
Kamu satu satu orang yang bisa membuat pelangi di hidupku
☘☘
Baskara menggeliat sambil meraba kasur disebelahnya. Tidak ada orang. Dia langsung membuka mata dan berlarian keluar kamar.
"Rinduu Rinduuu" teriaknya menggema diseisi ruangan
Bau dari tumis membuat Baskara tersenyum. Semalam gak mimpi ternyata. Dia berjalan sambil melompat lompat, seperti anak TK yang senang mendapat mainan baru.
Menyangga tangan kanan di meja, dia terus mengembangkan senyum sambil mengayunkan kaki.
Rindu menoleh, menatap suaminya yang sudah secerah itu. Selalu tersenyum sambil menatapnya lekat.
"Kenapa?"
Kalimatnya masih saja dingin, tidak ada ekspresi dan tetap dengan sorot mata seperti empat tahun lalu. Baskara mencembikan bibir, tidak terima.
"Gue kan kangen. Pengen manja manjaan"
Rindu tidak menyahut kalimat Baskara, anak kecil kalau di ladenin semakin jadi. Makanan yang dimasak Rindu akhirnya terhidangkan di atas meja. Baskara mengambil sendok dengan antusias.
Dia menunggu Rindu duduk dan sarapan dengannya. Rindu mengambil nasi kemudian sayur.
Baskara terus tersenyum senang.
"Lama gak dimasakin istri, tiap hari dimasakin koki nya Alan"
Dia menyendokan suap nasi kedalam mulut. Dengan gestur menutup mata dan melipatkan kedua tangan, reaski enak.
"Hmmm enaknya"
Rindu dibuat tekekeh. Baskara selalu seperti itu kalau dengan Rindu, gak tahu kalau didepan karyawannya.
"Kamu berangkat kerja jam berapa?"
Suara dentingan piring yang beradu dengan sendok langsung senyap kala kalimat Rindu selesai terucap.
"Delapan" tukas Baskara acuh
"Wekend kita foto wisuda berdua"
Rindu menatap nasi diatas piring, sebenarnya dia tidak ikut acara pelepasan S3 nya, begitu tahu kalau dia lulus segera dia pulang ke Indonesia.
"Lo ngajak atau merintah?" tanya Baskara.
Ujung sendok tergantung di atas bibir, sebuah kebiasaan yang tidak pernah hilang. Rindu menarik sendok itu dan diletakkan diatas piring.
"Jorok"
Kalimat itu juga selalu sering diucapkan Rindu.
Baskara nyengir, kembali menyendokan nasi kedalam mulut
"Wekend?"
Dia memutar mata
"Kayaknya jadwal gue ketemu client di Vietnam"
Kalimat Baskara membuat Rindu mencembikan bibir. Tidak rela.
Kenapa sih selalu ada pertemuan dan perpisahan? , sudah bertemu harus berpisah lagi.
Baskara menatap manik manik mata Rindu yang langsung meredup, dia mengelus puncak kepala lalu di genggam kuat. Seperti mencapit tapi lebih halus.
"Haaa"
Dia menggertakan gigi gemas, sikapnya mendapat sebuah hadiah pelototan dari Rindu.
"Gak lama kok, cuman dua hari"
Dua hari di Vietnam nya, perjalannnya kan belum tahu. Rindu hanya memakan nasi tanpa banyak bicara, dia kesal.
Kekesalan Rindu memang tidak pernah bertahan lama ,contohnya saat Baskara berteriak meminta minum
"Rindu minum"
Sebuah kalinat yang dirindukan oleh Rindu. Dia merindukan itu saat di Amerika, bahkan ketika menatap sepasang kekasih, sepasang dosen dan mahasiswa.
"Gue pulang agak telat, jangan rindu"
Baskara yang sudah menyelesaikan makannya, berdiri dan mengecup Rindu. Dia langsung mandi untuk pergi kekantor.
Tiga puluh menit lelaki itu keluar dengan setelan jas yang tertata rapi. Melihat Rindu membaca sebuah buku di teras depan, Baskara menghampirinya sambil duduk di atas pangkuan. Tentu saja dia tidak benar benar duduk, menahan separuh tenaganya.
"Gue berangkat ya"
Baskara mengecup bibir Rindu. Itu terjadi sangat lama.
"Kalau bosen, maen aja. Atau pergi kekantor gue"
__ADS_1
"Oh ya ,nanti akan ada tukang kebun, dan pembatu yang dateng, buat bantu bantu lo"
Dia mengelus rambut Rindu, membawa rambutnya kebelakang telinga. Tersenyum, lalu mencubit pipi gembul Rindu.
Anggukan dari Rindu membuat Baskara berdiri, dia merapikan jas yang sudah disetrika Rindu. Sambil melambaikan tangan, dia sudah hilang didalam mobil.
Kepergian Baskara terasa kosong untuk Rindu. Tapi dia tidak boleh egois, Baskara harus bekerja untuk menafkahi dirinya. Meski Rindu tidak yakin anak itu benar benar bekerja.
Habis melahap setengah buku novel, Rindu berjalan ketaman belakang.
Taman yang masih rata dengan rerumputan hijau. Dia ingin mengalih fungsikan sebagai tempat membaca. Ingin memesan tanaman melalui hanpone suara bel dari arah depan membuat Rindu menoleh.
Dia mendapati dua ibu ibu dan bapak yang menggandeng tas.
"Siapa?"
Nada Rindu masih sama, dingin.
"Benar ini rumahnya tuan Baskara"
Rindu meangangguk.
"Kita orang yang akan bekerja di sini"
Bibik berambut pendek bertubuh gemuk tersenyum, Rindu membalas senyum mereka. Setelah mempersilahkan masuk dan memberi tahu kamar mana yang akan mereka tempati, Rindu langsung berjalan keatas.
Butuh waktu lama untuk Rindu bisa berbaur dengan orang baru. Rindu mengalihkan dengan memesan beberapa tanaman dan kursi, serta ayunan.
Dia sudah merasa jenuh dengan kegiatan sehari ini. Tidak ada hal menarik yang dia lakukan, rasanya menyenangkan kalau dia bisa bekerja.
**
Rindu menjelajahi perusahan Baskara, katanya kan kalau bosan boleh kesini. Dia mengenakan kaos putih yang dibalut rok levis kodok. Rindu menoleh kekanan dan kiri, dia kan gak tau lantai berapa kantor Baskara.
Handpone anak itu juga gak bisa dihubungi. Karena malu berdiri didepan pintu, dia masuk kedalam kantor dan langsung menjadi pusat perhatian.
Berita pernikahan Rindu langsung menyebar sejak semalam, tidak heran kedatangnnya juga menjadi fokus perhatian.
"Permisi" ragu ragu Rindu bertanya pada seoramg satpam yang sedari tadi menatapnya kaku.
"Iya"
"Ruangan CEO ada di lantai berapa ya?"
"Lantai 12"
Satpam iyltu menatap dengan tatapan dingin, hampir membuat Rindu terbelah andai saja tatapan itu berbentuk leser. Rindu melangkahkan kaki menuju lift, dia hanya berdiri didalam lift sambil mendengarkan beberapa ocehan karyawan yang menceritakan betapa hebatnya Baskara. Tidak menganggumkan, karena Baskara kalau dirumah tidak seperti yang mereka ceritakan
"Selamat pagi bu Rindu"
Rindu mengerutkan kening, samar samar dia tersenyum
"Pagi kembali" jawabanya terdengar ragu, bukankah ini siang.
"Mau bertemu pak Baskara?"
Agro sudah mengenal Rindu, meski dia tidak menghadiri acara pernikahan Rindu, tapi lelaki itulah yang mengurus semua keperluan pernikahan bahkan yang membeli apartemen.
Rindu mengangguk sambil matanya menjelajahi arah lorong ruangan Baskar,a yang lebih mirip seperti hotel bintang kelas atas, lorongnya mewah dengan lampu putih yang menyala terang, ruangan dingin dan nyaman.
"beliau ada di ruangan rapat"
Agro mengajak Rindu menuju ruangan rapat yang tidak terlalu jauh dari ruangan Baskara. Biasanya ruangan ini hanya untuk meeting bersama orang orang peting, seperti client, dewan direksi, Pemegang saham, pejabat atau juga saat Baskara ingin mengajak rapat dengan tim tertentu
Pintu ruangan terbuka, menampakkan Baskara yang duduk dengan serius sambil mengamati presentasi dari karyawannnya. Baskara tidak mengalihkan arah pandang. Meski suara pintu terbuka sempat menyedot perhatian tapi laki laki itu masih fokus pada bahan presentasi.
Rindu menilik wajah Baskara, ternyata lelaki itu jauh lebih tampan saat bekerja
Suara orang yang berdiri didekat layar mulai berhenti, menunggu komentar Baskara.
"Saya kurang suka dengan ide ini"
Suara berat itu terdengar menakutkan, seseorang yang berdiri di depan langsung kicep.
"Idenya murahan" suara Baskara menaik
"Kalau mau cari ide iklan seperti ini iklan iklan yang lain sudah banyak" kritiknya
"Saya mau kalian memberi inovasi pada iklan. Jangan terlihat pasaran"
Baskara menatap bergantian para karyawannya
"Kalau tidak bisa menangani iklan seperti ini, lebih baik kalian berikan surat pengunduran diri segera"
Kalimat itu lebih terdengar seperti ancaman.
Rindu merasakan atmosfer kekejaman Baskara yang langsung menyambut kedatangannya.
"Sudah lebih dari deadline, dan laporan iklan kalian isinya iklan tidak bermutu semua"
Baskara bangkit sambil berdiri didekat kaca dimana kaca itu difungsikan sebagai papan tulis.
__ADS_1
"Lihat saya"
Semua mata sudah tertuju pada dia sejak Baskara bangkit.
"Saya mau iklan yang mengandung kelebihan produk dibanding produk lain"
Baskara menghentikan kalimatnya , dia mengambil nafas lebih dalam.
"Tidak masalah kita menggunakan jasa artis, asal sesuai dengan apa yang nanti akan kita dapatkan"
"Saya mau laporan ini sudah ada ditangan saya BESOK"
Baskara melepas kancing jas nya, dia berdiri tegap sambil menatap semua mata karyawan. Langsung kicep, mereka menunduk bersamaan.
"Kalian boleh bubar, rapat kita selesaikan sampai disini"
Mereka segera berdiri langsung pergi begitu saja. Hanya ada Rindu dan Baskara yang berdiri berhadapan meski jaraknya sangat jauh. Mata mereka saling bertemu.
"Gimana? Aku keliatan keren?"
Ingin memuja tapi langsung di telan Rindu habis habis, lihatlah gaya Baskara yang menghampirinya dengan pede.
"Biasa saja"
Baskara memilih duduk di meja sambil meraih pinggang Rindu untuk menindihinya.
"Ada apa, lo rindu gue?"
Baskara menaik turunkan alis, menggoda.
"Saya jenuh saja dirumah" jujur Rindu
Alis kanan Baskara terangkat, heran. Baskara langsung mengelus elus sekitar dada Rindu.
Pelukan itu erat dirasakan.
Deheman dari seseorang membuat Baskara langsung sadar, ya ampun Agro masih berdiri dengan tegap disana.
"Maaf pak menggangu, rapat dengan clien Vietnam akan diajukan siang ini"
Baskara mengangguk paham. Masih dengan posisi tangan melingkar di pinggang Rindu dan tubuh mungil itu menindihinya.
"Kamu boleh pergi" ujarnya tanpa menoleh kearah Agro.
Dia kembali mengusap usapkan rambut di dada Rindu, sesuatu yang sering dilakukan Baskara hanya debgan Rindu.
"Kapan selesai PMS?"
Dengan mimik sedih Baskara mengundang tawa Rindu.
Gadis itu menepuk nepuk pipi Baskara.
"Hari ini" jawabnya mengerat kan pelukan.
"Kalau gitu gue pulang cepet ya"
"Katanya mau pulang telat?"
Rindu menatap wajah Baskara.
"Eh iya, gue gak jadi ke Vietnam" Baskara menyembunyikan wajah di tekuk Rindu.
"Dia minta pembahasan kerja sama iklan di Indonesia, sekalian dia mau ngunjungi rekan bisnisnya"
Baskara masih menyembunyikan wajah di tekuk Rindu. Mengecup leher jenjang itu dan meninggalkan bekas kissmark di sana. Rindu hanya menggegangam jas Baskara dengan erat saat lidah Baskara bermain di leher Rindu.
"Bas, kita dikantor"
Baskara mendongak "emang ada yang bilang kita di monas?"
Dia nyengir, sambil mencium bibir Rindu sekilas.
"Kapan kita bikin adek?"
Rengekan Baskara membuat Rindu terkekeh.
"Saya sudah punya adek?"
Baskara menaikan alisnya, heran.
"Siapa adek elo?"
Rindu menepuk bahu Baskara. Dia tersenyum sambil mencubit pipi suaminya.
"Ini"
Yang dimaksud adek oleh Rindu adalah Baskara. Lelaki itu tertawa ,mengusap usapkan rambut pada dada Rindu.
"Utuh kakak peyuukkk"
"Ihh lebay ah"
__ADS_1
Mereka tertawa sambil berpelukan. Baskara bisa lebih tegas dan serius saat bersama karyawannya, saat sedang rapat, dan saat bersama client. Seperti semalam, dia tidak menunjukan prilaku manja dan kekanak kanakan nya, tapi di Rindu sikap itu berubah seratus derajat. Dia menjadi bayi yang kapan saja bisa merengek