BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)

BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)
Chapter 42


__ADS_3

Aku ingin menjadi orang paling egois didunia


Dimana hanya ada aku satu satunya orang yang kau lihat


☘☘


Semalaman Baskara harus tertidur di sofa kamar Sisil untuk menunggu gadis itu. Dia tidak berhenti mengeluh kedinginan padahal ruangan sudah pengap oleh ac yang dimatikan. Sekitar jam 5 pagi keadaan Sisil sudah sedikit tenang.


Sambil menguap Baskara menuruni undakan tangga, dia melihat bibi yang tengah menyapu sambil berjoget, itu pemandangan yang cukup menghibur di hari Baskara.


"Wah ada Inul Darastista nih"


Sambil duduk di sofa Baskara menggoda bibik.


Bibik justru tersenyum sambil kembali melanjutkan kegiatannya.


"Bibik teh bukan Inul"


"Siapa dong? Soimah"


"Enak aja, Bukan atuh, bibik teh Syahrini"


Bibik bergaya seolah memamerkan tubuh seksinya.


Baskara tertawa, benar benar lucu.


"Pagi pagi udah ketawa mulu"


Suara Sisil menarik perhatian Baskara untuk menoleh


"Ini nih si Bibik ngaku ngaku kembarannya Syahrini" cela Baskara


"Udah enakan?"


Sisil duduk di samping Baskara sambil memencet televisi


"Udah mendingan"


"Non bibik teh mau kepasar dulu, non dirumah sama den Baksara gak papa ya?" bibik bersiap dengan tas


"Iya bik, beliin aku onde onde ya"


Sisil nyengir


Baskara mengusap wajahnya, saat bibik sudah berjalan untuk pergi, Sisil justru mendapatkan sebuah spidol yang entah dari mana.


Petakanya dimulai dari sini, Sisil berdiri ingin mencoret wajah Baskara, tentu kedua tangannya dicekal diudara oleh Baskara. Bukan menyerah gadis itu malah semakin gempar untuk mencoret wajah Baskara.


Secara reflek Baskara mendorong tubuh Sisil ke belakang, tangan Sisil langsung menarik ke arah Baskara hingga keduanya tehunyung kebelakang.


Syutt

__ADS_1


Baskara tepat menimpa tubuh Sisil. Keheningan terjadi hanya dalam 5 detik, sungguh, setelahnya yang terjadi adalah suara hentakan dari sepatu membuat Baskara mendongak.


Baskara langsung berdiri, dia setengah terkejut melihat Rindu berdiri sembari menatapnya dengan tatapan mata basah.


"Rindu" suara Baskara melemah. Meski tidak terlalu ketara tapi dalam lubuk hatinya ada ketakutan yang luar biasa.


Sisil ikut berdiri sambil menatap keduanya dengan tatapan bingung.


Kejadian itu terasa begitu cepat secepat denyut jantungnya. Secepat bumi berotasi atau matahari yang sudah semakin terik.


Rindu berlari sambil terisak, pemandangan yang membuat Baskara menggenggam tangan dengan erat.


Meski penolakan itu jelas jelas diberikan Rindu kepadanya tapi entah dia tetap keukeh berlari mengejar Rindu. Gadis itu menangis sambil berjongkok di trotoar jalan. Maaf Rin, maafin Baskara dia terlalu egois untuk memahami perasaannya padamu.


Baskara berjalan mendekati Rindu tapi sedan hitam itu menghentikannya. Lelaki perawakan tinggi gagah, berjalan mendekati Rindu.


Ada api yang seketika membara di hati Baskara, setelah Rindu memeluk Wirawan dijalanan


Bumi seolah berhenti berotasi memberikan rasa sakit yang membuatnya sulit bernafas. Hatinya tersayat oleh sayatan belati tajam setelah nya seperti ditetesi oleh jeruk nipis pada luka sayatan itu. Perih sekali. Dia sampai menggenggam buku buku jarinya hingga memutih.


Baskara membalik tubuhnya meninggalkan mereka berdua, demi Tuhan tidak ada rasa sakit seperih ini sebelumnya.


Sampai di latar rumah Sisil pun hati nya masih berdesir sakit. Apalagi saat melihat Sisil menghadang jalannya. Kau tahu saat ini Baskara hanya ingin melampiaskan kemarahan pada gadis didapannya ini.


"Ada apa?" suara Sisil masih terdengar lemah lembut dan itu justru memancing Baskara untuk meledakkan emosinya


"Lo masih nanya kenapa?" suara nya menaik pada oktaf berikutnya


Sisil terpaku. Dia tidak paham kemana arah bicara Baskara, kenapa laki laki itu begitu marah dengannya?


"Aku gak ngerti apa yang kamu bicarain"


Itu bukan sebuah kepura puraan karena saat ini yang ingin dilakukan Sisil adalah menangis, dia ingin menangis karena melihat Baskara semarah itu padanya.


"Asal elo tahu Sil, kita udah putus setahun yang lalu" Baskara mencengkram erat bahu Sisil,


"Gue udah nikah dan gue udah punya kehidupan baru"


Baskara langsung berlalu menuju mobilnya tanpa melihat Sisil yang terjatuh ke tanah sambil menangis. Baskara sudah tidak ingin peduli meski di pertigaan jalan sesal itu langsung hadir.


Dia tidak bisa melampiaskan kemarahan pada Sisil, lagi pula gadis itu tidak punya salah apapaun. Tapi saat ini yang terpenting adalah memisahkan Rindu dan Wirawan.


Sampai diapartemen pun kemarahan masih berkobar dalam diri Baskara, dia membuka pintu sambil membantingnya keras keras. Pemandangan cukup mengejutkan untuk matanya, dimana Wirawan duduk di Sofa sambil mengelus bahu Rindu.


"Brengsek" umpat Baskara.


Lelaki itu langsung meraih kerah Wirawan. Tanpa babibu sebuah tinjuan mendarat diwajah Wirawan. Baskara tidak memberi celah pada Wirawan untuk membalas. Sebenarnya ini taraf dimana tinjuan Baskara akan menghabisi nyawan Wirawan.


"Kamu sudah gila. Kamu bisa ngebunuh Wirawan"


Rindu meraih lengan Baskara untuk menghentikan tinjuan anak itu.

__ADS_1


"Sadar Baskara" Rindu menggoncang tubuh laki laki itu.


Dia menoleh dengan pandangan belis.


"Jadi ini yang elo lakuin dibelakang gue" dia menunjuk wajah Rindu


"Apa maksud kamu?" Rindu membulatkan matanya.


Baskata menarik sudut bibirnya, senyum licik itu tercetak dengan menakutkan. Sambil memandangi Wirawan yang berusaha bangkit dengan sisa tenaganya. Baskara menatap Rindu,.yang terbesit dalam dirinya adalah luapan emosi yang besar, seberapa kecewa dan terlukanya dia melihat Rindu berduaan dengan Wirawan apalagi kenyataan dimana Wirawanlah seseorang yang selalu ada untuk Rindu.


"Gue gak yakin anak yang ada didalam kandungan elo itu bener bener anak gue, atau anak dia"


Plakkkk


Rindu menampar Baskara tepat saat laki laki di depannya ini menyelesaikan ucapan.


"Jaga bicara kamu"


Sambil menahan isakan, Rindu menatap Baskara yang justru semakin melebarkan senyuman.


"Sekali murahan ya murahan "


Rindu sudah tidak tahan dengan prilaku Baskara, ucapannya benar benar menohok hati, kenapa dia setega itu mengucapkan semua kata kata kasar ini?  sambil berlari meninggalkan apartemen Rindu menyeka air matanya berulang ulang. Lift itu ditekannya berulang ulang tapi lift tak kunjung terbuka. Suara Baskara yang memanggilnya dari belakang membuat Rindu berlari menuruni tangga.


Dia benar benar berlari tanpa memperhatikan undakan yang dia pijaki. Dia sesekali menoleh dan meneruskan langkanya.


Demi Roy Kiyosi yang mampu melihat hantu, hati Rindu benar benar hancur.


Brukkkk


Rindu menendang kakinya yang lain. Dia terjatuh pada undakan anak tangga, dia menggelinding bagaikan bola yang menuruni anak tangga.


Kesadaran Rindu sudah hilang, sebuah darah mengalir pada kepalanya.


"Rindu"


Baskara langsung menghampiri Rindu yang sudah tergeletak tidak sadarkan diri. Dengan gugup Baskara memeluk gadis itu. Dia berteriak meminta tolong berulang ulang.


"Rindu, tolong bangun"


Suaranya bergetar, dia memeluk Rindu dengan kegugupan luar biasa. Lebih gugup dibandingkan terlambat kesekolah saat upacara, lebih gugup dibandingkan tidak membawa kartu ujian saat ujian berlangsung.


"Rindu, Rin"


Baskara menggoncangkan tubuh Rindu, tubuh itu tetap saja terdiam melemas. Dia tidak memberikan tanda tanda kesadaran, hanya terdiam lemas dipelukan Baskara.


Laki laki ini menangis tersedu sedu, dia memeluk Rindu sambil air matanya terus membanjiri seluruh wajah.


"Jangan tinggalin gue Rin, gue mohon"


Suara nya tercekat, lebih parah saat melihat Rindu berpelukan dengan Wirawan tadi pagi

__ADS_1


__ADS_2