BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)

BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)
Chapter 41


__ADS_3

"Kamu adalah kesalahan yang tidak pernah saya harapkan"


Setelah mengucapkan kalimat itu Rindu langsung pergi meninggalkan Baskara yang masih menangis sesegukan di lantai.


Kenapa selama ini dia tidak bisa mengerti Rindu? , kenapa sesakit ini saat tahu kalau gadis itu menganggap semuanya adalah kesalahan? . Kenapa bisa semenderita ini melihat Rindu menangis?.


Baskara duduk ditaman apartemen sambil menyeka air matanya, dia menatap jalanan yang sudah remang. Sambil bersandar pada sandaran kursi. Berulang ulang helaan nafas kasar keluar dari mulutnya.


Baskara ingin meninggalkan Sisil tapi kenapa dia selalu di selimuti ragu? , kenapa dia tidak bisa memilih antara salah satu?.


Rindu sedang mengandung anak nya, apa dia akan bersikap egois dengan mementingkan wanita lain ketimbang istrinya?.


Baskara akan mengakhiri semuanya, mengakhiri tentang Sisil, sebesar apapun rasa bersalah yang dimiliki Baskara untuk Sisil, tetap tidak membuat kesalahan yang semakin menggunung untuk Rindu menghilang.


Baskara langsung berjalan menuju mobil, disana dia menarik gas menuju rumah Sisil. Persetan dengan gadis itu akan depresi kembali. Yang jelas Baskara tidak ingin kehilangan Rindu.


Sampai disana Sisil sudah terlelap, ternyata suhu tubuhnya panas. Bibik sempat ingin menelfonnya tapi tahu kalau Baskara datang Bibik mengurungkan niatnya.


"Sejak kapan Sisil demam?" tanya Baskara sambil menaiki undakan tangga


"Baru saja, dia mengigau memanggil nama aden (Baskara)" tutur bibik dengan baskom berisi air hangat.


Baskara mendegus, dia tidak mungkin mengatakan masalah ini di kondisi Sisil yang sedang demam. Dia tidak mau menambah penderitaan anak ini.


Sambil menatap bibik yang sedang mengompres Sisil, dia memandang jendela. Ditekannya nomor Alan yang ada di kontak handpone.


"Halo. Ada apa lagi sat?" sapaan Alan terdengar tidak nyantai


"Gimana tentang bokap Sisil?"


"Gak ada informasi tentang bokapnya, dia gak ngelakuin perjalanan ke luar negri, juga gak makek kartu kredit, ponsel atau apapun infromasi gak ada yang digunakannya" tutur Alan


"Informasi terakhir dari perusahaan?" tanya Baskara sambil memijat pelipisnya.


Akhir akhir ini dia merasa pusing dengan kejadian kejadian yang selalu menyudutkan hatinya.


"Info terkahir yang gue dapet, bokap nya Sisil mengalihkan seluruh saham atas nama Silvi Margareta. Setelah itu dia gak dateng lagi ke perusahaan, menurut gue sih motif bokapnya Sisil ninggalin nyokapnya bukan karena harta"


"Lo udah nyari tahu siapa selingkuhan bokapnya?"


"Gue cuman ngerantas aplikasi chating bokap Sisil, dia sering komunikasi sama temen SMAnya" jelas Alan.


Oh ya. Kalau kalian bingung kenapa Baskara bisa meminta tolong Alan untuk mencari tahu tentang papanya Sisil, karena anak itu pintar di dunia alat komunikasi. Semacam hacker gitulah.


"Lo udah cari tahu siapa dia?"


"Niat gue nyari tahunya setelah skripsi bab pertama gue di acc sama pak Dodit"


Baskara menutup matanya sebentar lalu pandangannya terarah di lantai bawah.


"Bas" panggil Alan terdengar serius "urusan skripsi elo gimana?"

__ADS_1


Baskara tahu dia meninggalkan skripsinya hanya untuk mengurus Sisil. Entah bagaimana? apa dia mulai menyusun judul dan bimbingan dari sekarang atau dia menggunakan kuasa Arya seperti dulu?.


"Rindu hamil" suara Baskara melemah.


"Ha apa? Maksud lo apa?"


"Rindu hamil" ulang Baskara.


"Sumpah demi apa elo? Bohong gue sumpahin ***** elo jadi pendek"


"Gue beneran Lan"


"Congratss brooo, akhirnya elo mau jadi bapak juga"


Suara Alan keras sekali sampai Baskara harus menjauhkan handpone dari telinganya.


Baskara mematikan panggilannya saat suara Sisil terdengar mengeluh. Dia mendekati gadis itu, suhu badannya panas, tapi anak itu justru mengeluh kedinginan.


"Bas Dingin" keluh Sisil.


"Gue ambilin selimut ya"


Baskara mengambil selimut yang ada dilemari, selimut itu langsung di balutkan ditubuh Sisil.


Gadis itu menggenggam tangan Baskara kuat. Sampai laki laki itu tidak bisa melepaskan cekalan tangan Sisil.


**


Rindu terisak didalam kamar, dia benar benar tidak tahan drngan sikap Baskara. Tidak masalah seberapa manja anak itu, seberapa cerewetnya dia kepada Rindu, seberapa keras kepala dan jahil.


Kandungan Rindu masih muda, tapi suaminya semakin hari semakin beertingkah brengssk. Rindu selalu menangis setiap malam, apa Baskara tahu seberapa menderitanya dia?


Pagi ini pun Baskara tidak kembali kerumah, padahal dia tahu kalau Rindu tengah mengandung anak nya. Tapi kenapa laki laki itu tetap memilih bersama wanita lain? .


Rindu lelah, benar benar lelah. Dia memutuskan untuk menemui Baksara di rumah Sisil. Persetan dengan kondisi mental Sisil, yang terancam gila disini bukan Sisil tapi Rindu.


Setelah menemukan taksi Rindu langsung menuju kerumah Sisil. Cukup sepi tidak seperti terkahir kali Rindu mengunjungi rumahnya.


"Permisi pak, saya Deolinda Rindu Maheswari, dosennya Sisil. Bisa berkunjung didalam?" tanya Rindu pada satpam yang berdiri di pos.


Satapam itu tersenyum "silakah bu" dia membukakan gerbang lebar lebar. Rindu berjalan menyusuri latar rumah Sisil, cukup pantas disebuah mansion ketimbang rumah.


Didapan pintu yang terdengar hanya gelak tawa, Rinfu mengenali suara gelak tawa itu. Gelak tawa dari Baskara.


"Gak Rin, kamu jangan berburuk sangka dulu, kita belum lihat kalau Baskara benar benar ada disini" Rindu berusaha menguatkan dirinya


Rindu hendak mengetuk tapi seorang wanita bertubuh gumpal lebih dulu membukakan pintu, sepertinya dia akan pergi kepasar. Sambil tersenyum dan menilik penampilan Rindu dari atas sampai bawah, wanita itu mengulurkan tangan


"Saya bibik Giyah, non siapa?"


"Oh saya Rindu, dosen Sisil"

__ADS_1


Rindu menerima uluran tangan itu sambil membalas senyum


"Nyari non Sisil, silahkan masuk non, non Sisol ada didalam"


Setelah berbasa basi cukup lama bibik pamit pergi kepasar. Ragu ragu Rindu melangkahkan kaki menuju dalam rumah.


Pemandangan seperti apa yang terjadi disana. Luar biasa membuat jantung Rindu berhenti, luar biasa membuat hati Rindu retak.


Jangan kita sebut retak mari kita sebut hancur lebur. Tepat di atas sofa, Baskara menindihi tubuh Sisil. Jadi ini disebut apa? Pengobatan atau pemerkosaan?


Ah tidak ini bukan pemerkosaan tapi hubungan seks yang dilakukan secara suka sama suka.


Rindu menggenggam erat tangannya sampai kuku kuku jari berwarna putih. Dia benar benar ingin marah, tepat saat langkah nya berhenti Baskara mendongak menatap Rindu yang berdiri dengan mata basah.


"Rindu" Baskara langsung berdiri tegap.


"Rin, gue bisa jelasin sem__"


"Penjelasin seperti apa yang akan kamu berikan kesaya?"


Rindu memutar badannya meninggalkan rumah Sisil. Tentu langkahnya diikuti Baskara dari belakang, didepan pintu Baskara berhasil mencengkram tangannya.


"Gue gak ngelakuin kayak apa yang elo fikirin" Baskara berusaha menjelaskan


"Apa yang saya lihat sudah cukup menjadi bukti dari apa yang saya fikirkan"


Dia melepaskan cengkraman Baskara. Sambil berlari kencang dengan air mata yang sudah banjir.


Didepan gerbang pun satpam tampak terkejut, dia hanya memandang kepergian Rindu dengan penuh tanya.



Rindu tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis, cukup!  Rindu ingin pergi dari Baskara, Rindu ingin melepaskan anak itu.


Rindu benar benar menangis sampai tubuhnya terjatuh di atas trotoar jalan. Dia berusaha menyeka dan menghentikan tangisanya tapi tidak bisa.


Sampai sedan hitam berhenti disana, itu Wirawan. Lelaki itu selalu ada saat Rindu membutuhkan bahu untuk menangis.


Rindu langsung memeluk Wirawan begitu saja. Dia menimpahkan semua rasa sakit yang dirasakannya.


"Ada apa?" suara itu justru semakin membuat tangis Rindu pecah.


Wirawan mengelus punggung Rindu.


"Jangan menangis. Cukup bulan tidak keluar malam ini. Bintang jangan" hibur Wirawan.


"Saya ingin pergi, saya sudah gak kuat"


Wirawan menyeka air mata Rindu "kamu kuat, kamu wanita terkuat yang pernah aku kenal"


Selama Baskara tidak ada Wirawan yang selalu menemaninya, dia tahu bagaimana cerita hidup Rindu. Dari kehamilannya sampai sikap Baskara kepadanya.

__ADS_1


"Dia keterlaluan Wan"


Wirawan menyeka air mata Rindu "Baskara seharusnya ngeliat ini, ada wanita yang benar benar sayang kepadanya"


__ADS_2