BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)

BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)
Chapter 5


__ADS_3

Adakah hal yang paling menyebalkan dalam kurung waktu bersamaan


Yaitu tumbuhnya rasa nyaman dan benci dalam waktu sama



☘☘



Pesawat mendarat pukul 2 siang, mereka disambut dengan terik matahari yng masih berada ditengah tengah. Dengan keadaan menarik koper Rindu berjalan lebih dulu dibandingkan Baskara, tapi bukan Baskara namanya kalau tidak menggangu hidup Rindu.



Laki laki itu melempar koper miliknya tepat didepan Rindu, sehingga mengundang perhatian dari semua orang.



"Bawain koper gue, gak usah banyak alasen. Lo harus nurut sama suami lo"


Baskara berjalan meninggalkan Rindu yang menatapnya dengan sebal. Tapi dia bisa apa, kata mamanya melawan suami sama saja menjadi sukarelawan untuk masuk neraka.



Rindu menarik dua koper sekaligus menuju taksi yang sudah dimasuki Baskara. Tapi belum sempat dia masuk kedalam mobil, sebuah roda membawa mobilnya menggelincir meninggalkan Rindu dengan dua buah koper ditangannya sendirian di bandara.



Wanita itu mendegus, melihat sikap Baskara yang menyebalkan hanya mampu membuat dirinya mengelus dada. Sumpah, Rindu sudah ingin murka. Mana dia belum tahu alamat apartemen yang akan mereka tinggali, setelah mendapatkan taksi dan memasukan barang barangnya kedalam bagasi mobil, Rindu menghubungi Baskara. Tapi, ya, bukan Baskara namanya kalau tidak menyebalkan.



Lelaki itu mengirim alamat apartemen didaerah kemang, sewaktu mobil menuju kekemang dan berhenti di apartemen Darkbi. Rindu menyeret kopernya untuk bertanya pada resepsionis, karena lelaki itu tidak memberitahu nomor berapa mereka tinggal.



"Atas nama Cosmos Arya Bayu Baskara" kata Rindu memberi tahu wanita sebagai resepsionis itu. Wanita itu mengetik sebentar nama yang baru saja disebutkan Rindu.



"Maaf bu, atas nama yang ibu berikan tidak tercantum pada apartemen kami" kata mbak mbak resepsionis. Rindu mengernyitkan dahinya. Itu tidak mungkin.



"Kalau atas nama Deolinda Rindu Maheswari?" Tanya Rindu sekali lagi. Mbak Resepsionis kembali mengetik atas nama yang Rindu sebutkan tapi dari ekspresinya Rindu bisa menembak kalau nama yang dia berikan tadi tidak ada.



"Maaf mbak kami tidak menemukan data tersebut"



Rindu menghela nafas kasar tapi dia tidak ingin menyerah, lagipula apartemen ini dibeli oleh Arya siapa tahu nama Arya yang tercantum sebagai pemilik apartemen.



"Kalau atas nama Thomas Arya ada gak mbak?" Tanya Rindu berharap kali ini nama yang disebutkannya Ada.



"Maaf mbak, kami tidak menemukan data tersebut"


Rindu menarik kopernya setelah mengatakan terimakasih kepada mbak resepsionis yang sudah merasa jengkel dengan Rindu. Dia mendial nama Baskara pada kontaknya.


Bunyi tersambung menyambut Rindu, tapi bukannya telfon diangkat justru terdengar operator berbicara "nomor yang ada tuju sedang sibuk"



Akhirnya Rindu memutuskan untuk mengetik pesan kepada Baskara. Dia yakin Baskara tidak ingin mengangkat telfonnya atau sengaja dimatikan oleh dia.



Rindu


Baskara, saya sudah mencari nama kamu di apartemen Darkbi tapi tidak ada



Baskara


Wait? Drakbi. Emang gue ngomong gitu ya, perasaan gue ngomong apartemen gren pramuka deh. Lo ngaco ya?



Rindu memilih menskrol pesan Baskara tadi sebelum dia sampai di apartemen Darkbi. Dan benar, lelaki ini mengirim alamat yang sama seperti yang sedang Rindu cari. Malas berdebat akhirnya Rindu memilih mengalah, percuma dia debat dengan anak kecil seperti Baskara



Rindu

__ADS_1


Kirim alamat yang bener, cepat!!



Baskara


Weh santai gak usah pakek dua tanda seru segala



Baskara


Gran pramuka lantai 38



Rindu menarik kopernya dengan berat. Rasa dongkol, dan ingin mengumpat dia tahan baik baik didalam hati. Nanti saja Rindu mengumpatnya sebentar lagi kamu akan bertemu dengan Baskara setelah itu habisi dia dengan kata kata mu.



Setelah mendapatkan taksi, mobil melincir menuju gren pramuka. Setelah sampai disana Rindu mengeluarkan dua komper dan membayar supir. Dia tidak ingin berburuk sangka toh mempercayai orang seperti Baskara tidak ada ruginya. Rindu langsung menuju lift, tidak seperti tadi dia harus mencari informasi melalui resepsionis. Begitu dia ingin menekan lantai 38, tidak ada. Iya, tidak ada lantai 38 , yang ada lantai 25.



oke baiklah ternyata mempercayai Baskara sama saja mempercayai donal bebek yang tidak bisa bicara. Rindu mengercutkan bibirnya, dia keluar dari Lift dan memilih duduk di kursi tunggu. Kakinya terasa pegal bahkan keringat sudah meluncur dipelipisnya, wajahnya merah, hari ini Rindu ingin mencatat sejarah bahwa dia akan menbunuh lelaki bernama Baskara yang berani beraninya mempermainkan dirinya.



"Tenang rindu, tenang. Dia hanya anak kecil yang harus kamu beri kesabaran" Rindu mengelus dadanya berusaha menenangkan dirinya yang sudah hampir memuncak oleh kemarahan.



"Tidak bisa, saya tidak akan memaafkan dia"


Rindu berbicara dengan meremas ponselnya, dia menekan nomor Baskara, demi planet pluto dia akan terus menelfon Baskara sampai laki laki itu mengangkat telfonnya.



Untungnya tanpa membuat Rindu mengumpat Baskara sudah mengangkat telfonanya. Mungkin dia sedang senang disana sambil menertawai Rindu yang dia kerjai habis habisan.



"Baskara, saya tidak mau bermain main, kasih saya alamat yang benar" ucapan Rindu penuh penekanan, bagi setiap orang akan terdengar mengerikan tapi untuk Baskara dia akan mengatakan



"Bwahahhaa apa gue ngajak elo maen maen, kapan?" Dia malah balik bertanya dengan santai.




"Baskara saya tidak main main" bentak Rindu sudah mulai jengah



"Oke oke" kata Baskara dengan sisa tawanya "emangnya gue tadi ngomong apa?"



"Gren pramuka, tapi tidak ada lantai 38"



"Wait, mungkin disembunyiin sama orang kali lantainya. Perasaan ada deh lantai 38" kilah Baskara



"Baska___"



"Oke!! , lo ke Aleso lantai 15"



"Kamu gak mainin saya kan?" Rindu masih tidak percaya dengan ucapan Baskara, siapa juga yang akan percaya gitu aja setelah dipermainkan sebanyak dua kali.



"Lo gak percayan banget sih sama suami lo, dosa lo kalo gak percaya"



Enggan berdebat Rindu memilih mematikan ponselnya, dia memutar bola matanya malas. Oke kalau sekali ini dia bohongin Rindu, Rindu bersumpah demi cassing spongebob miliknya dia akan mengadukan masalah ini pada Arya. Sambil menghentakan kakinya Rindu mencari taksi kembali menuju apartemen Aleso.



Setelah menempuh jarak yang lumayan akhirnya dia sampai diapartemen itu. Yah apartemen ini cukup megah, layak kalau ini memang apartemen Baskara, sesuai gaya hidup anak itu. Hendak melangkahkan kaki Baskara mengiriminya sebuah pesan

__ADS_1



Baskara


Eh gue tadi dikabarin sama petugas kebersihan katanya jangan lewat lift. Dia bilang sih lift nya lagi rusak, kalau lo mau kekunci di dalam lift ya lo lewat lift aja, terserah mau percaya atau gak. Kalau ke jebak jangan nyalahin gue



Rindu sempat beerfikir, dia percaya atau tidak ya dengan ucapan Baskara secara sih Baskara sudah membohonginya. Karena malas berfikir, Rindu memilih menaiki tangga dengan dua koper ditangannya. Tubuh mungil itu terseok seok membawa dua benda yang berat nya udah berasa bawa beras 5 karung. Sampai di lantai 15 Rindu benar benar merasa lemas, hampir saja dia kehilangan keseimbangan untungnya Rindu masih bisa mengendalikan dirinya sehingga dia masih bisa berdiri tegak.



Tiingggggggg



Rindu menoleh kala suara lift terdengar memekikan telinga. Disana didalam lift keluar segerombolan anak anak dan orang tua tanpa terjebak lift sama sekali. Ketika seorang perempuan melintas dihadapannya Rindu mememanggil sebentar



"Maaf bu, apa lift tidak rusak?" Tanya Rindu pada perempuan yang sedikit lebih tua dari mamanya



"Lift baik baik aja kok mbak" kata perempuan itu langsung melangkah pergi.



Oke, setelah menanyakan selama tiga kali di resepsionis dan naik lift untuk mencari lantai 38 sekarang dia harus menaiki tangga dengan keadaan lift yang baik baik saja. Rindu menyesal mempercayai Baskara. Dengan perasaan dongkol dia melangkahkah kakinya menuju apartemen.



Tunggu



Baskara tidak memberitahu berapa nomor apartemennya, astaga ini sungguh membuat dia gila. Untungnya sebuah pesan membuatnya mengembangkan senyum



Baskara


116



Oke, kalau pun dia membohongi Rindu lagi, dia benar benar akan mengadukan masalah ini pada Arya. Ketika dihadapan pintu nomor 116, Rindu sempat memaku takut kalau apartemen ini bukan miliknya.



"Kepada spongebob yang ajaib, kepada patrick yang baik hati, tuan krab yang kaya, sendi yang pintar, dan squirdward yang butuh ketenangan, tolong bantu saya"



Klok



Pintu itu terbuka menampakan Baskara yang tersenyum sembari menjukurkan lidahnya.





Rindu memilih membiarkan orang ini, dia membawa dua koper milik Baskara dan Rindu yang dengaan setia masih berada digenggaman tangannya. Setelah berada diruangan, bom atom akan segera meledak



"Yang kamu lakuin kesaya tadi gak lucu ya" bentak Rindu ketika mereka berada diruang tamu



"Emang ada yang bilang lucu"


Baskara justru duduk di sofa sembari menyetel televisi yang menampilkan acara kartun.



"Baskara" bentak Rindu naik satu oktaf



"kenapa? Lo gak terima gue perlakuin kayak tadi. Ini baru permulaan, masih ada kejutan kejutan lagi buat lo. Tunggu aja"


Ujar Baskra lalu bangkit dari duduknya dan membanting pintu kamar.


__ADS_1



__ADS_2