
Yang datang aku sambut
Yang pergi aku persilahkan lanjut
☘☘
Kalau difikir fikir tinggal di apartemen semewah ini tidak menjadi masalah, Rindu hanya perlu mengonfirmasi pada pihak pengurus beasiswa serta pihak kampus kalau dia akan tinggal di apartemen.
Masalah Baskara yang berniat melanjutkan study nya di Havard, sebenarnya juga diragukan oleh Rindu, tapi siapa tahu dengan kemauan untuk dimaafkan oleh Rindu Baskara jadi giat belajar.
Pagi sekali, Rindu sudah membangunkan Baskara yang tertidur di sofa setelah semalam fia menolak disentuh Baskara, Rindu masih memiliki trauma untuk berhubungan intim apalagi semalam tiba tiba Baskara menindihi tubuhnya.
Baskara masih menggeliat dengan celana bokser serta dada yang terekspos. Wajahnya masih acak acakan sejak kedatangan ke Ameria dia belum mandi sama sekali.
"Bas, Bas" Rindu menggoncang tubuh Baskara. Lelaki itu hanya menggerang, lalu membalikan tubuhnya diposisi yang lain.
"Bangun"
Lelaki itu masih tetap pulas dengan kaki yang menggantung diujung sofa. Tubuh jangkung itu tidak akan cukup untuk ukuran sofa sekecil ini
"Baskara saya tinggal pergi nih"
Ucapan Rindu membuat laki laki itu menegakkan tubuh, dia mengucek mata lalu merentangkan tangan sambil menguap lebar. Rindu sudah tidak heran dengan kelakuan Baskara yang menjadi santapan pagi. Sambil mata tertutup Baskara bangkit menuju depan kulkas, tentu yang dilakukan anak yang memiliki IQ seperti anak TK akan mencari makanan di depan kukas jika baru bangun.
Padahal makanan tidak ada disini, apartemen yang baru dia tinggali setelah ditinggal 5 tahun lebih. Tangan Baskara meraba isi kulkas, tidak ada apapun disana.
Dengan malas dia membuka mata
"Rindu ini kok gak ada apa apa dikulkas?"
Sebenarnya anak ini udah sadar gak sih, kenapa masih menyebalkan sejak perkelahian mereka berdua.
Rindu mendegus sambil tetap duduk di sofa. Dia tidak akan melakukan hal yang bodoh seperti dulu, selalu menuruti kemauan anak itu. Mulai sekarang jika sudah berlebihan Rindu akan menolak kemauannya, biarkan Baskara sedikit belajar dari kesalahan kemarin.
Baskara menoleh menatap Rindu yang masih bersidekap tanpa bergerak sediikit pun. Dia menilik sekitar, kesadarannya segera terkumpul, dia lupa kalau kemarin Baskara menemui Rindu di Amerika.
Dengan malas dia kembali duduk di sofa, sebenarnya dia ingin merengek, kan Rindu sudah tidak semarah kemarin. Tapi melihat ekspresi flat Rindu yang menakutkan Baskara mengurungkan niatnya.
"Mau belajar atau mau makan?" suara Rindu akhirnya terdengar , membuat Baskara langsung menoleh.
"Makan"
Jawaban itu cepat seolah tidak lagi difikirkan, memang, Baskara harus makan setelah bangun tidur. Dia tidak mau tahu pokoknya dia harus makan sebelum memulai aktifitasnya.
Rindu melirik jam dipergelangan tangan "jam 10 saya harus ke kampus untuk mengurus semester awal"
Baskara mengangguk sambil mencari kemeja atau kaos yang semalam dia lempar begitu saja.
"Kamu tidak membawa baju selain itu?"
Rindu yang tahu pergerakan mata Baskara langsung mengambil kesimpulan kalau lelaki itu tengah mencari pakaiannya semalam.
"Mana sempet, gue langsung nyusulin elo tanpa pikir panjang"
Baskara meletakkan kepalanya diatas sandaran sofa , karena malas mencari pakaian yang entah kemana.
"Dilemari kan masih banyak baju kamu"
Basakara menoleh sambil mengingat pakaian apa yang dimaksud Rindu. Oh pakaian saat dia tinggal di Amerika.
"Udah gak muat"
"Kamu gak banyak berubah, tubuhmu juga masih kurus"
"Gue emang enggak gendut tapi gue nambah tinggi"
"Saya belikan kamu pakaian dulu"
__ADS_1
Rindu berjalan keluar apartemen saat tangannya berada di knop pintu, Baskara langsung mencegahnya
"Emangnya elo punya duit?"
Rindu memperlihatkan handpone Pandu yang kemarin di bawa Baskara.
"Saya bisa bayar pakai ini"
Baskara hanya menatap sekilas lalu pandangannya kembali kedepan televisi.
**
Baskara dan Rindu duduk di perpustakaan besar Havard. Perpustakaan ini perpustakaan paling besar di dunia, bahkan memiliki banyak lorong yang sulit dihafalkan. Mahasiswa Havard sering mengaku kalau mereka selalu lupa lorong perpustakaan. Rindu dan Baskara duduk di kursi depan, tidak terlalu jauh dari pintu supaya kalau mereka ingin keluar bisa dengan mudah. Dimejanya sudah ada 5 tumpukan buku yang tebal.
Baskara harus menghafal dan belajar untuk Tes masuk S2 di Havard. Cukup sulit bagi orang seperti Baskara.
"Rin, lo yakin gue harus belajar segini banyak nya?"
Baskara memelankan suara, dengan mencondongkan tubuh kedekat Rindu dia mengusel usel rambut istrinya.
"Kemungkinan besar semua yang saya pilihkan ini akan keluar di ujian"
Rindu tidak mengalihkan pandangannya pada buku yang akan digunakan belajar Baskara, dia memberi tanda yang mana harus di pelajari Baskara.
"Berapa kemungkinan gue bisa lulus?"
Dia memilin rambut Rindu tanpa berminat untuk membaca bukunya.
Rindu menoleh sambil mengernyitkan dahi "0,001%"
What? Baskara tentu melotot, Rindu selalu berfikir dirinya bodoh. Tapi memang iya sih. Dia menggebrak meja, membuat semua mata langsung terfokus ke arah Baskara
"Duduk, ini perpustakaan"
Rindu memelan kan suaranya sambil menarik tangan Baskara.
"Elo sih pakek mancing emosi gue segala"
Dia kembali duduk dengan menyembunyikan wajahnya di lengan Rindu.
"Ini, kita mulai belajar yang ini"
Baskara menarik buku dengan malas, didunia ini hal yang dibenci Baskara adalah, mati lampu dan buku, oh ada lagi yaitu ujian.
"Kalau harapan gue cuman 0,001% mendingan gue gak usah belajar, percuma!!"
Meski begitu dia menatap barisan angka di dalam buku. Melihatnya saja sudah membuat Baskara ingin merobek buku itu menjadi beberapa lebaran.
"Yah lakukan saja, mungkin saya tidak akan memaafkan kamu"
Rindu menggretak Baskara dengan kesalahan dimasalalu. Tentu saja itu mengundang kemarahan Baskara.
"Gak bisa gitu dong, kok main ngancem"
"Pilih ikut ujian atau gak saya maafkan seumur hidup"
Yee si Rindu bisa aja ngancamnya. Dengan malas Baskara membaca buku yang didepannya.
Menemukan kata yang sulit dipahami, Baskara langsung menarik baju Rindu pelan.
"Bagian ini gue gak ngerti"
Rindu menatap soal yang dikerjakan Baskara. Sambil mengamati contoh dan membandingkan dengan soal, Rindu menarik buku binder biru miliknya.
Dia mencoret beberapa baris angka sambil menjelaskan dengan telaten. Meski begitu tetap tidak menghentikan Baskara untuk menguap.
"Paham?"
__ADS_1
Baskatra hanya mengangguk meski dia tidak terlalu mengerti dengan penjelasan Rindu.
Dia mengerjakan kembali soal soal itu. Sampai matanya terasa berat, dia menguap sekali lagi.
Istirahat bentar gak masalah kan, toh juga waktu masuk Havard masih 1 bulan. Baskara meletakkan kepalanya sambil menatap wajah serius Rindu saat mengerjakan soal.
Matanya semakin berat, dia mulai terpenjam dengan berbantal kan buku.
Pukul 9.30 Rindu menutup bukunya, ada yang harus dia urus untuk perkuliahan disemester awal. Rindu menoleh, mendapati Baskara tertidur lelap dengan posisi ini membuat hatinya bergetar. Rindu mengelus wajah Baskara, lelaki itu tetap terlelap dalam tidur. Cukup lama wajah itu dipandangi, menatap dengan jarak lebih dekat, dengan perasaan lebih hangat.
Sadar akan waktu yang semakin berlalu Rindu meninggalkan sebuah pesan di dahi Baskara.
"Saya harus mengurus persiapan semester awal"
Pesan itu ditulis dengan rapi juga dibumbui emoticon tersenyum di akhir kata
Dia meninggalkan Baskara tanpa membangunkan lelaki itu. Biarkan dia tertidur diposisunya, toh penduduk Amerika selalu bersikap masa bodo dengan orang yang tidak dia kenal.
Rindu berjalan tanpa menoleh lagi pada Baskara, dia terlalu terburu buru menuju gedung Bussines Scholl yang jaraknya lumayan jauh.
Selesai mengkonfirmasi bahwa dia tidak akan tinggal diasrama, Rindu duduk di taman Bussines School. Disana ada 2 sisi taman. Di depan dan disamping gedung.
Rindu duduk di samping gedung dengan rumput rumput yang bewarna hijau tapi tertutup salju, rumput yang tertata rapi. Sekilas kalau melihat kebagian dekat dengan pohon ada sebuah patung yang hanya memperlihatkan bagian kepala tanpa lengan hingga ke dada. Patung itu didesain sangat unik dengan warna biru dan hijau yang berpadu. Kalau sedang tidak musim salju pemandangan itu akan terlihat indah, sayangnya warna putih lebih mendominasi saat ini.
Rindu mengusap telapak tangan saat dia merasa dingin mulai menusuk kedalam mantel. Rindu ingin bangkit tapi kehadiran James membuatnya duduk kembali. James membawa dua tumpuk buku, dia menyodorkan sebuah cofe hangat yang mulai mendingin
"who stays in the park in winter like this?"
Ucapan James membuat Rindu tersipu. Benar juga, aneh memang saat musim dingin seperti ini dia malah duduk ditaman sambil emenganati salju yang berjatuhan.
Tapi bukan itu yang membuat Rindu bertahan menatap pemandangan putih didepannya. Lebih karena dia merasa tempat ini tempat terdamai untuknya, dia menyukai kesunyian, karena menurutnya tidak perlu bercengkrama dengan orang baru.
Rindu menarik sudut bibir, sambil bangkit dan memasukan tangan kedalam saku mantel, Rindu mulai menatap James yang sudah berjalan beriringan.
"the class will start next week, I have finished all the requirements for the new class. please help for tomorrow's class"
James mengangguk "yes"
Suara itu terdengar lebih berat dibandingkan Baskara.
James perawakan bule asli dengan bibir tebal dan rahang tegas. Mata Hanzel yang kalau menatap Rindu selalu lekat, James juga melajutkan study yang sama dengan Rindu, dia yang lulusan S2 Havard memamg patut jika disebut senior.
Mereka berpisah saat setelah melihat lab untuk semester depan. Rindu melangkah sambil tidak henti hentinya mengigil, sungguh, dingin sekali hari ini
Di bibir jalan dekat Havard, mata Rindu langsung memicing tidak suka saat Baskara bercakap dengan seorang bule. Bibir itu merengkuh senyum sempurna, dasar, sudah Sisil sekarang siapa lagi?
Mata Baskara langsung bertemu dengan tatapan Rindu, dia melambaikan tangan lebih riang ketimbang saat bercakap dengan bule itu.
Rindu melangkah sedikit lemas, selain karena dingin dia tidak ingin menatap Baskara dengan wanita lain.
"She is my wife"
Baskara mengenalkan Rindu dengan rengkuhan posesif disekitar pinggang. Rindu menerima tanpa banyak protes.
"Oh Hey, my name is Octavia"
Wanita itu mengulurkan tangan. Wajah putih bule dengan rambut pirang, mata hanzel dan lebih tinggi, tentu dibandingkan Rindu. Tingginya hampir sama dengan Baskara.
Rindu menerima dengan menarik senyum paksa.
"Rindu"
"I'm happy to be able to meet the wife of my ex-lover"
Apa, Rindu langsung menoleh kearah Baskara yang justru mengidikkan bahu.
Wanita itu langsung permisi pergi, sebelum pergi dia mencium pipi Baskara tanpa tahu malu. Dia tidak menatap bagaimana reaksi Rindu saat ini.
__ADS_1
Sejurus kepergian Octavia, Rindu menepis lengkuhan tangan Baskara dari pinggangnya. Dia berjalan cepat meninggalkan Baskara yang berteriak memanggil.