
Aku tidak tahu apa itu cinta
Yang aku tahu aku ikut
Terluka saat melihatnya terluka
☘☘
Setelah melihat kekamar ternyata Rindu sudah tertidur pulas. Jadi Baskara tidak tega membangunkannya. Yasudah Baskara memilih tidur di sofa dari pada membangunkan Rindu.
Pagi pagi sekali Baskara terbangun saat mendengar suara benturan benda dari dapur. Dia mengintip ternyata Rindu yang sedang berkutat dalam masakanya.
Baskara bangun dan langsung tidur terkelungkap diatas kasur. Bodo amat mau kelas nya pagi yang penting dia mau tidur dulu.
Belum ada sepuluh menit, Rindu sudah membangunkan dengan mengetuk pintu kamar.
"Bas, makan" katanya singkat
"Eh lo tu tau gak sih orang lagi tidur" cerocos Baskara.
Baskara tu sejenis emak emak yang gak mau disalahin, orang ngomong satu dia ngomong 1000 lebih lebar.
Rindu memilih mandi dan mengganti pakaiannya.
Baskara sudah keluar dan duduk disofa sembari menyetel televisi.
"Saya pulang agak larut, besok ada pembukaan di kampus" ujar Rindu
Baskara hanya berdehem, tanpa melihat Rindu sudah menghilang dibalik pintu.
Sekitar pukul 13.45 Rindu mendapatkan telefon dari papanya. Rindu memilih untuk mencari tempat sepi.
"Halo pa" sapa Rindu halus
"Papa Arya masuk rumah sakit" ucap Tio dengan nada ketakutan diseberang
Dalam hal ini Rindu bukan orang yang cepat panik dengan keadaan yang sedang terjadi. Dia bisa mengendalikan dirinya untuk tidak terpancing suasana.
" Papa Arya sakit apa?"
"Dia terkena serangan jantung" ujar Tio dengan nafas tersengal sengal
"Papa kirim lokasinya, kamu datang kesini dengan Baskara"
Panggilan terputus begitu saja, Rindu menghela nafas berat. Yang harus dia lakukan adalah mencari keberadaan Baskara dengan menelfonnya.
Tuuutt tuuuttt
Panggilan terhubung tapi tidak langsung diangkat.
"Nomor yang anda tuju sedang sibuk, cobalah beberapa saat lagi"
Kemana Baskara saat keadaan sepenting ini? . Sudah lima kali panggilan Rindu tidak di angkatnya.
Rindu mengirim pesan kepada Baskara
Rindu
Kamu dimana? Papa masuk rumah sakit
Baskara
Baskara
ANGKAT TELFON SAYA
Tidak ada balasan sama sekali. Rindu memilih mencari anak itu saja. Kelasnya kalau tidak salah berakhir sekita jam satu, jadi kemungkinan Baskara ada diluar atau dia masih ada dilingkungan kampus.
Dilorong depan ruangan Rindu dia berpapasan dengan Wirawan.
"Rindu" panggil Wirawan. Raut wajah Rindu masih tampak santai tidak terlihat sedang terburu buru.
"Mau makan?" Wirawan menjinjing kotak makan yang akan dia nikmati dengan Rindu. Sayangnya Rindu menggeleng
"Maaf Wan saya harus buru buru, papa saya dirawat dirumah sakit"
Mendengar ucapan Rindu, Wirawan tertegun
"Mau saya antar?" tanyanya
"Tidak perlu, saya harus mencari orang dulu" katanya langsung berlalu.
Sudah mencari di kelas Baskara tapi laki laki itu tidak ada, bahkan dikantin pun dia tidak ada. Kemana anak itu? .
Rindu sudah mencari seisi gedung ekonomi tapi laki laki itu tidak ada. Ditelfonpun tidak diangkatnya, mana dia tidak punya nomor teman temannya lagi.
__ADS_1
Saat melintasi perpustakaan, Rindu melihat Baskara sedang tertawa dengan melempar buku kepada teman temannya.
"Baskara" panggil Rindu.
Baskara menoleh, raut wajahnya sedikit berubah tidak tertawa seperti tadi bahkan teman temannya langsung terdiam
"Papa kamu masuk rumah sakit"
Ucapan Rindu mampu meruntuhkan dunia Baskara, laki laki itu terdiam mematung dengan raut kecemasan yang sangat ketara.
"Lo gak lagi bohongi gue kan?" tanyanya masih dengan nada curiga
"Papa saya sudah kirim lokasinya"
Baskara langsung memberikan bukunya kepada Pandu. Alan dan yang lainnya terlihat cengo bingung dengan situasi didepannya.
Baskara sudah berlari meninggalkan Rindu dan yang lainnya. Rindu langsung menyusul meski langkahnya agak sulit. Ketika sampai dimobil mereka langsung menuju rumah sakit tanpa satu ucapan sama seklai.
"Santai Baskara, mengemudimu hadus pada jalur"
Rindu mengingatkan Baskara saat laki laki itu hampir berpindah jalur.
"Gue bukan elo yang masih bisa tenang dalam kondisi sekarang"
Mata Baskara hampir berkaca kaca, tangannya sudah dingin, jantungnya berdegup kencang
"Papa kamu sudah ada yang menangani, jadi kamu harus bisa mengendalikan dirimu. Jangan sampai karena terburu buru kamu bisa ikut celaka"
Ucapan Rindu membuat mobil Baskara mengemudi dengan santai tidak seperti tadi sangat ugal ugalan. Sampai dirumah sakit Baskara langsung menuju kamar yang disebutkan Rindu.
Rindu mengekori Baskara dengan setia, ketika sampai di ruangan pun. Baskara langsung menatap papanya yang terbalut selang infus dan oksigen, matanya melemah tidak menyorot dengan tatapan yang membuat orang takut. Tio dan Lina juga sudah ada disana lebih dulu. Rindu mencium tangan Tio dan Lina.
Setelah melihat kondisi Arya, Tio dan Lina permisi pamit karena harus ada yang dilakukannya
"Jaga papamu" pesan Tio kepada Rindu.
"Temani Baskara, dia butuh dukungan" pesan Lina. Setelah mengantarkan Tio dan Lina keluar, Rindu kembali kekamar dimana Arya dirawat.
Lelaki itu sudah terbangun, dia menatap Baskara dengan tatapan rindu. Mereka tampak banyak yang harus di bicarakan membuat Rindu memilih meninggalkan Baskara agar dia lebih leluasa mengungkapkan isi hatinya.
Arya menatap Baskara dengan tatapan tidak biasa, ada kerinduan yang tercurah disana.
Arya tersenyum, meski dengan senyum tipis dan wajah wibawanya.
"Kamu kemana aja?" pertanyaan itu cukup singkat tapi mampu membuat Baskara meneteskan air matanya. Dia tertunduk tidak mampu meluapkan isi hatinya
"Papa gak perlu minta maaf" jawab Baskara dengan isakan tangis.
"Kenapa sulit sekali menemuimu?"
Baskara tertunduk dengan air mata yang sudah lolos dari pelupuk matanya. Kerongkongannya tercekat, dadanya seperti terhimpit benda keras.
"Baskara kecewa sama papa" ujarnya lirih.
"Kenapa papa selalu ngambil keputusan tanpa tanya ke Baskara terlebih dahulu" suara Baskara melemah.
"Saat mama meninggal dan papa mutusin ke Amerika, papa gak minta persetujuan dari Baskara. Saat papa memasukan Baskara sebagai kandidat penerus perusahaan papa gak pernah ngomong dulu ke Basakara"
Meski sembari menunduk ucapan Baskara masih bisa memukul hati Arya, lelaki itu merintihkan air mata
"Saat saattt" suara Baskara seperti tercekat "saat pernikahan Baskara, papa gak pernah ngelibatin Baskara untuk memutuskan"
"Apa papa pernah nanya apa yang Baskara inginkan selama ini?" Baskara meneteskan air matanya. Dia sudah tidak kuat untuk menahan air mata, Baskara memutuskan bangkit dan berjalan keluar tanpa menatap Arya lagi.
Melihat Rindu duduk di kursi tunggu depan lorong kamar Arya sembari memainkan handpone, Baskara berlari menuju kearahnya
Brukk
Baskara memeluk Rindu sembari menyembunyikan wajahnya ditengkuk Rindu.
Tidak ada yang bisa dilakukan Rindu selain diam memaku, ada sensasi basah di tekuknya. Apa Baskara sedang menangis?
Meski lelaki itu menyembunyikan tangisannya tapi Rindu yakin dia menangis.
Rindu mengelus pundak Baskara dengan lembut, dia menyalurkan kekuatannya. Baskara tidak bereaksi apa apa dia hanya terdiam sembari menangis.
"Baskaraaa" panggilan itu menyentak keduanya, Baskara buru buru menjauhkan tubuhnya dari Rindu.
Itu bukan suara Rindu, sungguh. Ada gadis lain yang diam memaku menatap keduanya sedari tadi. Mata Baskara memerah meski begitu dia cepat cepat menyeka air matanya.
"Apa yang aku lihat gak bener kan?" Tanya gadis itu memastikan. Baskara hanya diam, dia tidak mampu menjawab pertanyaan yang terceletus dari bibir pacarnya.
Iya kau benar, gadis itu adalah Sisil. Silvi Margareta.
__ADS_1
"Gue bisa jelasin"
"Cukup" bentak Sisil menaik
"Aku gak salah lihat, kamu ngehianati aku" tudingnya sembari memekik
"Sisil, ini gak seperti yang lo kira"
Memang tidak seperti itukan, Sisil kira Baskara menyelingkuhinya, tapi dia tidak selingkuh melainkan dia sudah menikah.
"Lalu apa ini?" Tanya Sisil sudah mengeluarkan air matanya. Sisil menatap Rindu dengan sesegukan. Gadis itu masih bertampang sama, datar dan tidak brreaksi apa apa
"Ibu, dosen kan?"
Rindu menatap Sisil yang juga menatapnya. "Iya" jawabnya santai
"Kenapa ibu meluk Baskara?"
"Dia gak salah apa apa Sil ! " bela Baskara
"Enggak, dia kan yang kecentilan" Sisil masih tidak menyerah menyalahkan Rindu.
"Sisil" Baskara berusaha menenangkan Sisil tapi gadis itu menepis tangan Baskara dengan kasar.
Baskara rasanya mau frustasi saat keadaan papanya memburuk gadis itu justru menyalahkan Rindu yang tidak tahu apa apa.
"Ibu murahan !! " hina Sisil
"Sisil" kali ini suara Baskara terdengar tidak bersahabat. Dia membentak Sisil yang baru dilakukannya pertama kali ini
"Kamu bentak aku?"
"Iya" jawab Baskara tegas "dia istriku"
Deg
Kalimat itu bagaikan hantaman untuk Sisil, tulang kaki gadis itu terasa melemas, bahkan lututnya sudah bergemetar. Dia seolah mimpi, tapi bukan ini bukan mimpi melainkan kenyataan yang harus Sisil ketahui
"3 bulan yang lalu gue nikah sama dia di Singapura" aku Baskara "gue bingung mau jelasin gimana ke elo, saat itu gue sayang sama elo. Tapi kebohongan gak akan lama terbungkus dengan rapi, gue ngakui ini sekarang"
Sisil meneteskan air matanya untuk kesekian kalinya, dia tidak menyangka cintanya dihianati begitu saja oleh Baskara.
"Maaf" ucapnya lirih
"Gak papa" kata Sisil berusaha menguatkan dirinya "kalian cuman nikah kan, kalian gak bener bener saling mencintai"
"Kamu bisa menceraikan dia buat aku"
Ucapan Sisil membuat rahang Baskaara mengeras juga menghantam hati Rindu.
"Iya kan Baskara kamu bakal nyerai in dia buat aku kan?"
Sisil meraih tangan Basakara untuk membuatnya tahu kalau dia benar benar mencintai Baskara.
"Maaf Sil"
Baskara melepaskan tangan Sisil
"Gue gak bisa nyerai in dia" kata dia melemah
"Kenapa? Kamu butuh waktu, gak papa, aku kasih kamu waktu"
"Enggak, perjodohan ini emang salah. Tapi gue gak mau bikin kesalahan lagi buat hidup gue" kata Baskara.
"Bas, kita udah dua tahun pacaran. Kita gak bisa putus kayak gini aja"
Baskara sebenarnya masih mencintai Sisil, tapi mengatakan didepan ruangan papanya kalau dia akan menceraikan Rindu akan membuat keadaan papanya memburuk. Baskara tahu, meski dia tidak baik pada Rindu tapi gadis itu selalu memperlakukannya dengan baik. Dia selalu mengerti tanpa diminta oleh Baskara. Dia selalu menemani papanya saat Baskara tidak mau menemui papanya. Lalu apa yang Baskara harus cari pada gadis lain? Rindu punya segalanya yang sudah pasti.
"Maaf Sil, gue gak bisa"
"Basss hiks"
"Mending kita udahin sekarang, gue gak pengen nyakiti elo terlalu jauh lagi" ucapnya jujur
"Gue sayang sama elo Sil"
Kata Baskara melemah. Rindu memilih pergi dari pada hatinya lebih hancur melihat mereka.
Apa Baskara benar benar tersiksa dengan pernikahan ini? Apa dia tidak pernah bahagia dengan dirinya?
Lima langkah dari Baskara, Rindu meneteskan air matanya, tangannya berusaha membekap mulut agar tidak mengeluarkan suara tangis.
__ADS_1