
Aku merindukan dia
Sampai aku kesulitan bernafas
☘☘
4 tahun bukan sebuah waktu sebentar. Dihabiskan dengan banyak perubahan dalam hidup Baskara. Mengisi hari hari dengan hal yang lebih positif. Dia mengurangi komunikasi dengan Rindu, selama itu Baskara berambisi untuk merubah dirinya.
Sudah banyak perubahan yang dia dapatkan, saat ini dia menduduki jabatan CEO di perusahaan. Arya sudah pensiun sejak tiga tahun yang lalu. Sedangkan Agro masih tetap cerewet dan lupa mengucapkan siang dan pagi.
"Selama siang pak"
Agro menunduk hormat sambil nyengir kuda.
"Pak ini pagi" koreksi Baskara.
"He he abisnya saya udah pengen pulang"
Agro selalu bisa membuat tawa setiap harinya. Sambil melangkah duduk di kursi, dia membuka laptop dan mulai bekerja.
"Gimana kerja sama dengan perusahan di Vietnam?"
Agro menyerahkan tablet khusus memantau perusahan. Tablet itu langusng di gulir Baskara dengan membaca kata demi kata.
"Jadi saya akan terbang ke Vietnam minggu depan"
Baskara kembali memusatkan fokusnya pada layar, saat seperti itu Agro langsung pergi untuk menyelesaikan pekerjaanya. Baskara sudah percaya penuh pada Agro, selain Agro orang yang sudah lama bekerja dia juga bisa di andalkan.
Perusahhaan berkembang sangat pesat selama di kerjakan Baskara. Sudah banyak melakukan kerja sama dengan perusahaan luar negri, belum lagi banyak saham saham di perusahaan lain yang dimiliki Baskara.
Satu point penting perusahaan sudah berkontibusi dalam kegiatan kenegaraan, bahkan banyak mensponsori kegiatan kegiatan pendidikan, olympiade, bahkan Asian Games. Untuk mencapai itu ada harga yang harus dibayar, mengorbakan waktu berkomunikasi dengan Rindu contohnya.
Baskara beruntung memiliki istri yang bisa memahaminya, meski seminggu sekali berkomunkasi, Rindu tidak mempermasalahkan itu semua. Setiap hari harus di siksa kerinduan, Baskara selalu bisa mengalihkan dengan fokus pada perusahaan. Meski kadang dia harus duduk di pojokan kantor sambil memeluk foto Rindu. Tidak masalah jika harus disiksa seperti itu asal setelahnya mereka bisa bahagia tanpa ada derita lagi.
Baskara masih menatap tulisan tulisan di layar tanpa mengalihkan arah pandang sedikitpun, ketika handpone bergetat fokusnya langsung buyar seketika. Di layar tertera nama Alan, sekali gerakan panggilan itu langsung terhubung
"Bas, ini kita beli kue juga gak?" suara riuh di seberang hampir membuat suara Alan tidak terdengar
"Terserah elo yang penting semuanya beres" tukas Baskara enteng
"Gue pesen makanan di restoran gue ya?"
"Terserah elo Lan"
"Lo mau ngasih hadiah gak?" ulang Alan dengan berteriak kencang
"Gak usah, gue udah nyiapin hadiahnya"
"Oke"
Panggilan terputus begitu saja. Usai menyelesaikan pekerjaan, Baskara berdiri sambil merapikan jas, dia berjalan menuju ruangan Agro.
Lelaki itu sedang asyik meminum teh sambil membaca koran di kursi kerja
"Wahhh sekretaris ini berleha leha melebihi CEO ya?"
Mendengar suara Baskara, Agro langsung melipat koran dan membenarkan letak duduknya. Dia tertawa renyah
"Belum ada surat masuk yang perlu saya kerjakan"
"Ha ha ha"
Baskara bukan tipe pemimpin yang kejam, selalu menuntut karyawannya untuk bekerja terlalu keras. Dia tidak mempermasalahkan karyawan berleha leha, hanya saja setiap laporan harus berada ditangannya dua hari sebelum deadline
"Aku mau pulang pak, nanti berkas berkas yang mau aku tanda tangani letakkan saja dimeja"
Baskara berlalu sambil melambaikan tangan.
Pandangan karyawan tidap pernah terlepas dari dia, sesekali ada yang memanggil namanya sambil tersenyum genit. Itu sudah hal biasa menurutnya, bahkan saat dia S2 pun banyak mahasiswa yang menyatakan cinta secara terang terangan.
Mobilnya membelah lalu lintas dengan elok, menuju kawasan elit, dia memutar lagu call out my name. Suara itu melantun dengan indah memenuhi mobil Baskara. Sesampai dirumah, Alan, Pandu dan Rama terlihat sedang beres beres.
Dia langsung turun dan berjalan dengan santai. Melihat rumah yang sudah didekor dengan banyak makanan membuatnya terpuaskan.
"Eh Lan. Itu balonnya gak ketunggian?"
Datang datang mengomentari, Baskara berdiri didekat Alan sambil memintanya menurunkan balon balon.
"Awas Ndu, cat rumah gue mahal" katanya berlalu pergi untuk mengganti pakaian.
Mengurus dekor, makan, dan semuanya, dilakukan mereka berempat hingga selesai. Maksudnya dilakukan sambil memerintah karyawan Alan.
__ADS_1
Alan membuka bisnis restoran dan dekor di Jakarta, sedangkan tugas Rama dia hanya membantu menyebarkan undangan, Pandu tidak banyak membantu karena akhir akhir ini dia harus mulai magang di kantor jaksa.
Baskara menghela nafas setelah dekor nya selesai. Merasa terpuaskan dia langsung bertepuk tangan dengan meriah.
"Gue gak sia sia nyuruh kalian"
Baskara menghempaskan diri di sofa sambil memejamkan mata. Rasa kantuk justru menjalar di tubuhnya.
"Bangunin gue jam 3 "
Setelah mengatakan itu ,dia tertidur pulas diatas sofa.
**
Berulang ulang kaki Alan menendang perut Baskara supaya anak itu bangun dan mengangkat telfon yang terus berdering diatas meja.
Sambil meraba meja dia mengangkat panggilan tanpa melihat siapa si penelfon
"Dimana?" suara dingin khas seseorang menyambutnya.
"Rumah" jawab Baskara dengan suara serak khas orang bangun tirur
"Kamu tidur?"
"Iyaaa"
Dengan malas malas Baskara merubah posisi tidurnya
"Kamu jadi jemput saya enggak sih? "
Teriakan diujung seberang membuat nyawa Baskara langsung terkumpul. Dia terduduk sambil mengucek mata, dilihatnya jam sudah menunjukan pukul tiga lewat dua belas menit, Baskara melompat. Dia mematikan panggilan Rindu begitu sadar akan ruang tamu yang belum dirapikan.
"Woy bangun bangun"
Baskara menepuk tubuh Rama ,Alan, dan Pandu.
"Rindu udah sampe bangke"
Satu hentakan ketiganya bangun secara kompak, mereka gelabakan membersihkan rang tamu.
"Gue jemput Rindu, bersihin ini" tukasnya.
Dia setengah berlari untuk mengambil setelan jas yang membuatnya tampan. Tidak perlu mandi, dia hanya perlu merapikan rambutnya supaya terlihat manly, lama sekali mencari baju akhirnya pilihan dia jatuh kepada setelan jas abu abu.

Untungnya jalanan sedikit bersahabat. Dia sudah menemukan Rindu yang menunggu sambil cemberut. Tubuh mungil itu di balut dengan kaos kuning biru. Baskara melambaikan tangan dengan gembira, setelah hampir empat tahun mereka tidak bertemu akhirnya bisa bertemu sekarang.
Sambil berlari Baskara merentangkan tangan berniat memeluk Rindu.
Gadis itu membentangkan tangan sebagai respon penolakan.

Sampai didepannya rentangan tangan itu harus terjatuh dengan lemas. Sambil memajukan bibir dia mendekati Rindu
"Haaaaa kangen, pengen peluk"
Lagi lagi Baskara merentangkan tangan.
"Kamu dari mana sih?"
Rindu menilik penampilan Baskara dari atas sampai bawah.
"Kantor lah"
Dia menegapkan badan , biar dikira CEO yang penuh wibawa
"Pakek sandal?"
Jlebb
Baskara malu setengah mati saat mendapati dirinya hanya mengenakan sandal rumah. Ya ampun dia lupa mengganti dengan sepatu.
Dia masih menunduk menatap sandal hitam yang membalu dengan kaos kaki. Tapi pelukan hangat dari Rindu membuatnya mengembangkan senyum
Baskara membalas pelukan itu lebih erat, sambil mengayun ayunkan, dia menciumi puncak kepala Rindu.
"Kangennnnnn bangettt"
Baskara teetegun, empat tahun ternyata bisa merubah Rindu menjadi seseorang yang sedikit terbuka akan perasaannya. Kapan ya Baksara pernah mendengar Rindu mengatakan kata rindu. Kalau tidak salah dia belum pernah mendengar kalimat itu.
__ADS_1
Aroma bedak bayi yang dibasahi air masih terus ada di diri Rindu. Dia menghirup aroma dari tekuknya.
Baskara melepaskan pelukan sambil tersenyum lebar.
Cup
Dia mengecup bibir Rindu sekilas, gadis itu tersenyum malu malu, ada semburat kemerahan dipipinya.
Rindu memeluknya lagi lebih erat, mereka tidak peduli akan tatapan orang orang. Masa bodo, pokoknya mereka mau melepaskan rasa rindu sekarang juga.
"Mau pelukan sampe gini terus"
Yah, baru aja Baskara mengeratkan pelukannya, kalimat Rindu justru membuat tubuh Baskara lemas.
"Kan tadi elo yang meluk gue duluan"
"Udah ayok pulang"
Rindu menarik koper sambil menggenggam tangan Baskara. Mereka berjalan kearah parkiran dimana mobil Baskara berada.
"Kamu ganti mobil?"
Ketika berada dihadapan mobil audi RS7 , Rindu dibuat takjub.

"Masa empat tahun gue gak ganti ganti mobil"
Baskara membukakan pintu untuk Rindu, sambil memegangi bibir atap jendela agar kepala Rindu tidak terbentur. Baskara mengelilingi mobil untuk duduk di kursi pengemudi.
"Banyak yang berubah dari gue"
Baskara memacu mobil nya untuk menuju rumah.
Dengar, rumah bukan apartemen, sejak 3 bulan lalu dia sudah membeli rumah di daerah Jakarta Utara, Pantai Indah Kapuk (PIK), aksesnya lumayan dekat dengan tol dan bandara. Meski jauh dari perusahan tapi ini adalah kawasan yang menurut Baskara sangat nyaman.
Rindu hanya memainkan tangan Baskara sambil menyenderkan kepala di bahunya. Dia sudah rindu dengan aroma dari suaminya.
"Lo pakek ini deh"
"Apa?"
Sambil menerima tutup mata, Rindu hanya menatapnya tanpa melakukan apa yang diperintahkan Baskara.
"Pakek aja"
"Saya gak akan di buang kan?"
Alih alih menurut dia justru menuding Baskara dengan tuduhan yang tidak masuk akal. Karena buat Rindu mempercayai Baskara sama saja mempercayai anak di bawah umur, dimana dia sering lupa akan janji janjinya.
"Seudzon aja sama suami sendiri. Pakek aja"
Mau tidak mau Rindu mengenakan penutup mata. Sambil terus berpegangan supaya tidak dibuang oleh Baskara.
Mobil dirasakan Rindu sudah berhenti, dan genggaman tangan Baskara malah melepas, dengan rasa takut Rindu mencengkram celananya.
"Baskara"
Dia memanggil nama Baskara, tapi tidak ada sahutan dari lelaki itu.
"Basss"
Sekali lagi, lelaki itu justru tidak menyahut. Bahkan keadaan disekeliling sepi senyap.
Tidak mungkin kan Rindu dibuang dihutan.
Rindu berniat melepas penutup matanya, saat menyentuh tutup mata, tangannya dicekal oleh seseorang
"Eh, kan belum gue suruh bukak"
Baskara menuntun Rindu keluar dari mobil.
"Kamu jahat, saya kan sudah manggil kamu tadi"
Sambil memukul dada Baskara, Rindu sudah menumpahkan air matanya. Tidak tahan untuk tidak memeluk, Baskara menarik Rindu kepelukannya.
"Gue sayang elo Rin"
Dia memeluk Rindu lebih erat, pelukan itu berhasil membuat tangis Rindu reda. Pelukan yang sangat berarti lebih dari apapun. Baskara merindukan tubuh mungil ini, dia Rindu semua yang ada di rindu. Dia merindukan Rindu lebih dari apapun. Bahkan sekedar menarik nafas rasanya dia kesulitan
"Gue sayang elo"
__ADS_1
Kalimat itu dia bisikan sambil mengelus punggung Rindu. Pelukannya semakin kencang, membuat Baskara menyembunyikan wajahnya ditekuk Rindu. Entah sudah berapa hal yang dilewati mereka.