
Kamu baru saja bangun
Dan mereka sudah menjadi kupu kupu
☘☘
Kembali ke Jakarta lagi pada jam dua siang, Baskara sudah menguap selama perjalanan, dia ingin tidur karena semalam harus tidur jam empat pagi. Apalagi suara gaduh dari subuh membuat dia sulit memejamkan mata.
Dijalan Pandu dan Alan tak henti hentinya mengomel, jadi dia sulit memejamkan mata selama perjalanan. sampai di apartemen, dia mendapat pesan dari Dimas kalau hasil sudah bisa dilihat di websaite, selanjutnya kalau keterima dia bisa langsung ke kampus hari ini.
Dia membuka kemeja dan melempar jas asal, sambil membanting tubuh di sofa dia menggulir layar Handponne.
Baskara mengecek melalui handpone, meski tidak seheroik saat pengumuman di Havard setidaknya dia harus tetap melihat hasilnya. Matanya biasa saja saat melihat tulisan "LULUS" yang terpampang di akun.
Dia menutup handpone sambil merubah posisi tidurnya di sofa. Pukul tiga nanti dia akan ke kampus bersama dengan Dimas si anak mami yang gak bisa di ajak nongkrong.
Handponenya bergetar ketika mata Baskara terpejam. Setengah malas dia meraih handpone yang ada dinakas. Panggilan dari Rindu membuatnya terperajat. Dia duduk, duh rambutnya masih acak acakan, mana gak pakek baju lagi.
Tapi masa bodo dengan itu, Baskara mengangkatnya dan mengarahkan kamera ke belakang, jadi hanya menyorot ruangan apartemen. Wajah bulat Rindu memenuhi layar Baskara.
"Kamu mana?" tanya Rindu celingukan melihat gambar televisi di layar handpone.
"Malu"
Suara Baskara terdengar sambil tersenyum
"Kenapa malu?"
Rindu tidak tahu kalau Baskara sedang toples sekarang
"Saya begadang mau lihat kamu Baskara"
Dengan malu malu Baskara memecet tombol kamera, sehingga menampakan Baskara yang toples dengan rambut acak acakan.

Rindu langsung tertawa lebar melihat rambut acak acakan Baskara. Sedangkan Baskara sudah merubah ekspresi setengah kesal.
"Elo nelfon gue cuman mau ketawa?"
Meski begitu dalam hatinya tuh Baskara senang melihat Rindu tertawa selebar itu.
"Enggak ,rambut kamu lucu" kata Rindu berusaha menahan tawa
"Gak ada elo yang ngurusin, jadinya kayak gini"
Baskara nenunjukan rambutnya sehingga dada bidang itu terlihat di kamera
Dengan malu malu Rindu **** senyum ,kali ini senyum yang disertai semburat kemerahan, meski terlihat dikamera sedikit tapi mampu menggetarkan hati Baskara.
"Gimana konsultasinya, ada perubahan? " tanya Baskara
"Enggak tahu, kan belum di coba"
Iya ya. Kan Baskara di Indonesia jadi gak bisa nyentuh Rindu.
"Besok kalo ketemu, gue sentuh sentuh ya"
Mendengar kalimat Baskara, Rindu kembali tertawa. Entah kenapa panggilan kali ini hanya diisi tawa Rindu.
"Lo lagi bahagia ya, sampe ketawa terus?" tanya Baskara yang heran melihat anak itu selalu tertawa.
Rindu menggeleng, sambil meletakkan handpone di atas meja, dia menyangga dagu. Dia mengelus elus handpone sebagai gantinya Baskara.
"Lucu banget rambut kamu"
"Oh ya Rin" Baskara membenarkan letak duduknya. Dia mengamati wajah Rindu seolah benar benar serius
"Apa?"
"Gue nanti minta pap TT ya"
Baskara tertawa guling guling setelah mengatakan itu
"Pap TT apa?"
Tu kan Rindu tu emang gak ngertian kalau masalah kayak gini, jadi maklumlah.
"Lo pernah pacaran gak sih?"
Alih alih menjelaskan dia malah berteriak kepada Rindu. Gadis itu mencembikan bibir sambil memutar bola mata malas.
"Kenapa memang nya?"
Tu kan, Rindu sudah kembali ke tabiat awalnya, jutek dan datar. Baskara mendegus.
"Minta pap *****"
Dia tertawa terbahak bahak, membuat Rindu menutup wajah dengan telapak tangan.
__ADS_1
"Gimana, kamu lulus ?"
Salah satu strategi mengalihkan rasa malu adalah mengubah topik pembicaraan.
"Lulus dong, gue gitu lho"
Dia menepuk dada membanggakan diri pada Rindu dengan sombong.
Rindu hanya tersenyum.
"Lo kenapa nelfon pagi gini? "
Rindu mengambil cofe yang dia buat tadi. Sambil memamerkan ke Baskara sehingga mengundang lelaki itu untuk tertawa.
"Saya besok ujian jadi saya belajar sambil minum kopi" tukasnya

"Hahha" tawa Baskara meledak saat melihat ekspresi Rindu.
"Sudah dulu ya, saya harus kembali belajar" kata Rindu
"Belajar yang rajin ya" katanya
Rindu mengangguk malu malu
"Kiss dong"
Tukan pinter banget bikin jantung anak orang deg deg an, Rindu mengecup layar sebagai ganti Baskara.
"I Love You"
Kalimat itu diucapkan begitu lirih, mampu mengundang ribuan kupu kupu keluar dari perut Rindu
"Heh dijawab bego, jangan diem aja"
Ucapan selanjutnya mampu membuat Rindu merubaj ekspresinya menjadi datar.
"Gak mau"
Panggilan itu berakhir tanpa di balas oleh Rindu.
saatnya Baksara pergi ke kampus untuk melanjutkan studynya.
Dimas sudah menunggu di lobi sejak lima belas menit lalu, karena mamanya yang melarang Dimas dibonceng dengan Baskara. Jadi Baskara yang ikut mobil Dimas, kata Dimas dia diantar sopir. Males juga kalau harus nyetir, dia baru tiba di Jakarta sekitar sejam yang lalu

"Sorry ya, lo jadi gak bisa kebut kebutan karna gue?"
Dimas bukan tipe cowok bad boy, yang selalu suka hal berbau negatif. Dibandingkan Alan dan yang lainnya dia tipe orang yang enak dibawa arus.
Suka kebawa sama pergaulan gak bener, temenan sama Dimas enak enak aja, pas gak enak nya cuman kalau dia ditelfonin mamanya terus
Sampai di kampus mereka langsung daftar ulang, dan melihat lihat gedung. Sebenarnya tuh Baskara yang punya yayasan, karena mereka kuliah di ARABA. Cuman untuk kali ini Baskara enggan memakai kekuasaan Arya, bisa bisa di kasih bimbingan dadakan sama Rindu.
Gedungnya juga berbeda dengan gedung S1 nya, dimana sekarang letaknya agak lumayan dari apartemen Baskara, apalagi dosennya bukan Rindu.
**
Malam hari yang dilakukan Baskara dengan Alan adalah main ps di apartemen, teman teman nya itu selalu menemani malam malam Baskara, mereka saling memencet stik ps.
"Si Pandu tumbenan belum sampe?"
Ditengah permain Baskara membuka suara.
"Palingam banyak tugas dari dosen" jawab Alan asal.
Selepas kalimat Alan selesai, Pandu membuka pintu dengan tampang kusut. Dia membanting tubuh diatas sofa.
"Gila banyak tugas gue" curhatnya sambil memijat pelipis.
"Salah siapa alih profesi" ujar Alan tanpa memindahkan arah fokus.
"Clubing yok, ngerefres otak"
Alan menoleh dengan wajah berseri sedangkan Baskara dia justru enggan menangapi ajakkan Pandu.
"Kuy"
Alan bangkit sambil membenarkan celananya.
"Ikutan gak Bas?"
Pandu yang tahu Baskara tidak bergerak sedikit pun melempar dengan bantal sofa. Cukup berhasil untuk mengalihkan fokus dari layar.
"Lo aja, gue dirumah" jawab nya kembali fokus ke layar
"Gak asyik lo" hina Alan.
__ADS_1
"Bu Rindu gak bakal tahu"
Mereka masih berdiri sambil membujuk Baskara. Gak enak kalau cuman sesat satu orang, mending sesatnya bareng bareng
"Lo aja, gue disini" Baskara tetap keukeh menolak ajakan Pandu
"Sekali aja, besok besok gak lagi"
Semakin Baskara keukeh , semakin keras pula Pandu dan Alan membujuk, mau tidak mau Baskara ikut. Padahal dia mau dirumah menunggu panggilan Rindu.
Tidak banyak yang dilakukan Baskara selama di club, palingan cuman meminum satu gelas bir. Sedangkan Alan dan Pandu sudah berjoget bersama wanita wanita. Dia sudah banyak meneguk bir, sebentar lagi mereka akan teler.
Seorang gadis dengan pakaian mini mendekati Baskara, dia tersenyum sambil membawa segelas bir.
"Mau aku temani?"
Suara lembut tapi penuh dengan nada menggoda, Baskara hanya menatap dia sekilas lalu fokus pada gelas didepannya.
Wanita itu bergeser, dengan tidak tahu malunya dia mendekatkan bibir ke telinga Baskara.
"Aku mencari orang yang bisa memuaskan ku"
Bisikan itu mendayu dayu ,membuat Baskaraa sedikit tergoda, dia mendekati telinga gadis itu, sambil ditiupnya, gadis itu mendesah pelan.
"Dengar gue" dia menarik sebelah sudut bibir "gue mengindap penyakit HIV"
"Dengan senang hati, gue mau ngajak orang ketemu Tuhan lebih cepet "
Mendengar kalimat Baskara, gadis itu sudah bisa menyimpulkan bahwa dia ditolak mentah mentah oleh Baskara. Sambil menghentak kan kaki , dia berlalu lebih cepat. Kepergian gadis itu di gantikan kedatangan Pandu yang langsung tertidur disofa, kancing kemeja terbuka di dua bagian.
Alan datang masih dengan kesadaran penuh, sedari tadi dia tidak banyak minum hanya menggoda beberapa wanita saja.
"Gue ke toilet dulu"
Baskara pergi meninggalkan handpone dimeja.
Alan juga ikut pergi setelah dua detik dari hilangnya Baskara.
Handpone dimeja bergetar, membuat Pandu dengan malas meraba meja. Dia langsung mengangkat panggilan itu tanpa membaca siapa si penelfon.
"Pandu?"
Dengan berat , Pandu membuka mata sambil menilik siapa si penelfon.
"Oo bu Rinduu"
Pandu melambaikan tangan dengan berat, pengaruh alkohol membuatnya kesulitan mengendalikan diri.
Bahkan dia ambruk sampai bibirnya menyentuh layar.
Handpone itu langsung di ambil alih oleh Baskara, lelaki itu terkejut bukan main melihat ekspresi kemarahan dari Rindu.
"Rin"
Suara didalam club membuat suara Rindu tidak terdengar. Alhasil Baskara memilih berlalu dari dalam club. Dia duduk di parkiran mobil sambil melambaikan tangan kearah Rindu
"Kamu ngapain disana?"
Suara kemarahan Rindu langsung menjawab lambain tangan Baskara.
"Nemenin Pandu" jawabnya jujur
"Kamu kan tahu saya gak suka kamu di tempat itu!! "
Nada kemarahan Rindu bisa Baskara pahami dari sini.
"Maaf" kata nya lirih
"Apa selama ini kamu sering datang ketempat seperti itu selama saya gak ada?"
"Gak pernah Rin, cuman sekali ini"
"Kamu bohong kan"
Tudingan dari Rindu justru membuat kemarahan Baskara terpancing
"Elo gak percaya sama gue?" suaranya naik satu oktaf
"Saya mempercayai apa yang saya lihat" tegas Rindu
"Dan apa yang elo lihat gak semuanya bener"
Baskara ikut ngotot
"Saya baru nemui in orang yang salah malah marah"
"Iya gue selalu salah dimata elo"
Panggilan itu langsung ditutup oleh Baskara, dengan marah dia memukul stir. Kenapa sih pertengkaran harus dimulai saat saat berjauhan seperti ini. Kadang Baskara tidak suka dengan sikap dewasa Rindu yang menurutnya terlalu berlebihan dalam menilai sesuatu.
__ADS_1