
Kado terindah di hari ulang tahun Baskara adalah saat dia bangun dan mendapati Rindu tersenyum sambil membawa benda kecil kepadanya.
"Apa?"
Rindu yang duduk di atas pangkuan Baskara menyerahkan sesuatu. Pipinya merah merona, dia tidak mampu berkata hanya bisa tersenyum.
Baskara menerima benda itu, dua garis merah yang mampu menarik senyumnya. Dia menatap Rindu berusaha mencari kepastian di sorot matanya.
"Serius?"
Rindu mengangguk, sungguh. Tidak ada kabar paling membahagiakan selain ini.
Baskara memeluk Rindu, dia mencium Rindu berulang ulang.
"Terimakasih sayang, terimakasih"
Baskara seperti tidak percaya dengan kabar ini, cepat sekali. Rindu dikabarkan hamil, kebahagian yang tidak pernah Baskara bayangkan.
Berita pagi tadi berefek banyak untuk Baskara, dia berjalan menuju kantor dengan mengembangkan senyum
"Selamat pagi" sapa nya pada karyawan yang melintas.
Tunggu, mereka seperti ditegur atau seperti diberi tanda kalau akan dipecat. Tidak kan, tapi ekspresi dan sapaan Baskara terasa ganjil untuk karyawanya. Lelaki itu tidak pernah mengucapkan sebuah sapaan atau tersenyum sebahagia itu.
"Selamat pagi pak Agro"
Agro yang berdiri didekat pintu sambil membawa tablet diam mematung.
Dia mengekori Baskara yang berjalan gembira.
"Bapak habis menang lotre?" tanya Agro sambil menyerahkan tablet.
"Lotre dari Tuhan" jawab Baskara tetap mengembangkan tawa.
Agro hanya menyodorkan beberapa map dan hasil meeting bersama client kemarin. Memberikan laporan rapat dan segera pamit undur diri dengan kerutan didahi.
Semua yang dia ucapkan, dibalas dengan anggukan dan senyuman dari wajah Baskara.
"Pak Baskata kayaknya kesambet deh"
Agro menutup pintu sambil menggelengkan kepala.
Tidak ada kerjaan, Baskara memilih pulang dan menemui Alan. Dia berjalan sambil melambaikan tangan kepada Agro juga karyawan yang melintas. Memacu mobil dengan pelan, dia hampir menabrak salah satu pengemudi yang melawan arus.
Tidak mengumpat, dia justru membuka kaca mobil sambil melambaikan tangan dan tersenyum
"Jalan hati hati, istrimu menunggu dirumah"
Dia menutup kaca mobil kembali dan memacu mobilnya. Selama perjalanan dia hanya bersiul.
Sampai di restoran Alan, dia langaung menyapa karyawan yang melintas.
"Haiii"
Baskara duduk sambil memaku tangan dan tersenyum kearah Alan.
Alan yang tahu itu mengernyitkan dahi, heran.
"Lo kesambet jin mana? Dateng dateng cengangas cengeges "
Alan melanjutkan memeriksa beberapa makanan yang di sajikan oleh koki.
Dia melirk Baskara yang memindahkan tangan di atas meja sambil menarik sudut bibir. Senyum yang tetap sama.
"Lo kenapa sih?"
Alan menatap Baskara lebih dalam. Sambil memberi tanda pada kokinya untuk pergi.
"Gue lagi seneng"
Baskara mengayunkan kakinya, mengetuk ketukan meja sambil tetap pada senyum pertama.
"Kenapa? Elo dapet arisan?"
__ADS_1
Baskara menggeleng sambil tetap tersenyum
"Lo menang undian?"
Baskara menggeleng lagi
"Rindu hamil he he"
Alan terpaku dengan mulut menganga. Dia tidak percaya, sungguh.
"Lo bakal jadi oom "
Baskara menyangga dagunya dengan kedua tangan. Sambil menatap ekspresi terkejut dari wajah Alan.
"Serius? Elo gak lagi bohongin gue kan?"
Baskara menggeleng dia tersenyum lagi. Senyum yang lebih hanya dari biasanya.
" selamat Bas, elo mau jadi bapak"
Alan langsung memeluk Baskara, pelukan itu diterima Baskara tanpa penolakan.
**
"Rinduuuuuuuuuu"
Suara Baskara menggema di seisi ruangan, gadis yang dipanggilnya keluar , gadis itu mengenakan kaos hitam panjang tipis.
Baskara menganga, sungguh, dia langsung lari menuju walk in closet, mencari kaosnya yang serupa dengan yang dikenakan Rindu.
Dia mengobrak abrik koleksi kaos limited edision nya.
"Rinduuuuuuuuu" teriakan Baskara membuat Rindu lari,
"Ada apa?"
"Itu punyaku"
Rindu mengangguk tanpa dosa.
Seiringan anggukan Rindu, tulang kaki Baskara terasa lemas.
Dia jatuh sambil meraung
"Itu koleksi baju tahun 1999, yang gue beli di Amerika"
Baskara memegang kaos yang dikenakan Rindu dengan gemetar.
"Gue sengaja gak makek baju itu buat gue jadiin koleksi"
Baskara terjatuh benar benar duduk untuk meratapi baju kesayangan yang dikenakan Rindu.
"Lo kenapa makek baju yang itu?"
Baskara mendongk sambil memutar balikan badan Rindu. Dia masih tidak menyangka, kaos yang selama ini sengaja dia simpan dibalik lemari berakhir di tubuh Rindu.
"Saya lepas kalau begitu"
Dengan wajah tidak enak Rindu mengangkat kaosnya hingga setengah. Baskara mencegah tangan Rindu untuk naik keatas.
"Udahlah, udah terjadi juga"
Dengan langkah lemas dia berjalan duduk diatas kasur.
"Udah pakek aja" wajahnya masih berekspresi kesedihan.
"Gak iklas?" tanya Rindu tidak enak.
Baskara menarik pinggang Rindu untuk mendekat, dia mendongak, mengelus perut rata Rindu.
Lalu tersenyum ,senyum yang tulus untuk Rindu.
"Abis ini bajunya jangan di cuci langsung di lipet dan digantung ditempat semula"
__ADS_1
Mendengar kalimat itu Rindu mencambikan bibirnya, dia melepas rengkuhan Baskara. Dia berjalan meninggalkan Baskara yang memanggilnya.
**
Matahari mengintip dari celah celah jendela. Tangan Baskara masih melekat setia di perut Rindu.
Wajah Baskara menggeliat dileher Rindu.
Perlahan karena terkena sinar matahari dia membuka mata, wajah Rindu yang kecil menyambutnya.
"Morning"
Suara serak Baskara lamat lamat terdengar.
Rindu membuka mata, menatap wajah Baskara setiap pagi seperti ini.
Baskara mengecup dahi Rindu lalu mengusap perut rata Rindu yang langsung memberi kesan geli.
"Jadi kan ketempat papa?"
Mereka akan mengunjungi rumah Arya, Lina dan Tio. Sudah lama tidak pergi kerumah mereka. Baskara mengangguk mengecup puncak kepala Rindu dan membenamkan ditekuknya.
Rindu bangkit begitu Baskara mengusap usapkan wajah di tekuk Rindu. Bukan tidak senang, tapi ini sudah terlalu siang untuk bermalas malasan diatas kasur.
Tiga puluh menit bersiap siap, meraka langsung menuju rumah Arya.
Dimana, lelaki tua itu tengah memandikan anak angkat Arya. Burung itu berkicauan saat disemprotkan air, membuat Arya terkekeh geli.
"Kamu harus rajin rajin mandi jangan seperti kakak mu Baskara, jorok sekali dia" kata Arya pada burung burungnya.
"Apa bawa bawa nama Baskara?"
Datang bukan salam Baskara justru berteriak kencang, sebuah kebiasan saat bersama Rindu ternyata juga dibawa pada Arya.
Arya mendongak menatap Rindu dan Baskara yang menenteng belanjaan.
"Eh kakak nya Deo sama Ranti dateng"
Arya bangkit menyalami Baskara dan Rindu. Meski dengan wajah cemberut Baskara tetap mencium tangan papanya.
"Deo sama Ranti siapa pa?"
Rindu sebenarnya berniat masuk tapi perkataan Arya membuat dia berhenti
"Itu anak angkat papa"
Dia menujuk kearah kandang dimana dua burung tengah bertengger dan berkicau.
Baskara melotot, meski pelototan dari matanya mendapat cubitan gemas dari Rindu.
"Gak boleh gitu"
Arya terkekeh melihat Baskata yang langsung kicep saat Rindu mulai berbicara.
Sejurus kepergian Rindu, Baskara meledakkan kemarahannya.
"Papa kalau mau ngangkat anak yang bener dong, masak burung jadi adek aku"
Kali ini Deo dan Ranti berhenti berkicau, justru Baskara yang berkicau dengan kemarahannya.
"Abis papa kesepian gak ada kamu"
Arya meletakkan kandang itu keatas, merapikan alat penyemprot dan makanan burung ketempat semula.
"Tumben dateng kesini?"
Baskara mengekori Arya dari belakang, sambil menirukan gaya Arya berjalan yang tegap dan penuh wibawa.
"Mau ngasih berita baru"
Baskara nyengir, dia menatap Arya yang menaikan alis.
"Sebentar lagi papa gak bakal kesepian, karena papa bakal punya cucu"
__ADS_1