BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)

BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)
Chapter 48


__ADS_3

Tak perlu menjauh


Karena sejak awal aku sudah paham


Bahwa mencintai kamu yang perlu aku lakukan hanyalah mundur menjauh


☘☘


Sesaat bagaikan di hantam ribuan gondam. Lebih menyakitkan dibanding disayat oleh belati. Didepannya Rindu berdiri sambil tertawa lucu, Wirawan juga sama hal nya, dia memegang cincin yang akan dia kenakan untuk Rindu.


Baskara belum siap jika alasan perpisahan ini adalah karena Wirawan bukan karena kesalahannya. Sejak Sisil meminta ditemani untuk menemui dokter Icha, perasaan Baskara sudah ingin menyerah pada usaha untuk membawa Rindu kembali. Dan sekarang semua seakan memperjelas bahwa yang perlu dilakukan Baskara adalah melepas Rindu.


"Sisil"


Suara Icha menggelegar di koridor Rumah sakit. Baskara masih menatap manik mata Rindu saat tatapan keduanya bertemu. Sisil sudah menjauh meninggalkan Baskara bersama Icha dan Wirawan. Sedangkan Rindu tetap memaku bersama tatapan yang tidak berpindah dari Baskara.


Mereka sama sama terpenjara dalam waktu, mematung untuk saling menatap bayangan kesalahan dari masing masing.


Rindu berniat meninggalakan koridor sebelum langkah Baksara lebih cepat membuatnya berhenti


Baskara berdiri dengan gagah dihadapannya ,wajah lucu dan menggemaskan tidak lagi terpancar diwajah Baskara. Hanya ada kesalahan kesalahan Baskara selama hidup dengan Rindu.


"Saya mau pergi"


Rindu memilih jalan yang di sebelah Baskara tapi cekalan itu selalu lebih berkuasa ketimbang dirinya yang ingin meninggalkan Baskara.


"Keputusan lo minta cerai, karena kesalahann gue atau Wirawan?"


Mereka bersitatap sangat lama, sebelum Rindu mengalihkan tatapan matanya.


"Wirawan gak ada hubungannya soal perceraian kita"


Rindu melepaskan cengkraman tangan Baskara.


Dia tidak ingin menoleh pada Baskara, Rindu sudah berlalu dengan rasa sakit yang lebih mendalam ketimbang Baskara.


**


Dua minggu terasa cepat berlalu, hari ini Baksara menali dasi hitamnya, dengan celana hitam dan kemeja putih dia bersiap untuk acara wisuda yang digelar dikampus.


Berulang ulang dia mencoba menghubungi Rindu tapi gadis itu selalu menolaknya.


Baskara berangkat kekampus saat mendekati acara, palingan cuman gladis kotor abis itu penyambutan dari Arya selaku pemilik yayasan. Tidak ada istimewa istimewanya, Baskara menyusuri koridor kampus, hampir semua gedung fakultas dia kelilingin, dari managemen bisnis, ekonomi, ruang dosen, kantin dosen, ruang sidang, aula kampus sampai perpustakaan. Tidak ada keberadaan Rindu sama sekali.


Mahasiswa yang mengenakan toga berlalu lalang membelah koridor, Pandu, Alan, dan Rama sudah duduk rapo di aula menunggu nama mereka di panggil untuk memindahkan tali toga ke bagian kanan. Acara seperti itu tidak terlalu penting untuk Baskara yang penting hanyalah dia mencari dimana Rindu berada. Dia belum mengenakan toga, masih dengan pakaian hitam putih polos, toganya dia tinggal di dalam mobil, masalah saat namanya dipanggil Baskara tidak akan peduli.


Handpone Rindu juga tidak aktif, apa sebegitu bencinya dia pada Baskara. Sambil terus mencari, langkahnya terhenti kala melihat dokter Icha dan Wirawan berdiri berdampingan. Mereka tertawa, tawa yang lebih brengsek saat tangan Wirawan melingkar di pinggang Icha.

__ADS_1


Jadi seperti ini laki laki yang akan menikahi Rindu, kelakuannya lebih brengsek dari Baskara. Sambil berjalan dia menarik kerah Wirawan sampai laki laki itu terhuyung kedepan


"Eh ada apa ini?"


Wirawan yang tidak tahu apa apa langsung kaget dengan sikap bruntal Baskara.


"Brengsek, setelah elo ngelamar Rindu lo masih bisa maen belakang sama dokter Icha"


Wirawan mengerutkan dahinya, dia menepis cengkraman tangan Baskara. Sambil merapikan kemejanya yang kusut dia menatap wajah bingung Icha


"Cha kayaknya ada yang salah paham, kamu jelasin sama anak ini"


Wirawan menunjuk kearah Baskara, sambil melangkah pergi, Wirawan memberi waktu pada Icha dan Baskara untuk membicarakan masalah ini.


Mereka duduk bersisihan di taman kampus, sambil matanya menatap rumput liar yang sudah memenuhi pot bunga di samping kanan.


"Wirawan udah cerita semua masalah kamu sama Rindu"


Suara lembut Icha terdengar menenagkan. Mungkin itu sebabnya dia mengambil jurusan psikolog,


Baskara menoleh dengan lipatan dahi yang sudah terpantri.


"Dokter kenal Rindu?"


Icha tersenyum "aku sama Rindu temen dari SD, dia sering manggil pangkal nama ku. Kayak Rosa ketimbang Icha"


Seketika Icha teringat sesuatu saat dia menatap pergelangan jam tangannya.


"Sebenarnya Wirawan bukan ngelamar Rindu, tapi dia meminta saran pada Rindu untuk ngelamar aku" tutur nya


"Agak rumit diceritakan, yang penting sekarang kami harus nyusul Rindu ke bandara"


Baskara lebih terkenjut ketimbang pernyataan Icha barusan


"Bandara?" ulang Baskara


"Kamu belum tahu? Rindu bakal ngelanjutin S3 nya di Havard, dan pesawatnya bakalan take off 15 menit lagi"


Tanpa pikir panjang Baskara langsung berlari ke arah parkiran. Dia menarik mobilnya menuju Bandara, perjalan sempat tertunda kala Jakarta di landa macet.


"Shitt" umpat Baskara sambil memukul stir


Pantasan Rindu tidak hadir di wisudanya, dia akan melanjutkan study di Havard. Apa begini cara Rindu melupakan dirinya? 


Lima menit terjebak macet, Baskara langsung meluncur dengan kecepatan tinggi. Dia berlarian menyusuri halaman bandara.


Sambil mencari keberadaan Rindu yang tidak kunjung di temui, Baskara bertemu Lina dan Tio yang justru berbalik arah.

__ADS_1


"Ma, pa, Rindu mana?" suara Baskara terdengar bergemetar, mungkin hitungan menit dia akan menangis.


Tio menepuk bahu Baskara kuat


"Dia sudah terbang ke Amerika"


Kalimat itu seolah menohok hati Baskara lebih dalam. Rindu jahat, Rindu lebih jahat ketimbang saat Baskara meninggalkannya demi Sisil. Masalah ini hanya berakar dari depresinya Sisil. Tapi kenapa gadis itu justru memilih melanjutkan studynya dan menyerah dalam rumah tangga.


Apa seperti ini yang dia inginkan?  padahal mereka bisa kembali bersama dan berjanji tidak mengulangi.


Baskara terjatuh kelantai, dia menjambak rambutnya


"Rindu nitip ini"


Sebuah amplop disodorkan untuk Baskara. Lelaki itu membuka amplop itu. Sebuah dokumen pernikahan dan surat surat gugatan cerai yang sudah ditanda tangani Rindu.


Baskara ingin menangis, sungguh. Bila perlu dia ingin terbang ke Amerika untuk menemui Rindu.


Tio menepuk bahu Baskara, setelah kepergian Tio dan Lina. Baskara meremas kuat kuat amplop itu. Dia tidak bisa mengatakan barang sepatah katapun, terasa menyulitkan keadaanya.


**


Baskara duduk sambil menatap kosong ruangan apartemen. Kehilangan Rindu benar benar membuat dirinya menderita, dia sering uring uringan bahkan tidak selalu melakukan hal yang benar.


Baskara mengangkat kursi dan melemparkan kursi itu dicermin depan


Prang


Kaca itu terbelah, terjatuh kelantai menjadi kepingan kepingan. Belum puas Baskara menjambak rambutnya


"Arrrggghhhhhhhhh"


Kakinya tepat menginjak pecahan kaca, dia tidak merasa sakit masih sakit hatinya saat Rindu pergi.


Semunya sudah berakhir, rumah tangganya dan hidupnya. Baskara melempar pecahan kaca itu tepat kearah pintu, cukup berhasil menyobek kulit tangan Baskara, karena lelaki itu menggenggam nya terlalu kuat.


Dia terduduk kelantai sambil menangis tersedu sedu. Tangannya memegang dada untuk meredakan rasa nyeri yang menjalar.


Dia membuka kaleng bir yang hanya tersisa 3 kelang, dihitung hitung Baskara sudah habis 12 kaleng bir. Bahkan kesadarannya sudah menipis.


Dia bangkit sambil menyabet jaket, jalannya limbung bahkan dia harus berpegang pada tembok supaya bisa berdiri tegak.


Tatapan itu sudah kabur bersama benda benda yang melayang berputar putar. Dia memegangi kepalanya yang terasa berat


Brugggg


Baskara tidak mampu menjaga keseimbangan hingga terjatuh kelantai

__ADS_1


__ADS_2