
Alan masih mengelus pipi padahal sudah di beri es untuk mengompres pipinya.
"Sakit banget ya Lan?"
Pandu merasa bersalah melihat bekas merah ditangan Alan.
"Sakit lah bego, elo nampar pakek tenaga"
Alan masih marah, menempelkan balutan kain yang diberi es ke pipi.
"Gue kan suka reflekan orangnya" suara Pandu lirih, meski dia tidak benar benar menganggap Alan marah. Tapi dia merasa bersalah saja.
"Masih mending elo temen gue, kalo bukan udah gue ajak gelud lo"
Alan melirik tajam kearah Pandu, serba salah, Pandu mengalihkan arah pandang agar tidak bertemu dengan mata Alan.
"Gue kan udah minta maaf" sungut Pandu ikut kesal
"Emangnya dengan elo minta maaf pipi gue sembuh? "
"banyak bacot banget sih lo Lan" Baskara menimpuk dahi Alan dengan bantal.
Alan mendegus "gue ngerasa di bully disini"
Dia bangkit lalu beranjak pergi
"Mau kemana?" teriak Pandu
"Makan es cream"
Alan berjalan menggeser mesin pendingin khusus es cream. Dimana es cream yang dibeli Baskara belum juga habis.
Rindu yanng tengah memasak di dapur menoleh saat suara geseran dari mesin pendingin terdengar.
"Masak apa bu?" tanya Alan sambil membawa tiga buah es cream
"Pipi kamu belum sembuh?"
Rindu tidak menjawab pertanyaan Alan, justru memberinya pertanyaan lain. Alan memegang pipinya yang masih terasa panas.
"Udah mendingan"
Rindu berjalan menuju kotak P3K yang hanya berjarak dua meter dari mesin pendingin.
"Nih dikasih salep, biar cepet sembuh"
Rindu memberikan salep kepada Alan.
"Lo main belakang sama istri gue?"
Suara Baskara menggema di ruangan. Membuat Alan memutar mata malas sambil menerima salep.
__ADS_1
"Kira kira dong kalo nuduh"
Baskara nyengir, langsung merangkul bahu Rindu dengan posesif.
"Elo kesini mau ngajak maen game apa mau ngabisin es cream gue sih?" tanya Baskara saat melihat Pandu juga berjalan es cream
"Lagian beli es banyak banyak. Mau alih profesi pak?"
Pandu mencomot es cream, saat ingin melempar bungkusnya dilantai, pelototan dari Baskara membuatnya langsung kicep.
**
Matahari sedang terik teriknya menyinari Jakarta, hampir membuat rasa dahaga terus bermunculan saat keluar ruangan. Apalagi macet yang terus menyita waktu. Baskara kembali kekantor setelah tidak bekerja hampir dua minggu, alasan pertama karena berduka, alasan kedua karena malas.
Sepertinya tekuk Rindu dan pelukan dari gadis itu lebih nyaman ketimbang duduk di kursi putar penuh ac dengan berkas berkas yang tertumpuk.
Agro keluar dari pintu dengan sebuah amplop putih ditangan. Dia menarik sudut bibir ,lalu duduk didepan Baskara dengan tenang, tidak seperti biasanya.
"Pak untuk data investor Cina tolong email kan ke saya"
Baskara tidak menatap Agro saat kedatangan lelaki tua itu, sampai dia sudah duduk didepannya, dia masih sibuk dengan berkas berkas di tangan.
"Pak, ada yang mau saya bicarakan" suara Agro terdngar serius
"Silahkan"
Baskara masih sibuk membaca tiap inci kata dalam map, tangan nya bergerak untuk membumbui tanda tangan pada map itu. Dia manarik map selanjutnya dan melakukan hal yang sama berulang ulang.
Tidak, lelaki itu sulit untuk paham cara kerja Agro, dia justru menyelesaikan tumpukan map dan membuat Agro duduk menunggu selama sejam.
Baskara mendongak, menatap Agro yang masih duduk menunggu.
"Katanya ada yang mau dibicarakan, apa?"
Baskara bangkit merapikan jas nya untuk mengambil minum di mesin pendingin mini.
"Saya mau mengundurkan diri"
Sejenak, Baskara mematung oleh kalimat Agro, dia tidak bisa melangkah, tidak bisa membalikan badan, hanya mampu berdiri diam dengan gemetar.
"Kenapa?" adalah pertanyaan sulit setelah dia dicengkram oleh perkataan Agro.
"Saya sudah tua untuk menjadi sekretaris bapak"
Kalimat Agro penuh dengan kata kata halus, tidak sebercanda biasanya. Dengan gemetar Baskara duduk di kursi nya dan menatap wajah pak tua yang beruban
"Apa selama bapak bekerja dengan saya, ada yang menyulitkan bapak?"
Jujur untuk melepaskan Agro Baskara belum bisa, dia membutuhkan pak tua ini. Membutuhkan lelaki ini untuk memarahinya karena telat, memarahinya karena tidur di kantor.
Agro menggeleng dengan tegas, wajah keriput itu menyongsongkan binar kebahagian
__ADS_1
"Tidak ada yang menyulitkan saya selama saya bekerja dengan keluarga ARABA"
Kelimat itu kalimat yang tulus di tuturkan Agro.
"Apa gaji bapak terlalu sedikit? Atau ada perusahaan lain yang menawarkan pekerjaan dengan gaji tinggi?"
Agro menggeleng dengan tegas, pancaran matanya terlihat lelah, rambut putih serta wajah keriput dia paksakan tersenyum
"Saya sudah menyelesaikan perjanjian saya dengan pak Arya"
Kalimat itu membuat pacuan jantung Baskara berhenti, membuat pasokan oksigen disekitarnya terasa habis.
"Pak Arya pernah berjanji pada saya, saya boleh meninggalkan perusahan kalau pak Baskara sudah mampu mengendalikan perusahaan sendiri"
Baskara menelan salivanya, berusaha mencerna kalimat pak tua ini dengan baik.
"Selama saya bekerja bersama bapak, saya rasa bapak sudah semakin baik memimpin perusahaan. Banyak pencapaian yang sudah bapak peroleh" adalah kalimat yang lebih menyakitkan dibanding apapun
Agro menyerahkan ampop putih bertuliskan surat pengunduran diri darinya. Hati Baskara tercabik cabik, seolah kehilangan Arya. Apa Baskara akan kehilangan Agro juga? .
"Pak" Baskara ingin mencegah tapi binar kelelahan dari mata Agro membuatnya berhenti.
"Saatnya saya berhenti, silahkan bapak mencari pengganti skretaris yang lain" tutur nya
Baskara menghela nafas berat, tidak rela. Tidak mungkin dia semudah itu merelakan Agro pergi dari perusahaan, lelaki itu terlalu lama bekerja di sini, bukan, aku yakin bukan itu penyebab hati Baskara terluka. Melainkan dia sudah menganggap Agro sebagai ayahnya yang lain.
"Pak Arya pernah bercerita pada saya" kalimat Agro membuat Baskara mengerjapkan mata berkali kali.
"Dia bangga mempunyai anak seperti bapak, dia ingin bercerita banyak kepada bapak , tapi untuk memulai sebuah cerita dengan seorang remaja yang sama sama kaku seperti dirinya, sulit dilakukan pak Arya"
Agro bangkit menyalami Baskara. Dengan uluran lemas Baskara menerimanya.
Lelaki itu bangkit, memeluk Agro dengan hangat.
"Tolong jangan lupakan keluarga ARABA"
Bisik Baskara penuh ketulusan. Agro menepuk bahu Baskara.
"Jangan pernah meninggalkan Rindu dalam keadaan apapun. Dia adalah wanita baik untuk menemanimu"
Agro melepaskan pelukan mereka, menatap dengan hangat wajah Baskara seperti tengah menatap anaknya.
"Saya akan pergi ke Kalimantan, kunjungi saya kalau ada waktu"
Senyum itu mengembang, sejurus kemudian dia menunduk sopan dan berlalu pergi.
Aku tidak setuju untuk menulis bagian ini, jujur aku ikut meneteskan air mata karena aku juga mengenal Agro, tapi sepertinya sorot mata Baskara yang merintih membuat ku akhirnya mau menulisnya. Dia terlalu takut kehilangan lagi, dia sudah banyak kehilangan orang orang yang di sayangi.
Dengan lemas dia berjalan untuk duduk, mencerna kembali kalimat kalimat Agro barusan. Menelaah semuanya baik baik, kilatan kilatan memori bertebaran dihadpannya. Memancarkan memori tentang dirinya dan Agro, saat lelaki tua menyebalkan itu memarahinya dan menghukum seperti siswa sekolahan yang terlambat kesekolah.
Baskara akan kehilangan Agro lebih dari apapun, seperti dia kehilangan Arya dua minggu yang lalu
__ADS_1