
Bintang bertaburan di langit menambah kesan indah untuk kota Bandung, sambil menyesap minuman sodanya dia menyangga tangan di kaki kanan. Udara dingin berhembus pelan, menembus tulang tulang Baskara. Sambil menunggu jam dua dia menilik pemandangan rumah Rama dari luar. Teman temannya sedang berpesta minuman di belakang, dia tidak berselera untuk minum minum.
Bangku disebelahnya bergoyang, dia menoleh menatap Rama yang masih dengan kesadaran penuh. Dia mengangkat kaleng soda untuk mengajak berchers.
Baskara tersenyum, dia terlalu menikmati pemandangan saat ini
"Tes lo gimana?"
Rama memang cenderung bloon kalau lagi kumpul, tapi untuk memecahkan masalah dia termasuk bisa diandalkan, sikapnya lebih dewasa dibandingkan Pandu dan Alan. Dia bisa merencanakan sesuatu tepat sasaran.
"Besok pengumumannya"
Baskara meneguk soda itu hingga kandas.
"Nunggu jam dua?"
Baskara menarik senyum saat mendengar pertanyaan Rama barusan.
"Berasa kayak nunggu hari lebaran gue"
Dia masih membayangkan bagaimana mati matiannya menahan kantuk saat alarm berbunyi.
Rama tertawa renyah. Dia meneguk minuman sambil masih terfokus kedepan.
"Gue lihat elo deket sama Sisil"
Suara Baskara membuat atmosfer kecanggungan langsung dirasakan Rama, berasa disidang kalau ditanya mengenai kedekatan antara Sisil dan Rama.
"Gak terlalu"
Jawaban itu sedikit dusta.
"Gue tahu semuanya" Baskara menatap Rama yang masih menatap arah jalanan.
"Makasih elo udah ngerawat Sisil selama ini"
Rama tersenyum "gue pernah punya adik yang kena gangguan mental kaya dia"
Rama membuka luka itu kembali meski rasa sakit itu sudah perlahan menghilang "gue pernah ada diposisi Sisil"
Rama menunduk sambil menatap lubang soda yang berubah warna
"Ada yang gak gue tahu tentang elo?"
Rama mendongak menatap keseriusan diwajah Baskara.
"Lo gak perlu tahu Bas"
Dia tersenyum "hadirnya kalian di hidup gue sudah lebih dari cukup"
Mereka tertawa, sambil saling mendang kaki
"Anjing" umpat Baskara dengan sisa tawa
"Jangan lama lama ngeratapi nasib, di sambet mbak kunti baru tau rasa lo"
Dia memasukan tangan kiri kedalam saku celana
"Ram"
Rama menghentikan langkahnya "kalau lo suka sama Sisil, lanjutin aja, gue setuju"
Rama menarik sudut bibir, sisa kaleng ditangan dia lempar kearah Baskara
"Si anjing"
Dia masih tertawa sambil berlalu begitu saja.
Baskara menatap kepergian Rama dengan menarik sudut bibir. Dia sudah tahu perihal kedekatan Rama selama Sisil dirawat, disaat keguguran Rindu, selama itu pula Rama yang menggantikan posisinya. Meski Alan dana Pandu juga melakukan hal yang sama tapi melihat bagaimana kedekatan saat siang tadi, Baskara yakin Rama menyimpan perasaan pada Sisil.
Pukul dua malam didepan teras, Baskara dan Rindu memulai vidio callnya, sayangnya sinyal tidak mendukung, berulang ulang panggilan harus terputus karena sinyal yang begitu tidak bersahabt.
Panggilan ke empat dari vidio call mereka.
Baskara melambaikan tangan dengan senyum merekah
"Rinduu" teriaknya
Rindu melambaikan tangan, gambar itu mulai sedikit kabur ,berhenti di lambaian tangan Rindu tanpa bergerak.
"Ihh sinyalnya jelek banget sih"
Baskara menggoncangkan handpone
"Kamu di mana?"
Suara itu tersendat sendat. Dengan sebal Baskara mematikannya lagi. Dia menghela nafas.
Langsung menghubungi Rindu dengan panggilan biasa.
"Sinyalnya jelek"
__ADS_1
Begitu panggilan tersambung, keluhan Baskara langsung menyambutnya
"Salan dulu Baskara" komentar Rindu
"Eh iya, selamat malam dan sore sayang"
Ehem, kata Sayang itu mampu membuat letupan jantungnya tidak berhenti, bahkan sangking malunya Baskara menutup wajah dengan telapak tangan. Dia lompat lonpat sangking girangnya.
Suara Rindu tidak segera menyahut, mungkin dia juga sedang malu.
"Kamu lagi apa?"
Suara itu lirih karena malu, Baskara menarik sudut bibirnya.
"Camping"
"Ha camping?"
"Iya camping di rumah Rama"
Kalimat itu diakhiri dengan ledakan tawa.
Tawanya menular meski Rindu hanya tertawa tiga kali seperti "ha ha ha"
Selebihnya mereka kembali terdiam.
"Eh tadi gue ketemu Sisil"
Perlu kah mengatakan kalimat ini, seketika Baskara menutup mulutnya. Dia meruntuki kebodohan karena terlalu jujur pada Rindu.
"Dia apa kabar?"
Diluar dugaan, Rindu justru menanyakan kabar Sisil. Apakah ini cara untuk mempercayai Baskara atau mengetes kesetian Baskara?
"Dia baik, kayaknya lagi deket sama Rama"
Baskara tertawa, biar gak terkesan dia merasa cemburu. Toh prioritasnya sekarangkan adalah Rindu
"Kamu cemburu?"
"Ya, enggak lah, kan gue udah punya istri rasa pembantu"
"Hu dasar"
Baskara tertawa, dia merindukan Rindu, panggilan itu harus berakhir karena Rindu ada kelas sore. Sebenarnya Baskara sedikit tidak rela, tapi mau bagaimana lagi.
Sambil duduk di kursi teras, dia menatap bintang yang bertaburan. Angin malam berhembus kencang, memeluk Baskara yang sedang diselimuti rindu.
Pagi buta, suara gaduh dari dapur membangunkan Baskara. Padahal jam masih pukul 5 pagi. Kenapa dapur Rama gaduh banget sih.
Orang tua Rama tinggal di Surabaya, sudah pindah sejak tiga tahun yang lalu. Papa Rama adalah seorang polisi jadi sering pindah tugas, Rama memutuskan untuk mantap di Bandung, mungkin dia sudah cinta sama kota ini.
Sambil menendang kaki Alan untuk menyuruhnya memeriksa keadaan dapur, Baskara menimpal kepalanya dengan bantal.
"Pan. Pan"
Suara serak Alan membangunkan Pandu
Lelaki itu menjawab dengan deheman. Tidak ada yang berniat membuka mata sepagi ini.
"Periksa di dapur sana, ada maling gak?"
Pandu menjawab perintah Alan dengan deheman. Tapi mereka justru kembali tertidur pulas di kasur.
Tanpa ada yang bergerak sedikit pun. Tepat pukul tujuh pagi. Pandu dan Alan keluar dapur sambil mengucek mata, dada toples yang diekspos mengundang jeritan dari seorang wanita.
"Kalo bangun pakek baju setan"
Rama memukul dada Alan.
Dengan gestur malas dia membuka mata, Sisil sudah berdiri sambil membelakangi mereka berdua
"Lha si Sisil kenapa disini pagi pagi?"
Pandu menguap sambil membuka mata, dia ikut melongo kala melihat Sisil sudah stay di rumah Rama sepagi ini.
"Dari subuh tadi dia bantuin gue nyiapin sarapan buat kalian"
Alan masih berfikir keras, dia menatap Pandu sebagai isyrat bertanya
"Lo ada hubungan apa sama Sisil?"
Pandu yang sudah penasaran langsung meletuskan sebuah pertanyaan itu.
"Temen doang"
Rama langsung pergi ke arah kamar dimana si Baskara masih nyenyak nyenyaknya tidur.
Kakinya menggoyangkan tubuh Baskara
"Woy Bas, bu Rindu ada didepan tuh"
__ADS_1
Setengah sadar Baskara melompat dari kasur dan lari ke depan pintu. Dia termangu sebentar, menatap latar kosong yang hanya dipenuhi rumput rumput
"Bangun tu anak kalau denger nama bu Rindu" cela Alan sambil mengenakan baju
"Sekangen itu sama dedek Rindu" goda Pandu
Baskara yang tahu kalau dijahili langsung melirik Rama dengan belis.
"Bangsat" umpatnya
Dia berjalan ke kamar mandi untuk mencuci muka. Setelahnya duduk di meja makan, sambil menguap lebar.
"Ada mantan elo tuh, jaga karisma dikit kek" cicit Pandu
"Calonnya Rama"
"Uhuk"
Pandu dan Alan kompak tesedak mendengar kalimat Baskara.
Dibawah meja Rama menendang kuat kuat kaki Baskara. Lekaki itu mengaduh sambil memberi hadiah pelototan pada Rama.
"Kalo ngomong ati ati" ancam Rama.
"Lah gue doain bukan ngomong" kilah Baskara cepat.
"Kalo doa tu kayak gini "ya Allah semoga Rama sama Sisil segera menikah"
Pandu yang mempraktekan gaya berdoa sambil memejamkan mata sontak diaminkan oleh teman temannya.
Sisil hanya tersenyum malu malu. Entahlah bagaimana perasaan keduanya, hanya mereka yang tahu. Baskara menikamati masakan Sisil tanpa menatap kearah Sisil.
"Banyak berubah elo sekarang, udah bisa masak" komentar Baskara tanpa menatap wajah Sisil.
"Diajarin mama"
"Mama muda?" celetuk Alan
"Mama tiri anjeng" kata Pandu
Sisil tertawa renyah, Baskara tidak sempat melihat bagaimana ekspresi malu malu Sisil. Menurutnya gadis didepannya ini tidak lebih dari seorang teman, setelah permintaan bercerianya Rindu, dia semakin sadar kalau mencintai wanita lain dirumah tangganya adalah perlakuan salah.
"Ram. Kalau elo beneran sama Sisil. Berarti elo nikung Baskara dong"
Pandu bergerak untuk mengambil nasi, padahal dia sudah habis banyak makan, malah mau nambah lagi.
"Nikung gimana? Orang gue udah ngerestuin"
Yang ngejawab bukan Rama malah si Baksara.
"Alhamdullilah, nanti judul sinetronnya "mantanku adalah istri dari temanku"
Alan menyendok sayur setelah mengatakan kalimat itu
"Lo kira azab"
Mereka tertawa bersama. Dalam tawa Baskara, dia sempat berfikir, andai Rindu ada disini, bersama nya.
"Ternyata jodoh gak jauh jauh dari temen kita" celetuk Pandu
"Gue belum nikah bangke" Rama yang dibilang jodohnya Sisil langsung melayangkan protes
"Kan calon jodohnya" ralat Pandu cepat
"Jangan jangan gue juga jodohnya mantan kalian"
Sambil mengunyah nasi Pandu menatap Alan yang menikmati sarapannya
"Lan, mantan elo kan cantik cantik, mungkin ada diantara mereka jodoh gue"
Alan yang mendengar itu langsung mendongak. Dia melotot kearah Pandu tanpa ampun
"Kalau pun iya, gue gak ngerestuin"
"Yang penting bapak sama ibunya ngerestuin gue"
Pandu menjulurkan lidah.
Sisil masih diam sambil menyantap makan. Canggung saja gitu bertemu mantan disaat dia sedang dekat dengan teman mantannya.
"Abis ini gue mau balik, mau liat pengumuman" kata Baskara mengalihkan pembicaraan.
"Iya, gue juga mulai kelas Hukum hari ini" sahut Pandu cepat
"Lo beneran mau alih profesi?"
Rama yang sedikit tidak rela Pandu pindah profesi langsung bertanya. Siapa tahu Pandu berubah fikiran
"Yoii, gue mau jadi jaksa" katanya menepuk dada membanggakan diri.
"Selamat belajar kalian berdua. Gue mah udah eneg sama namanya belajar"
__ADS_1
Alan nyengir tanpa dosa