
Cemburu itu bisa bermacam macam reaksi
Ada yang langsung menunjukan ada yang hanya memendam
āā
Didalam mobil Baskara tak henti hentinya menghela nafas khawatir. Setengah mengkhawatirkan keadaan Sisil setengah lagi pada Rindu. Dia takut kalau dia membawa Rindu ke rumah Sisil, dia akan terluka melihat keluarga Sisil yang sudah mengenalnya.
"Mama nya Sisil sakit apa?"
Rindu yang menyadari wajah khawatir Baskara memilih membuka suara
"Jantung" kata Baskara sambil matanya terfokus pada jalanan "papa Sisil minta cerai"
Rindu nengangguk paham sambil mulutnya membentuk bulatan "o". Perjalanan mereka di temani suasana macet kota Jakarta, sambil menunggu kemacetan, Baskara sesekali menggenggam kuat setir mobilnya, dia juga tidak segan segan memukul setir.
Rindu hanya mendegus melihat reaksi berlebihan Baskara, Sisil bukan kerabatan lagi di hidup Baskara kenapa reaksi yang diberikan Baskara justru berlebihan.
Kemacetan cukup memakan waktu lama sekitar setengah jam, sungguh ini kemcetan yang paling mendebarkan nenurut Baskara. Sampai di perkarangan rumah Sisil, kerabat kerabat sudah memenuhi teras depan. Maklum papa Sisil adalah seorang pembisnis yang cukup terkenal. Arya juga mengenalnya tapi tidak terlalu akrab.
Rindu hanya berjalan mengikuti Baskara dari belakang. Dia tidak kenal siapapun disini. Rindu dan Baskara melihat Sisil yang menangis didepan pintu. Dia begitu histeris melihat Lily sudah tidak ada.
Siapapun kalau tahu ibunya tidak ada akan merasakan hal yang sama. Seperti perasaan Baskara yang sebenarnya dia juga paham bagaimana rasanya menjadi Sisil. Baskara berniat menyapa Sisil tapi diluar dugaan, rekasi yang diberikan Sisil membuat semua orang terpaku termasuk Rindu.
Dia langsung berlari memeluk Baskara, itu pelukan kencang yang sengaja dia berikan. Dia menangis di dada Baskara, tidak ada hal menyakitkan menurut Rindu saat melihat Baskara bersama wanita lain.
Sisil masih menangis sesegukan, wajahnya basah oleh air mata, rambutnya acak acakan.
30 detik mereka masih berpelukan sambil Baskara mengusap bahu Sisil, sampai pada detik ke tiga puluh satu, suara sirence dari Ambulan langsung membuat Sisil ambruk.
Semua orang langsung berteriak khawatir tak termasuk Rindu.
"Sisil Sisil" Baskara menepuk pipi Sisil untuk membuat gadis itu terbangun.
Terlalu shock, Sisil justru tidak bangun sampai Baskara memilih membopong tubuh Sisil untuk dia bawa ke kamar
"Bik saya bawa Sisil kekamar, bibik panggil dokter"
Dengan gerakan secepat kilat Baskara langsung berjalan meeninggalkan Rindu yang hanya terpaku melihat suaminya menggendong wanita lain.
Rindu mendegus, mungkin dia harus memahami keadaan Sisil, gadis itu butuh motivasi dari Baskara.
Rindu memilih duduk pada barisan ibu ibu yang membacakan yasin.
Sampai jenazah di turunkan dari ambulance beberapa kerabat menyambut dengan isak tangis. Beberapa acara sudah dilaksanakan, dari memandikan jenzah sampai mengirim ke kuburan.
Baskara juga tidak terlihat keluar dari dalam rumah Sisil. Saat Rindu melihat seorang dokter masuk kedalam rumah, sebenarnya Rindu ingin membuntuti dokter itu agar bisa melihat apa yang dilakukan Baskara.
Cukup lama Rindu duduk menunggu Baskara sampai semua rombongan pelayat sudah kembali kerumah masing masing. Rindu menatap jam tangannya, sekarang sudah pukul 11 malam, sudah 3 jam Rindu duduk disini, lelaki itu tak kunjung datang.
Rindu menelfon pada handpone Baskara , sayangnya panggilan itu tidak diangkat. Rindu memilih kembali menunggu. Sebuah mobil sedan memasuki pekarangan, dari dalam mobil ada tiga orang laki laki yang juga sama khawatirnya meski tidak separah Baskara.
Laki laki itu sempat berhenti kala melihat Rindu, dia melempar senyum
__ADS_1
"Bu Rindu" sapa salah satu dari mereka "bu Rindu ngapain disini?"
"Nemein Baskara lah bego" sahut Pandu
Iya ketiga orang itu adalah Alan, Pandu dan Rama. Mereka tersenyum sebelum hendak berlalu
"Pandu" panggil Rindu pada Pandu. Lelaki itu menghentikan langkahnya dan menoleh
"Bilangin Baskara saya menunggu dia" kata Rindu
Pandu mengangguk dan berjalan memasuki rumah Sisil tanpa menoleh Rindu. Dikamar sudah banyak orang yang sama hal nya seperti mereka, gadis itu tak kunjung sadarkan diri.
"Gimana keadaannya Bas?" Tanya Pandu saat sudah berada di belakang Baskara
"Udah ada 3 jaman dia belum sadarkan diri"
"Udah panggil dokter?"
"Udah"
"Kita bawa ke rumah sakit aja, siapa tahu sampe sana dia bisa dapet penanganan" saran Rama.
Alan menekan nomor rumah sakit didekat rumah Sisil. Sebenarnya Sisil hanya terkena tekanan mental, perubahan keharmonis keluarga benar benar memukul batinnya, tidak salah jika gadis itu sampai tidak sadarkan diri cukup lama.
**
Sebanarnya apa yang ada di otak anak itu, sampai sampai dia tidak bisa melihat kehadiran Rindu yang berdiri menunggunya dengan setia sedari tadi. Mobil ambulance langsung keluar dari perkarangan rumah, dan Rindu, gadis itu tetap berdiri dengan bingung.
Alan, Pandu, dan Rama juga mengikuti mobil ambulace pakai mobil pribadi mereka. Apa Rindu memang tidak pernah terllihat di mata Baskara? Apa lebih berarti Sisil ketimbang Rindu?.
Rindu memilih memaklumi Baskara, mungkin dia merasa iba dengan keadaan Sisil. Kemakluman kemakluman itu yang sedari tadi terus dia ucapkan dalam hati untuk membuatnya tabah. Sampai dia memilih berdiri diujung trotoar sambil mencari taksi.
Pip
Suara klakson mobil dari arah depan membuat Rindu mendongak, dia menatap mobil sedan warna hitam yang menurunkan kaca mobil.
"Bu Rindu" sapa seseorang.
Lelaki itu adalah Nugraha Wirawan, orang yang selama ini berusaha Rindu hindari demi menjaga janjinya pada Baskara.
Rindu ******** senyum tipis, sambil menatap wajah Wirawan yang terlihat sudah lelah.
Dia keluar dari mobil masih menggunakan seragam dokternya, rambut yang selalu tertata rapi dan senyum yang selalu sama tanpa perubahan sama sekali.
"Nunggu siapa?"
Oh, nunggu siapa Rindu berdiri disini? Nunggu taksi atau Baskara? Karena sedari tadi banyak taksi berlalu lalang. Menunggu Baskara yang entah kapan dia akan kembali, besok, lusa atau dia tidak pernah kembali karena sudah menemukan wanitanya.
__ADS_1
"Taksi"
Ungkapan itu semacam dusta atau kejujuran, dusta karena separuh hatinya berharap Baskara akan pulang dan mencari dirinya. Jujur karena memang dia menunggu taksi.
"Mau saya antar?" Tawar Wirawan
"Gak usah Pak, saya bisa pulang naik taksi"
"Ayolah bu, ini udah jam setengah 12. Gak baik cewek pulang sendiri malam malam"
"Gak usah, gak papa, lagian saya asli orang jakarta"
"Asli orang jakarta, tapi gak pernah tinggal di jakarta"
Sekeras apapun Rindu menolak ajakan Wirawan sekeras itu juga Wirawan memaksa untuk mengantar Rindu.
Akhirnya dia berjalan masuk kedalam mobil tanpa komentar apapun. Wirawan membawanya ke apartemen yang jarak tempuh untuk Wirawan berbanding terbalik dengan arah rumahnya.
"Kamu dari mana?" Tanya Wirawan sambil membelokkan setir mobil
"Melayat di rumah Sisil"
Rindu menyandarkan kepalanya di kaca mobil
"Oh aku juga denger kabar itu" Wirawan menjeda kalimatnya "tapi aku gak bisa kesana karna ada jadwal operasi dirumah sakit"
Rindu mengangguk sambil mulutnya membulat membentuk "o"
"Kamu pindah fakultas?"
"Iya"
"Aku kira kamu sengaja jauhin aku"
Rindu tersedak air liurnya sendiri, astaga Wirawan kok bisa ngomong gitu sih. Padahal memang kenyataan nya sepeti itu, Rindu jadi gak enak kan.
Rindu senyum kikuk, untungnya mereka sampai di depan lobi apartemen, tanpa basa basi Rindu langsung keluar setelah mengucapkan terima kasih. Dia buru buru masuk kedalam apartemen.
**
Pukul 3 pagi Baskara tak kunjung pulang padahal Rindu sudah menelfon dan mengirimnya pesan. Sampai berkali kali, lelaki itu justru tak kunjung pulang.
Ini sudah pagi, bahkan Rindu tidak menyempatkan untuk tidur. Dia masih setia mondar mandir sambil menatap kearah pintu.
Rindu duduk di sofa sambil menyandarkan kepalanya, dia menatap reaksi kekhawatiran yang diberikan Baskara pada Sisil. Apa lelaki itu masih mencintai Sisil?
Pernikahanan mereka sudah satu tahun lebih tapi sepertinya satu tahun itu belum cukup menggantikan dua tahun masa pacaran mereka. Padahal beberapa bulan ini sikap Baskara sedikit melembut padanya, dia seolah menunjukan rasa sukanya pada Rindu.
Tapi kenapa? Tapi kenapa sewaktu dia bertemu Sisil rasa itu kepada Rindu justru hilang, dia tidak melihat kehadiran Rindu. Dia hanya melihat kehadiran Sisil dimatanya.
Baru beberapa jam yang lalu, Baskara memeluknya, menciumnya dan berulang ulang mengatakan dia mencintai Rindu. Setelahnya dia mematahkan hati Rindu menjadi kepingan kepingan.
__ADS_1