
Mau ada aku atau gak di Belanda, foto-foto kamu tetep instagramble banget tuh
š£š£š£
Baskara keluar dari kamar Rindu dengan wajah pias, rambutnya sudah acak-acakan dengan wajah merah padam, dia menatap wajah papa nya sekilas
"Aku mau nikah sama Rindu, asal pernikahan itu diadakan di luar negri dan setelah aku menikah, ada apartemen megah yang bisa aku tinggali bersama Rindu"
Baskara melangkah menuju pintu
"Satu lagi, setelah pernikahan itu alihkan seluruh saham papa atas namaku"
Baskara pergi begitu saja. Setelah kepergian Baskara, Arya memijat pelipisnya, laki-laki itu sudah kewalahan dengan tingkah anaknya.
"Aku lelah sekali Tio, setelah almarhum Rita tidak ada, Baskara jadi anak yang kurang ajar, padahal kurang apa selama ini aku? "
Tio menepuk pundak Arya berusaha menyalurkan kekuatannya.
"Tenanglah, mungkin Baskara butuh waktu untuk paham dengan semua ini"
"Aku harap setelah pernikahan ini, Baskara bisa sedikit berubah"
š£š£š£
Rindu melangkah masuk kedalam kelas dengan perasaan campur aduk, setelah ini akan ada perayaaan pernikahan dirinya dengan Baskara, meski semuanya sudah diatur rapi oleh Arya dan Tio tapi dia masih merasa was-was, bagaimana kalau Baskara tidak pernah datang keacara itu?. Belum lagi akhir-akhir ini Baskara sering bolos untuk mata kuliahnya, jadi Rindu sangat jarang melihat Baskara di kampus.
Rindu menghela nafas berat, ketika dia mengabsen satu persatu mahasiswanya, perasaan nya dag dig dug.
"Cosmos Arya Bayu Baskara" panggil Rindu untuk mengabsen anak itu.
"Saya"
Rindu mendongak, dia melihat Baskara duduk dengan wajah ditekuk, dia kira Baskara tidak akan datang ke kelasnya. Mungkin itu siasat menghidarinya.
Rindu kembali fokus pada absen kelas, ketika dia hendak memulai pembelajaran seorang dosen dengan perawakan gagah dan tampan mengetuk pintu kelas.
Itu Nugraha Wirawan, dosen Kedokteran yang sempat beberapa kali bertemu dengan Rindu.
"Permisi bu Rindu, ada yang ingin saya sampaikan" ucap Wirawan dengan tenang.
Rindu berjalan untuk keluar, melihat itu Baskara sedikit memajukan lehernya, dia ingin melihat apa yang akan di lakukan Rindu dengan Wirawan. Tapi itu percuma karena Rindu kembali kekelas tetap dengan wajah datar tanpa ekspresi apa-apa.
__ADS_1
"Dasar triplek, mau diapain tetep aja datar" sunggut Baskara yang ditatap Pandu dengan heran
"Lo kesambet apa sih Bas, udah baru masuk sekali ini, terus ngoceh sendiri" protes Pandu
"Bringsik lo"
Kelas berakhir pukul 10, seluruh mahasiswa keluar kelas tanpa menunggu Rindu keluar lebih dulu, gadis itu menyusun tugas makalah. Rindu tidak akan meminta tolong ketika dia mampu melakukannya, jadi jangan heran kalau dia selalu membawa tumpukan tugas mahasiswanya sendiri ke kantor.
Pandu dan Rama menatap Rindu yang seperti agak kesulitan membawa tugas-tugasnya. Ditambah buku pembelajaran yang tebalnya bisa untuk bantal. Rama bangkit dari duduknya dan berjalan untuk menyodorkan bantuan.
"Mau saya bantu bu?" Tanya Rama, Rindu menatap sekilas lalu hanya menggeleng dan membawa pergi begitu saja tumpukan tugasnya.
Baskara mendegus, dia bangkit dari duduknya dan membawa tas untuk keluar.
"Mau kemana lo?" Tanya Pandu teriak yang hampir memecahkan gendang telinga
"Ruang Dekan" jawab Baskara asal, padahal laki-laki itu menyusul kepergian Rindu.
Ketika dia melihat Rindu berjalan dengan kesulitan, Baskara langsung mengambil beberapa makalah ditangan Rindu begitu saja. Dia langsung berjalan begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kalimat pun. Dia berjalan menuju ruangan Rindu dan meninggalkan gadis itu begitu saja.
Pintu ruangan terbuka, Baskara menatap sekeliling ruangan itu yang baru dia sadari bahwa ruangan itu selalu memiliki harum yang sama dengan Rindu. Di atas meja ada sebuah tulisan aksara korea yang Baskara tidak tahu apa artinya.
Pintu ruangan berdenyit, membuat Baskara menoleh. Dia menatap Rindu yang berjalan menuju kursinya.
Baskara membuka suara yang dia buat secuek mungkin, padahal perwatakan Baskara itu anaknya cerewet dan kalo sekali ngomong udah ngelebihin pedesnya omongan cewek.
"Sampai itu tiba gue harap lo gak bikin ulah"
Baskara hendak melangkah pergi tapi dia masih berdiri didepan pintu sembari meemegang knop pintu. Dia menunggu Rindu membuka suara, sialnya yang terdengar hanya bunyi mesin keyboard. Lagi-lagi Rindu selalu tidak memperdulikannya.
Baskara memilih berjalan menuju parkiran, karena mata kuliah Rindu adalah mata kuliah terakhir.
Tapi didekat mobil berdiri seorang cewek dengan tubuh tinggi dan senyum mengembang kearahnya.
"Sayangggg" dia berteriak sembari merentangkan tangan untuk memeluk Baskara. Laki-laki itu tersenyum lalu menerima pelukannya dengan senang hati
"Gimana Belanda? Seru gak?" Tanya Baskara sembari membukakan pintu mobil untuk gadis itu masuk kedalamnya. Baskara berjalan menuju kursi pengemudi.
"Seru sih, tapi gak ada kamu jadi aku kangen" cerita Silvi atau lebih akrab dipanggil Sisil.
"Mau ada aku atau gak di Belanda, foto-foto kamu tetep instagramble banget tuh" cibir Baskara sembari membawa setir mobil untuk berbelok kearah cafe.
__ADS_1
"Selama aku liburan kamu ngapain aja?" Tanya Sisil bergelanyut manja ditangan Baskara. Laki-laki itu mengusap rambut Sisil dengan lembut.
"Marah marah, ketemu cewek datar sedatar triplek belom lagi bentar lagi gue mau nikah. Dapet bencana gue Sil ditinggal lo Liburan"
"Biasa nongkrong sama anak-anak" kata Baskara sembari menghentikan mobilnya di depan cafe.
Mereka turun dari dalam mobil lalu melangkah menuju kedalam cafe, disana Baskara sempat tertegun, matanya menangkup satu cewek yang duduk dengan cowok dan saling bertatap.
"Duduk disana yuk" ajak Sisil untuk duduk disebelah meja Rindu. Iya dia adalah Rindu yang tengah duduk dengan Nugraha wirawan.
"Eh ada pak Wirawan" sapa Sisil ramah kearah mereka. Rindu mendongak begitu juga dengan Wirawan, Rindu menatap sekilas kearah tangan keduanya dimana mereka saling menggenggam.
"Sisil udah pulang liburannya?" Tanya Wirawan dengan lembut. Sisil tersenyum menampilkan sederetan giginya.
"Sebenernya kemarin sih pak pulangnya, tapi baru hari ini masuk kekelas" jawab Sisil ramah.
Sisil itu tipe anak yang kekanak kanakan, tidak bisa dewasa, kadang Baskara harus ekstra bersabar kalau menghadapi dia. Selain cantik Sisil anak kedokteran jadi banyak mahasiswa yang mengatakan keduanya adalah realthisip goals. Yang satu cantik dan kaya satunya tampan dan tajir.
"Siapa pak?" Tanya Sisil kepada Wirawan yang di jawab dengan senyuman dari Wirawan
"Pacarnya bapak ya?"
Wirawan hendak berucap tapi Baskara lebih dulu menyela
"Duduk yuk pegel nih berdiri terus" kata Baskara akhirnya memilih langsung pergi tanpa memperdulikan Sisil yang masih saja menggoda keduanya. Baskara melipat tanganya, rasanya dia ingin marah pada Si boncel itu. Bisa-bisanya dua hari mau menikah dia malah asyik-asyikan pacaran.
"Sayang mau pesen apa?" Tanya Sisil kearah Baskara yang justru mengalihkan diri kearah ponsel. Tentu dia tengah membuka game nya.
"Americano" kata Baskara cuek.
Rindu mendegus, meski tidak terlalu ketara tapi rasanya dia tertohok benda tajam. Dia tidak tahu apa maksudnya, yang jelas dia hanya tidak terima melihat calon suaminya asyik-asyik pacaran sama orang lain.
"Jadi gimana Rin untuk yang saya bicarakan tadi?" Tanya Wirawan memecahkan keheningan keduanya
"Saya terserah kamu aja, enaknya gimana"
Wirawan tersenyum lalu menyesap kopi yang telah dia pesan sedari tadi. Rindu mengamati bagian rencana yang akan diadakan kampusnya. Kampusnya terpilih untuk menjadi pembukaan pertandingan olahraga senasional dan kebetulan yang dipilih untuk menangani ini adalah Wirawan dan Rindu.
Rindu memainkan bibirnya, membuat Wirawan reflek mengelus puncak rambut Rindu. Rindu tercengang karena mereka belum sedekat itu untuk melakukan hal yang menurutnya sangat intim. Rindu menjauhkan kepalanya, menyadari gestur pelonakan dari Rindu, Wirawan sedikit tersenyum kikuk
__ADS_1
"Maaf saya terlalu gemas ngeliat kamu kayak gitu" kata Wirawan sembari menutupi semburat kemerahan di wajahnya.