
Baskara berendam dalam air panas shower, bahkan pagi ini dia malas pergi kekantor. Hanya akan dimarah marah oleh orang yang ngakunya atasan padahal dapat gaji dari Baskara.
Sampai jam setengah delapan Baskara enggan beranjak. Ditemani lagu lagu mellow dari EXO dia memejamkan matanya. Kesenangannya tidak bertahan lama karena dari luar Rindu sudah mengetuk pintu berulang ulang.
"Hiiss" decih Baskara.
"Apa?" teriak Baskara sembari mematikan musicnya.
"Kamu gak magang?"
"Males"
Baskara kembali berendam sembari menenangkan fikirannya, kebiasaann lain dari Baskara adalah lelaki itu tidak pernah mengunci kamar mandi saat mandi.
Klekk
Rindu tersentak saat pintu itu berhasil dia buka dalam satu hentakan. Matanya menatap Baskara yang terpejam didalam bak mandi.
"Kamu kebiasaan, gak pernah ngunci pintu" ujar Rindu sambil mengambil pasta gigi. Dia mulai menjelajahi rongga rongga giginya. Sembari menatap Baskara dari pantulan kaca dia berhenti menggosok giginya.
Rindu mengambil air dalam gelas untuk mulai berkumur. Dia berbalik sambil menatap wajah aneh Baskara.
"Kamu ada masalah?" tanyanya
"Masalah gue selalu banyak karena gue hidup sama orang yang buat masalah kayak elo" dia berkata dengan nada keras tapi kedua matanya tertutup.
"Masalah apa yang saya buat sampai kamu gak mau pergi magang?"
"Lo nempatin gue dibagian karyawan bukannya dibagian CEO" rengek Baskara.
Ya ampun pembahasannya masih sama, kenapa dia di tempatnya dibagian terberat perusahaan milik Arya. Memang nya ada seorang mahasiswa PKL magang di perusahaan bagian CEO?
"Baskara" Rindu memanggil dengan suara rendah
"Iya, gue harus tau yang namanya proses kan?"
Baskara membuka matanya,dia sedikit menegakkan badan sehingga memperlihatkan dada bidangnya. Meski itu pemandangan setiap hari untuk Rindu tapi tetap saja melihat dada bidang itu Rindu selalu berdetak cepat.
"Gue capek Rin, disuruh suruh, dibentak bentak" keluhnya "emangnya proses harus sesusah ini ya?"
"Baskara yang namanya proses itu gak seenak hasil, jadi coba deh jangan berfikir dari apa yang kamu lihat. Coba rasakan apa yang mereka jalani"
"Gimana gue mau ngerasain apa yang mereka jalani, ngeliat tumpukan dokumen aja gue udah eneg"
Keluhnya sembari berdiri dengan telanjang. Perlu digaris bawahi Baskara berdiri untuk mengambil handuk dengan telanjang.
"Aaa" Rindu menutup matanya dengan jari lalu buru buru berlari sampai tak sengaja dia terpentok pintu.
"Aww" ringisnya, dia mengelus dahinya sekilas lalu berjalan keluar kamar mandi dan menutupnya.
"Dasar gila, bisa bisa nya dia telanjang kayak gitu"
Rindu bersemu merah, hawa panas seketika hadir di sekitarnya. Dengan gerakan tersenyum Rindu mengibaskan jari jari tangan untuk mencari udara.
__ADS_1
Malas memikirkan Baskara yang semakin aneh Rindu berjalan untuk membuka balkon. Udara dingin langsung menyambut dari balkon. Hari ini jadwal Rindu berbelanja karena setiap kamis dia libur kekampus, dia juga tidak akan mengajak Baskara, toh lelaki itu akan mengacau belanja nya.
Baskara keluar dengan rambut masih basah, dia menyisir rambutnya dan duduk disofa. Melihat Baskara seputih dan semanly itu Rindu ******** senyum.
"Beruntung saya dapetin kamu meski kamu seperti anak kecil"
"Rinduuuuu" panggil Baskara kencang.
Heran deh, Baskara kalau jadi cewek paling jadi orang paling cerewet sedunia. Padahal dia tahu Rindu ada di ambang balkon, manggilnya tetep kencang.
"Gue auss"
Tu kan, kurang disebut anak anak gimana lagi, selama ini dia selalu minta Rindu mengambilkan air minum. Padahal dia bisa ambil sendiri, tapi yang lebih aneh kenapa Rindu sesabar itu menghadapi anak ini.
Rindu menuang air putih di gelas, pergerakan itu terhenti saat tangan kekar memeluk pinggangnya.
"Rinduuu jalan yuk, bosen di rumah" rengeknya sembari meletakkan wajah di tekuk Rindu. Kebiasaan Baskara lainnya yang selalu membut Rindu bergetar.
"Temeni maen ps"
Jadi yang bener yang mana, jalan keluar rumah atau maen ps didalam rumah? Rindu memutar badannya sehingga tubuh Baskara dan dia berjarak beberapa senti.
"Yang bener yang mana? Jalan jalan atau maen ps?"
"Dua duanya "
"Gak boleh"
Duh punya suami kok gini banget sih, manjanya gak ketulungan. Mana suka ngerengek, Baskara menjatuhkan wajah ditekuk Rindu.
"Elus rambut gue" pintanya
Ya ampun, emangnya harus banget ya pagi pagi buat Rindu kesal, ngapain coba harus di elus elus?
"Kerjaan saya banyak"
"Gak mau tau, elus gue"
Rindu mendegus, berdebat dengan Baskara memang selalu kalah. Dia harus benar benar sabar, perasaan Rindu anak seusia Baskara itu selalu bisa bersikap dewasa, la ini malah kayak bayi besar yang lagi belajar berjalan.
"Kamu kenapa sih manja sekali?" tanya Dindu sambil tangannya mengelus rambut Baskara
"Karna gue gak pernah punya orang yang manjaain gue" Baskara memperdalam wajahnya ditekuk Rindu.
"Ibu gue gak ada saat umur gue masih kecil papa gue sibuk kerja. Gue anak satu satunya dikeluarga, gue gak punya orang yang bisa memperlakukan gue kayak gini"
Baskara mendongak, lalu menangkup wajah Rindu dengan senyum mengembang
"Tapi sekarang gue beruntung, gue gak kesepian lagi. Ada elo yang selalu bisa ngebuat gue jadi diri sendiri" kata dia tulus.
Rindu ikut nenarik sudut bibirnya sejurus kemudian dia meninju perut Baskara "tapi jangan terlalu sering manja, saya juga lelah ngadepin sikap kamu"
__ADS_1
Rindu berbalik untuk memotong wortel yang sudah dia siapkan tadi.
Sedangkan Baskara, yah selain mengganggu memangnya dia bisa berbuat apa lagi. Dengan pelukan kuat Baskara melilitkan tangannya di pinggang Rindu.
"Saya mau masak" kata Rindu sambil melepas pelukan Baskara.
Bukannya terlepas justru pelukan itu semakin kuat.
"Gue sayang sama elo"
"Iya saya tahu tapi saya mau masak"
"Gue sayanggggg sama Rinduuuu" teriak Baskara kencang, kencang sekali
Rindu berbalik dan memukul keras lengan Baskara.
"Rindu kasar banget sih, sakit tau" baskara mengusap lengannya.
"Jangan teriak teriak, ini apartemen" tujuk Rindu tajam
"Siapa yang bilang ini hutan" bentak Baskata sembari menjulurkan lidahnya.
Dia kembali duduk disofa sambil memaikan stik psnya.
"Eh Rindu, lusa gue sama papa mau ke Paris"
Baskara masih menatap dengan fokus permainannya. Sedangkan Rindu, dia menghentikan potongan wortel.
"Berapa hari?"
"Sekitar seminggu" Baskara memencet ps nya "yeesss" teriak Baskara girang saat dia berhasil memenangkan permainannya.
Merasa dia tidak mendengar suara Rindu memotong sayur Baskara menoleh menatap wajah Rindu yang suram, air matanya sudah lolos, pandabgannya masih terarah ke Baskara.
"Lo kenapa?" Baskara bangkit sambil mengambil tisu dimeja.
"Lo sakit" tanya nya mengusap pipi Rindu.
Rindu langsung memeluk Baskara dengan erat.
"Kenapa mendadak?" tanya Rindu
"Papa ngajaknya udah lama sih tapi gue lupa ngomongnya" Baskara mengusap punggung Rindu "gue cuman seminggu kok abis itu balik lagi kesini"
"Tapi mendadak sekali"
"Maaf ya" Baskara menjauhkan tubuhnya dari Rindu "gue cuman mau ngecek cabang perusahaan papa yang ada di Paris, abis itu gue balik lagi"
Baskara tersenyum yang berhasil menarik sudut bibir Rindu. Dengan gemas Baskara mencubit pipi istrinya
"Uuuhhh segitu gak mau pisahnya sama gue" goda Baskara.
Rindu kenbali memeluk Baskara, entah kenapa Rndu hanya tidak mau pisah dengan Baskara. Apapun yang terjadi, dia sangat menyayangi Baskara.
Sungguh, sampai dia bisa meneteskan air matanya saat mendengar Baskara akan pergi dalam waktu seminggu.
__ADS_1