BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)

BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)
Chapter 25


__ADS_3

Aku Rindu


Tapi aku takut untuk mengaku


☘☘



Lebih baik mereka melupakan kejadian lima hari lalu yang menimpanya. Khususnya menimpa Rindu, seluruh grup chat sedang rusuh karena pembahasana antara Rindu dan Baskara.



Rindu melipat kemeja Baskara yang sudah dia setrika. Sedangkan Baskara laki laki itu tengah memakan snack sembari menatap layar tv. Ruangan sudah berantakan, bahkan Baskara sengaja mendirikan tenda di ruang tamu. Katanya bentuk protes dia kepada Rindu karena membuat liburannya gagal. Dia juga membeli benner bergambarkan matahari dan pantai. Pemandangan bagus untuk anak anak usia 5 tahun. Sepertinya otak Baskara tidak jauh dari anak anak usia 5 tahun



Selain tidur dan makan ada pekerjaan lain yang di lakukan Baskara, yaitu membantu Rindu memiliki pekerjaan.


Bukan bukan, dia tidak membantu Rindu menyelesaikan pekerjaannya, tapi membuat Rindu memiliki pekerjaan tambahan. Seperti mengganti pakaian 4x dalam sehari, selalu makan dan berganti piring tanpa mau mencuci. Memakai sepatu kets saat didalam rumah, bahkan membuat Rindu kewalahan saat gadis itu tengah membaca tapi Baskara memutar music yang lantang. Terakhir dia memutar lagu Damage yang dinyanyikan EXO. Rindu tidak mengenal siapa EXO tapi saat dia memprotes aksi Baskara, lelaki itu justru menjawab "elo gak tau gue lagi muter music kembaran gue?"


Enggak tau, pokoknya Rindu gak mau tahu siapa kembaran yang dimaksud Baskara.



"Rinduuuuu" teriak Baskara menghema diseisi ruangan.



"Apa?" sahut Rindu acuh tak acuh



"Belanja yuk, bosen dirumah"



"Belanjaan kemarin kan masih banyak ,kenapa belanja lagi?"



Rindu membereskan peralatan menyetrika. Dia menggulung rambut , lalu berjalan untuk meminum segelas air.



"Gue bosen"


Rengek Baskara yang sudah di belakang Rindu



"Baca buku biar gak bosen" saran Rindu "saya dulu sewaktu libur kuliah sering bosen, tapi saya manfaatkan membaca buku"



Baskara memeluk Rindu dari belakang, dia menyembunyikan wajahnya dileher Rindu.



"Lo kan tahu gue gak suka buku" rengeknya. Baskara mengeratkan pelukannya.



"Mau mengunjungi papa?" tawar Rindu.


Baskara terdiam dia hanya menghirup udara dari tengkuk Rindu, keringat yang tercium seperti bedak bayi yang dicampur oleh air.



Pelukan itu semkain erat, bahkan Baskara hanya terdiam saat dia menggesekan hidungnya. Entahlah rasanya nyaman saja seperti ini.



"Gue kangen ibu" ucapan Baskara lirih tapi mampu membuat Rindu hampir melepaskan pelukannya. Ini kalimat pertama yang Baskara ucapkan tentang rindu.



"Mau bertemu?"



Hanya ada sebuah gesekan dari tengkuknya itu artinya dia menggeleng.



"Kenapa tidak ditemui kalau Rindu?"



"Rindu cuman milik elo?"



"Maksud kamu?"



"Ya elo kan namanya Rindu"


Baskara melepaskan pelukannya, dia membuka kulkas untuk menikmati sebatang es cream. Dilumutinya es cream itu hingga habis.



Ada sisa blepotan di ujung bibirnya, Rindu mengambil sebuah tisu untuk mengelap bibir Baskara. Dengan posisi berjinjit dia mengelap bibir Baskara begitu saja.

__ADS_1



Getaran yang selalu dianggap angin lalu itu sebenarnya cukup merisaukan. Jantung Rindu juga sering berdegup, apalagi Baskara. Tapi keduanya memilih acuh, mungkin efek kelelahan setelah berlibur kemarin.



"Kata kamu rindu kenapa gak bertemu saja"


Rindu meletakkan tangannya di meja makan, menatap Baskara yang duduk sembari mengangkat kaki diatas meja.



"Aku Rindu tapi aku takut mengaku" suara itu lirih tapi tetap bisa Rindu dengar.


Selanjutnya Baksara memilih menatap layar tv yang membosankan. Hanya menayangkan acara tidak berkualitas yang penuh sandiwara. Tangisan disana sini, sindiran sana sini. Itu tidak menarik lebih menarik tayangan upin ipin yang selalu disiarkan pukul 12 belum lagi acaran doraemon setiap pagi.



"Rin" panggil Baskara.



Rindu berjalan untuk duduk disamping Baskara sembari bibirnya menggantung ditepi gelas. Mereka sama sama terdiam menatap acara tv yang membawakan berita selebriti.



"Semester depan gue mulai magang" ucapnya pelan.



"Selama gue magang, gue harap elo gak usah deket deket Wirawan" tambahnya



"Saya sama Wirawa it___"



"Gue gak butuh penolakan"


Sudah memotong kalimat Rindu, Baskara membentak dengan nada cukup lantang. Rindu diam ikut mendengarkan kalimat apa yang akan di tuturkan Baskara selanjutnya. Bukan mengucapkan sebuah kalimat Baskara justru berbaring diatas paha Rindu.



"Pembekalan akan dimajukan lusa" ujar Rindu sembari menyisir rambut Baskara dengan jari.



Lelaki itu memejamkan matanya. Tanpa menyahuti ucapan Rindu.



Sebuah pahatan sempurna dari Tuhan yang diberikan secara cuma cuma untuknya. Desiran itu kembali hadir pada dada Rindu. Membuat kumpulan kupu kupu berterbangan di perutnya.




"Kenapa? Lo baru sadar kalau gue ganteng"


Sembari bersidekap dan mata tertutup Baskara mengatakan kalimat yang mampu membuat tangan Rindu berhenti.



"Terakhir kali gue tidur dipangkuan cewek, saat usia gue 6 tahun" cerita Baskara "saat itu terakhir gue manja sama seseorang, terakhir gue selalu bersikap seperti anak kecil" terusnya.



"Hidup sama elo ngajari gue banyak hal, sepeti gue nemuin sosok ibu di hidup gue" ucapannya berhenti, Baskara berusaha menormalkan degupan jantungnya yang semakin kencang. Dia enggan membuka mata untuk langsung menatap wajah Rindu dalam jarak dekat, itu tidak baik untuk kesehatan.



"Gimana kalau mulai sekarang gue manggil elo Ibu"



Rindu tersenyum, sungguh ini senyum paling lebar yang pernah dia tampakkan, ucapan Baskara membuat pipinya merah. Maksudnya ibu dari anak anaknya Begitu?



"Elo kan udah kayak emak emak yang selalu ngurusi gue" Baskara bangkit sembari menatap Rindu



"Gue mutusin, sekarang gue bakal nganggep elo kayak ibu gue"



Senyum Rindu pudar berganti lipatan dahi diwajahnya "maksud kamu?"



"Jadi gini, dulu gue nganggep elo pembantu gue kan, sekarang elo naik pangkat jadi ibu gue"



What? Maksud Baskara ibu ibu, ibu yang punya anak segede dia. Astaga, ternyata bukan ibu dari anak anaknya. Naik pangkat katanya? Dasar manusia setengah jadi. Rindu bangkit berjalan menuju perpustakaan tanpa memperdukikan Baskara lagi.



"Gimana elo mau gak jadi ibu gue yang sah?" tanyanya


__ADS_1


"Dasar menyebalkan" teriak Rindu lebih keras.



"Kenapa? Emamg salah jadi ibu, nanti pas di kartu keluarga hubungan kita anak sama ibu" tukasnya berteriak tak kalah  keras.



"Saya tidak mau" jawab Rindu tak kalah lantang



"Kalau ibu dari anak anak gue mau gak?"



Rindu termangu sembari memegang knop pintu perpustakaan, apa barusan Rindu tidak salah dengar dia meminta nya untuk jadi ibu dari anak anaknya, itu artinya Baskara sudah menganggap Rindu sebagai istri.



"Kenapa bengong, lo mau gak?" suara Baskara masih terdengar keras seperti orang berteriak.



Pelan pelan Rindu menganggukkan kepalanhlya, lalu buru buru masuk kedalam perpustakaan dan mengunci pintu.


Ooh Jantung Rindu berpacu cepat bahkan kedua tangannya yang berada didada hampir ikut berdetak. Kenapa dia bisa merasa sesenang ini.



Rindu melengkungkan senyumnya, sungguh itu senyum paling manis yang pernah hadir di bibirnya.



"Dia berkata apa sih? Dasar anak aneh" ujar Rindu sembari membuka novel Pride and Prejudice.



Tapi fikirannya masuh mengarah ke Baskara, senyum itu masih setia menghiasi wajahnya, dia enggan pergi. Mungkin sudah nyaman hinggap diwajah Rindu.



"Dia aneh sekali" katanya berguman pelan.


Itu bukan mengomentari tokoh yang ada di novelnya tapi dia mengomentari Baskara yang tidak jelas.



"Kenapa dia bisa berkata seperti itu?"


Rindu meletakkan novelnya tepat diwajah.



"Aaa dia benar benar anak aneh"



**



Baskara sudah rapi dengan pakaian bewarna hitam bermotif. Rambutnya sudah tertata rapi.



Tok tok tok



"Rin Rin"


Tidak ada sahutan dari dalam perpustakaan, setelah kejadian Baskara menggombali Rindu sore tadi hingga pukul 7 malam gadis itu tidak menampakkan batang hidungnya. Semalu itukah dia menemui Baskara?



"Woy kanebo kering" panggil Baskara lebih kencang.



"Rinduuuuuuuu cewek datar" teriak Baskara sembari mengerasakan pukulan pada pintu.


Karena terlalu cepat dia mengetuk pintu sampai Baskara tidak menyadari pintu sudah terbuka. Satu pukulan mendarat di kepala Rindu, tidak terlalu keras tapi cukup mengundang untuk dia mengeluh



"Aww" ringis Rindu



"Sorry sorry" dengan cekatan Baskara mengusap kening Rindu berulang ulang. Cukup berhasil membuat Rindu kembali merasakan dag dig dug ser. Buru buru Rindu menepis lembut tangan Baskara



"Ada apa?" tanyanya dengan wajah seperti biasa, datar.



"Gue mau nongkrong sama temen temen" ujarnya "gue gak tahu bisa balik apa enggak, lo kalau mau pergi pamit dulu sama gue"



Katanya langsung berjalan begitu saja meninggalkan Rindu yang belum sempat memberi jawaban

__ADS_1




__ADS_2