Pusing langsung menyambut kala Rindu menatap sekeliling, Lina langsung memeluk Rindu dengan isakan.
Tio dan Arya memasang wajah sedih. Mereka semua terdiam hanya Lina yang menangis tersedu sedu. Tidak ada Baskara diruangannya, tidak ada anak itu.
"Ma" Suara Rindu masih melemah.
Lina menatap anaknya sebagai respon jawaban "apa"
"Ada apa?" pertanyaan dari Rindu justru membuat air mata Lina jatuh membasahi wajahnya.
Mereka Saling bertatap dengan tampang sedih, Lina memeluk Rindu dengan erat.
"Maafin mama sayang maafin mama" suara Lina beradu dengan isakan.
Maaf. Maaf untuk apa Lina? Apa yang kau perbuat sampai harus meminta maaf kepada Lina seperti itu?
Arya dan Tio memilih keluar dari ruangan, disana Baskara duduk sambil melipat tangannya menutupi wajah. Bahunya naik turun, Arya yakin anak itu sudah mangis.
Arya menepuk bahu Baskara tapi anak itu tetap menyembunyikan wajah di balik jari jemari kekar.
"Aku gak becus pa, aku gak becus jagain Rindu" suara Baskara mendayu bersama isakan yang mencekat di kerongkongan.
"Semua sudah kehendak Allah Bas, kita sebagai umatnya hanya bisa berserah diri"
Baskara sudah kembali dari rumah sakit tempat Sisil di rawat sejak setengah jam yang lalu, hal yang mengejutkan adalah Baskara harus kehilangan anaknya.
Fikiran saat dia memaki Rindu terngiang di kepalanya bagaikan tengah memutar tiprecorder.
"Kalau aja Baskara" suaranya tercekat, dia menangis tersedu sedu.
__ADS_1
"Masuklah, kasih semangat ke istrimu"
Arya menepuk bahu Baskara berusaha menyalurkan kekuatannya.
Dengan langkah lunglai, pintu rumah sakit berhasil dia geser. Lina yang tengah menangis bersama Rindu memilih bangkit dan pergi.
Ruangan ini hening hanya ada tangisan Rindu yang dia tahan dibalik selimut. Baskara yakin Rindu benar benar kecewa dengan dirinya.
"Maaf" suara Baskara melemah tidak memiliki tenanga di kalimatnya.
Rindu masih menangis didalam selimut, rasanya sakit seperti ditusuk ribuan jarum. Baskara melangkah lebih mendekat, dia ingin menggapai Rindu tapi tangannya terasa jauh. Kenapa Rindu bisa sejauh itu dengannya?
"Maaf" lirihnya sekali lagi
"Maaf untuk apa? Kesalahan mu pada saya sudah terlalu banyak"
Suara itu selalu diselingi dengan sesegukan.
"Maaf" kata Baskara menunduk
"Maaf untuk apa? Untuk meninggalkan saya bersama orang lain, membunuh anak saya atau meninggalkan saya saat saya terbaring sakit?" suaranya tercekat saat mengingat betapa sakitnya semua itu.
Baskara bersimpuh, dia meneteskan air matanya. Sangat perih saat membayangkan kalimat yang dituturkan Rindu.
Rindu masih terisak dalam rengkuhan selimut, perut yang terasa sakit dan kepala yang berdenyut membuat ritme keterlukaan yang amat sangat dalam.
Rindh kehilangan semua yang dia anggap masa depan, suami yang perhatian serta anak yang bisa dibanggakan karena lucu.
Rindu menangis. Bahkan lebih kencang dari sebelumnya. Dia membanci Baskara, dia tidak ingin bertemu lagi dengannya
**
Seminggu dirawat di rumah sakit, Rindu menolak dikunjungi Baskara setiap kali lelaki itu masuk kedalam ruangan atau Arya dan Tio sengaja memberi mereka ruang untuk bicara, Rindu selalu pura pura tidur.
Baskara hanya menelan kekecewaan meski dia berulang ulang nengajak Rindu bercerita, Gadis itu justru selalu menutup matanya dan menghadap membelakangi Baskara.
Lina mendorong kursi roda yang di tumpangi Rindu, hari ini dia ingin pulang, bersama dengan Tio dan Baskara.
Didalam mobil Rindu hanya memalingkan wajahnya menatap jalanan yang mulai ramai. Lina yang disampingnya mengelus punggung tangan Rindu.
Baskara melirik Rindu dari arah kaca depan, Tio mengendarai mobil dengan fokus.
"Kamu mau pulang ke apartemen atau rumah mama?" Lina membawa rambut Rindu kebelakang telinga.
Rindu hanya bungkam masih dengan tatapan yang terarah ke jalanan. Lina, Baskara dan Tio menghela nafas, prilaku diam Rindu beberapa hari ini menampar hati mereka.
"Pa, gimana kalau beberapa hari ini Rindu dan Baskara nginep dirumah papa"
__ADS_1
Baskara mengambil keputusan untuk memancing Rindu berkata.
Gadis itu hanya diam, Baskara mendegus sambil menunduk. Kesalahan ini dimulai dari dirinya.
"Ma" suara lirih itu akhirnya keluar dari mulut Rindu.
Lina menoleh menatap rambut anaknya yang masih menatap jalanan melalui kaca.
"Iya sayang" Lina mengelus rambut Rindu
"Mama akan ngedukung semua keputusan Rindu kan, apapun itu? "
"Iya sayang mama akan ngedukung kamu"
"Maafin Rindu"
Suara Rindu menggeliut, diujung kalimatnya air mata itu lolos kembali.
"Apapun itu ma, saya mohon dukung saya, karena mungkin keputusan saya akan mengecewakan semua pihak"
Lina memeluk tubuh Rindu, dia mengusap punggung anaknya.
"Apapun itu mama akan selalu ada untukmu"
Lina memeluk Rindu dengan erat.
Pemandangan didalam mobil itu mengiris hati Baskara lebih dalam. Kenapa baru sekarang semuanya jelas?, kenapa perasaan kepada Rindu baru dia rasakan saat ini. Saat dia harus mengorbankan seseorang untuk pergi.
Handpone di saku Baskara bergetar. Baskara menatap nama yang tertera dilayar.
Dengan sekali gerakan panggilan itu terhubung
"Bas, gue nemuin dimana bokap Sisil"
Mata Baksara membulat sempurna "dimana sekarang?"
"Bokap Sisil berada didesa kelahirannya, dia menekuni dunia mebel seperti masa mudanya dulu. Keputusannya untuk ninggalin Sisil dan mamanya adalah dia ingin hidup sederhana bersama orang yang dia cintai" tutur Alan.
"Oh my good gue ngerasa cinta bokap Sisil bener bener luar biasa. Lo mau tahu ternyata mama Sisil dan bokapnya dijodohin karena hutang"
Alan menghela nafas " gue gak percaya hal kayak gini masih berlaku di jaman sekarang"
Baskara terdiam sambil menarik sudut bibirnya. Sebentar lagi dia bisa melepas Sisil.
"Makasih infonya, kirim gue alamat dia"
Baskara menutup panggilan itu. Sejurus kemudian keheningan langsung menyapa seisi mobil. Mereka terdiam menunggu mobil berhenti di latar kediaman orang tua Rindu
__ADS_1