BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)

BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)
Chapter 37


__ADS_3

Aku tidak pernah merencanakan mencintaimu semua terjadi begitu saja



Dan aku suka


☘☘



Kalau dipikir pikir sikap Baskara yang tidak pulang sehari ini sudah sangat keterlaluan untuk Rindu. Tapi entah mengapa justru gadis itu selalu bisa menoleransi segala kelakuan Baskara. Bukankah diawal pernikahan mereka selalu seperti ini? Baskara senang seenaknya dan tidak pernah mengangap Rindu ada.



Perjalanan ke kampus terasa begitu memuakkan, hanya menunggu bus yang akan membawanya ke kampus tapi langkah menuju halte sangat berat. Kenapa sih, bukankah kalau dia berdiam diri di rumah akan membuatnya ingat tentang Baskara?



Rindu hanya duduk sambil menendang sepatunya, fokus mata nya tidak tertuju dijalanan justru tertuju pada sepatu yang tengah menendang nendang asal kerikil jalan. Suara klakson mobil yang macet didepannya tidak membuat fokus itu teralihkan. Bau debu aspal yang seketika beradu dengan air hujan malah membuatnya mual, ya ampun sepertinya tubuh Rindu tidak sehat?



Rindu harus menutup mulutnya saat gerimis terus mengguyur aspal jalanan. Dia merasa jijik melihat tanah yang dibasahi oleh air, jijik sekali. Padahal sebelumnya dia baik baik saja. Rindu juga tidak bisa untuk pergi dari halte bus yang sudah padat oleh desak desakan orang.



Salah satu yang membuatnya benar benar ingin muntah adalah seorang lelaki gendut yang tengah berkeringatan diseluruh leher. Oh, Rindu tidak tahan untuk tidak memutahkan isi perutnya.



Meski sedang gerimis dengan nekat Rindu menerobos air hujan untuk kembali ke apartemen. Jaraknya tidak terlalu jauh ketimbangn Rindu harus memutahkan isi perutnya di jalanan.



Sampai di apartemen dia langsung mutah mutah di wastafel. Bagus, kepalanya langsung berdenyut nyeri. Tubuhnya terasa tidak enak, mungkin efek semalam dia begadang.



Dia memilih mengirim pesan pada Zaky dan kaprodi untuk meminta izin saja. Dia akan beristirahat sehari ini. Setelah mengganti pakaian Rindu tetidur dibawah selimut tebal, dia memejam kan mata, sebelum mendengar suara pintu apartemen terbuka. Itu pasti Baskara, sambil berpura pura menutup mata Rindu memilih menghindari Baskara saja.



Kalau dia bertatap muka, pertanyaan apa yang akan dia lempar pertama kali? Bertanya tentang kondisi Sisil atau alasan dia semalam tidak pulang, banyak yang akan ditanyakan Rindu pada lelaki itu. Dan yang membuatnya ragu apakah bisa Rindu menyampaikan semuanya tanpa merasa sungkan.



Rindu merasakan sebuah tangan menempel didahi, lalu yang dia rasakan adalah kecupan hangat yang diberikan lelaki itu padanya.



"Lo sakit?" suara serak itu membuat Rindu mau tidak mau membuka mata.



Dan , kala dia menghirup aroma Baskara yang  sangat menyengat dengan parfum. Rindu langsung lari dan memutahkan isi perutnya.



"Kita ke dokter yuk?" ajak Baskara sambil memijat tekuk Rindu.



Rindu menggeleng, dia hanya kembali membaringkan tubuhnya diatas kasur tanpa berkomentar apapun.



"Udah makan?" tanya Baskara sambil mengoles minyak kayu putih di atas perut Rindu.



Rindu mengangguk tanpa membuka matanya, dia marah dan enggan menatap lekaki itu.


Tapi merasakan aroma lelaki itu yang masih menyengat Rindu tidak suka.



"Kamu bisa mandi dulu gak? , abis itu ganti baju tanpa pakai parfum"


Komentar Rindu



Baskara sempat tertegun, istrinya tidak pernah mengomentari apapun yang Baskara pakai, atau parfum apa yang dia suka hirup. Apapun yang Baskara kenakan Rindu selalu suka.


Ketimbang berdebat Baskara memilih mengikuti kemauan istrinya, dia langsung berganti pakaian dengan pakaian yang belum di semprot parfum.



"Gue beliin bubur mau? "



Mendengar kata bubur Rindu membuka mata, bagaiamana dengan bubur kacang hijau yang masih hangat. Pasti enak dinikamti saat pusing seperti ini.


__ADS_1


"Saya mau bubur kacang hijau yang masih hangat"



Baskara menaikan alisnya, Rindu aneh sekali. Dia tidak suka apapun yang berasa kacang hijau. Ini permintaan pertama sepanjang dan spesifik itu. Biasanya kalau dia mau sesuatu dia akan membelinya sendiri. Rindu bukan tipe orang yang senang merepotkan orang lain.



"Gue cari dilu bentar"


Kata Baskara sambil membawa kunci mobil keluar.



"Saya ikut"


Rindu justru langsung berjalan didepan Baskra lebih dulu. Rindu terlihat semakin pendek saat mengenakan switer kuning yang dipadukan dengan celana jeans diatas lutut. Baskara memilih tidak berkomentar, mungkin ini bentuk protes dari istrinya karena semalaman dia tidak pulang.



Sambil mengemudikan mobil nya untuk mencari gerobak bubur kacang hijau. Baskara melirik Rindu yang menutup hidung.



"Lo kenapa?"



"Saya gak suka sama bau mobil kamu"



Ya ampun, semarah itukah Rindu pada Baskara sampai dia mengomentari aroma dari mobil Baskara, kemarin malam dia naik mobil Baskara masih biasa saja.



Setelah menemukan gerobak bubur, Rindu duduk sambil memesan bubur kacang hijau.



"Pak pesen satu di bungkus satu lagi dimakan sini"



Si Rindu ini lagi ngehukum Baskara dengan alus apa giamana sih? Kok makan gak ngajak dia, malah mesen satu di bungkus satu lagi dibawa pulang.



"Lo gak nawarin gue? , gue juga mau bego"




Satu suap, dua suap sampai lima suap, Rindu menghentikan suapannya. Dia menepuk perut dan bilang dia tidak mau makan bubur karena sudah kenyang.



“kenapa gak diabisin?" Tanya Baskara sambil menoleh ke Rindu yang bersiap berdiri



"Saya udah kenyang" jawabnya santai



"Duduk dulu, elo baru makan lima suap, gimana bisa kenyang? "



"Saya sudah kenyang"



"Duduk dulu" Baskara menarik tangan Rindu hingga gadis itu terduduk di atas kursi "lo aneh banget hari ini"



"Perasaan kam__"



Ucapan itu tehenti kala handpone Baskara berbunyi, Baskara langsung mengangkat telfon tanpa melirik Rindu. Wajahnya langsung berubah khawatir, buru buru dia bangkit dan membayar bubur yang mereka makan.



"Gue pesenin taksi ya" kata Baskara bangkit sambil mencari taksi yang sedang lewat.



Entah beruntung atau karena keadaan lalu lintas yang semakin sepi, taksi berhasil didapat kan. Baskara langsung menyuruh Rindu duduk dan memberikan bubur yang dia bungkus. Setelah membayar taksi dan mengatakan alamat tujuan, Baskara tidak lupa memotret plat nomor taksi yang di tumpangi Rindu



"Kamu mau kemana?"

__ADS_1



Pertanyaan itu akhirnya teceletus dari bibir Rindu.



"Gue lagi ada perlu bentar, nanti gue balik lagi"



Kalimat itu tidak sepenuhnya bohong kan. Memang seperti itu kenyataannya, kenyataan kalau Baskara akan menemui Sisil. Rindu mengangguk lalu mobil membawanya pergi dari Baskara.



Lagi lagi Rindu merasa seperti ditikam ribuan anak panah, dadanya sesak, sambil bersandar pada kursi Rindu diam diam menyeka air matanya yang sudah turun.



Dia tahu kemana perginya anak itu, anak itu akan menemui Sisil kan. Sejak semalam dia tidak pulang, Rindu tahu kalau Baskara menunggu Sisil hingga gadis itu pulih. Dan sekarang kemungkinan besar Keadaan Sisil memburuk atau kebih baik yang jelas keadaan Sisil sangat membutuhkan Baskara.



Sebutuh apa Sisil dengan Baskara? Apa lebih membutuhkan Sisil dari pada Rindu sampai si Baskara meninggalkan Rindu yang juga tengah tidak enak badan.



**



Sampai di rumah sakit Baskara langsung berlari menemui Sisil, gadis itu lagi lagi melukai dirinya dengan pecahan vas bunga. Dia mencoba bunuh diri.


Keadan Sisil benar benar semakin memburuk bahkan rumah sakit sebetulnya menyarankan Sisil di pindahkan ke dokter psikater dan menggunakan ruangan khusus, bukan malah berada dirumah sakit umum.



Sisil tidak sakit jasmani tapi dia sakit rohani. Setelah kehilangan kehilangan yang membuatnya merasa bahwa dia tidak diinginkan, dia selalu mencoba melakukan serangkaian bunuh diri.



"Gimana keadaan Sisil?" Tanya Baskara pada dokter Icha yang menanganinya



"Dia mencoba menyayat nadinya dengan pecahan vas bunga"


Dokter Icha bersidekap sambil mengawasi wajah Sisil yang sedikit menenang karena disuntikan obat bius.



"Kamu dari mana? saya kan sudah pernah bilang jangan meninggalkan Sisil terlalu lama, dia akan semakin depresi" kata Icha



"Saya pulang menemui istri saya"



Baskara berkata jujur sambil menggenggam tangan Sisil "saya sudah menikah setahun yang lalu, pemicu Sisil merasa tidak diinginkan berawal dari dia tahu berita pernikahan saya. Setelah itu papanya meninggalakan dia dan disusul mamanya" cerita Baskara



Icha sempat terkejut mendengar penuturan Baskara, dia kira dia benar benar lelaki yang memang menyayangi Sisil tanpa ada ikatan dibalik nya. Icha hanya terdiam sambil mengamati Baskara yang mengusap wajah Sisil.



"Apa istrimu tahu soal ini? "



"Saya belum sempat memberitahunya, saya kira kalau dia tahu soal ini, dia akan marah"



"Sebaiknya kamu pikirkan baik baik untuk merawat Sisil, sebelum keadaan Sisil makin membaik karena kehadiran kamu karena jika itu terjadi sulit untuk Sisil melepaskanmu"



Baskara menoleh ke dokter Icha yang bersiap pergi "apa yang harus saya lakulan diposisi ini?"



"Menyerahkan Sisil pada kami"



"Maksud dokter membawa Sisil kerumah sakit jiwa?"



"Saya hanya menyarankan, kalau kamu mau terus merawat Sisil disampingmu, saya tidak mempermasalahkan itu, tapi bagaimana dengan kondisi mental istrimu kalau tahu suaminya merawat wanita lain"



Ucapan dokter Icha benar benar talak membuat Baskara terdiam. Icha benar, mempertahakan Sisil disampingnya hanya akan memperburuk keadaan, tapi melepaskan Sisil ke rumah sakit jiwa akan membuat dirinya merasa terluka. Bagaimana pun wanita ini pernah menemani Baskara dalam masa sulit, memberi warna dan Baskara lah yang menoreh luka pada Sisil.

__ADS_1


__ADS_2