BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)

BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)
Chapter 47


__ADS_3

Baskara mengusap wajahnya prustasi, dia bersandar pada dinding apartemen. Apa yang dilihatnya bagaikan ujung tombak yang menancap di hati.


Alan, Pandu, dan Rama menatap kelakuan sahabatnya yang meneguk habis bir tanpa henti. Bahkan kaleng kaleng itu sudah berserakan di lantai.


"Lo udah nanya, Wirawan beneran ngelamar bu Rindu atau enggak?"


Pandu menatap wajah Baskara yang masih meneguk bir tanpa menatap wajah Pandu.


Baskara menggeleng, kembali membuka kaleng bir untuk kesekian kalinya


"Kenapa gak elo tanyain ke bu Rindu?"


Baskara tidak menjawab hanya meneguk bir itu hingga tandas.


Dia menarik nafas lalu dihembuskan perlahan


"Lo nanya ke bu Rindu baik baik Bas, elo masih punya hak sepenuhnya atas bu Rindu"


Alan merampas bir yang hampir di buka oleh Baskara. Dia meneguk sebagai ganti Baskara.


Baskara bangkit sambil membawa kunci mobil.


"Mau kemana lo?"


Rama mencegat Baskara saat laki laki itu melangkah ke pintu. Meski dengan tubuh limbung Baskara masih mampu menggeser posisi Rama. Dia keluar apartemen dengan langkah gontai.


Dia membuka pintu mobil dengan susah payah, segera mobil meluncur kerumah Rindu. Sampai disana Wirawan dan Rindu sama sama keluar dari mobil. Mereka sepertinya baru pulang.


Baskara menabrak bemper mobil Wirawan, sambil membuka pintu dia menggelengkan kepalanya yang terasa berat.


Rindu menatap wajahnya yang acak acakan, bau alkohol langsung tercium saat jarak mereka menipis. Baskara mencekal kuat pergelangan tangan Rindu. Gadis itu di tarik kebelakang tubuhnya.


Sambil memegangi tangan Rindu tangan satunya mencekal kerah Wirawan.


"Brengsek" umpat Baskara.


Wirawan menepis tangan Baskara dengan kasar. Dia menatap wajah Rindu yang terlihat lebih marah dibandingkan dirinya.


"Aku permisi dulu, kayaknya ada yang harus kalian selesaikan"


Wirawan berlalu tanpa menatap wajah Baskara yang sudah merah oleh kemarahan.


Dua detik dari kepergian Wirawan, Baskara memejamkan matanya untuk memulihkan kesadaran.


Dia berbalik menatap wajah Rindu yang sendu, meski dengan ekspresi kemarahan yang dia perlihatkan


"Gue gak suka elo deket deket sama dia" suara Baskara melemah, sama seperti kesadaran yang sudah menipis


"Saya gak perlu meminta persetujuan kamu untuk menemui siapapun"


Rindu berjalan meninggalkan Baskara untuk membuka pagar. Lelaki itu mengekori tanpa persetujuan dari Rindu. Perasaan saat Baskara memeluk Sisil dengan senyum merekah masih membuat kemarahanya naik pada level 8.


Baskara menarik tangan Rindu untuk dibawa kepelukannya. Dia memeluk Rindu meski gadis itu memberontak. Sambil memukul dada Baskara dengan keras, Rindu berusaha meloloskan tubuhnya dari pelukan Baskara.


Baskara meraih tekuk Rindu lalu dikecupnya dengan kasar bibir itu.


Rindu memukul mukul dada Baskara, asal Baskara tahu dia benci setiap kali Baskara memperlakukannya seperti wanita murahan. Dia selalu menciumnya dengan penuh nafsu, tidak ada kelembutan yang di berikan laki laki itu.


Rindu mendorong tubuh Baskara kuat sehingga tubuh itu limbung kebelakng.


Plakk


Rindu menampar Pipi Baskara. Meski tidak terlalu sakit tapi hati Baskara nyeri.


"Saya bukan pelacur yang seenaknya kamu perlakukan seperti ini"


Kalimat itu dibanjiri air mata, Baskara menunduk menyembunyikan rasa pusing dan sakit yang menyerang di dadanya.


Rindu menyeka air mata sambil balik kanan untuk masuk kerumah. Belum satu langkah Baskara memeluknya dari belakang, kali ini pelukan yang tidak sekasar sebelumnya.

__ADS_1


Sesuatu menetes di tekuk Rindu, rasa sakit itu menjalar hebat disekitar dadanya.


"Gue gak mau pisah Rin, gue gak mau pisah" suara Baskara sesegukan


"Gue gak mau elo dimiliki orang lain. Gue gak mau Rin"


Kenapa baru saat ini Baskara menyadari atas perasaannya, atas rasa kosong yang selalu berusaha dia tutupi. Kenapa baru sekarang Baskara mengucapkan kata yang membuat Rindu semakin tersayat.


"Saya gak bisa"


Suara itu lirih sambil melepas pelukan Baskara. Rindu tidak ingin menoleh dia tidak mau kembali pada pesona Baskara yang hanya membuatnya bahagia sesaat. Melihat Baskara seperti melihat keguguran anaknya. Dia tidak akan memaafkan untuk hal satu itu.


Baskara jatuh kelantai sambil bersimpuh. Dia menangis, dia tidak mau tegak, rasanya dunianya sudah tamat saat Rindu meminta cerai.


**


Rindu turun dari kamar dengan mata sembab, saat melihat kearah sofa ruang tamu, Baskara sudah tertidur pulas disana.


"Mama yang bawa dia masuk"


Lina yang melihat ekspresi wajah Rindu langsung menjelaskan


"Semalam dia langsung pingsan pas kamu udah dikamar, papa sama mama gak tega, gimana pun dia masih suami kamu"


Lina mengelus lengan Rindu


"Rindu langsung pamit ma, mau ketamu Rosa"


Rindu berlalu tanpa melirik Baskara lagi. Dia juga tidak menanggapi penjelasan Lina.


Sampai di rumah sakit, Rosalicha langsung menjemput Rindu di depan gedung.


"Hey kita lihat siapa yang dateng"


Rosa memeluk Rindu dengan erat "udah lama ya kita gak ketemu, terakhir kali pas aku maen ke apartemen kamu"


Mereka berjalan bersisihan kelantai dua dimana ruangan Rosa berada


Rindu memaku, dada berdesir nyeri, Rosa belum tahu soal kegugurannya, akhir akhir ini dia sibuk mengurus hidup Rindu sendiri, jarang berkomunikasi dengan Rosa, apalagi Rosa sudah mau menikah.


Meraka duduk di sofa ruangan Rosa, gadis itu membawa minuman kaleng yang ditegakkan diatas meja. Sambil mengamati perubahan wajah Rindu , Rosa langsung menebak


"Ada yang ganggu fikiran kamu?"


Rindu mendongak saat suara Rosa sudah terdengar lebih dekat di hadapannya. Dia menggeleng, kesalahan yang dibuat Rindu saat berhadapan dengan seorang psikiater seperti Rosa.


"Bohong, wajah kamu gak bisa bohongin aku"


Rosa membuka penutup kaleng, suara oksigen soda langsung menyambutnya. Dia meneguk hingga dua tegukan sambil menunggu Rindu menceritakan apa yang ingin dia ceritakan. Rindu bukan tipe orang yang mau dipaksa untuk bercerita lebih baik Rosa menunggu dia bercerita dengan kemauannya sendiri


"Saya keguguran dua bulan yang lalu"


Soda itu tertahan di mulut Rosa, mereka berkumpul di mulut tanpa mampu Rosa telan sedikitpun


Rasanya kerongkongan seperti tersumbat oleh benda tajam yang menghalangi soda untuk meluncur bebas.


Rosa menatap manik manik mata Rindu yang terlihat sedih, tidak seteduh biasanya. Ada beban yang belum pernah dia ceritakan ke orang lain, ada beban yang selalu menggantung pada hatinya.


Glek


Rosa menelan soda itu susah payah. Dia meletakkan kaleng soda diatas meja sambil mengelap bibir basahnya.


Rosa bergeser lebih mendekat ke Rindu, dia mengusap Rindu sambil memeluk gadis itu.


Benar saja, pelukan dari Rosa mampu meruntuhkan pertahanan Rindu, gadis itu menangis sesegukan dalam pelukan Rosa. Ini pertama kalinya Rosa melihat kesedihan mendalam dari hati Rindu.


Setelah tiga menitan Rindu menumpahkan tangisnya tanpa bercerita satu katapun, Rosa menyodorkan air putih untuk Rindu.


Rindu hanya memegang gelas itu tanpa meminumnya, dia menatap setiap gelombang air yang bermain main didalam gelas.

__ADS_1


"Saya akan bercerai"


Kalimat itu tak kalah lebih mengagetkan dari keguguran Rindu. Rosa hanya bisa terdiam tanpa mampu mengatakan sepatah apapun. Rasanya tenggorokan dia ikut tercekat mengetahui Rindu seterluka itu.


Rindu masih bisa menarik sudut bibirnya


"Panjang kalau mau saya ceritakan" dia mengelus punggung Rosa yang masih belum bisa mengusir wajah kaget. Rosa paham Rindu hanya berpura pura kuat didepan semua orang, sebenarnya dia merasa hatinya tersayat sayat.


"Saya gak semenderita itu kok, sampai kamu harus seprihatin ini ke saya"


Rosa menarim sudut bibirnya, dia tahu Rindu tidak senang di kasihani, dia selalu mengerjakan apa yang dia bisa, tidak akan meminta tolong selama dia mampu, meski seberat apapun itu.


"Aku bakal nunggu sampai kamu siap ngejelasin ke aku" Rosa membalas mengelus punggung tangan Rindu


"Berkas berkas S3 saya udah diterima di Havard, kemungkinan saya akan melanjutkan study saya"


Rindu meneguk air putih yang dia pegang sedari tadi. Dia menoleh menatap Rosa yang tidak bisa berkedip


"Lebih mengejutkan dari berita tadi kan" Rindu tersenyum


Rindu memang gila belajar, dia senang belajar bahkan Rosa kadang jenuh berteman dengan kutu buku seperti Rindu. Tapi Rosa tahu alasan kenapa Rindu selalu senang belajar, dia menganggap buku adalah orang yang bisa memahami dia tanpa dia minta, Rindu selalu merasa ramai saat dia belajar, dia merasa senang saat dia sudah menemukan angka angka diatas kertas. Dari dulu Rindu tidak memiliki teman, dia sulit bergaul dengan orang lain, saat tahu Rindu sudah menikah meski itu dijodohkan Rosa turut senang.


Keputusan Rindu untuk melanjutkan S3 nya di Havard memang terdengar salah, dia seperti melarikan diri dari masalah nya. Tapi untuk Rindu, dia hanya ingin menenangkan dirinya, membuat fikirannya lebih baik. Karena yang bisa menyembuhkan luka Rindu saat ini adalah Rindu sendiri. Dengan menyibukan dirinya, dia bisa melupakan bagaimana sakitnya saat dia hamil tanpa suami, bagaimana terlukanya melihat Baskara berpelukan bersama orang lain, bagaimana terlukanya dia kehilangan seorang benih anak.


"Good luck ya"


Rosa bangkit sambil mengenakan jas dokter


"Sebentar lagi ada pasien yang mau konsultasi sama aku"


Rindu mengangguk "perlu saya pergi atau___"


"Kamu disini aja, cuman sebentar" kata Rosa **** senyum


"Saya telfon Wirawan suruh kesini gimana?"


Rindu memberikan usulan kepada Rosa, tentu saja gadis itu langsung **** senyum lebar.


"Setuju"


Setelah mengirim pesan ke Wirawan, lelaki itu membalas dengan cepat. Dia meminta Rindu untuk keluar tanpa memberitahu Rosa.


Setelah pamit Rindu pergi keluar untuk menemui Wirawan. Lelaki itu berdiri sambil memasukan tangannya kedalam saku celana.


"Udaha lama?"


Rindu mengahampiri Wirawan


"Deg deg an nih"


Dia memagangi dadanya. Rindu menarik senyum saat melihat ekspresi lucu dari Wirawan


"Santai aja, masuk yuk"


Rindu berbalik tapi tangannya dicekal oleh Wirawan.


Lelaki itu mengeluarkan cincin yang mengkilap.


"Muat enggak?"


Dia mengusap rambutnya, telihat gusar meski tetap tampan mempesona.


"Muat, apa mau saya coba?"


"Boleh?" wirawan masih ragu, takut kalau Rindu tidak setuju



Rindu mengangguk sebagai tanda setuju, saat Wirawan menarik cincin dari kotak, suara Rosa menghentikan keduanya, bahkan buru buru Wirawan menyimpan kotak cincin di saku celana.

__ADS_1


"Sisil"


Panggilan itu juga membuat Rindu menoleh kebelakang. Baskara dan Sisil berdiri tegap di koridor rumah sakit. Tatapan Baskara tidak lepas dari keduanya.


__ADS_2